Pintu Hijau 14 | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Pintu Hijau 14 Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 06:21 Rating: 4,5

Pintu Hijau 14

SEMENTARA itu banyak sekali lelaki sebagaimana dituturkan Malina, yang akhirnya masuk ke kamar lain. Salah satunya kamar Imah, dengan dalih sama: Malina sedang datang bulan.

Pada minggu-minggu berikutnya setelah itu, Malina seolah menemukan kebebasannya dan seringkali ia datang ke kosku dan menghabiskan waktu hanya berduaan denganku. Sering kami makan malam bersama di warung remang-remang dekat kosku. Minggu-minggu ini juga, Malina benar-benar datang bulan. Luka lengannya kering dan mulai sembuh.

Kalian tahu, di waktu-waktu itu aku tidak memiliki pekerjaan apa pun dan uang sisa kerjaku selama menjadi buruh rel kereta api mulai menipis. Akhirnya habis. Malina mengetahui kondisi keuanganku dan sering memberi sejumlah uang cukup besar padaku. Kondisi inilah yang selanjutnya membuatku bergabung dengan tetangga kosku yang pengamen jalanan. 

Kalian tahu dan mungkin kamu, Nak, juga telah menceritakannya pada ibumu tentang radio dan gitar yang kubeli dari uang hasil kerjaku selama menjadi buruh kereta api. Suatu siang ketika aku tidak lagi bersama Malina, aku bersama Malina waktu-waktu itu sering malan jari, aku menghampiri tetangga kos yang sedang berkumpul bernyanyi dan aku menyapa mereka.

Dimintalah salah satu dari mereka agar aku bergabung saja. Mereka tahu aku tidak bekerja saat itu. Kata salah satu dari mereka, sementara saja sekadar mengisi waktu sebelum memeroleh pekerjaan. Juga sekadar bersenang-senang.

Mereka, para pengamen jalanan itu, orang-orang baik dan selalu membagi hasil mengamen dengan rata. Kami juga sering makan bersama.

Tak banyak yang mesti kuceritakan tentang mereka selain hanya kami tidak ada masalah-masalah besar yang menyebabkan kami bersitehang. Kelak justru para pengamen tetangga kosku inilah yang membantuku menghajar Mudinar dan teman-temannya ketika suatu malam mereka mendatangi kos dan tanpa babibu memukulku.

Tentu saja uang dari ngamen itu tidak mencukupi untuk menopang hidupku. Hanya saja dengan aku ikut ngamen, aku tidak terlalu malu pada Malina bahwa aku tidak hanya diam dengan kondisiku. Dorongan rasa malu inilah yang akhirnya membuatku berpikir pulang ke rumah, di Bumimekar. 

Tentu karena aku sudah sangat mabuk oleh Malina sampai ke ubun-ubunku dan menjalar di sekujur tubuhku, maka apa pun akan kulakukan.

Akhinya aku benar-benar pulang selama dua hari ke Bumimekar. Di rumah aku bertengkar hebat dengan kedua orangtuaku. Aku bertengkar karena memaksa minta warisan. Aku diberi warisan beberapa petak sawah yang akhirnya kujual dengan cepat.

Tak perlu juga kuceritakan lebih banyak lagi tentang bagaimana aku dan kedua orangtuaku bertengkar hebat soal permintaanku akan warisan. Mudah-mudahan aku diampuni oleh Yang Maha Kuasa atas dosa-dosaku pada almarhum kedua orangtuaku.

Kemudian aku kembali ke kota ini dengan menaiki kereta membawa yang hasil menjual sawah itu. Di depan kosku, Malina sudah menunggu ketika aku sampai dan lelah oleh perjalanan. Saat itu malam sudah memetang di angkasa. 

Saat itu, untuk pertama kalinya, sepanjang jalan aku berhubungan dengannya, Malina mengajakku menunaikan salat. Aku mengiyakan di tengah kantuk perjalanan yang sangat.

Sudah lama aku tidak menunaikan salat dan aku tidak terlalu terkejut menemukan Malina mengajakku menunaikannya. Sebab jauh hari sebelumnya, di kamar Malina, aku menemukan seperangkat alat salat. Malina membawa seperangkat alat salatnya. Setelah selesai menunaikannya, rasa lelahku sedikit menghilang dan kesempatan itu kami pakai berbicara.

”Ke mana saja kamu dua hari ini, Bang? Tiap malam aku ke sini dan kamu tetap tidak ada,“ ucap Malina.

”Maafkan aku tidak memberitahu, Mal. Aku pulang ke Bumimekar.“

”Untuk apa pulang, Bang?“

”Memang ingin pulang karena sudah lama tidak pulang.“

AKU menutupi tujuanku pulang. Namun Malina menangkap keraguan dalam ucapanku yang pada akhirnya Malina berkata seperti menuduh.

”Pasti ada maksud tertentu kamu pulang, Bang. Kamu tidak pernah berbicara padaku tentang keinginanmu pulang.“

”Aku pulang untuk menjual sawah. Aku mau membawa kamu lari secepatnya dan soal Pamanmu nanti dipikirkan saat kita sudah di tempat lain, Mal.“

”Kamu tidak perlu melakukan itu, Bang. Tunggulah sampai aku benar-benar bisa bertemu dengan Paman.“

”Tidak, Malina. Tidak ada yang bisa ditunggu.“

”Bagiamana aku harus mengatakan pada BIbi dan orangtuaku kalau nanti bertanya Paman.”

”Ceritakanlah yang sesungguhnya. Mereka harus tahu apa yang pamanmu lakukan padamu, Malina.”
”Itu sangat sulit, Bang.”

”Tapi tetap harus dikatakan.“

Aku menarik napas dan kulihat saat itu Malina menunduk, seperti berpikir keras.

”Sudah cukup kamu berkorban untuk Pamanmu, Malina. Kamu harus sadar kalau Pamanmu telah menjerumuskanmu.“

”Aku selalu takut bertindak lebih jauh, Bang.“

”Tetapi segala sesuatunya harus dicoba, Mal,“ kataku dan Malina diam saja sampai lama.
”Percakapan kami berhenti sampai di situ saja. Kemudian Malina memintaku istirahat karena tahu aku lelah oleh perjalanan. Ia pulang ke Pintu Hijau.

Dalam beberapa kesemaptan aku sendirian, dalam waktu-waktu itu. Aku menyempatkan diri menghitung waktu yang kupunya dengan Malina. Terhitung sejak malam Malina melukai lengan kirinya sampai kemudian aku tidak lagi bisa bertemu dengan Malina, dua bulan kira-kira waktu yang kami punya.

Kebebasan Malina datang ke kosku didapat Malina dengan cara memberikan sejumlah uang pada Mudinar dengan alasan setiap Malina keluar dari Pintu Hijau, menemui beberapa panggilan di luar. Malina berdalih pada Mudina bahwa panggilan itu diperintah Suliman, dan mereka yang memanggil Malina sudah menghubungi Sulimah jauh-jauh hari sebelumnya. Tentu saja sebenarnya Malina menemui aku. (bersambung)-c


Rachem Siyaeza: lahir di Pajagungan, 2 September 1988, sebuah kampung kecil di ujung timur Pulau Madura, Kuliah di  Jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga tahun 2007 dan lulus 2015. Beberapa tulisannya termaktub dalam bunga rampai kumpulan ceriat pendek Jalan Menikung ke Bukit Timah (2009), Tiga Peluru (Kummpulan Cerpen Pilihan Minggu Pagi Yogyakarta 2010, editor Latief Noor Rochmand) Riwayat Langgar (2011), Love Autumn (2012). Bermukim di Yogyakarta. 


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Rachem Siyaeza
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi 13 November 2016

0 Response to "Pintu Hijau 14"