Soliloqui - Tari Campak Belitong | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Soliloqui - Tari Campak Belitong Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:36 Rating: 4,5

Soliloqui - Tari Campak Belitong

Soliloqui

: kepada pemilik tanah

Telah kupilih meninggalkan
sebab berhenti bukan kalam
yang kini aku amalkan

Aku memilih karena kehendak
bukan takut lantaran harus tunduk
Laku ini jadi tindak tanduk
yang ditakdirkan, bukan kutuk
atau sikap yang dijalankan dengan kantuk
Aku bukan anjing pelihara
memohon tulang susu dengan julur lidah

Aku pemburu, menjejak langkah
mengumpulkan imaji di jantung semesta
Kutinggalkan teduh genteng rumah
menghampiri gaduh genting kembara
Meski gendeng orang anggapkan
kembali jadi enggan
jika bukankehendak hati terdalam
Perjalanan adalah sebenar-benarnya pulang
sebab kembali bagai anjing hilang gonggong

Kukitari waktu
yang berputar dalam diri
susuri jalan, menerabas semak
tak henti meski erang tertusuk onak
Kunaik-turuni tanah berundak
arungi sungai berarak

Ai mak jang
akulah Cebolang, si Anak Jadah
kalam yang kuamalkan
mengasingkan diri, bukan diasingkan
Memilih karena kehendak
bukan takut karena harus tunduk
pada kalam-tangan lapuk
pada petuah yang didongeng semata

Dalam putaran waktu yang merangkak
kusadari penuh tak segala tersibak
Kepulangan, tak cukup karena rindu
meski usia dalam tubuh membengkak

Yogya, Jejak Imaji, 2015 - 2016

Tari Campak Belitong

: urban dan transmigran
Kami sambut musim, Tuan
dengan Tarian Campak
Lenggok tubuh berselempang selendang
lehermu jadi tujuan dikalungkan
Syukur rahmat langit yang tumpah
berbagi sedekah atas karunia melimpah


Petik nilon gambus kuning kepala rusa
pak pung merah gendang Melayu
Kuning agung merah bersama
keagunganmu dalam lingkar bersaudara
Lengking piul bersanding akordion, mengirama
pengingat anak cucu kalau Portugis
pernah singgah memburu rempah surga agraris
Lantun pantun sambut menyambut
menjadi semacam azimat
Semoga pisah kembali bersua jabat
buat mandi bersama di sumur keramat

Kami menyambutmu, Tuan
Tarian Campak suguh sirih setepak
Mari babat rimba dirikan pundok
angkat pacul arit membuat ume
Meski tempat menebar benih
diporanda tambang besi timah
Masih sisa sepetak dua tanah
buat menandur remah doa

Jalan melebar dua tiga depa
desa beranjak dewasa
kota puber kedua

Awas Si Dayang membuat kepayang
anak istri dilupa nun jauh di kampung
Luang waktu ke pasar menepi
Bujang diskusi di warung kopi
Perbincangkan judi buntut yang luput
dan debat kusir carut marut

Sekarang kami menyambutmu, Tuan
ada Tarian Campak modern
dengan keybord dan rancak drum
menjaga pasar, pantun berganti lantun
dangdut sambil umbar dada paha biduan
Berulur tangan sedekahmu berlembar
agar wewangi rempah kepul di dapur

Yogya, Jejak Imaji, 2016


Iqbal H Saputra, adalah nama pena Iqbal Saputra, lahir di Belitung, 8 November 1989. Saat ini mengabdi di Kelompok Belajar Sastra Jejak Imaji. Selain memba- cakan karya dan mementaskan naskah dipanggung, aktif mendongeng, bermusik, dan melukis. Sedang mempersiapkan antologi puisi tunggal Percintaan Hi- brida dan peluncuran minialbum musik puisi Nocturne dalam waktu dekat.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Iqbal H Saputra
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu 13 November 2016

0 Response to "Soliloqui - Tari Campak Belitong"