Pintu Hijau 13 | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Pintu Hijau 13 Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 06:51 Rating: 4,5

Pintu Hijau 13

SUARA Malina terdengar berat dan ragu-ragu.

”Kalian sedang membicarakanku?” tanyaku berlagak tidak mengerti. 

”Sebaiknya kamu pulang saja. Mereka mulai menaruh curiga padamu,“ kata Imah memandangku.

Malina memegangi lengan Imah. Mencengkeramnya erat.

”Bang Rusyid harus pergi dari sini, Malina,“ ujar Imah.

Kali ini memandangi Malina.

”Biarkan Bang Rusydi di sini. Sebentar saja,“ ujar malina. Suaranya tertahan dan hampir tersedak.

Kedua perempuan itu tampak di cermin meja saling memandang satu sama lain. Mata Malina berkaca-kaca, mengkilat diterpa cahaya lentera di sudut meja. Sekilas, melalui cermin, kedua perempuan itu seolah-olah akan saling melindungi satu lain. Selebihnya, aku berkesimpulan, mereka satu sama lain tampak saling memahami. Aku menduga, mereka telah sekian lama saling berbagi apa yang mereka derita.

Dari cermin, Malina dan Imah memantulkan bayangan sama: mereka sama-sama menyedihkan.

Di luar terdengar seseorang melangkah. Imah beranjak dari sisi Malina dan bergegas membuka pintu. Malina tetap terdiam di tempatnya. Di ranjang, dadaku berdebar hebat.

”Kalian lumat lelaki itu berdua?“ Seorang lelaki di luar berkata pada Imah.

Perempuan itu kudengar tertawa, dan tertawanya seperti dibuat-buat.

”Iya!“ jawab Imah ketus.

”Bukankah Malina datang bulan?“

”Malina menggunakan mulutnya. Kalau kamu mau masuk saja ke dalam dan kemaluanmu akan Malina gigit sekeras-kerasnya sampai lepas. Istrimu akan segera mencampakkanmu setelah itu.“
Kata-kata Imah bernada ancaman.

”Benar-benar perempuan buas.“

”Malina akan semakin buas!“ kata-kata Imah terdengar lebih ketus dari sebelumnya.

Lelaki itu kemudian terdengar melangkah ke arah samping kanan. Imah masuk lagi ke dalam kamar Malina.

”Sebaiknya kamu pulang saja,“ pinta Imah padaku.

”Pulanglah, Bang,“ kata Mlaina melihatku.

Aku turun dari ranjang. Aku mau pulang tapi serasa tidak tega meninggalkan Malina. Tak urung, alih-alih aku berjalan ke arah pintu, justru aku berjalan ke arah Malina. Segera saja aku mendekap ia dari belakang.

”Aku takut, Bang,“ ujar Malina.

”Tak ada yang perlu ditakuti., Mal,“ tanggapku menghibur. 

Dari cermin, aku lihat Imah tampak memerhatikan kami. Untuk pertama kalinya, aku lihat mata Imah berair.

”Segeralah pulang,“ kata Imah, terdengar berat mengucapkannya.

Aku melepas dekapan. Malina tak mau aku melepaskan dekapanku. Aku melepaskannya dan berbalik, lalu berjalan. Di belakangku Malina berdiri.

”Pulanglah,“ kata Imah memberiku jalan.

Aku berjalan pulang dengan enggan dan kupasang penutup kepala. Lepas dari beranda Pintu Hijau aku menoleh ke kamar Malina. Perempuan itu, serta Imah, berdiri di bawah palang pintu-pintu yang berwarna hijau pekat. Ketika langkahku mendekat pohon ketapang, aku menoleh lagi, kulihat seorang laki-laki yang kukira berbicara dengan Imah, mendekati mereka. Kemudian aku berjalan lagi tanpa menoleh. Aku sampai rumah kakek dengan ibu. Dan kakek sudah menunggu. Ini malam kelima. Seperti malam sebelumnya, aku dan ibu duduk di kursi di dekat ranjang di mana kakek duduk. Mula-mula kakek melihat bergantian ke wajahku dan wajah ibu. Lalu kakek menatap ke kejauhan melalui jendela yang gordennya disingkap. 

Dari jendela, petak-petak sawah terhampar dalam kegelapan malam. Pandangan kakek mengarah ke sawah. Saat kemudian aku melihat mata kakek sepertinya tidak memandang sawah. Ia memandang, seolah memerhatikan suatu tempat yang jauh. Pandangan kakek mulai diliputi kekosongan.

”Bagaimana keadaan Malina akhirnya, Ayah? Apa terungkap juga bahwa Malina berbohong tentang datang bulannya?” Ibu bertanya. 

Kakek tidak menanggapi pertanyaan ibu. Posisinya tetap tak berubah, kakek dalam kondisi pandangan mengarah ke sawah namun matanya melihat kekosongan.

Masih dalam kondisinya yang begitu, kakek mulai berbicara. Sementara aku dan ibu, sepenuhnya diam dan sepenuh hati menyiapkan diri menyimak yang akan dibicarakan kakek. Ibu membenarkan letak duduknya yang sudah tepat. Sebenarnya ibu begitu, lebih tampak sebagai gerakan menyiapkan mental daripada memperbaiki posisi duduk.
Beginilah kakek bercerita”

Tak ada yang tahu kebohongan Malina akan datang bulannya selain aku dan Imah selama dua bulanan. Bahkan sebagaimana penuturan Malina suatu kali, Mudinr menduga Malina terkena penyakit kelamin. Setelah malam saat Malina melukai lengan kirinya, sejak malam itu tiap malam aku mengunjungi Malina selama satu minggu setiap malamnya. Tentu dengan cara menghindari bertemu langsung dengan Mudinar dan beberapa lelaki di sana.

Aku berani datang ke Pintu Hijau, awalnya dengan rasa takut. Takut aku ditemukan mereka yang berjaga di Pintu Hijau. Dan yang paling membuatku takut, aku takut Malina akan mengusirku, mengusir karena ia takut aku ditemukan mereka yang berjaga. Namun aku memberanikan diri dan sesampainya di kamar malina aku berusaha meyakinkan bahwa mereka tak akan menemukanku. Toh mereka tidak memeriksa pengunjung, kataku pada Malina.

Setiap malam aku berganti-ganti pakaian dan caraku bergerak selalu aku ubah. Kadang aku bergerak buru-buru seperti seorang pemuda takut diketahui orang, takut diketahui orangtuanya yang akan segera berbuat mesum dengan salah satu dari perempuan di Pintu Hijau. Kadang aku bergerak seperti lelaki setengah baya yang juga terlihat seperti ketakutan, yang khawatir istrinya menyusul di belakang. Semua itu kulakukan dengan tetap memakai penutup kepala topi dan sapu tangan kugantung di leher, yang kugunakan untuk menutup mulutku. Bahkan beberapa kali aku memakai kaca mata hitam.  (bersambung)-c


Rachem Siyaeza: lahir di Pajagungan, 2 September 1988, sebuah kampung kecil di ujung timur Pulau Madura, Kuliah di  Jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga tahun 2007 dan lulus 2015. Beberapa tulisannya termaktub dalam bunga rampai kumpulan ceriat pendek Jalan Menikung ke Bukit Timah (2009), Tiga Peluru (Kummpulan Cerpen Pilihan Minggu Pagi Yogyakarta 2010, editor Latief Noor Rochmand) Riwayat Langgar (2011), Love Autumn (2012). Bermukim di Yogyakarta. 


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Rachem Siyaeza
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi 6 November 2016


0 Response to "Pintu Hijau 13"