Telepon dari Ibu - Di Ujung Azan - Pulang - Kampung Halaman - Paragraf Hujan yang Dituliskan Anakku - Gadis - Sepanjang Jalan Hujan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Telepon dari Ibu - Di Ujung Azan - Pulang - Kampung Halaman - Paragraf Hujan yang Dituliskan Anakku - Gadis - Sepanjang Jalan Hujan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:40 Rating: 4,5

Telepon dari Ibu - Di Ujung Azan - Pulang - Kampung Halaman - Paragraf Hujan yang Dituliskan Anakku - Gadis - Sepanjang Jalan Hujan

Telepon dari Ibu

telepon dari ibu tak kunjung berdering di ponselku.
rumah masa lalu dipenuhi kabut, jalan-jalan tertutup
rambu dari rutinitas. begitu lama ibu tak kutemui, pun
remah suaranya yang selalu menjagaku di masa kanak.
tak ada suara ibu yang bersahutan, panggil memanggil.
ia menjelma tugu yang mendingin, sementara aku telah
tumbuh tanpa ayah. menyimpan helai-helai kesedihan.

sungguh aku rindu bercakap denganmu, ibu!

Di Ujung Azan

apakah kita sungguh bertemu di ujung azan itu? jalanan
macet, dengan bayangan kendaraan dan gesa langkah
membayang di pundak jalanan. kau seperti mencair di
kerumunan hujan. menyambangi rumah masalalu yang
tergenang di kepala. hanya ada keramaian yang menajamkan
ingatan. tentang gesa orang-orang, tertinggal di
kubangan. namun azan terus bertandang, menyelimuti
setiap amarah dan lelah. suara itu memanggilmu. untuk
tetap sujud berabad-abad.

melepas cemas.
2016

Pulang

setiap kali datang, engkau merasa harus cepat pulang.
entah apa yang melintas di tempurung kepalamu.
mungkin bayangan rumah, kamar yang sederhana, beranda
dengan sebatang pohon yang berbuah, dapur
yang dipenuhi remah sampah, tumpukan baju dan pirin
kotor. dan engkau memang akan datang ke sebuah
tempat, merapat di setiap kerlip warna kota. atau sebuah
pagar yang aus oleh karat, besinya yang keropos
namun tetap kaujaga. berapa kali mimpinya terguncang,
sekadar terjaga, menghitung remah-remah
masalalunya.
kini ia merasa gagal untuk menjadi dewasa. ia yang
telah yatim, tertatih dihadang kenyataan. bagaikan sebuah
siluet, yang merajangnya saat tumbuh.
2016

Kampung Halaman

1.
engkau tumbuh tanpa kampung halaman. hanya batas
kota yang merenggut. remah kota yang dipenuhi cahaya.
tak ada rindu pada harum rumput dan tanah. ke
mana sebenarnya engkau akan pulang? membawa
kangen koyak. di batas usia.

2.
semestinya engkau berangkat, menembus sesak kerumun
orang. memutar perjalanan. hanya ada ngilu bagi
tubuh. detak jam membeku.
2016

Paragraf Hujan yang Dituliskan Anakku

ia menuliskan hujan di jendela kamarnya. embunnya
tertinggal di jemari. seharusnya ia keluar dan bermain di
taman. tapi hujan mengurungnya di dalam rumah. tapi
acap sia-sia kukuras saluran ingatan. betapa ia penuh di
tubuhku. dan iapun menghitung waktu, detak mjam dinding
bergambar hello kitty. hari sudah sore dan malam.
lalu buku catatan sekolahnya dipenuhi pula dengan kalimat-kalimat
tentang hujan.
2016

Gadis

-assyifa chalisa nainggolan

engkau telah gadis sekarang. betapa aku menjadi ayah.
haru menyelinap di mata. engkau terus tumbuh. menghapal
perkalian dan sesak bagi diriku. meski kerap aku
kehilangan waktu untuk bersamamu, mendengar
keluhanmu di sekolah.
engkau telah gadis sekarang. belajar memasak dan
mencuci baju. di sana engkau tanak, merayap dalam
diriku.
2016

Sepanjang Jalan Hujan

akhirnya kautembus juga hujan itu, kuyup diri sepanjang
jalan. remang cuaca, genangan air tumpah. begitu panjang
mata usia, berkilau di mata. sekadar mengingat
ayah, berhitung remah langkah. begitu riang kautembus
hujan. hanya kelebat lampu merah. berjubah lelah,
seperti siluet yang membayang. sepanjang jalan hujan.
tubuh sesak merangkak. kota yang sekejap bengkak,
seperti seorang ibu yang bunting.
maka kau mengingat sejumlah nama atau remah bibir
perempuan. menyimpan pijar bola matanya hingga
dadamu seluas tanah datar. dan hujan mengerubung,
berkalung di setiap sisa langkah.
2016

Alexander Robert Nainggolan (Alex R. Nainggolan) lahir di Jakarta, 16 Januari 1982. Bekerja sebagai staf Satlak Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) Kelurahan Gondangdia Kec. Menteng Kota Adm. Jakarta Pusat. Beberapa kali memenangkan lomba penulisan artikel, sajak, cerpen, karya ilmiah. Kini berdomisili di Taman Royal 3 Cluster Edelweiss 10 No. 16 Kel. Poris Plawad Kec. Cipondoh Kota Tangerang Banten. - g



Rujukan:
[1] Disalin dari karya Alexander Robert Nainggolan
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" edisi Minggu 6 November 2016

0 Response to "Telepon dari Ibu - Di Ujung Azan - Pulang - Kampung Halaman - Paragraf Hujan yang Dituliskan Anakku - Gadis - Sepanjang Jalan Hujan"