Kematian Seekor Tikus | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Kematian Seekor Tikus Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 21:19 Rating: 4,5

Kematian Seekor Tikus

SEEKOR tikus ditemukan mati di belakang kantor. Satu peleton polisi dikerahkan untuk mengetahui penyebab kematian hewan pengerat itu. Bhak mencoba memprotes kebijakan Tuan Pemuka yang dianggap terlalu membesar-besarkan kematian seekor tikus itu. Untuk apa membuang uang negara pada hal sepele. Tapi apa yang terjadi?

TUAN yang terhormat itu mengeluarkan selembar surat keramat. Bhak langsung dipindahtugaskan. Jabatannya sebagai jaksa penuntut umum di kota Risywah di-nonaktifkan tanpa batas waktu.

Merasa diperlakukan tidak adil, Bhak mulai menyelidiki sendiri penyebab Tuan Pemuka begitu gusar atas kematian seekor tikus.

Diam-diam Bhak mendatangi tempat kejadian perkara. Aroma tidak sedap masih tercium oleh pria berkulit gelap itu. Tapi sayang, tak ditemukannya lagi bangkai tikus di tempat tersebut.

"Sudah dibawa petugas kamar mayat," ujar Bang Jack. Beberapa pegawai kantor terlihat sedang makan di tempat tersebut. Lelaki itu merasa heran sendiri, kenapa para pegawai itu tidak merasa terganggu dengan aroma busuk yang masih tersisa di sana.

"Sudah lama jualan di sini, bang?"

"Yah, lebih kurang lima tahun, Pak."

"Abang tidka melihat sesuatu yang mencurigakan di hari Mingu kemarin?"

"Tidak ada, Pak. Lagian kejadian diperkirakan hari Minggu. Saya tidak jualan di hari libur." Bang Jack menatap Bhak dalam-dalam, "Bapak dari kepolisian?"

"Anu, bukan, Bang. Saya..."

"Maaf, Pak. Saya tidak punya waktu untuk melayani wartawan." Bang Jack berlalu masuk ke dalam kantinnya. Ia kembali melayani seorang pembeli yang meminta ditambahkan es pada minumannya.

Setelah Bhak meninggalkan tempat ditemukan bangkai tikus pada Senin kemarin, lelaki pengelola kantin itu mengambil handphone-nya. Kemudian memanggil sebuah nomor....

**
TAK ada saksi, tanpa tersangka, Bhak berjalan mondar-mandir di ruangan kecil yang kini menjadi tempat kerjanya. Lelaki empat puluhan  itu kembali mencoba menyusun sebuah puzzle dalam kepalanya. Mencari-cari sebentuk lubang yang mungkin terlewati oleh dirinya.

Mata mantan penuntut kota itu tertuju pada patung yang terletak di atas mejanya. Ia menjangkau patung tersebut.

"Kucing! Yah, mungkin seekor kucing bisa menjawab lebih banyak." Ia berbicara pada patung yang berbentuk kucing angora itu.

Seekor kucing akan memakan tikus yang dibunuhnya. Minimal akan ada anggota tubuh yang hilang. Tapi tikus itu masih utuh. Otak Bhak mencoret kucing sebagai salah satu kemungkinan pelaku.

Siapakah gerangan tikus itu? Mungkin lebih penting dari pada mengetahui sang pembunuh.

Bhak baru menyadari kesalahan investigasinya. Dengan mengenal sang tikus, mungkin ia juga mengetahui penyebab keluarnya selembar surat keramat yang membuat ia kehilangan jabatannya sebagai penuntut umum, padahal ia sedang mengusut sebuah kasus korupsi yang meibatkan dedengkot sebuah partai.

Setelah menginterogasi petugas kamar jenazah, Bhak mendapatkan deskripsi tikus tersebut.

Bulu berwarna putih, tubuhnya sangat besar menyerupai babi dan hidungnya panjang hampir dua puluh lima senti. Sang petugas terlihat sangat heran dengan rupa tikus tersebut.

Hispaniola Selenodon, tikus raksasa yang sangat langka. Kenapa masih berkeliaran di kota Risywah? Ada banyak pertanyaan di kepala Bhak. Tapi petugas kamar mayat di depannya juga tidak mungkin berbohong.

Mungkinkah karena ia makhluk langka, Pak Pemuka sangat antusias mengejar sang pelaku? Bhak melangkah sambil memikirkan kemungkinan-kemungkinan, ketika meninggalkan kamar mayat.

Bisa jadi itu benar, tapi mengeluarkan surat keramat adalah hal yang berbeda. Sang penguasa kota itu cukup menjelaskan duduk persoalan padanya, ia juga pasti dengan suka rela membantu menemukan pembunuh. Kenapa surat keramat itu harus keluar ketika kasus penyelewengan dana terbesar yang ia selidiki dari dua tahun lalu mulai menemukan titik terang?

Bhak menyetop sebuah taksi. Mobil ber-plat merah yang biasa dibawanya sudah dikembalikan karena ia sudah tidak berhak menggunakan itu lagi. Lelaki itu menyebutkan sebuah alamat pada sopir taksi.

**
TAKSI yang ditumpangi Bhak berhenti di sebuah bangunan besar yang berada di pinggir  kota. Setelah membayar argo, lelaki tersebut turun dari mobil. Ia berdiri sejenak menatap bangunan besar berbentuk kurva di depan sana. Mungkin tempat ini menjadi salah satu kunci jawaban dari masalahnya.

Bhak berjalan memasuki tempat itu. Setelah berbicara dengan penjaga yang menggunakan seragam dan menenteng senjata di depan pagar, lelaki tersebut dipersilakan masuk.

Lelaki berkemeja biru itu terus masuk melewati ratusan karung padi yang berada di kiri kanan. Karung-karung padi diatur sampai atap dengan menyisakan sebuah lorong kecil untuk berjalan masuk menuju kantor kepala. Tempat itu adalah lumbung kota Risywah yang menyimpan berton-ton padi.

Menurut petugas kamar mayat tadi, ditemukan dua butir padi di bulu-bulu Selenedon itu.

Di kota sudah tidak ada sawah, warga kota juga sudah tidak menyimpan padi di rumahnya.

Mungkin tempat ini merupakan jawaban masalah padi itu.

Padek, seorang lelaki berpostur pendek dan gemuk duduk di balik meja sebagai kepala lumbung kota. Lelaki itu terlihat sedikit kurang suka atas kehadiran Bhak.

"Apa yang kau cari di sini?" tanya lelaki itu tanpa basa-basi.

Bhak diam sejenak kemudian menjawab, "Entahlah."

"Kalau begitu, sebaiknya kau pulang saja," ujar Padek sangat tidak bersahabat.

"Baiklah, aku akna pulang. Tapi setelah kau menjelaskan ini." Bhak melempar beberapa butir padi yang tersegel dalam plastik. "Kenapa ini bisa kutemukan bersama tikus itu?" lanjutnya lagi.

Padek mencoba menyembunyikan rasa terkejutnya. "ENg... Kupikir padi tidak hanya berada di lumbung ini."

"Aku tidak menyuruhmu berpikir, Teman. Kau cukup menjelaskan saja."

"Taka da yang bisa kujelaskan." Pria gemuk itu bangkit dan berjalan membukakan pintu.

"Sebaiknya kau pulang saja."

Bhak juga bangkit dan berjalan ke pintu, tapi ia berdiri dan mencondongkan mukanya ke dekat pria pendek itu. "Pak Pemuka sudah mengerahkan semua polisi kota untuk mengusut kasus ini. Kau pilih bekerja sama denganku atau mendekam di penjara?"

Air muka Padek sedikit melunak. Ia kelihatan menimbang-nimbang sebentar. "Baiklah, ikut dneganku," ujar kepala lumbung kota itu kemudian.

Padek mengajak Bhak ke sebuah tempat. Mereka kembali melalui jalan smepit yang diapit karung padi. Layaknya seperti labirin saja. Jalan itu berakhir ke sebuah pintu. Padek membukakan pintu tersebut. Bhak terkejut melihat suasana di dalam ruangan itu. Dinding ruang yang cukup besar itu sudah bolong-bolong di sebelah kiri. Bolongnya cukup mengerikan. Yang lebih mengerikan lagi, beras terlihat berantakan di beberapa tempat.

"Apa yang terjadi?" tanya Bhak sambil menatap kepala lumbung.

Makhluk sialan itu telah melubangin gudangku diam-diam, kemudian mencuri beras berton-ton," ujar Padek gusar.

Bhak menarik napas ebrat sekali lagi, "Tapi kau bisa menangkapnya, tanpa harus membunuh binatang itu."

"Kau benar. Aku hanya ingin menangkapnya, tapi itu sebelum makhluk itu membuat lumpuh dua orang penjaga yang bertugas malam itu."

Terlihat jelas lelaki itu sangat marah. "Kau pikir apa yang bisa kujelaskan pada keluarga kedua petugas itu?"

Bhak tak pernah menyangka lelaki berpostur gemuk dan pendek itu memiliki hati yang sangat lembut. Ia begitu perhatian pada bawahannya. Kover memang tidak selamanya menjelaskan isi. Racun dalam air liur sang tikus raksasa memang bisa menyebabkan kelumpuhan pada korbannya. "Kau pikir Pak Pemuka terlibat?" tanya Bhak lagi.

"Tunggu, aku punya rekaman CCTV yang mungkin bermanfaat untukmu," ujar lelaki itu dengan ekspresi yang tidak bisa ditebak.

**
KOTA Risywah mengadakan pemakaman besar-besaran untuk sang tikus. Di bangku kehormatan terlihat Pak Pemuka berwajah sedih. Ia terus-terusan menatap ke bawah.

Pria itu memang dikenal sebagai pencinta bintang sejati. Selenedon hampir punah, tak seharusnya manusia ikut andil mempercepat proses itu. Yang tidak bisa dimaafkan itu terjadi di kota Risywah.

Para pejabat dan ketua partai duduk di sisi kiri dan kanan. Wartawan dari penjuru dunia terlihat datang meliput kejadian tersebut. Pak Pemuka bersiap memberi pidato perlepasan.

Tapi sbeuah layar besar yang berada di samping kiri panggung tiba-tiba memburam dengan suara yang cukup mengganggu. Yang seyogianya tadi menyiarkan kata-kata selamat jalan berubah menjadi berjuta titik buram. Kemudian muncul gambar sebuah ruangan di lumbung kota. Seekor Selenedon sedang emngangkut karung beras ke dalam truk yang diparkir di luar. Ia menggunakan dinding yang telah bolong sebagai lubang masuk.

Mereka yang hadir di acara pelepasan sang tikus tersebut bergumam beberapa kali, tapi berubah hening ketika mereka menonton dua orang penjaga memergoki kejadian itu. Tikus raksasa malah mengamuk, kemudian meludahi kedua penjaga. Sang penjaga langsung terjatuh tanpa berdaya. Tikus itu terus emngangkut karung-karung padi. Setelah penuh, ia mengemudiakn truk meninggalkan tempat itu. Sebuah sedan berkaca gelapterlihat mengikutinya.

Gambar terhenti pada saat kamera menyorot plat mobil sedan hitam tersebut. Dan warga kota amat mengenal pemiliknya.

Wajah Pak Pemuka berubah merah padam. Ia terlihat sangat marah. Lelaki itu menatap ke arah seorang lelaki yang duduk di panggung sebelah kiri, "Tangkap dia!" perintahnya pada polisi yang berdatangan.

**
SELENEDON memang penting, tapi keselamatan warga jauh lebih penting.

Bhak membaca keterangan pers Pak Pemuka, kemudian diletakkan surat kabar itu di atas meja. Sekretarisnya masuk dan memberitahukan jika satu jam lagi ia harus berada di persidangan.

Dan pesakitannya adalah ketua partai yang memanfaatkan tikus raksasa untuk mencuri dari lumbung kota. Sekalian orang yang sama yang terlibat penyelewengan dana yang ditelusuri Bhak sejak dua tahun lalu. Jabatannya sudah dipulihkan lagi. Mungkin kebenaran memang masih ada tempatnya di kota Risywah ini.***

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ida Fitri
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" Minggu 20 November 2016

0 Response to "Kematian Seekor Tikus"