Pulang - Empat Belas Baris buat Satu Pertemuan Pertama - Cuplik Catatan Perjalanan Ma Huan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Pulang - Empat Belas Baris buat Satu Pertemuan Pertama - Cuplik Catatan Perjalanan Ma Huan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 01:43 Rating: 4,5

Pulang - Empat Belas Baris buat Satu Pertemuan Pertama - Cuplik Catatan Perjalanan Ma Huan

Pulang

Dia pulang, tidak sepatah kata
Menatap dindingnya, menatap pendingin udara
Satu keluarga semut jalan vertikal
gotong bangkai seekor lalat 
Dua tiga kuntum jengger ayam membara 
di atas balkon, seekor cicak mengintip dari sela jendela 
kunci pada tempatnya, bunyi piring, air keran, suara orang 
dari kamar berbeda. Seekor kucing loncat ke atas dipan 
menjilat sisa kuning pudar cahaya petang 

Dia pulang, tidak sepatah kata 
Bengkok udang di atas ranjang, seutuh pakaian 
penuh debu dunia, lelaki 40 sekian sekian 
rabun senja bagai sehelai selimut tipis 
menutup kepalanya, dia seolah pulang ke 
rahim ibu rahim semesta. Besok akan edit ulang waktu yang salah 
diterjemahkan, terdengar piring bertemu sendok 
kaki kursi diseret, air keran mengucur, dia tahu 
rahim dan usus besar hanya terpisah selapis dinding lembab 
dan tipis, dia lihat ke luar jendela, langit telah melepas 
gelung rambut hitamnya, sebaris antena perlahan menyisir 
bintang jatuh berkedip bagai telur emas kutu kepala

Empat Belas Baris buat Satu Pertemuan Pertama

Ujung gaun merahmu menyentuh ambang pintu, seluruh
kuning terang pesisir dituang ke dalam bayang awan tipis
sebuah kwatrin Tang. Angin gugup di ujung rambut, hujan
jauh jejak di pasir, kulihat 100 soneta Neruda di matamu

Latar adalah Tata Surya, cahaya matahari menyerut lewat
permukaan setiap planet, kau melangkah masuk ruang
kemudi sebuah pesawat ulang-alik terdampar. Gravitasi
semilyar tahun, kita jadi dua titik sebuah muasal terjauh
Bergerak mendekat di dalam tahun cahaya tak terkira,
di luar jendela sebiji meteor menolak berpijar sunyi dalam
serbuk semesta, melintas sekejap sebelum kita berlayar

Kau duduk mengupas jeruk, di atas meja tua nahkoda
kubuka peta laut, pada sebuah pulau, pada sepetak kebun
Laju pada cinta, arah angin pada tekad, riak buritan berpijar

Cuplik Catatan Perjalanan Ma Huan

Susur peta tanpa skala, pulau-pulau
karang bagai nasi tumpah di atas kuah gulai,
minyak snatan memuai dari garis Pantai Tiongkok Selatan
sampai Jazirah Arab, meninggalkan jejak air pasang surut
bercampur serat kunyit, serai, lengkuas, partikel kelapa,
cengkeh, kemiri jintan, ketumbar, dan pala, menjulur dari muara
sampai hulu sungai. O alangkah harum perjalanan ini,
bersama angin musim telah bertiup 600 tahun. Tiga kali kau
ikut ekspedisi pencitraan  Kaisar Ming, sambil mencari jejak
pangeran yang minggat, pada setiap dermaga melihat bayangmu
singgah dan berkelebat, mencatat, segala macam produk lokal,
komoditas dagang, alat ukur, mata uang, adat istiadat, pemerintah dan agama.
Catatan perjalananmu tampak seperti buku panduan dagang
di negeri rantau; ringkas tanpa tanda baca. Kau bilang setiap lelaki Jawa
menyelip sebilah beladau di pinggang, artinya kau jangan macam-macam.
Mata uang koin tembaga, punya aksara tiada kertas dan pena
pembukuan diukir pisau di atas kajang, 1 kati Jawa sama dengan
28 tahil Tiongkok, 1 tahil Jawa = setahil empat emas Tiongkok.
Tidak tahu secupak rapuh porselin sama tidak dengan secupak pedas lada?
Tidak tahu segantang lembut sutra sama tidak dengan segantang adap kemenyan?
Tidak tahu sekulak katun India sama tidak dengan sekulak kapuk randu?
Kau telah masuk Palembang, walau catatanmu penuh salah cetak
dan kata-kata termakan kutu waktu, tapi kau jujur, setidaknya
buat Chen Zuyi, penguasa laut dipelintir jadi perompak, Zheng He
menyeret kepalanya ke bawah pisau megalomania Kaisar
Ming: Seluruh Bawah Langit adalah milikku, sabdanya.
Kau emnyelip masuk selat Malaka, melihat kaki-kaki
injak sagu, saripati mengalir sampai jauh, lewat spektrum 
matahari, lewat sel-sel memori, berlayar di dalam
1.350 cc otakku, berdesis keluar mi sagu, lempeng,
sagun, dan alamak, tempoyak durian biji sagu.
Sekarang kenyang mengikuti kau lewat Aru,
Lambri, Nikobar, Kalikut, dan berlabuh di Jeddah
Kau dan enam rekanmu sepakat naik haji ke Mekkah
meninggalka aku sendiri di tiup buih Laut Merah
dan angin Pegunungan Hijaz, untung Jeddah
tak terlalu membosankan, lagipula kau berjanji
akan membawakan aku sebotol air zamzam
begitu kau menutup catatan. Tarikh Jintai
tahun 2, di Kuaiji, Ma Huan bertutur
dan aku selamat berlayar pulang
dengan sebotol air zamzam
isi badai samudra dan angin gurun
dijinakkan, 9 Juli 2015 Masehi
22 Ramadan 1436 Hijriah,
Diceritakan kembali 
John Kuan



John Kuan lahir di Pulau Rangsang, Riau, 1967. Ia telah menerjemahkan sejumlah karya sastra Tiongkok klasik dan kontemporer.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya John Kuan
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" edisi Sabtu 19 November 2016 

0 Response to "Pulang - Empat Belas Baris buat Satu Pertemuan Pertama - Cuplik Catatan Perjalanan Ma Huan"