Gelapku ~ Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Selasa, 05 September 2017

Gelapku


ADAKAH yang lebih berarti di dunia ini selain gelap? Di pegamnya, selalu kutemukan sukacita. Di dalamnya, semua diksi selalu saja berarti. Seperti malam, bertabur gemintang atau tidak pun, tak jadi soal baginya tuk definisikan apa itu ”cinta”.

Di taman itu, sedari dulu, selalu jadi tempat yang paling tepat tuk habiskan malam. Hembusan angin adalah melodi yang menggagas ketenangan. Dan rasanya, semakin hari aku semakin terbiasa. Menunggumu yang kuyakin tak datang.  Atau kembali menuang kopi hitam ke dalam gelas.

”Kenapa suka kopi hitam?” tanyamu, dulu.

”Karena, yang ada juga hitammanis, kan nggak ada putih manis?” jawabku.

Dan seperti itulah kamu. Terlalu pandai membuat seseorang untuk menunggu. Meski itu hadir berbentuk sepotong teks terpendek, rasanya lebih berarti aku menantinya, daripada harus menunggu siang yang mentarinya selalu diharap triliunan daun di muka bumi ini. Bukan aku.

Entah mengapa, sejak mengenalmu, aku jadi benci terang. Andai boleh aku meminta pada Tuhan, berikan malam untuk kami duapuluhempat jam. Karena bagiku, siang adalah siksaan. Mendapati kalian bercengkerama berdua sungguh sangatlah menyebalkan. Rasanya, selalu ingin kukenakan kacamata hitam pemberianmu itu, yang kamu beli saat berlibur dengannya ke Paris enam bulan yang lalu. Untuk apa? Hanya untuk menghitamkan pandanganku akan kalian. Memaksa terang menjadi gelap. Tapi, lagi-lagi, mencintamu adalah melogiskan semua hal. Mencintamu membuat semua menjadi masuk akal.

Dan kureguk lagi hitamnya kopi di malam itu. Tak lama ponsel-ku pun bergetar. Pesan itu darimu. ”Maafin aku! Malam ini aku nggak bisa datang!” katamu. Itu bukan yang pertama untuk akhir-akhir ini. Dan tampaknya, aku tidak pernah bosan dengan alasan-alasanmu itu. Entahlah, terlalu sulit untuk tidak ada kamu di hatiku.  

Andai saja aku bisa, ingin rasanya meninggalkanmu. Melepas bayangmu yang perlahan pasti ditelan juga oleh kejamnya batas pandang. Begitupun merelakan kebersamaan kalian untuk selamanya. Tanggal pernikahan kalian bukan hal sederhana untuk membiarkan posisi kita selalu seperti itu. Namun, lagi-lagi, aku teramat lemah untuk melepas. Dan kamu terlalu egois untuk tidak bisa memilih. Meski dalam terang kamu menginginkannya, tapi, waktu yang terlanjur lama membingkai dunia lain itu, telah terpatri kuat di dinding hatimu. Dan kamu, tak sanggup tinggalkanku. Tinggalkan dunia gelap kita.        
  
Aku pernah bertanya padamu. ”Akankah suatu saat aku memilikimu seutuhnya?” berharap takdir meluluhkan hatinya karena usaha. Tapi, pernikahanmu yang tinggal tiga minggu lagi itu menjelaskan semua, bahwa membiarkan hal ini mengalir mencari muaranya, adalah jalan yang terbaik. Meski yang baik belum tentu bijak.

Aku tahu malam itu kamu bersamanya. Membeli itu-ini untuk keperluan pernikahan kalian. Saat di kantor, wajah semringah itu menatapku dalam. Ia tarik lenganku, ia hadapkan mataku ke matanya. Meski berat, aku paksakan juga. Ia pun berucap,”Naia, ntar malem Bram ngajak aku fitting baju, tiga minggu lagi kita married!” ia rangkul aku erat. Detak jantungnya menghujam dadaku. Perlahan, bahuku basah oleh tangis bahagianya. Kubelai rambutnya seraya berkata,”Selamat, ya!”

Dan di sana, kamu pasti mencari-cari alasan,”Sayang! Aku ke toilet dulu, ya!” itu sudah baku. Sedari dulu banyak cara manusia merangkai dusta. Namun setidaknya, cintamu yang hebat itu masih mengingatku. Walau tak pernah imbang, cukuplah hitamnya kopi melengkapi semuanya. Pahitnya mengajarkanku tuk selalu tersenyum. Senyum penuh makna, termasuk saat kubaca pesan yang selalu kamu hapus sesudahnya dari sent items ponsel-mu. Pasti.

Tiba-tiba saja aku teringat masa lalu itu. Ah, andai saja bisa berulang, dengan tegas akan kukatakan padamu,”Cintailah Githa sepenuh hati! Ia sahabatku.” Sayangnya, kamu cukup pandai untuk merayu, dan aku, terlalu lemah untuk menolak. Sedari itu, aku merasa sangat bersalah. Akulah makhluk terkejam di dunia ini. Sahabat tak mungkin makan sahabatnya sendiri. Hal itu selalu berputar di kepalaku. Hingga perlahan, yang tidak biasa menjadi biasa. Kita pantas meraih Oscar akan cerita ini.  Kamu dan aku, selalu sukses bersandiwara. Dan Githa, selalu merasa jadi wanita paling beruntung. Meski akhirnya, ia memang lebih beruntung.

Tanpa sepengetahuannya, kamu selalu datang dengan mobil berbeda menjemputku. Kita sering menghabiskan malam berdua di taman itu. Sesekali para banci bernyanyi di hadapan kita. Geli rasanya, melihatmu memasukan uang ke dalam BH-nya.  Kamu memang kurang ajar, Bram. Kita tertawa lepas diiring malam yang semakin menua. Hingga tak jarang tinggal kita berdua di taman itu. Kamu pernah bertanya padaku seperti ini,

”Pulang yuuk!  Nggak takut udah malem gini?” ah, tapi, lagi-lagi aku malah menjawab,

”Nggak!”

”Kenapa?”

”Aku takut siang!”

Perlahan, kamu peluk tubuhku. Kamu genggam jemariku erat. Dan kamu pun berkata,”Tenang! Ada aku.”

Dan malam-malam setelahnya, lagi-lagi aku selalu saja pergi sendiri. Tentu demi pertemuan kita yang semakin langka. Meski ragu, dan benar bahwa kamu bakal ingkar janji, udara malam dan nyanyian jangkrik terlanjur membuat nyaman posisi dudukku. Hingga akhirnya, kuberanikan diri menyentuh dada bidang seorang pria berjiwa wanita untuk meletakkan beberapa rupiah ke dalam BH-nya. Itu karena kamu tak ada, Bram. Anehnya, aku masih bisa tertawa mendapati banci itu melenggang sembari berucap, ”Adaaaw…geli deh, boo’! Ihhh..kok sendiri siiiih? Pasti pacarnya lagi selingkuuuh, ya? Ah, biasa lelaki zaman sekarang, selalu begitu. Untung eike laki-laki. Eeeh, salah. Pe..…rem…..pu….an, cyiiiiiiiiin.” 

Terkadang aku iri dengan para banci itu. Mereka bisa hidup di dua alam dengan bahagia. Jika malam mereka wanita, kalau siang pria tulen. Para banci punya identitas yang meski anomali, tapi mereka tak menipu diri. Tak seperti aku. Aku menipu orang lain. Dan mirisnya, aku tak sangup berdamai dengan perasaanku sendiri. Perasaanku terhadapmu, perasaanku pada Githa, sahabat karibku.

Dan, malam itu pun semakin larut. Orang-orang terlihat semakin sedikit. Yang bertambah hanya suara binatang malam dari berbagai jenisnya saja. Langit tampak semakin gelap. Sesekali kilat menerangi. Sebentar lagi turun hujan. Pikirku. Tapi, aku masih mematung. Tak hendak beranjak apa pun hujannya. Dari kejauhan akhirnya kudengar suara mobil melaju kencang. Dan berhenti tepat di seberang jalan taman itu. Aku seperti mengenal mobil itu. Akhirnya kamu datang, Bram. Gumamku. Sekejap hujan pun turun. Deras sekali.

Dari bangku taman aku menunggumu. Tapi ternyata, kamu tak sendiri. Seorang wanita berlari ke arahku. Di belakangnya kulihat kamu yang berusaha mengejar. Aku pasrah. Apa pun yang terjadi, terjadilah.

”Kamu! Ini yang namanya sahabat?” ucapnya, seraya acungkan telunjukknya tepat ke arah wajahku. Aku diam. Entah apa yang harus kukatakan padanya. Dan tak lama wanita itu kudapati menangis dari suaranya.

”Tunggu, sayang! Biar aku jelasin semua,” ucapmu.

”Sudah, cukup!  Nikah aja ama dia!” tegas wanita itu.

Hujan pun semakin deras. Semakin membuatku tak mampu berbuat apa-apa. Ingin rasanya kupeluk wanita itu dan bersimpuh di kakinya. Tapi, ia terlanjur pergi meninggalkanku. Ia berlari secepat mungkin. Disusul kamu yang juga mencoba mengejarnya. Aku pasrah. Mungkin inilah waktunya. Inilah muara itu.

Dan tak lama kalian pun menghilang. Meninggalkan tangis yang tak usai dibilas hujan. Sungguh, betapa gelap telah mengajarkanku banyak hal. Namun hujan menyadarkanku satu hal. Satu hal yang sedari dulu tak pernah kudapat. Seperti malam itu, saat kulihat Bram berlari mengejarnya.  Bukan mengejarku. ❑

Anggi Nugraha. Lahir di Batumarta 2, Kab. OKU, Sum-Sel. Kini menetap di Bandung. Alumni Sastra Inggris UIN Sunan Gunung Djati Bandung.  Tulisan-tulisannya dimuat di Republika, Pikiran Rakyat, Tribun Sum-Sel, Lampung Post, Malang Post, Padang Ekspres, Palembang Ekspres, Radar Surabaya, Koran Singgalang, Majalah SUAKA. 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Anggi Nugraha
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Radar Surabaya" edisi Minggu, 3 September 2017 

Share:





Esai dan Opini

Dokumentasi Populer

Ulasan Karya



Arsip Literasi