Surga Berada di Telapak Kaki Siapa? | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Surga Berada di Telapak Kaki Siapa? Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 18:31 Rating: 4,5

Surga Berada di Telapak Kaki Siapa?

Setelah kau tahu cerita ini, mungkin kau akan menjadi sangsi tentang ungkapan kalau surga itu berada di telapak kaki ibu. Tetapi tidak demikian bagi Ben. Ben tetap saja memandang ibu sebagai orang yang memang seharusnya dihormati, karena dia menganggap istimewa peran ibu dalam kehidupan keluarga. 

Narmi. Begitulah nama ibu ini. Seorang ibu yang tidak tamat SD. Seorang ibu yang emosional dan tidak kenal kompromi. Seorang ibu yang selalu ingin menang sendiri. Dia sering underestimate terhadap setiap perilaku orang lain, bahkan juga terhadap suami dan keempat anaknya. Dari sekian orang terdekatnya itu, hanya Ben-lah yang tetap peduli terhadap perilaku ibunya. Ben adalah anak tertua dari ibu yang kuceritakan ini.

Ben sangat menyadari bahwa ibunya mempunyai pribadi yang buruk. Akan kuceritakan semuanya apa yang menjadi keburukan-keburukan dari ibu ini. Pertama, dia adalah seorang ibu yang punya mulut kotor, sebab dari mulutnya sering terlontar kata-kata kotor. Hampir semua kata sumpah serapah selalu keluar dari mulutnya. Untuk sampai mengatakan kata-kata kotor itu, dia tidak selalu dalam kondisi marah, kecewa, atau jengkel. Dalam situasi normal saja, kata sumpah serapah itu tetap akan meluncur dari mulutnya. 

Kedua, dia adalah seorang ibu yang punya lidah tajam. Dia suka menelanjangi orang dengan kata-kata pedasnya hingga sering menyebabkan orang lain merasa tidak lagi punya harga diri sedikit pun di hadapannya. Dengan anak dan suaminya pun ia tetap bersikap demikian, tidak pernah menghargai pribadi anak-anaknya dan suaminya. Bahkan dia sering menggunakan kata tikus atau anjing untuk memanggil mereka.

Keburukan ketiga, dia adalah seorang ibu yang malas, tidak pernah menjalankan pekerjaan rumah yang lazim dilakukan oleh seorang ibu. Dia tidak pernah mencuci pakaian, demikian juga tidak pernah mencuci peralatan makan dan peralatan dapur. Dia tidak pernah menyapu apalagi mengepel lantai. Dia juga tidak pernah memasak. Semua pekerjaan rumah dikerjakan oleh suaminya. Kalau toh sampai dia melakukan pekerjaan-pekerjaan itu, justru seringkali akan menciptakan keruwetan, hingga pada akhirnya jadi merepotkan. 

Boros. Inilah keburukan keempat dari ibu ini. Dia tidak dapat mengelola uang yang diberikan oleh suaminya. Dia tidak pernah paham tentang skala prioritas kebutuhan keluarganya. Sering kali uang yang diserahkan suaminya di awal bulan, telah habis pada pertengahan bulan. Karena kehabisan uang, sering dia mengambil jalan pintas, berutang ke sana sini. Celakanya yang selalu menjadi tumbal dari perilaku ini adalah suaminya. Asal kau tahu, uang gaji yang diperoleh suaminya harus diserahkan semua kepadanya. Dalam kesehariannya, tidak sepeser pun uang yang tersisa untuk suaminya. Jika suaminya ingin punya uang buat pegangan atau untuk keperluan lain, suaminya harus mencari uang lagi dari sumber lain.

Mungkin kau menganggapku mengada-ada, tapi inilah kenyataan. Mungkin kau bertanya, mengapa suaminya masih bersedia bersatu? Mengapa suaminya sangat lemah di hadapannya? Mengapa keluarga itu masih bisa bertahan? Aku sendiri tidak habis pikir, mengapa hal itu dapat terjadi? Yang aku tahu, Ben selalu berusaha memperjuangkan kesatuan keluarga ini.

Ben adalah teman baikku. Lima tahun yang lalu dia bercerita tentang kisah ini. Aku mengira masalah itu sudah selesai, tidak terpikirkan akan berlangsung hingga kini.

Siang ini, setelah sebelumnya dia SMS, dia main ke rumah, kami bertemu dan ngobrol lama. Maklum, tidak bertemu lima tahun bukan waktu yang singkat. Bermula dari pertanyaanku, kapan dia akan menikah, akhirnya perbincangan kami sampai juga pada masalah itu.

“Ha ha ha ha, pertanyaanmu tidak mengenakkan,” jawabnya.

“Apakah ada yang salah dengan pertanyaanku? Adikmu Bono dan Beti sudah menikah, sementara kamu belum. Jadi kupikir pertanyaanku wajar.”

“Iya sih, kau benar, tapi aku masih punya beban.”

“Beban? Apa itu?”

“Aku  tidak ingin melihat kehidupan orangtuaku hancur.”

“Ada apa dengan mereka?”

“Masih tentang ibuku.”

“Ada apa dengan ibumu?”

“Masih sama dengan yang dulu pernah aku ceritakan kepadamu.”

“Karakter ibumu-kah?”

“Begitulah. Dia seperti tidak punya otak dan hati. Masih saja seenaknya sendiri.”

“Jangan bilang seperti itu sama orangtua. Kualat, tahu!”

“Aku akan tempuh segala cara untuk selalu mengingatkan ibu. Aku tidak takut kualat jika memang ibu bisa menjadi lebih baik.”

“Lalu hubungannya apa dengan kau belum menikah?”

“Jika aku sudah menikah, aku tidak bisa konsen lagi untuk masalah ini. Otomatis aku akan jadi sibuk dengan keluargaku sendiri.”

“Semua anak pada akhirnya akan meninggalkan orangtua dan hidup mandiri, Ben.”

“Lalu, apa balasan anak kepada orangtua?”

“Membahagiakan mereka. Meringankan beban-bebannya. Bukan begitu, Ben?”

“Oke. Aku setuju kita harus membahagiakan mereka, tapi menurutku kebahagiaan itu adalah ketika mereka telah siap berpulang. Dan kebahagiaan seorang ibu akan lengkap jika sebutan surga di telapak kaki ibu itu memang benar-benar disandangnya. Dan untuk ibuku saat ini, sama sekali belum layak menyandang gelar itu. Aku merasa terpanggil untuk membuat agar ibu dapat gelar itu sebelum dia dipanggil Tuhan.”

“Meski dengan cara mengorbankan hidupmu?”

“Kalau memang jalannya mesti begitu, kenapa tidak?”

Sekilas aku melihat di daerah pergelangan tangannya terdapat sebuah goresan, mirip bekas sayatan silet.

“Ini yang terakhir,” katanya tiba-tiba. Seolah tahu apa yang sedang kupikirkan.

“Maksudmu?”

“Suatu hari ibuku mencak-mencak tidak karuan, semua penghuni rumah disumpahserapahi tanpa alasan yang jelas. Ayah yang pasrah semakin tenggelam dalam injakan kaki ibu. Pikiranku kalut. Aku sulit lagi berpikir waras. Kuambil pisau, kusayat aliran darahku di tangan ini. Darah mengucur, dan tubuhku rubuh. Samar aku mendengar jeritan ibu melengking. Itulah jeritan ibu yang pertama aku dengar dengan nada pilu seorang ibu. Selintas aku tersenyum.”

“Tersenyum untuk apa?”

“Sepertinya ibu orang yang baik.”

“Ahaa. Kau menjadi takut dosa, Ben?”

“Kau benar. Sebenarnya aku takut sekali dosa. Pergolakanku untuk hal ini kerap muncul dalam doaku. Tetapi aku lebih memilih takut, jika ibuku yang tidak terselamatkan.”

“Mengapa kau tidak jera ingin mengubah ibumu?”

“Karena aku meyakini sesuatu.”

“Keyakinan macam apa hingga kau begitu yakin?”

“Kau pasti pernah mendengar, adanya sebuah ungkapan bahwa seekor induk singa pun tidak akan memakan anaknya sendiri?”

“Kau percaya?”

“Percaya. Seburuk-buruknya seorang ibu, tetap seorang ibu. Kau pernah lihat lambang yin yang?”
“Apa itu?”

“Sebuah gambar berbentuk lingkaran, separo berwarna hitam dan separonya putih. Di dalam warna hitam terdapat lingkaran kecil berwarna putih, dan di dalam warna putih terdapat lingkatan kecil berwarna hitam.”

“Lambang apa itu?”

“Aku tidak yakin, tapi mungkin sebuah perlambang hati manusia. Sehitam atau sejahat apa pun manusia, pasti tetap ada kebaikan di dirinya, meski hanya kecil. Itu berarti juga berlaku sebaliknya, ada hitam di dalam putih. Ah, mungkin juga hanya berarti sebuah keseimbangan.”

“Lalu apa hubungannya dengan ibumu?”

“Mungkin dia orang yang baik. Mungkin aku harus mencari, di mana letak putihnya.”

“Pemahamanmu ini, tiba-tiba membuatku berpikir tentang ayahmu.”

“Ah, itu bukan pandanganku, aku hanya menceritakan kembali pandangan orang yang pernah kudengar. Tapi ngomong-ngomong, ada apa dengan ayahku?”

“Mungkin ada yang kau lewatkan. Kau perlu juga mencari yang hitam dari ayahmu.”

“Aduh, mendadak terasa panas sekali siang ini. Aku jadi malas pulang.”***


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Yuditeha
[2] Pernah tersiar di "NOVA 1429/XXVIII 13 – 19 Juli 2015


0 Response to "Surga Berada di Telapak Kaki Siapa?"