Ular Tiban | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Ular Tiban Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 17:40 Rating: 4,5

Ular Tiban

“SAM mau ikut nggak?” Sayup kudengar suara Tohar, teman di pesantren ini, sambil menepuk-nepuk bahuku. Usai salat Subuh aku sengaja tidur sebentar karena masih mengantuk.

”Nggak, ganggu orang tidur saja!“ jawabku seraya menarik satung dan menutupkannya ke wajah. Kebiasaanku juga teman-teman pesantren, tiap tidur sarung sebagai selimut. Sementara baju-baju kotor yang belum sempat dicuci, dibuntal sarung bekas dan digunakan sebagai bantal.

”Oke. Kalau gitu, aku pergi sendiri, mau lihat ular titisan Dewi Sri,“ bisik Tohar mendekati telingaku sebelum pergi.

Ular titisan Dewi Sri? Naluri mistisku menyemut di kepala. Secepat kilat, kusibak satung yang menutupi wajah.

”Haar! Di mana? Tunggu, aku melu!“

Tohar memutar kepala, menatapku dengan senyum kemenangan.

Lantas mengalirlah cerita dari bibir Tohar. Katanya, sudah dua hari ini di Blitar, ada ular sebesa batang pohon kelapa yang entah datang dari mana, tiba-tiba saja mendiami rumah sederhana Kartolo, satu warga kampung. Pria baya itu terkejut saat mendapati ular itu di teras rumah tepat pukul 12 malam. Waktu itu, Kartolo mendengar suara ketuk pintu. Tapi begitu keluar, alih-alih ada orang, malah menemukan ular tersebut. Kabar munculnya ular misterius merebak hingga luar kota.

”Har, kamu dengan cerita ini dari

”Gito, anak kampung yang rumahnya sebelah pesantren. Kemarin pas aku beli sabun colek di kios Pak Ramzi, aku ketemu Gito dan dia cerita kayak gitu, malah dia udah ke sana dan membuktikan langsung ular ajaib it.“

Aku menyimak serius cerita Tohar. Katanya, ular tiban itu membawa berkah bagi keluarga Kartolo. Kartolo menyebar cerita, ia bermimpi bertemu Dewi Sri yang katanya masih kerabat Nyi Roro Kidul. Dewi Sri memohon Kartolo agar memerkenankan tinggal di rumahnya, dan sebagai balasan ia akan melimpahkan rezeki. Kartolo meyakini ular itu sebagai titisan Dewi Sri.

***
PAGI itu kami bertolak ke Blitar. Kami terpaksa bolos sekolah dan berbohong pada keamanan pesantren dengan dalih ke luar kota, menjenguk saudara yang sedang sakit.

”Beneran nengok saudara?“ tanya Pak Waid, ketua keamanan pesantren ini dengan raut penuh selidik.

”Iya, Pak. Beliau itu Pak Lik saya. Selama ini beliau yang membiayai saya mondok di sini,“terang Tohar dengan raut sedih. Sementara aku berjuang mati-matian menahan tawa melirik aktingnya yang luar biasa sempurna. Ditatap Pak Waid saja tubuhku langsung bergigil, apalagi sampai membohonginya. 

***
TAK sampai dua jam, bus ekonomi yang kami tumpangi sampai terminal Blitar. Aku dan Tohar segera mencari angkot yang menuju kampung tempat ular tiba itu. Tak terlalu sulit mencari rumah Kartolo, sebab sopir angkot bersedia mengantar kami hingga pertigaan jalan yang menghubungkannya ke rumahnya.

Aku benar-benar takjub melihat suasana sekitar rumah Kartolo yang mirip tempat wisata. Parkiran kendaraan tampak penuh. Para pedagang kaki lima pun berjubel, mulai tukang bakso, mie ayam, siomay, cilok, mainan anak-anak, hingga pedagang CD bajakan.

Dari sebalik kaca jendela, aku dan Tohar berjinjit kaki, berdesakan dengan pengunjung lain yang berjubel demi melihat secara langsung ular besar yang tengah melingkar di ruang tamu. Ular hitam kecokelatan bermotif mirip kain batik itu sepertinya sedang tertidur pulas. 

Cukup lama kami menonton ular ajaib itu. Sebelum pulang, kurogoh uang Rp 5 ribu, lalu kumasukkan ke kotak kardus. Bapak tua penjaga kardus mengucap terima kasih sambil mengangsurkan kertas fotokopian berisi kisah asal usul muculnya ular tersebut.

***
MALAM itu, usai mengaji, aku dan Tohar digelandang teman-teman menuju tempat penjemuran pakaian yang cukup luas di belakang kompleks. Tempat ngobrol favorit para santri. Raut teman-teman terlihat penasaran ingin mendengar cerita tentang ular tiban itu.

Didi rela merogoh kantongnya untuk membelikan dua cangkir kopi buat kami Wiji dan Lisin, teman sekamar asal Tegal dan Madura, juga tak mau kalah. Keduanya membelikan pisang goreng dan bakwa satu piring.

Sambil menghirup kopi dan sesekali menjambal gorengan, mengalirkan cerita dari mulut kami. Tapi aku lebih banyak diam. Sementara Tohar sangat antusias bercerita. Aku sampai melongo saat Tohar mengimbuhi cerita agar lebih seru dan membuat teman-teman berdecak kagum.

***
TIGA hari kemudian. Sebuah koran lokal memuat berita yang membuat aku dan Tohar shock. Kisah fenomenal ular titisan Dewi Dri itu hanya rekaan. Kartolo saat ini mendekam di bui gara-gara menipu warga dengan membuat cerita palsu, sekaligus tertuduh kasus pencurian ular terbesar di kebun binatang. Untuk melancarkan aksinya, ia bersekongkol dengan pawing ular kampung sebelah. Si pawang ular hilang entah ke mana, jadi buronan polisi. Ternyata ular itu bukan titisan Dewi Sri, tapi akal-akalannya Kartolo untuk meraup uang banyak.

Oh, Tuhan! Kenapa kemarin aku begitu gampang percaya hal tak masuk akal berbau mistis itu, ya? Harusnya aku tak boleh langsung percaya begitu saja mendengar kabar yang belum terbukti kesahihannya.

”Saaaamm!! Tohaaaar!!“

Segerombol teman yang baru keluar dari gerbang sekolah, berlarian sambil memanggil kami yang masih shock usai membaca berita di koran lokal, di depan kantin siang itu. Buru-buru Tohar melipat koran tersebut dan menyembunyikan di sebalik baju seragam putih.

”Kucari-cari kalian, di sini rupanya. Eh, kata Lisin, kalian habis ke Blitar nonton ular tiban itu, ya? eh, Cerita, dong!“ cerocos Rahmat antusias dengan napas ngos-ngosan.

Mukaku berasa kaku. Pun wajah Tohar yang kelewat gugup.

”Kalian tanya Sam saja, ya? Aku kebelet, nih!” Tohar menatapku sambil nyengir kecut, memegangi perutnya yang aku tahu pasti hanya pura-pura, lantas kabur tanpa aku bisa mencegah.

”Sam, ayo cerita!”

”Sam, dengar-dengar ularnya segede batang pohon kelapa, ya?”

Pertanyaan beruntun dari teman-teman membuat rautku menegang. Pasti aku dan Tohar bakal diketawain habis-habisan. Kalau mereka tahu kami telah tertipu kabar palsu. •

Sam Edy Yuswanto, Purwosari RT 1 RW 3 (No 411) Puring Kebumen 54383

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Sam Edy Yuswanto
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 20 November 2016

0 Response to "Ular Tiban"