Apakah Nenek Sudah Bisa Terbang? | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Apakah Nenek Sudah Bisa Terbang? Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 11:00 Rating: 4,5

Apakah Nenek Sudah Bisa Terbang?

NENEK berdiri di atap rumah. Tangannya yang kurus dikepak-kepakkan bagaikan seekor burung yang hendak belajar terbang. Wajahnya mendongak, matanya menatap langit senja yang kemerahan. Dari bawah, sosok nenek tampak seperti patung kayu yang digerakkan angin. 

Aku duduk di kursi tua, di bawah pohon beringin depan rumah. ’’Ayo, Nenek. Terbanglah. Nenek pasti bisa,” teriakku.

Tapi nenek tetap di tempat sembari terus mengepak-kepakkan tangannya. Ibu keluar dari dalam rumah. Di tangannya ada sapu lidi. ’’Nenekmu sudah bisa terbang?” tanya ibu.

’’Belum. Nenek cuma begitu saja selama berjam-jam,” kataku.

Aku menyandarkan punggung dan meraih akar beringin yang terjuntai. Lalu kumasukkan ujung akar itu ke mulut, menggigitnya sedikit, mengunyahnya pelan-pelan lalu menelannya.

’’Kamu makan akar beringin lagi?” ucap ibu sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Dari dalam rumah ayah keluar. Bergabung dengan kami. ’’Nenekmu sudah bisa terbang?” tanyanya. Suaranya seperti suara ibu dalam versi laki-laki. Aku menggeleng.

’’Sepertinya kamu harus secepatnya punya suami, Sirin. Supaya nenekmu segera bisa terbang,” ayah bergumam.

’’Suami itu apa, Ayah?” tanyaku. Aku lihat ayah dan ibu berpandangan.

’’Suami itu pasangan. Seperti Ayah, misalnya, adalah pasangan ibumu.’’ 

’’Maksud Ayah, laki-laki?’’ 

’’Tidak harus laki-laki. Pokoknya suami.’’ 

’’Terus nanti suami itu mencabuti rambutku?” Aku ingat sering melihat ayah mencabut satu per satu rambut ibu. Makanya kepala ibu nyaris botak.

’’Mungkin tidak, tapi diganti yang lain. Misalnya, mengisap kelingkingmu.’’

’’Bagaimana kalau aku pilih beringin jadi suamiku?”

Ayah tidak membolehkan beringin jadi suamiku. Katanya, beringin itu kakekku. Tidak mungkin menjadikan kakek sendiri sebagai suami. Karena itu keesokan harinya diamdiam aku pergi dari rumah. Sempat aku lihat nenek masih berdiri di atap sambil mengepakkepakkan tangannya.

Sambil berjalan aku berpikir. Tiba-tiba aku ingat di sekitar areal persawahan tinggal tukang sol sepatu yang buta. Barangkali aku bisa tinggal di rumahnya untuk sementara. Segera aku mencari jalan ke sana. Rumah tukang sol sepatu yang buta itu terbuat dari cangkang siput raksasa. Permukaan cangkang berwarna merah muda dengan totol-totol biru.

Tukang sol sepatu itu sedang bekerja di depan waktu aku datang. Tanpa permisi aku segera masuk ke rumahnya. Aku tahu tukang sol sepatu itu mendengar langkah-langkahku. Sebelum masuk aku sempat melihat telinganya berkedip. Maksudku lubang telinganya menutup dan membuka beberapa kali. Karena dia membiarkanku masuk, artinya dia tidak keberatan. Kalau dia keberatan, pasti aku tidak akan bisa masuk semudah ini.

Ruang dalam rumah cangkang siput ini gelap sekali. Hawa dingin menembus bajuku dan meremas-remas ototku. Keheningan mengepul bagai asap, meredam suara-suara yang datang dari luar. Dengan segera mataku mengikuti kegelapan, aku tertidur sambil berdiri. Aku merasa terjaga ketika lamat-lamat aku dengar suara ayah berbicara. Cepat sekali dia mencariku, pikirku. Mudah-mudahan tukang sol sepatu tidak memberi tahu ayah kalau aku ada dalam rumahnya. Aku dengar mereka berbincang beberapa saat, lalu aku tertidur lagi.

’’Saya tidak bilang ke ayahmu,” tiba-tiba ada suara dari belakangku. Karena ruangan sangat gelap aku tidak bisa melihat apa-apa. Tapi aku tahu itu suara tukang sol sepatu.

’’Astaga, kamu bikin aku kaget,” kataku. Tukang sol sepatu tersenyum. Bagaimana aku bisa melihat dia tersenyum? Aneh juga. Pokoknya aku bisa melihat dia tersenyum.

’’Sirin, aku punya sesuatu untukmu,” lanjutnya tanpa meminta maaf. Lantas sebuah benda kemilau tampak di tengah kegelapan. Aku memicingkan mata. Itu sebuah sepatu. Sepatu kaca. Aku seperti mendengar bunyi ’’triiiiing’’ ketika sepatu itu muncul.

’’Aaaaa, indah sekali. Itu sepatu untukku? Tapi kenapa hanya sebelah?” tanyaku.

Tukang sol sepatu tidak menjawab. Sepatu kaca itu didekatkan ke kakiku. Aku memakainya. Luar biasa. Pas sekali, seakan-akan sepatu itu memang dibuat untukku.

’’Boleh aku bertanya lagi?” kataku. Sebuah pertanyaan jika tidak mendapat jawaban tidak boleh ditanyakan lagi. Itu bagian dari sopansantun. 

’’Tanya apa?” kata tukang sol sepatu. 

’’Namamu siapa sih. Kalau tidak salah kamu sebaya denganku. Tapi aku tidak pernah tahu namamu,” ucapku. 

’’Nama saya Tukang Sol Sepatu,” jawabnya. 

Itu kan pekerjaanmu, bukan namamu, kataku dalam hati. Tapi aku tak boleh menanyakan hal yang sama dua kali.

’’Baiklah, Tukang Sol Sepatu. Terima kasih. Sepatu ini indah sekali.’’ Aku mendekatkan bibir ke arahnya. Dengan sembarangan kukecupkan bibirku ke tempat yang kuduga adalah pipinya. Tapi yang kena adalah matanya. Rupanya ia berbicara sambil menghadap samping. Kulihat percik singkat di titik yang kukecup tadi.

Aku tinggal di rumah Tukang Sol Sepatu selama beberapa lama. Kuhabiskan waktu dengan memandang sepatu kacaku dan melihat Tukang Sol Sepatu bekerja. Aku suka melihat Tukang Sol Sepatu bekerja. Rasanya seperti membaca puisi. Sepertinya bagus juga kalau ada puisi berjudul Melihat Tukang Sol Sepatu Bekerja.

Tapi lama-lama aku jadi bosan. Aku merindukan pohon beringin. Apakah nenek sudah bisa terbang? Meskipun enggan mengakui, aku juga merindukan orang tuaku. Tapi kalau aku pulang dan nenek belum bisa terbang pasti aku disuruh mencari suami lagi. Kecuali kalau aku sudah punya suami. Aaaa, pikiran ini tiba-tiba datang begitu saja. Bagaimana kalau Tukang Sol Sepatu aku jadikan suami? Dia memang bukan laki-laki, tapi kata ayah, suami tidak harus laki-laki.

’’Tukang Sol Sepatu, bagaimana kalau kamu jadi suamiku?” kataku pada suatu pagi.

Tukang Sol Sepatu terpaku. Dari matanya yang buta pelan-pelan memercik bunga-bunga cahaya. Tukang Sol Sepatu menangis tersedu- sedu. Malam harinya kami melaksanakan ritual. Aku telanjang. Tukang Sol Sepatu juga telanjang. Kami berdiri berhadapan di tengah sawah.

’’Apa yang harus saya lakukan?” kata Tukang Sol Sepatu.

’’Hmm, isap kelingkingku,” jawabku teringat kata-kata ayah.

Tukang Sol Sepatu mengisap kelingkingku dengan rakus bagaikan binatang pengisap darah. Wah, memiliki suami ternyata membuatku bisa melihat hal-hal baru. Aku tengadah ke langit dan melihat kawanan domba digiring oleh seorang gembala. Dombadomba itu berkerumun hingga mirip seperti gumpalan awan yang menutupi bulan.

Esok paginya, dengan mengenakan sebelah sepatu kaca, aku mengajak Tukang Sol Sepatu pulang ke rumahku. Aku memegang tangannya untuk menuntun jalannya. Sesampai di rumah aku melihat pemandangan yang biasa. Nenek berdiri di atap rumah sambil mengepakkepakkan tangannya. Ibu di bawahnya berseru, ’’Ayo, Nenek. Terbanglah. Nenek pasti bisa!”

Aku menghampiri ibu sambil menggandeng Tukang Sol Sepatu. Ibu melihatku dan langsung menjerit. Ayah muncul dari pintu rumah. Tapi ia tidak sendiri. Seorang pemuda rupawan berdiri di sampingnya. Mereka berdua langsung menghampiriku.

’’Sirin? Oh, kamu sudah pulang, Nak,” kata ayah.

Dalam cerita yang normal seharusnya aku terharu, memeluk ayah dengan penuh penyesalan. Tapi pemuda rupawan di sampingnya telah menyedot perhatianku. 

’’Ini calon suamimu,” lanjut ayah. 

Aku menjulurkan tangan tapi pemuda rupawan itu tidak melihatku. Dia melihat sepatuku. Lalu dari tas yang tersampir di pundaknya, dikeluarkannya sebelah sepatu yang sama persis dengan sepatu kacaku.

’’Aaaa, ini akan berakhir seperti dongeng,” kata ibu sambil memutar-mutar sapu lidinya.

Sekonyong-konyong Tukang Sol Sepatu berseru, ’’Tidak. Tidak bisa. Bukankah kamu sudah jadi istri saya?”

Aku tidak menjawab. Tentu saja, demi sopan santun, Tukang Sol Sepatu tidak bisa menanyakan hal yang sama.

’’Benarkah, Sirin?” tanya ibu. Aku tidak menjawab. Tentu ibu juga tidak bisa lagi menanyakan hal yang sama. Keheningan tiba-tiba meraja. 

Hening. 

Hening. 

Hening. 

Keheningan semacam ini memang sering muncul di kepala pengarang yang tidak tahu bagaimana mengakhiri cerita yang sudah telanjur ditulisnya. *** 

Kekalik, 2017 

KIKI SULISTYO lahir di Kota Ampenan, Lombok. Buku puisinya masuk daftar panjang Kusala Sastra Khatulistiwa 2015. Dia mengelola Komunitas Akarpohon di Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Kiki Sulistyo
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Jawa Pos" Minggu 24 Desember 2017

0 Response to "Apakah Nenek Sudah Bisa Terbang?"