Bekele Tjondro | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Bekele Tjondro Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 20:42 Rating: 4,5

Bekele Tjondro

RADEN Bekel Tjondrohoengkoro sudah sangat berterima hati, disertai rasa teguh menekuni bakat yang telah berubah menjadi pintu kucur rezeki hidupnya. Dengan menjadi abdi dalem oceh-ocehan, Bekele Tjondro sudah merasa lebih dari cukup. Bakat satu-satunya, cucut micara, lihai bersilat lidah.
Selalu suka cita sowan Kanjeng Pangeran Hangabehi di Dalem Ngabean. Lebih suka lagi karena selalu mengantar kenikmatan Gusti Hangabehi dalam bersantap. Sementara Gusti makan dengan ditunggui sejumlah istri, Bekele Tjondro bersama abdi dalem oceh-ocehan lain, bercengkerama melempar monolog dan dialog penuh lelucon. Tugasnya, memberi hiburan saat Gusti Hangebehi makan siang. Lebih bahagia dan merasa mendapat berkah, saat selesai menjalankan tugas, mendapatkan bagian dari lorodan beberapa jenis hidangan yang tidak dihabiskan Gusti. Meski hanya sepotong tempe bacem, serasa mendapat rezeki terberkahi, penuh perbawa ketentraman hidup.

Apalagi saat lemparan leluconnya, membuat Gusti menghentikan makan, mengumbar tawa lebar, disertai keterpingkalan para istri. Rasa hati Bekele Tjondro, bagai hidup di surga. Puas dan serasa semua persoalan hidupnya berakhir. Hingga pada suatu siang, ia hanya hadir berdua bersama Bekel Marmojo. Sepanjang celotehannya sama sekali tidak menarik perhatian Gusti. Bersama Bekel Marmojo, ia sudah berupaya keras melempar jurus lelucon terbaru. Bahkan telah pula menyindir kehidupan pribadi Gusti Hangabehi. Sesuai paugeran, ketentuan kode etik abdi dalem oceh-ocehan, mereka boleh melempar kritik berupa sindiran atas kehidupan pribadi Pangeran dan keluarganya. Boleh juga menyindir peri kehidupan rakyat dan penguasa. Utamanya, perilaku sinyo-sinyo Belanda.
Namun, kali itu, Gusti Hangabehi hanya diam dan asyik masyuk menikmati hidangan makan siang. Itupun dalam suasana diam, tidak bicara, tidak menyapa, apalagi tertawa. Gusti hanya memandang ke arah piring makannya saja. Pada saat menginginkan sesuatu, Gusti hanya memberi isyarat kepada para istrinya. Para isti yang menunggui dan melayani kebutuhan Gusti saat makan, juga tidak berkata-kata. Raut wajah Gusti tampak muram dan seakan menahan sesuatu, menahan perasaan tertentu. Rupa wajah yang njenggureng, suntrut, warna kemarahan yang tertahan. Bekele Tjondro dan Marmojo tahu diri, perlahan mengakhiri lemparan leluconnya, lalu undur diri meninggalkan Dalem Ageng Ngabean keluar lewat Pringgitan menuju pendapa.

”Ada apa ya, Bekele Marmojo?” tanya Bekele Tjondro kepada pasangan mainnya. Biasanya, hadir pula Bekele Triman yang memainkan emban, peran perempuan. Sambil melangkah ke arah pelataran Pendapat Ngabean, Bekele Marmojo tidak langsung menjawab pertanyaan rekannya. Ia juga tidak tahu apa yang sedang terjadi atas Gusti Hangabehi.

“Kita ke rumah Bekele Trima apa gimana?”

”Lha ya ayo. Tapi untuk apa?”

”Siapa tahu, Gusti marah karena Triman tidak sowan.”

“Yang tak hadir, masa dimarahi. Sangat mungkin lelucon kita tidak lucu, sindiran kita menusuk hati. kamu sih, kalau nyindir kebablasen, “ ujar Bekele Tjondro.

“Lho, jadi aku yang salah?”

Bekele Tjondro cepat menyadari salah ucap.

”Maaf. Saya tidak menuduh.”

”Iya, kita ini cuma menduga-duga. Belum pernah Gusti bersikap seperti itu. perubahan sikap bendara memang selalu mengubah tafsir di kalangan kawula,” kata Bekele Marmojo sambil terus melangkah berdampingan dengan Bekele Tjondro. “Itulah arti penting pencapaian seni seorang pelaku dagelan seperti kita.”

Bekele Tjondro tidak paham. Hanya, ia menyadari Bekele Marmojo memang satu-satunya dagelan yang sempat mengenyam pendidikan. Ia, Triman dan yang lain, tidak pernah sekolah dan tetap buta huruf.

”Bekele Tjondro, walaupun kita ini hanya dagelan, tetapi tetap harus lantip dan waskita dalam menangkap sem-semu, pertanda dari raut muka bendara.”

”Ya begini ini ta nasibnya wong cilik. Selalu harus menafsir suasana hati dan maksud pikiran bendara. Nasib, nasib,“ kata Bekele Tjondro setengah menggerutu.

Keduanya memercepat langkah bermaksud mampir kediaman Bekela Triman di Kampung Gendhingan. Sekurangnya, mereka ingin berbagi pengalaman yang barusan menimpa mereka. Siapa tahu, Bekele Triman mendengar pekabaran kondisi suasana hati Gusti beberapa hari terakhir ini. Mereka tahu, istri Bekele Triman emban pengasuh beberapa putri Gusti.

Menjadi dagelan, pekerjaan satu-satunya yang mereka bisa. Kalau sampai dipecat, tidak tahu akan mendapat penghidupan dari mana. Ikut rombongan ketoprak juga tidak tentu pendapatannya. Kalaupun mendapat upah sebagai dagelan, tidaklah seberapa. Tak cukup buat beli sekilo beras.

Mereka telah berjalan masuk gang Kampung Gendhingan. Gang berkelok dan akhirnya sampai di suatu sudut sempit di pojok kampung menjelang tebing sungai. rumah Bekele Triman kecil, sederhana, tetapi bersih terawat. Pintu rumah Bekele Triman tertutup, dan karenanya Bekele Tjondro dan Marmojo harus mengetuknya. Belum genap dua ketukan, pintu sudah terbuka dan Bekele Triman tampak berdiri kokoh sembari melempar senyum ramah.

Kedua tamu sudah masuk ke dalam rumah. Bekele Triman mendengar taksim semua cerita yang disampaikan Bekele Tjondro dan Marmojo perihal sikap Gusti. Cerita mengalir bagai repostase siaran langsung, runut dan lancar. Kali ini mereka bicara tanpa canda, disertai dugaan-dugaan penuh rasa khawatir. Bekele Triman, tidak banyak menanggapi, malah cenderung lebih banyak diam. Wajahnya pun tidak memperlihatkan rasa kaget, tetap datar dan sesekali melemparkan senyum tipis.

”Ini pertanda buruk bagi nasib kita, Bekele Triman. Sampeyan kok tenang-tenang saja?” tanya Bekele Tjondro. ”Apa tidak ada sedikit info dari mBakyu Triman?”

Bekele Triman kembali tersenyum tipis. Bekele Tjondro menoleh ke arah Bekele Marmojo, yang meresponsnya dengan mengangkat bahu dan menggeleng ringan.

”Cilakak kita ini. Bakal celaka tanpa tahu sebabnya.”

“Tenang, Bekele Tjondro,” kata Bekele Triman ringan dan menyejukkan. ”Apa kalian tidak mendengar, bahwa hari ini Gusti Hangabehi sedang puasa bicara dan puasa tertawa?“

Bekele Tjondro dan Marmojo saling pandang. Bekele Triman memandangi keduanya dalam raut muka penuh ledek. Manusia puasa tawa, sama sekalitidak butuh lelucon. • (k)

Yogyakarta, 2016

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Purwadmadi 
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi 20 November 2016



0 Response to "Bekele Tjondro"