Jembatan Api | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Jembatan Api Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 18:39 Rating: 4,5

Jembatan Api

CERITA kakek menancap kuat dalam ingatanku. Meski sudah seperempat abad lebih, cerita itu masih terasa segar. Seolah baru diceritakan minggu lalu. Tentang jembatan api. Menurut kakek, arwah orang yang meninggal dunia nanti diberi dua pilihan oleh malaikat. Bagi yang dosanya ringan mereka disuruh melewati jembatan air sebelum masuk surga. Sementara bagi yang dosanya berat harus melewati jembatan api.

Waktu itu aku membayangkan, keduanya berat. Bagaimana pun juga melewati jembatan air orang tetap akan jatuh. Karena air barnag yang lunak. Kecuali sudah membeku jadi es, baru bisa dilewati dengan enak.

Kakek seperti bisa membaca pikiranku, dia lalu mengajukan pertanyaan. ”Kamu pilih lewat yang mana Sam?“

Aku diam. Karena dua pilihan tadi sama sulitnya.

”Kalau Kakek?“ tanyaku setelah gagal menentukan pilihan.

”Saya milih melewati jembatan api!“ jawabnya. 

”Apa Kakek punya dosa berat?”

”Mungkin saja. Kalau dikumpulkan sejak saya masih muda dan sampai tua seperti ini, mungkin berat jika ditimbang. Jadi saya pilih melewati jembatan api.“

”Bukankah kalau kita melewati jembatan air juga jatuh? Jadi sama saja to, Kek.”

”Tidak,” kilahnya.

”Roh itu ringan. Jadi bisa mengambang di atas air. Juga mengambang di atas api.”

”Kenapa tidak milih lewat jembatan air?”

”Menurut para leluhur kita lebih cepat masuk surga jika berani melewati jembatan api. Saat itu dosa-dosa kita seperti dibakar. Meski roh kita mengalami kesakitan, setelah itu lalu kembali bersih bagai sedia kala. Sementara kalau melewati jembatan air, dosa-dosa kita memang seperti dibasuh. Tapi lama bersihnya. Karena sudah, melekat sampai jauh ke dalam roh.”

Aku mengangguk-angguk. Tetap saja bingungn. Nalar anak yang baru saja disunat belum bisa berpikir tentang akhirat.

”Agar roh kita tidak mengalami kesakitan, m aka kita harus rapal mantra penjinak api. Mantra itu bisa kita bawah sampai di alam baka sana.”

”Bagaimana bunyi mantra penjinak api itu Kek?” tanyaku penasaran.

Kakek menghela napas. Matanya lalu terpejam.

”Dengarkan ya, dan ingat-ingatlah. Ingsun iku asale saka geni. Sedulurku geni. Bapa biyungku geni. Uripku ana geni. Napasku napas geni. Getihku getih geni. Balungku balung geni. Gusti kang akarya geni. Ingsun orang wedi geni. Itulah mantra warisan para leluhur Sam. Katanya, kalau kita menginjak geni, kaki ini tidak sakit.“

Mantra itu mudah kuingat dan kuhafal. Sebulan kemudian mantra itu kuceritakan pada Kang Sarto dan teman-teman sebaya. Kami sepakat mencobanya. Diam-diam kami enam orang mengumpulkan kayu bakar dan disimpan di tengah kebun. Pada saat yang sudah ditentukan kayu itu kami bakar. Mantra penjinak api kami baca bersama-sama, bahkan berulang-ulang sampai kami semua yakin tidak akan terluka.

”Kang Darto yang paling tua, maka yang pertama lewat di atas api,“ usulku. Teman-teman setuju.

”Tidak. Kita harus berjalan ramai-ramai. Kalau mantra itu ampuh berarti kita semua sakti. Tapi kalau mantra itu tidak ampuh, ya kita semua akan terluka. Ayo, kita mulai. Saya yang paling depan. Kalian berbaris di belakang saya!“ pinta Kang Darto.

Kami tidak bisa mengelak. Bara api itu kami buat seperti jembatan sepanjang tiga meter. Sekali lagi kami semua membaca mantra. Kang Darto  memberi aba-aba. Dia mendahului berjalan paling depan, lalu kami menyusul di belakangnya. Di tengah perjalanan kami menjerit-jerit. Empat anak telapak kakinya melepuh. Kang Darto juga meringis kesakitan. Aku pura-pura tidak merasakan sakit. Tersenyum-senyum saja. Padahal jari-jari kaki rasanya panas seperti terbakar!

***
KAKEK bisa mencapai umur 79 tahun. Suatu hari ia memanggilku. ”Sam, masih ingat mantra penjinak api yang dulu saya ceritakan kepadamu?“ tanyanya.

Aku mengangguk. ”Kami pernah mencobanya, Kek.“ 

”Bagaimana hasilnya?“

”Mantra itu ampuh. Aku, KangDarto dan teman-teman bisa berjalan di atas jembatan api sepanjang tiga meter.“

Pendengaran kakek masih bagus. Ia mengangguk-angguk.

”Darto juga pernah menceritakan hal itu. bagaimana kalau sekarang saya mencobanya, Sum? Siapa tahu tidak lama lagi saya dipanggil Tuhan dan harus melewati jembatan api.“

Aku seperti petinju kena upper cut keras. Sedikit guncang. Bagaimana kalau kakek nanti terluka? Aku bisa dimarahi habis-habisan saudara-saudaraku. Dianggap sengaja membunuh kakek, atau memercepat kematiannya. Mentang-mentang aku akan mendapat sebidang tanang di tepi jalan raya.
”Ayo Sam!” desak kakek. ”Coba ucapkan mantra yang pernah saya ceritakan padamu dulu. Kalau kamu masih ingat, pasti saya selamat.”

Aku tidak bisa berkilah lagi. Kakek terus mendesak. Mantra kubacakan. Kakek mengangguk-angguk.
”Ya, ya, saya juga tidak boleh lupa. Mantra itu nanti akan saya bawa sebagai bekal di akhirat sana. Nanti malam saya ingin belajar melewati jembatan api. Buatkan sepanjang kira-kira empat meter ya.”

Aku mengangguk. Malam itu aku kembali mengajak Kang Darto. Dia mulanya ragu dan takut. Tapi setelah kuyakinkan bahwa jika terjadi sesuatu atas kakek itu tanggung jawabku, akhirnya dia mau.
Malam itu kami membakar kayu di belakang rumah. Tembok setinggi tiga meter seolah melindungi nyala api yang menjilat-jilat dari perhatian para tetangga. Setelah kayu yang terbakar jadi bara api, Kang Darto mengambil dengan sekop. Bara api itu diatur memanjang kira-kira empat meter panjangnya.

Meski tidak segagah dulu, kakek masih bisa berjalan tegak dan cepat.

”Coba bacakan mantranya Sam!“ pintanya.

Aku menahan napas. Seperti kakek dulu, aku juga memejamkan mata.

”Ingsun iku asale saka geni. Sedulurku geni. Bapa biyungku geni. Uripku ana geni. Napasku napas geni. Getihku getih geni. Balungku balung geni. Gusti kan akarya geni. Ingsun orang wedi geni.“ Mantra itu kubaca tiga kali. ketika aku membuka mata, kakek sudah berjalan cepat di atas bara api yang memerah!

”Tidak apa-apa Sam!“ teriak kakek. Ia lalu mengulang berjalan di atas bara api itu. Aku dan Kang Darto melongo. Mulut kami seperti terkunci. 

”Tidak panas. Mantranya benar-benar ampuh. Ayo, berjalan di belakangku,“ ajaknya.

Kang Darto mendorong tubuhku. Aku berusaha mengelak. Justru ia yang kudorong untuk berjalan di belakang kakek.

”Kalian takut?“ tanya kakek.

Kami mengangguk.

”Kenapa?“

”Karena dulu telapak kaki kami melepuh semua,“ jawab Kang Darto.

Kakek tertawa terkekeh-kekeh. ”Karena kalian tidak yakin sepenuh hati akan keampuhan mantra itu. Buktinya saya tidak apa-apa. Ayo berjalan di belakangku!“ Lagi-lagi kakek berjalan di atas bara api.
Aku dan Kang Darto akhirnya memberanikan diri berjalan di belakang kakek.

”Bagaimana?“ tanya kakek.

”Ya, Kek. Tidak apa-apa,“ jawabku sambil menahan sakit. Kembali jari-jari kakiku melepuh!

”Berarti kelak jika malaikat minta kalian untuk memilih, pilih saja lewat jembatan api. Biar cepat masuk surga, hahaha...,“ ucap kakek sambil tertawa terkekeh-kekeh.

Setahun kemudian kakek meninggal dunia. Wajahnya tersenyum. Ia seperti yakin bisa melewati jembatan api dengan selamat. • (k)

Dayu Jalan Kaliurang, 2016

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Budi Sardjono
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 13 November 2016

0 Response to "Jembatan Api "