Mari - Di Pintu Pagi I - Di Pintu Pagi II - Epitaf Bulan yang Pucat - Variasi Atas Sebaris Puisi Sana'i - Sajak Pijak | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Mari - Di Pintu Pagi I - Di Pintu Pagi II - Epitaf Bulan yang Pucat - Variasi Atas Sebaris Puisi Sana'i - Sajak Pijak Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:26 Rating: 4,5

Mari - Di Pintu Pagi I - Di Pintu Pagi II - Epitaf Bulan yang Pucat - Variasi Atas Sebaris Puisi Sana'i - Sajak Pijak

Mari

Kawan mari kita saksikan lagi
Bagaimana angin berdesir menjatuhkan butir-butir
embun dari kelopak-kelopak daun
Atau mari kita pulang sebagaimana Adam dari surga ke bumi
Takjub memandang ganasnya dunia
Mari sekali lagi kita pandang diri sendiri jaiuh ke
jantung kita yang paling putih
Sebab di sana Tuhan bersembunyi memanggil-
manggil nama kita
2016

Di Pintu Pagi I

Subuh yang putih datang lagi
Memaksa mataku yang seperti bunga mengatup
dan membuka
Menatap jauh menembus langit-langit kamarku dan
menyuruhku untuk bangkit

Lalu kuraba ujung kelambu
Dan kubuka lebar-lebar daun jendela di sisi kananku
Siapa tahu ada seberkas cahaya yang mengajakku
untuk keluar memandang dunia
2016

Di Pintu Pagi II

Di pintu pagi aku mengetuk
Siapa di luar
Aku embun yang sebentar lagi akan pecah dihardik
cahaya
2016

Epitaf Bulan yang Pucat

Lewat celah dedaunan
Kuintip wajah dunia yang gersang
Lalu kusapa permukaan embun yang tenang

Oh ternyata wajahku memang cantik
Meski hanya terpantul dari sisa-sisa gerimis

Oh kelelawat engkaulah yang sering menggodaku
Dengan suaramu yang seperti derak pintu itu

Lewat celah awan
Kutatap paras lautan yang tenang tanpa gelombang
Di sana wajahku dicium ribuan ikan

Aku cantik bukan, bisikku pada bayang-bayang –
diriku sendiri
Memang kadang dalam sendiri tak ada hal lain yang
lebih menyenangkan
Selain menyanjung diri
matahari ke mana engkau pergi
Apakah engkau tengah menyambangi negeri-negeri
jauh
Menyaksikan bagaimana manusia saling bunuh?
Ke mana engkau wahai asal usulku, cepatlah ke –
mari
Jemput aku

Sebelum bintang-bintang menggodaku
Dan aku melupakanmu
2016

Variasi Atas Sebaris Puisi Sana'i

Betapa kuatnya Engkau dalam hati dan jiwa letihku
Hingga segala yang tampak di kejauhan aku melihatnya sebagai
Engkau
Sana'i

Betapa likatnya dunia
Dalam hati dan jiwa rapuhku
Hingga Engkau
Aku melihatnya sebagai bayang-bayang
2016


Sajak Pijak

Tanah berpijak di atas tanah
Air berpijak di atas air
Api berpijak di atas api
Udara berpijak di atas udara

Aku berdiri di atas segalanya

Awan bertahta di atas awan
Cahaya berpijak di atas cahaya
Ruang tersusun bersama ruang
Waktu berpijak di atas waktu

Aku berada pada setiap benda-benda

Warna bermula tanpa warna
Ruang bermula tanpa ruang
Waktu berawal dari tanpa waktu

Engkau tanpa awal tanpa apa-apa
Berpijak di atas segalanya
2016

Perjalanan Cahaya

Ia berjalan di malam hari menahan dingin dan tikaman sepi
Di tepi sebuah kali ia berhenti memandang air yang jernih -wajah-nya sendiri
Apakah belum ada tanda-tanda pagi akan kembali.
Namun ia saksikan seberkas cahaya yang sangat menyilaukan
meminum air sungai
Mencuci wajahnya di atas permukaan

Siapa gerangan saudara, sapanya
Aku kembaranmu, jawab cahaya yang silau itu

Selama ini baru merasa hidup di dunia-dunia cahaya
Bagaimana mungkin di malam yang tenang di dunia yang gelap ini
Ada cahaya yang mengaku  kembarannya, pikirnya
Tapi ia peluk juga cahaya itu seperti memeluk bayang-bayang
Ketika dulu sering ia bayangkan kekasihnya adalah gelap
Yang senantiasa membuat dirinya selalu ada

Tapi kenapa tubuhnya begitu hangat, apakah setiap cahaya
memang hangat,
Pikirnya
PAda saat yang sama tubuhnya sendiri sudah merapat menjadi
bagian dari cahaya
Yang silau itu
2016


Ridhafi Ashah Atalka. Lahir di Sumenep Madura 21 September 1992, Alumni MA Tahfidz Annuqayah. Kini tinggal di Yogyakarta dan bergiat di Lesehan Sastra Kutub (LSKY).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ridhafi Ashah Atalka
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Republika" Minggu 20 November 2016




0 Response to "Mari - Di Pintu Pagi I - Di Pintu Pagi II - Epitaf Bulan yang Pucat - Variasi Atas Sebaris Puisi Sana'i - Sajak Pijak "