Rawi Tanah Bakarti - Tenun Bakarti - Po Hwang Kong - Kata - Daun Ampan - Ibu Tidur di Beranda | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Rawi Tanah Bakarti - Tenun Bakarti - Po Hwang Kong - Kata - Daun Ampan - Ibu Tidur di Beranda Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 01:07 Rating: 4,5

Rawi Tanah Bakarti - Tenun Bakarti - Po Hwang Kong - Kata - Daun Ampan - Ibu Tidur di Beranda

Rawi Tanah Bakarti

kusebut tenggara saat kausebut pertengkaran, antara mereka,
kelasi dan pencuri di kapal yang berlayar menuju Ampenan

bulu domba, suryakanta, dupa wangi swarga, juga jimat malaya
kelak luput dari tangan tukang catut, keturunan yang tercerabut

dari bijana pertama, ketika kelasi membuang mayat pencuri ke laut
lalu hanyut ke seberang, dibawa duyung kesepian ke punuk karang

duyung itu bibi, datang pada suatu hari dengan rambut berkepang
matanya lengkung limau muda, kulitnya lempung pulau sokotra

dibawanya katun merah marun, majalah ejaan lama, pula cita-cita menjadi juru doa
agar tiap yang melayat dapat melihat benang-benang lepas dari mayat

ditanyakannya arah menuju rumah, aku sebut tenggara, dengan nawaitu
bakal dihaturkan padaku ilmu yang satu itu, ilmu menerima semua ilmu

ilmu yang membuat si pencuri hidup lagi, bersembunyi di duri putri malu
menanti tersentuh jari dan darah tersepuh kilau matahari, pada suatu pagi

ketika hari perayaan digelar di pelabuhan, ketika bendera digetarkan kedatangan kapal
dan menir berkumis melihat kijang-kijang berlarian di semak pandan

bersama jejak sunan, ludah kaum terbuang  yang menyingkir ke liang gunung
mencuci kisah Teganang dengan keringat dikeruhkan angin ladang

menir itu paman, pada suatu hari pergi dengan janin di perut bibi
matanya api biru tunggal kayu, kulitnya perunggu di jantung batu

hanya kelasi yang mengerti mengapa kini kota ini sekisut kuping bayi
sebab ia tua oleh suara ombak menolak usia, ia celaka oleh upaya menjadi baka

padahal bibi akhirnya mati, paman bunuh diri, dan kubur mereka terpisah dunia
satu di pusar samudra, satu di hampa udara, sedang antara keduanya hanya ada dada

di mana rahasia terbuka, bahwa di tenggara, jauh di tenggara, karang itu masih ada
tumbuh inci demi inci, bagai tubuh jin gili, jadi tanah tanpa perawi yang kausebut Bakarti

(2016)

Tenun Bakarti

apalah garis ini jika tak menuju ke mana-mana. garis
setelah garis, garis sebelum garis. pada latar
bidang datar, kekosongan
yang pudar

tak ada Sakardiu, tunggangan Jayengrana itu
tak ada Mandalika, perempuan yang ditelan samudra
juga tuan guru, gelar yang gemetar di bibir hambar
apabila disebut, sleuruh rakyat takut
bertunas di ladang, terkuras di tulang, para pengarat sampi
yang berjaga tiap malam, dengan parang terasah jampi

apalah kain ini jika tak mengisahkan apa-apa. serat
setelah serat, serat sebelum serat. pada pudar
bidang datar, cuma kosong
pelataran

(2016)

Po Hwang Kong

masuk lepaskan alas kaki. tiang-tiang dupa wangi
sepasang mata gong: Po Hwang Kong. menabur rahmat
hari libur

masuk, ke sendi-sendi kayu. sinar pada mata patung itu
lalu bayangkan. lembu merah berjalan di lembah
di bawah perputaran benda-benda angkasa
lempeng tua antariksa

sebut nama-nama leluhur. ruh mereka akan terjulur
jauh. dari kawasan tak tertempuh. itulah tali terbaik
untuk berpegang. pendar ganggang di perairan
ketika perahu-perahu pertama berlayar

kita bakal makmur. kita bakal memukul tambur
ruh leluhur. terjulur-julur
mata gong menyala
Po Hwang Kong terbuka 

(2016)


Kata

yang jatuh pertama adalah kata
benda lunak paling berbahaya
kata melepas makna, benda berat
yang senantiasa tak teraba

sebelum diberi nama:
adam atau surga atau hawa atau udara
atau cinta atau agama atau gerak atau nyala

atau manusia; keributan benda-benda
pada sebatok kepala

(2016

Daun Ampan

1.
daun ampan, daun ampan, tunjukkan padaku
jalan ke makam. Selaparang. tunjukkan padaku
jalan ke makam seorang pelarian. yang hilang,
yang hilang di tengah halimunn peperangan.

2.
apa yang lebih samar dari kematian Saleh Sungkar
kematian yang memberi nama bagi sebuah jalan
di Sukaraja kita makan siang, sambil melupakan
ia syeh, ia diculik, ia meleleh sebagai lilin di gelap bilik

3.
ruko-ruko kayu, lagu melayu di gang-gang buntu
bioskop memutar petualangan Amitabh Bachchan
hari yang panjang bagi makelar jam tangan
para buruh berkerumun, aku ingat, aku ingat Tan Tuan Bun

4.
amis garam, asin angin melekat di karat tiang pelabuhan
jalan pasir ke Pura Segara, buih ditampih lidah samudra
kulit kerang berkilau seperti mahkota raja-raja yang mati
meninggalkan rahasia, siapa antara kita yang mula tiba

5.
di situ ada rumah candu, laba-laba berwarna biru
pasar malam Malomba akan dibuka  hari sabtu
siapa bersepeda sepanjang simpang lima, itulah dia
cinta pertama di tengah letupan limun soda

(2016)

Ibu Tidur di Beranda

Ibu tidur di beranda. Siaran radio meresap di kulitnya.
Sebelum tidur ia dengar suara pesawat melintas lambat.
Ia bayangkan putranya di dalam sana, hendak pulang,
Ia bayangkan hutan-hutan sawit melengkungkan punggung remaja
yang potret masa kecilnya buram di dinding kamar.

Tunas tomat merekah tanah, sedikit di sebelah kanan rumah.
Tapi taka da pekerjaan, cara menghabiskan usia
di bawah langit yang sama semenjak sepasang pendosa
dibuang dari sorga. Juga untuk menerima
bahwa para pembuat pepatah telah berdusta. Tak ada sorga.
Tak ada tongkat. Dan batu-batu tak diangkat derajatnya.

Ibu tidur di beranda. Dalam tidurnya, ia saksikan perahu kayu.
mengangkut penumpang gelap. Hanyut ke rawa-rawa berasap.
Sirine, sorot lampu, teriakan-teriakan dalam bahasa Melayu.
Ia bayangkan putranya diturunkan dari pesawat. Terbaring pucat
dalam peti yang engsel-engselnya mulai berkarat 

(2016)


Kiki Sulistyo, lahir di Kota Ampenan, Lombok, 16 Januari 1978. Kumpulan puisinya, antara lain, Penangkar Bekisar (2015).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Kiki Sulistyo
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" edisi Sabtu 12 November 2016

0 Response to "Rawi Tanah Bakarti - Tenun Bakarti - Po Hwang Kong - Kata - Daun Ampan - Ibu Tidur di Beranda"