Pertanyaan Senada | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Pertanyaan Senada Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 11:36 Rating: 4,5

Pertanyaan Senada

AKHIR-AKHIR ini perempuan itu seperti didesak dengan pertanyaan yang muncul dalam benaknya sendiri. Apakah laki-laki yang telah menjadi ayah dari kedua anaknya benar-benar mencintai dirinya. Pertanyaan tersebut mengganggu pikirannya, sejak terjadi percakapan di antara teman-teman kantornya. Bahwa tidak setiap lelaki yang menikah pasti mencintai permepuan yang diperistrinya. Kecuali kalau laki-laki itu sudah menyatakannya.

”Waktu pacaran, Mas Aries bukan sekali dua kali berkata ’cinta’ kepada saya. Entah sudah berapa kali kata itu diucapkan. Memang. Terkadang terasa membosankan. Menyebalkan. Tapi kita butuh kepastikan,” demikian kata Siska, pembicaraan yang sempat mengganggu pikiran Senada, ”Kalau ada laki-laki bersikap baik sama kita. Bukan berarti tanda cinta. Kecuali seperti saya katakana tadi, dia sudah mengatakan cinta. Nah, tidak sedikit perempuan salah paham karena ada laki-laki yang perhatian sama kita. Lalu kita menafsirkannya sebagai cinta.”

”Betul apa yang dikatakan Mbak Siska,” tukas Rini, ”Waktu Belawati mendapat atensi dari Sopian. Ia mengira cowok satu kampus itu cinta sama dia. Apalagi, Sopian sering datang ke rumah Belawati pada malam Minggu. Tetapi, akhirnya Sopian menikah dengan wanita lain. Karena Sopian tak pernah mencintai Belawati. Kebaikannya terhadap Belawati hanya sebatas persahabatan.”

”Siapa sangka kedatangan Sopian bermalam Minggu hanya untuk urusan kuliah. Tetapi, waktu itu perasaan Belawati lain. Ia yakin urusan kuliah hanya dalih. Sebab, biasanya laki-laki tidak akan to the point menyatakan perasaannya.

Melainkan melakukan pendekatan dengan berbagai cara. Nah, dia pikir jika Sopian mendiskusikan mata kuliah atau pinjam buku hanya alasan. Dia baru tahu kalau Sopian tak pernah mencintainya, setelah mendapatkan kartu undangan perkawinan Sopian,“ lanjut Rini, ”Waktu saya tanya Belawati, apakah Sopian pernah berkata cinta kepadanya atau tidak. Dia bilang Sopian tak pernah mengatakannya.“

”Teman saya juga ada yang punya pengalaman sama. Laki-laki itu sudah punya tunangan di kota lain. Karena tak mungkin wakuncar ke rumah ceweknya. Ia ngapeli teman saya. Ketika teman saya tengah mengharap dilamar. Laki-laki itu justu datang menyodorkan undangan,“ sela Ully, ”Tetapi akhirnya dia menyadari meskipun laki-laki itu sering bermalam Minggu di rumahnya. Tetapi, dia tidak pernah mengatakan cinta.“

”Karenanya jangan dikira laki-laki itu menikah pasti karena cinta,“ tukas Retty.

”Maksudnya?“ tanya Senada.

”Ya, Karena secara kodrat tiap orang memang harus punya pasangan. Jadi, nikah bukan didasarkan atas rasa cinta,“ jawab Retty.

”Mana mungkin orang tanpa cinta bisa sampai punya anak. Apa…”

”Orang mempunyai anak bukan berarti harus ada cinta,” Retty memotong kalimat yang belum usai dilontarkan Senada.

***
SENADA diam.

Tiba-tiba Senada ingat percakapannya dengan Imron, ketika untuk kedua kalinya pemuda itu datang ke rumahnya. Lalu menyatakan keinginannya untuk menikahi dirinya.

”Apakah cinta harus diucapkan?” Imron balik bertanya, beberapa tahun lalu, ketika Senada bertanya apa lelaki itu mencintainya hingga ingin menikahinya, ”Penting man ucapan atau perbuatan, Nada.”

”Apa kamu hanya mau menikah dengan laki-laki yang sudah mengucapkan kata ’aku cinta padamu’. Dan, tak bersedia dinikahi oleh orang yang benar-benar serius ingin menjadi suami kamu?” lanjut Imron.

Senada diam. Bingung. Tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaan Imron.

”Saya tak akan pernah memaksa orang yang tidak bersedia dinikahi.” 

Senada tetap diam. Untuk pertama kalinya ia menghadapi pria pragmatis. Jauh dari kesan romantis. Tidak seperti lelaki lain yang pernah dikenal sebelumnya. Hampir semua pemuda, yang tertarik dengan dirinya, akan memuji kecantikannya. Mengagumi penampilannya. Bahkan berbagai jurus rayuan gombal, penuh sanjung, yang dilontarkan mereka. 

Kalimat yang bisa membuat dadanya kembang kempis. Bangga. Menerbangkan khayalnya tinggi ke awang-awang. Membuat telinganya terasa melebar. Menjadikan mukanya bersemu merah. Meskipun tatkala mendengar kalimat itu, kadang-kadang, mulut Senada akan berkata, ”Ah, gombal!“ Lalu tangannya akan mencubit lelaki yang memujinya. Pura-pura marah. Tetapi, sesungguhnya ia merasa bangga. 

Namun, pemuda-pemuda yang pernah menyatakan cinta akhirnya tidak ada satu pun yang mengajaknya ke pelaminan.

Herannya, Imron yang tak pernah memuji, entah kecantikannya, penampilannya, sikapnya, atau kelebihan lain yang ada dalam diri Senada, seperti pada umumnya laki-laki yang pernah menjadi pacarnya. Apalagi mengucap kata cinta, tiba-tiba menyatakan ingin menikahi dirinya. Setelah lelaki itu bertanya apakah Senada punya pacar atau tidak. Dan, Senada menjawab tak punya pacar. Ketika itu, memang, ia sudah putus hubungan dengan Andrian, pacar terakhirnya, setengah tahun sebelumnya.

”Bagaimana?” tanya Imron, ”Apa Kamu bersedia menjadi ibu dari anak saya?”

Senada tak menyahut. Ia benar-benar bingung menghadapi pertanyaan pemuda yang dikenalnya sejak ia aktif di karang taruna, setengah tahun sebelumnya.

”Kalau kamu tak bersedia, tidak apa-apa kok. Sebuah perkawinan harus dilandasi keikhalasan. Kerelaan menerima segala kelebihan dan kekurangan orang yang menjadi pendamping hidup. Karena itu, saya tak ingin memaksamu. Kalau terpaksa berarti ada unsur paksaan,” lanjut Imron, ”Tolong jawab pertanyaan saya. Tak usah dengan kata-kata. Mengangguk atau menggeleng, buat saya sudah sebuah jawaban.”

Tiba-tiba Senada mengangguk. Saat itu, sebetulnya, ia tak ingin mengangguk atau menggeleng. Namun, tiba-tiba seperti ada sesuatu yang memaksa dirinya mengangguk setelah mendapatkan pertanyaan Imron.

”Syukurlah kalau begitu,” ujar Imron. ”Kalau begitu kita...“

”Tetangga saya sudah lama menikah tetapi mereka tidak mempunyai anak,“ ujar Retty, membuyarkan lamunan Senada, ”Karena mereka menikah atas dasar cinta. Mereka tetap mempertahankan rumahtangganya. Tak pernah berpikir untuk berpisah kendati tak punya keturunan.

***
BUKAN hanya sebelum menikah. Kata ’cinta‘ atau ’sayang‘ tetap tak pernah keluar dari mulut laki-laki itu. semula perempuan berwajah tirus itu tak pernah peduli. Tetapi, sejak ada percakapan teman-teman kantornya Senada merasa perlu mendengar kata ’cinta‘ atau ’sayang‘ keluar dari mulut lelaki yang sudah hidup bersama dengannya di bawah satu atap.

Entah mengapa keinginannya mendengar kata ’cinta‘ keluar dari mulut suaminya malam itu, benar-benar tidak bisa dibendung lagi.

Dengan susah payah ibu dua anak itu memusatkan konsentrasi untuk bertanya kepada sang saumi. Ia menguatkan tekad hatinya agar mampu bertanya kepada lelaki yang baru saja dilayaninya.

”Mas,“ ujar Senada.

”Hmmm,“ hanya ini yang keluar dari mulut sang suami di antara desa napasnya yang belum teratur.
”Mas Imron.“

”Ada apa Nada?“ tanya lelaki yang masih berbaring di sebelah kiri Senada.

Mata lelaki itu menatap ke arah langit-langit kamar. Ia sedang mengatur kembali napasnya yang beberapa saat sebelumnya terasa berat. Tak teratur. Memburu.

Memang. Imron sedang berusaha membuat seluruh tubuhnya serileks mungkin. Ia tengah menata kembali tenaganya yang baru saja terkuras. Imrom tidak pernah langsung bangun setelah menunaikan kewajibannya sebagai seorang suami.

”Mas...“ ulang Senada di antara napasnya yang juga masih belum teratur.

”Hmmm.“

”Apa Mas Imron...“ tiba-tiba Senada merasa tidak mampu melontarkan kalimat yang sudah disusun di benaknya.

”Mengapa?“ tanya Imron, setelah agak lama Senada tak melanjutkan kalimatnya.

”Puas, Mas?“ tiba-tiba pertanyaan ini terlontar dari mulut Senada.

Sebetulnya bukan kalimat ini yang hendak diutarakan kepada suami. Melainkan kata ’Apakah Mas Imron mencintai saya‘. Namun, ia gagal menyampaikan kata-kata yang sudah disusun dalam pikiran sebelum melayani sang suami. Tiba-tiba ia bingung sendiri. Tidak tahu bagaimana meralat ucapannya.

Semula Senada berharap mendapat jawaban ’tentu saja aku mencintaimu, Nada‘ Jika ia berhasil melontarkan pertanyaan yang telah disusun dalam pikirannya. Namun, sejenak kemudian ia merasa ragu apakah suaminya akan memberi jawaban seperti itu. Kalau tidak? Atau sang suami justru memberi jawaban yang tak pernah diharapkan. Misalnya, ”Memangnya setiap orang yang berhubungan intim mesti dilandasi rasa cinta?“

Ah, jawaban seperti ini tidak diinginkan Senada. Hasilnya dapat ditebak, pasti berakhir dengan kesalahpahaman. Sebab, memang tidak setiap orang bersenggama pasti dilandasi oleh perasaan cinta. Bisa saja karena kebutuhan atau keterpaksaan. Para pelacur yang melayani hidung belang, umpamanya. Pria tunasusila melakukannya karena kebutuhan. Butuh menyalurkan hasrat biologisnya.

Sementara itu, pelacur memberi jasa layanan kepada pelanggan karena terpaksa. Terpaksa karena tidak punya pekerjaan lain, selain memberi jasa layanan seks. Dan, Senada tak ingin membayangkan percakapan yang akan menimbulkan kesalahpahaman. Ia takut jika dianggap pelacur oleh suaminya.
Betapa tidak, ia pernah mendengar seorang suami yang menganggap istrinya pelacur. Meskipun kalimat itu dilengkapi dengan ”Tetapi ia hanya melayani seorang pelanggan yakni suaminya,” kalimat ini pernah didengar dari Taryono, tetangga sebelah rumahnya. Dan, ia tak ingin sang suami melontarkan selorohan demikan.

Sementara itu, Imron merasa aneh dengan perempuan yang baru saja melayani dirinya. Telah berkali-kali Senada diajaknya tidur bersama. ”Tetapi, mengapa baru kali ini ia bertanya apakah saya puas atau tidak atas pelayanannya. Begitu beratkah seorang istri melontarkan pertanyana semacam ini, hingga Senada harus menunggu bertahun-tahun untuk mengatakannya,” pikir Imron. •

Humam S Chudori, lahir Jumat Kliwon, 12 Desember 1958, di Pekalongan. Baru berani mempublikasikan tulisannya di media cetak pada 1982. Profesi yang pernah digelutinya: book-keeper, internal auditor, reporter, dan pengajar di berbagai lembaga pendidikan nonformal. Menjadi narasumber dalam berbagai workshop penulisan dan dewan juri lomba baca puisi dan cerpen.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Humam S Chudori
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Republika" Minggu 6 Oktober 2016

0 Response to "Pertanyaan Senada"