Menatap Indonesia - Pembenci Kota di Tanah Air Kita - Balada Orang Pinggiran | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Menatap Indonesia - Pembenci Kota di Tanah Air Kita - Balada Orang Pinggiran Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:26 Rating: 4,5

Menatap Indonesia - Pembenci Kota di Tanah Air Kita - Balada Orang Pinggiran

Menatap Indonesia

kedipan matamu busuk
serupa mimpi buruk
yang membusuk
di tidurku kaumasuk.

matamu adalah kompas rusak
yang mengarak-arak
para warga kami agar ëtak suci.

di mimpi ini begitu pengap,
penuh oleh matamu
yang memata-matai.

mimpi ini laksana negeri kami
yang penuh orang tak tahu diri
tak sudi-suci.

negeri ini berisi tatapan peristiwa
kedipan sketsa.

negeri kami
meski, tetiduran
mata kami tetap
saling bertatapan.

Gubuk Sastra | 2015

Pembenci Kota di Tanah Air Kita

kota kita menjabar duka, tanpa luka
kota ini telah menjelma etalase tinggi
nyanyian burung berganti deru mesin janji.
ya, janji
janji pemimpin yang basi
di telan ingkar
yang terbakar, tak tertakar

aku benci kota ini
tangisan datang sabang hujan
galau menghimbau kala kemarau.

tanah air kita
tanah luka tiada tara
aku pembenci kota
ya, kota yang menduka.

Gubuk Sastra | 2015

Balada Orang Pinggiran

di pinggiran jalan yan macet
para pengemis berbaris
wanita-wanita setan
memberhentikan mobil sedan.

jalan ini begitu ramai
di penuhi asap kendaraan
wanita-wanita setan
memberhentikan mobil sedan
mobil yang dilunasi
dengan hasil korupsi.

di jalan yang terlaknat ini
kutanam ludah
di belokan lampu merah
anak-anak pengemis
meringis
manahan tangis.
sebab, uang merak habis
di makan koruptor
yang membayarkannya
pada mobil sedan
untuk menjemput
wanita-wanita setan.

Gubuk Sastra | 2015



Muhammad De Putra, Lahir di Siak Hulu, Kampar, Riau, 14 April 2001. Meraih juara 1 lomba cipta puisi tingkat nasional. Bukunya yang telah terbit Kepompong dalam Botol dan Timang Gadis Perindu Ayah Penanya Bulan. Sedang meramu buku puisi tunggalnya yang ke-3 Hikayat Anak-anak Pendosa. Puisinya juga termaktub dalam beberapa antologi seperti: Merantau Malam (Sabana Pustaka, 2016), dan TeraKota (Liliput, 2015).



Rujukan:
[1] Disalin dari karya Muhammad De Putra
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu 20 November 2016


0 Response to "Menatap Indonesia - Pembenci Kota di Tanah Air Kita - Balada Orang Pinggiran"