Tukang Kebun | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Tukang Kebun Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 20:22 Rating: 4,5

Tukang Kebun

IA melihat garis. Mula-mula samar, lalu pelan-pelan semakin tegas. Garis tak lurus yang membentuk batas antara benda di bawah dengan ruang kosong di atasnya. Itu garis pegunungan, dan langit di atasnya menampakkan berkas sinar kekuningan. Matanya ia arahkan ke sebelah kanan, lalu ia temukan gumpalan awan, tipis dan putih. Saat itu ia menyadari satu kenyataan: ia ada di dalam. Hadir dalam ruang, memandang, dan menangkap bentuk serta warna-warna. Biru gelap untuk pegunungan, biru terang untuk langit, putih untuk awan. Sekelebat ia tangkap pergerakan beberapa ekor burung dengan sayap terjuntai.

Gugus pegunungan seperti bangkai binatang besar. Meski yang terlihat jelas hanya lekuk-lekuknya, sebab tubuh binatang itu tertutup pemandangan lain: rimbun tanaman di kejauhan, pohon-pohon kelapa, bentangan sawah dengan pemukiman di tepi-tepinya, pematang yang seakan bersambung dengan sebentang jalan kecil. Ia menyadari sepenuhnya, sekarang ia berada di jalan kecil ini. Di sebelah kanan, ada sebuah rumah. Ia menoleh dan melihat rumah itu. Sebuah rumah dengan arsitektur gaya lama, tidak terlalu besar, dengan lubang angin berbentuk bundar. Ia berusaha mengingat untuk apa ia ada di sini, di jalan ini, berhenti di sini, di depan rumah ini.

Ia perhatikan dirinya, kedua tangannya kosong. Lantas ia perhatikan lagi rumah itu. Dikelilingi pagar, rumah itu seperti berada di tengah-tengah kebun. Ia menatap lagi ke arah pegunungan, ia tersadar pada kenyataan bahwa semua yang dilihatnya tampak lebih jauh dari saat pertama tadi. Di sekitar rumah itu tidak ada rumah lain. Itu sedikit membuat ia heran. Tapi keheranan itu tenggelam oleh pertanyaannya tadi: untuk apa ia ada di sini?

Seorang perempuan keluar. Perempuan muda dengan rambut diikat, mengenakan daster cerah dengan motif kembang-kembang. Perempuan itu tidak melihat ke arahnya, dia hanya melangkah ke arah pagar lalu dengan hati-hati membuka pintu pagar. ”Silakan,“ kata perempuan itu.

Ia tidak yakin perempuan itu sedang berbicara padanya. Ia tidak mengenalnya, dengan cepat ia berusaha mengingat. 
”Silakan masuk,” perempuan itu kembali berucap. Tidak ada siapa-siapa selain dirinya di tempat ini. ”Anda sudah berjalan jauh tentunya. Mari masuk dulu. Suami saya akan tiba sebentar lagi.“ Dengan ragu ia mendekat, kakinya terasa berat, seakan-akan ia sedang menghitung langkahnya.

Udara terasa lebih sejuk di dalam sini. Ia perhatikan sekeliling. Aneka tanaman tumbuh di kebun. Kembang-kembang ragam ukuran dan warna bergoyang-goyang ditiup angin yang tiba-tiba datang. Perempuan itu melangkah kembali ke arah rumah, ia seperti melihat motif kembang did aster perempuan itu berlepasan. Di depan pintu, permepuan itu menoleh, “Sebaiknya Anda menunggu di dalam, tidak elok kalau berdiri di sana.”

Ayahnya adalah tukang kebun yang tersohor. Dia sanggup membuat taman yang elok jika dipandang dari jauh, sekaligus membuat orang tenteram jika berada di dalamnya. Seorang pelanggan pernah bilang bahwa setiap ia memejamkan mata, serasa tubuhnya mengecil dan taman di rumahnya berubah menjadi alam sungguhan. Dinding-dinding bukit yang terjal dengan air terjun menghunjam ke batu-batu. Sulur-sulur pohonan tampak jelas dan suara binatang liar terdengar begitu nyata.

Ia telah ikut bekerja dengan ayahnya semenjak kecil. Ia telah membantu ayahnya membuat puluhan taman dengan berbagai model. Kebanyakan dari pelanggan itu adalah orang-orang asing dengan permintaan dan tingkat ketelitian yang tinggi. Mereka ingin agar taman di rumahnya menjadi replica dari alam yang murni. Sejuk, tenteram, bisa menimbulkan rasa damai dan tentu saja molek. Semua itu keahlian ayahnya. Tangan, mata, telinga, dan penciuman ayahnya begitu peka. Seakan-akan yang dilakukannya bukanlah membuat taman, tapi memindahkan rumah si pelanggan ke suatu hamparan alam entah di mana.

”Sebenarnya saya cuma memindahkan apa yang ada dalam angan-angan mereka. Mereka membayangkan alam yang dapat mewakili pikiran mereka tentang keindahan. Saya tidak berusaha menghadirkan kenyataan, saya menghadirkan apa yang mereka angankan sebagai kenyataan. keindahan bukan kenyataan,“ kata ayahnya pada suatu hari di depan seorang tukan kebun muda.

Ia memahami perkataan itu sebagai cara ayahnya untuk menjaga rahasia ilmunya. Ia yakin, meskipun tukang kebun muda itu manggut-manggut saja, perkataan ayahnya susah dipahami. Ia telah membantu ayahnya cukup lama, tapi ia belum pernah mengerjakan taman sendiri. Ayahnya pernah bilang bahwa ia memiliki bakat yang bagus, tapi ia tidak menaruh perhatian terhadap kata-kata itu. Sebab, kalau bisa memilih, ia tidak ingin menjadi tukang kebun. Ia ingin jadi pelukis. Keinginan itu timbul, ketika pada suatu saat ia melihat satu lukisan yang disimpan ayahnya di kamar.

Lukisan itu membuatnya takjub: deretan pohon cemara di bawah langit merah muda. Di latar depan dua orang bersisian: seorang lelaki biru pucat dengan topi kuning dan seorang perempuan dengan korset merah muda dan rok hitam. Mereka seperti sedang berjalan di atas tanah berpasir dengan semak-semak berduri di sekitarnya. Ia bisa mendengar suara kaki-kaki mereka terseret, juga percakapan yang samar dalam bahasa yang tidak ia pahami.

Ayahnya tidak mengizinkan ia melihat lukisan itu lama-lama. Entah apa sebabnya, ayahnya tidak pernah mengatakan. Pokoknya tidak boleh. Ia sudah sering melihat lukisan terpajang di rumah orang-orang. Tapi semua lukisan itu menimbulkan pengaruh yang sama saja dalam dirinya. Dimana ia merasa berada di dalam, berdiri menatap gunung, air terjun, sungai, pohonan, bentangan sawah dan petani yang membajaknya, tetapi ia tidak mendengar suara apa-apa, seakan-akan ia berada di suatu dunia yang bisu. Sedang lukisan yang ia lihat di kamar ayahnya telah memaparkan padanganya pemandangan yang ganjil dan hidup, lengkap dengan gerak dan suara. 


“ANDA pasti paham bahwa saya tidak punya cukup pengetahuan untuk menilai satu karya seni. Tapi suami saya sudah mengatakan apa yang anda ceritakan padanya. Ia sungguh gembira, saya belum pernah melihat ia begitu gembira. Anda tahu, ia seorang pemurung. Sebenarnya, hari ini belum waktunya untuk pulang. Ia masih harus mengurus pekerjaan. Tapi karena Anda akan datang, ia menunda pekerjaannya. Mudah-mudahan Anda tidak mengecewakannya, “perempuan itu berkata sembari meletakkan secangkir teh hangat di meja. Uap mengepul dari permukaan teh yang masih menyisakan pusaran bekas adukan sendok. 

”Tapi saya belum pernah mengerjakan taman sendirian, saya tidak terlalu percaya diri,“ jawabnya. Ia sekarang merasa yakin, setidaknya meyakinkan dirinya bahwa ia kemari untuk membuat taman. Perempuan itu tersenyum. Dia telah mengganti pakaiannya dengan korset merah muda dan rok hitam. Ia perhatikan wajah perempuan itu dan timbul perasaannya bahwa perempuan di hadapannya ini bukan perempuan yang tadi.

”Ayah Anda seorang maestro, kami sudah melihat apa yang dibuatnya. Suami saya terkagum-kagum dan ingin pada suatu kali nanti bekerja sama dengannya. Tapi, ehm, Anda kemari bukan karena urusan itu, bukan?“

Kulit keningnya sedikit terlipat, ia ingin langsung bertanya untuk urusan apa ia ada di sini, tapi ditahannya. Ia memilih berpura-pura, ”Ah, ya, tentu saja. Saya hanya mengira saat itu sudah tiba.“

Perempuan itu mempertahankan senyumnya selama beberapa saat sebelum ia berkata, ”Jika saat itu tiba, tentu Ayah Anda yang akan berada di sini. Maksud saya, Anda pasti sudah berbakat, tapi sudah berapa lama Anda tidak bertemu dengannya? Kami sudah melihat lukisan-lukisan Anda. Kata suami saya lukisan-lukisan Anda seperti berupaya melawan keindahan yang selama ini dipakai Ayah Anda.”

Ia berusaha agar kulit keningnya tidak berkerut lagi, tapi kening itu seperti pintu yang dibuka paksa oleh derau angin. Ia tak sanggup menahan pintu itu. Di luar pintu pemandangan terhampar begitu saja, ganti-berganti, seperti ingatan yang muncul tiba-tiba. Ia menolak keindahan yang selama ini ditanamkan ke dalam kepalanya. Ia telah menyaksikan kenyataan, melihat suara-suara, mencium warna, mendengar jiwa yang tampak dari kerusakan dan keburukan. Ketika ia diam-diam membuat gambar wajah-wajah orang, ayahnya mengatakan ia telah menyia-nyiakan bakatnya akan keindahan. Ayahnya ingin ia meyakini bahwa keindahan itu bukanlah kenyataan, keindahan adalah angan-angan.

Tapi jiwa dan pikirannya menolak semua itu. Dengan segera ia tenggelam dalam obsesinya melumpuhkan kekuasaan angan-angan. Dengan segera pula ia mengabadikan waktunya untuk memperhatikan wajah dan tubuh orang-orang. Ia harus masuk ke dalam sumber. Jiwa dan pikiran orang-orang, penderitaan dan kesengsaraan yang terpancar dari sana. 

Akibat dari obsesi dan pertahanan yang terus-menerus atas kekuasaan angan-angan, cara hidupnya jadi turut bertentangan dengan apa yang diangkan orang. Ia telah jelas menolak pemikiran ayahnya, maka ia menolak pula hidup dari ayahnya. Ia membawa keyakinannya ke mana-mana, ia ingin melukis kenyataan. ia dengan sengaja mengurung diri dalam keyakinannya sendiri. 

Ketika mulai melukis di kanvas, ia dilimpahi semangat bahwa yang sedang dilakukannya adalah sebuah revolusi. Suatu upaya perubahan yang menyadarkan orang akan bahaya angan-angan. Sebentang jalan terang bagi orang-orang untuk bangkit dan melihat kenyataan. Tetapi dunia yang sudah terbentuk tidak semudah itu takluk, semua orang yang ditemuinya mengatakan dengan yakin bahwa lukisannya buruk.

Bahkan ada yang mengatakan sebaiknya ia berhenti melukis dan mengikuti ayahnya sebagai tukang kebun. Pelan-pelan ia digerogoti oleh kenyataa. Ia kecewa dan menjadi rapuh. Ia mulai mudah lupa, sering linglung dan tidak sadar sedang berada di mana. Jarak antara apa yang ia bayangkan sebagai kenyataan dan kenyataan yang tidak pernah ia bayangkan benar-benar melumpuhkan pertahannya. Ia mulai meragukan dirinya, pemikirannya, keyakinannya. Lambat laun ia berpikir bahwa dirinya justru sedang melakukan apa yang dulu ditentangnya. Ia dikuasai oleh angan-angan akan apa yang diyakininya sebagai kenyataan.

Hubungan antara angan-angan dan kenyataan menjadi rumit dalam dirinya. Ayahnay telah menyodorkan angan-angan padanya, tapi ia menolaknya. Ia telah menyodorkan kenyataan pada orang-orang, tapi mereka menolaknya. Ia semakin linglungm, ia mengalami kesusahan menghubungkan satu peristiwa ke peristiwa lain. Ia tidak bisa lagi menentukan apakah yang ia alami adalah kenyataan atau angan-angan. Apakah jika ia bertemu dengan seseorang, orang itu memang nyata atau orang yang pernah ia lihat dalam satu lukisan, pernah ia baca atau dengan dalam satu kisah, atau orang yang ia ciptakan sendiri dalam kepalanya.

Kesadaran itu membuat ia kembali tidak sadar. Ia mendengar perempuan di hadapannya berbicara. Ia merasa suara perempuan itu bukan suara perempuan yang tadi.

“Suami saya mengetahui bahwa Vincent pernah menulis surat pada Theo perihal lukisan yang Anda ceritakan. The Lovers: The Poet’s Garden IV. Anda bisa bayangkan, betapa gembiranya suami saya jika lukisan itu benar-benar Anda miliki. Dan sudah pasti dia akan lebih riang jikan anda mau menjualnya.”

Ia membuka matanya. Menatap ke depan. Ia melihat garis. Mula-mula samar, lalu pelan-pelan semakin tegas. Garis tak lurus yang membentuk batas antara benda di bawah dengan ruang kosong di atasnya. Itu garis pegunungan, dan langit di atasnya menampakkan berkas sinar kekuningan. Matanya ia arahkan ke sebelah akanan, lalu ia temukan gumpalan awan, tipis dan putih. Saat itu ia menyadari satu kenyataan: ia tidak ada di dalamnya. Ia berada di lain ruang, memandang, dan menangkap bentuk dan warna-warna dari satu lukisan yang tergantung di dinding. Biru gelap untuk pegunungan, biru terang untuk langit, putih untuk awan. Ia tangkap sosok beberapa ekor burung dengan sayap terjuntai.

Di luar, suara mesin mobil terdengar. Ia menoleh. Dari pintu yang terbuka ia lihat seorang lelaki biru pucat dengan topi kuning melangkah ke rumah.

Kiki Sulistyo bermukin di Mataram, Lombok. Buku puisinya, antara lain, Penangkar Bekisar (2015). Ia giat di Komunitas Akarpohon.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Kiki Sulistyo
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Koran Tempo" edisi 19-20 November 2016

0 Response to "Tukang Kebun"