Pelajaran Menutup Mulut | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Pelajaran Menutup Mulut Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 09:18 Rating: 4,5

Pelajaran Menutup Mulut

SORE itu, selepas Karmain dan keluarganya melabrak kami di rumah kami sendiri, ibu mendudukkanku di kursi. Selama hampir tiga puluh menit, ibu memberiku sebuah pelajaran berharga yang tak pernah kudapat dari sekolah. Sebuah pelajaran tentang bagaimana cara menutup mulut dengan benar pada waktu yang benar. 

Perkara labrak-melabrak itu bermula dari urusan kanak-kanak semata. Minggu pagi itu, aku dan Karmain serta beberapa bocah lain tengah asyik bermain adu gundu. Karmain tak pernah menang kecuali sekali. Sekaleng gundu yang dibawanya dari rumah ludes oleh kami. Terutama olehku. Karena Karmain tak pernah menang, Karmain dongkol dan bilang kalau aku sudah bermain dengan cara curang. Aku tak tahu pada bagian mana aku berbuat curang. Karena hanya Karmain seorang yang mengatakan aku curang. Apakah menang banyak dalam permainan gundu itu berarti curang? 

Kata-kata Karmain itulah yang memancing adu mulut antara kami. Dari satu eyelan ke eyelan lain. Dari satu umpatan ke umpatan lain. Hingga Karmain mengolokku sebagai bocah yatim miskin tanpa bapak, yang bahkan tak punya duit untuk membeli gundu sampai-sampai harus bermain demi mendapatkan gundu-gundu itu. Sebab kata-katanya itulah, kepalaku panas bagai terbakar, hingga kalimat tajam bertubi-tubi itu terlempar dari mulutku. 

Dan inilah yang kuucapkan tepat di muka Karmain, “Mendingan aku, daripada kamu, beli gundu dari duit haram, duit curian. Aku pernah dengar dari orang-orang di warung. Bapakmu itu koruptor. Pencuri duit rakyat. Lihat saja perut bapakmu yang gendut itu. Nanti di neraka perut itu akan menggelambir sampai ke tanah. Bapakmu dan semua orang yang makan duit itu, termasuk kamu... semuanya bakal kecemplung neraka. Jadi intip neraka.”

Mendengar luberan kemarahanku, Karmain semakin panas hingga ia melempar jidatku dengan gundu sampai jidatku benjol. Karena tidak terima, aku membalas memukul jidat Karmain dengan kaleng wadah gundu sampai jidat itu memar kemerahan. Selanjutnya, kami bergelut mirip dua pegulat yang tak mau kalah satu sama lain. Saling mencengkeram. Saling menghantam. Saling menggampar. Beberapa bocah yang semula cuma jadi penonton debat kusir itu segera melerai kami. Detik itu, kulihat Karmain berbalik pulang dengan kaleng gundunya yang kosong dengan air mata meleleh tanpa suara. Aku sendiri masih ngos-ngosan menahan geram. Mukaku merah padam terbakar kemarahan. 

Sampai rumah, ketika ibu bertanya apa yang sudah terjadi, aku hanya bilang bahwa kepalaku agak benjol karena dilempar gundu oleh seorang teman. Selepas itu aku mandi, guyuran air yang membilas kepala sampai ujung kaki membuatku sedikit adem. Aku mengira masalahku dengan Karmain pagi itu sudah berakhir, barangkali esok kami hanya akan saling mendiamkan, lalu beberapa hari berikutnya kami sudah akur sebagaimana biasanya. Namun tidak, sore itu, pukul tiga lebih empatpuluh lima menit, rumah kami digedor dari luar. Ketika ibu membuka pintu, bapak Karmain yang perutnya gendut itu sudah berdiri di ambang pintu sambil berkacak pinggang. Di sebelah kanan lelaki gendut itu ada ibu Karmain yang terus-terusan menggerakkan sepasang kakinya bagai tak sabar ingin menendang sesuatu. Sementara di sebelah kirinya, kakak lelaki Karmain mengitarkan pandangan ke penjuru rumah kami dengan ujung bibir menekuk ke bawah. Karmain sendiri berdiri di barisan paling belakang dengan tatapan mata tajam membidik mataku. 

Ibu mempersilakan mereka masuk, tapi mereka menolak dan memilih duduk di lincak yang ada di teras. Saat itu tubuhku gemetar. Aku takut sekali. Takut kalau orang-orang itu balas memukuli ibu. Karena rasa takut yang melonjak sampai ke ubun-ubun, aku memilih jadi pengecut dengan bersembunyi di kamar mandi. Di dalam kamar mandi aku menangis di atas kloset. Pasti semuanya akan berbeda kalau aku punya bapak. Kalau ada bapak, pasti ia akan membantu ibu menghadapi orangorang itu. Selang beberapa menit, pintu kamar mandi diketuk. Aku membukanya, dan wajah ibu yang merah dengan mata berkilapan menyeruak dari balik daun pintu. Ia menuntunku dan mendudukkanku di kursi, lalu bertanya, “Apa yang tadi pagi kau katakan pada Karmain?” 

Aku tidak menjawab. Lalu ibu berkata lagi, “Sebab kata-katamu itu, ibu mendapat malu. Bapak Karmain memarahi ibu, ibu Karmain menasihati ibu, kau tahu? Mereka bilang, mulutmu itu harus disekolahkan. Mereka bilang, ibu tak bisa mengajarimu berkata yang baik. Apa menurutmu ibu seperti itu?” 

Aku masih terdiam. Mulai terisak. 

“Jangan pernah kau ulangi lagi berkata-kata seperti itu pada siapa pun, meskipun itu musuhmu. Seberapa besar pun kemarahanmu, mulutmu harus tetap ditutup, harus tetap dijaga dari berkata-kata yang tidak perlu. Apalagi kata-kata yang menyakiti hati orang lain. Apa kau dengar?” 

Aku mengangguk. 

“Mulut itu seperti pintu,” ujar ibu lagi, “ia diciptakan memang untuk berkatakata, sebagaimana pintu diciptakan untuk lewat dan keluar masuknya angin. Tapi tetap saja, pintu tak boleh kau buka sepanjang hari, ia harus kau tutup dan kau buka pada waktu yang tepat. Kalau pintu itu kau buka sepanjang hari, bahaya bakal datang, rumahmu bakal disatroni maling, dimasuki aneka binatang buas, ular, kelabang, kalajengking... Kau paham?” 

Mulutku pun tergerak, mengucap sepatah maaf, dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Selanjutnya ibu merangkulku dan berkisah tentang seorang pemimpin di sebuah kota, yang gara-gara tak bisa menjaga mulutnya, ia menyebabkan sebuah kekacauan besar di mana-mana. 

Ceritanya, sang pemimpin itu tengah berpidato di muka khalayak, entah dengan maksud guyonan atau tak sengaja ia mengatakan, bahwa orang-orang di kota M kalau berdoa suaranya berisik mirip kucing kawin. Di kota M, orangorang memang berdoa dengan cara seperti itu, sejak ratusan atau bahkan ribuan tahun yang lalu. Pidato sang pemimpin itu lantas direkam dan disiarkan di tivi-tivi dan media, sampai ke telinga orang-orang di kota M. Selanjutnya coba tebak apa yang terjadi? Orang-orang kota M tak terima, orangorang di luar kota M pun turut campur, ada yang membesar-besarkan masalah itu, ada pula yang nyinyir dan menganggap orang-orang kota M terlalu serius menanggapi sebuah lelucon.

Pada hari yang telah ditentukan, orang-orang di kota M, termasuk orangorang di kota lain yang bersimpati dengan orang-orang di kota M, pergi melabrak ke kota tempat sang pemimpin keceplosan itu tinggal. Kekacauan pun tak terhindarkan. Orang-orang jahat pun menyusup di antara para pelabrak itu dan ikut-ikutan mengacaukan kota. 

Kau tahu, semua kericuhan itu bermula dari sebuah hal remeh temeh, sebuah pintu. Pintu yang ngablak, tak terjaga, terbuka sepanjang hari. Dan pintu itu bernama: mulut. “Kau pun seorang pemimpin,” bisik ibu lagi, “setidaknya pemimpin bagi dirimu sendiri. Sebab itu, kau butuh sebuah pelajaran. Pelajaran menutup mulut.” 

Malang, 2016

Mashdar Zainal, lahir di Madiun 5 Juni 1984, suka membaca dan menulis puisi serta prosa. Tulisannya terpercik di beberapa media. Novel terbarunya, Garnish, 2016. Kini bermukim di Malang. 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Mashdar Zainal
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" Minggu 13 November 2016


0 Response to "Pelajaran Menutup Mulut"