Badut-badut Menari di Tepi Pantai | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Badut-badut Menari di Tepi Pantai Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 14:00 Rating: 4,5

Badut-badut Menari di Tepi Pantai

NILUH pontang-panting, si jago merah mengamuk, entah dari mana datangnya, seperti hantu. Orang-orang panik berlarian membawa apa saja yang sempat diraih. Rumah-rumah kumuh di ujung muara dalam sekejap musnah. Tak terkecuali rumah Niluh. Niluh bingung kemana harus berteduh malam ini bersama jabang bayi dalam kandungan. Manu, suaminya, lusa baru pulang.

WARGA yang kehilangan rumah terpaksa mengungsi, duka dan putus asa. Kegelisahan semakin menjadi-jadi saat datang isu bahwa mereka dilarang membangun kembali rumah-rumah mereka, warga dipersilakan tinggal ke bagian barat muara, mereka akan mendapat bantuan membangun rumah.

Niluh pasrah, yang dia pikirkan adalah keselamatan jabang bayi dalam kandungan yang sudah tua. Mendadak pula dia mulai merasakan perutnya sakit, waktu melahirkan telah tiba. Manu belum kembali, tak biasanya Manu tak pulang lebih dari semalam. Dan kabar mengejutkan didengar Niluh beberapa hari kemudian dari kawan-kawan Manu yang sama-sama berjualan kerang hijau, bahwa Manu sengaja tidak pulang karena istrinya melahirkan monster.

Semua orang di barak pengungsi geger malam itu. Langit cerah dan bulan purnama bersinar. Bayi yang dilahirkan Niluh bukan layaknya seperti bayi normal, wajah bayi idiot, matanya nyaris tak berkelopak, kedua kakinya menjuntai seperti akar bakau.

Seiring berjalannya waktu, muara tempat Niluh dan ratusan keluarga yang tinggal turun-temurun telah berubah menjadi sarana hiburan elite, dikelilingi pemecah ombak dan tanggul pengaman. Orang-orang terusir yang dipindahkan dari ujung muara ke bagian barat tanjung terkucil walau mereka masih bisa menangkap kerang.

Di pintu gerbang memasuki arena taman hiburan, baru kali ini Niluh bisa membawa Kinar. Niluh melihat mata Kinar berbinar memandangi badut lucu yang menari-nari dengan kostumnya yang berwarna-warni. Kini di usianya yang kelima tahun, ternyata Kinar masih hidup. Orang-orang bilang Kinar memiliki nyawa berlebih.

Kinar melonjak kesenangan dalam gendongan Niluh. Kakinya yang kerdil menyepak-nyepak dengan kekuatan yang tak pernah dirasakan Niluh, maka segera dibawanya Kinar berlari menghampiri badut itu.

Tapi sungguh Niluh tak menduga ketika dekat, badut itu hanya menoleh sekejap lalu pergi menemui anak-anak yang turun berombongan dari mobil.

Niluh kecewa. Beberapa saat dia masih berharap badut itu mendatanginya dengan penuh penyesalan, tapi badut itu tetap menjauh.

Air mata Niluh jatuh, Kinar dalam gendongan kain batik kumal terhenyak, maka tak ditunggunya lagi badut itu. Niluh bergegas lari membawa Kinar ke pantai, menghibur Kinar dengan membelikannya balon tiup dan kembang gula.

Sejak kejadian itu, Kinar tidak mau tersenyum lagi. Niluh begitu sedih, senyum Kinar hilang gara-gara badut itu tak mau mendekat. Padahal badut itu tak perlu capek-capek tersenyum karena wajahnya sudah dibuat sedemikian tersenyum.

Kinar pasti memahami siapa dirinya yang tak sempurna. Di dalam kostum badut itu, dia pasti juga tahu ada sosok yang juga berdaging seperti dirinya. Kenapa badut itu tak mau menyentuhnya. Badut itu hanya mau berjoget kepada anak-anak yang sehat, anak-anak yang turun dari kendaraan bagus. Beberapa ratus meter di sana, tempat badut itu di hamparan berbagai sarana hiburan.

Kinar masih juga belum mau tersenyum saat Niluh meninggalkannya bersama Asih, tetangganya, tadi pagi. Niluh sudah menemukan sebuah kantor sederhana yang menyewakan jasa badut di pusat kota. Niluh ingin melamar jadi badut karena pekerjaan itu menurutnya pastilah mudah, tinggal menari saja apa adanya, tak peduli dia sedang cemberut atau sedang marah karena wajah badut toh sudah dibikin sedemikian rupa untuk tetap tersenyum.

Nanti Niluh akan menyuruh Asih membawa Kinar ke tempat dia ditugaskan. Kinar pasti akan tersenyum dan tertawa tergelak disertai pekikan girangnya karena badut itu nanti bukan saja akan mengelus pipinya tapi juga berjingkrakan seperti kerapu terjaring jala.

Di kantor badut banyak sekali jenis badut yang unik dan lucu, bajunya bagus berwarna warni, senyumnya lebar. Niluh berterus terang minta dipekerjakan kepada nyonya pemilik badut. Di luar dugaan Niluh, nyonya itu temyata langsung mengabulkan permintaannya.

Niluh dibekali badut bebek yang mulutnya panjang meliuk, juga dibekali bahwa dia harus terus bergerak di dalam kostum itu. Beberapa karyawan lain akan menemani Niluh untuk menjelaskan apa yang harus dilakukannya. Semua itu tak ada yang susah bagi Niluh karena yang penting baginya adalah mendekati semua anak-anak, berjoget riang dan mengelus pipi mereka. Maka hari itu Niluh resmi menjadi badut.

Niluh pulang sore sehabis jadi badut di sebuah mal yang ramai dan dipenuhi wangi dari counter roti yang membuat perutnya lapar dan baunya terbawa sampai ke rumah. Ini hari pertama dia bekerja menggantikan beberapa badut yang tidak masuk, dia ingin membelikan sesuatu untuk Kinar tapi dia tak punya uang. Dia cuma diberi ongkos pulang saja di hari pertama bekerja.

Hari berikutnya Niluh mendapat kesempatan memakai kostum badut yang bertugas di arena Taman Hiburan pantai itu untuk beberapa hari ke depan. Niluh sangat gembira, badut inilah yang mencuri senyum Kinar, pikirnya. Dan anehnya si pemakai badut sejenis sejak hari pertama Niluh bekerja, kata si nyonya, mengundurkan diri.

Keesokan harinya Niluh berunding dengan tetangganya, Asih, agar ia membawa Kinar ke arena Taman Hiburan karena di sana sudah ada badut yang tidak membeda-bedakan anak yang turun dari mobil atau yang berjalan kaki. Demikian kata Niluh ketelinga Asih agar didengar Kinar.

Kinar tampak terkesiap dengan ucapan Niluh, matanya liar mencari-cari, dia seakan mengingat-ingat.

Niluh berangkat kerja dengan riang, kini dia yakin tak lama lagi akan melihat senyum Kinar yang dirindukannya. Sehabis dari kantor jasa badut mengambil perlengkapan Niluh diantarkan ke arena taman hiburan bersama pekerja lainnya yang bertugas di berbagai lokasi. Begitu sampai Niluh langsung memakai kostum badutnya dan beraksi di pintu masuk arena hiburan. Sebentar lagi Asih akan datang membawa Kinar.

Saat yang dinanti tiba, siang hari, saat Niluh merasa pengap dan bermandi keringat dalam kostum badutnya ia mengenali dari jauh payung tua dan kain batik lusuh yang datang, tapi yang menggendong Kinar sepertinya bukan Asih. Entah siapa.

Lalu sekujur tubuh Niluh tersirap ketika sosok itu makin dekat. Jantungnya berdebar dan dia nyaris saja akan melepas kostumnya kalau dia tidak segera ingat tugas utamanya, mengembalikan senyum Kinar yang hilang.

Sosok itu makin dekat dan Niluh sangat mengenalinya. Dia adalah Manu, suaminya yang hilang. Niluh terpana bahkan hingga saat Manu sudah ada di depannya. Ingat tugasnya, Niluh pun segera menari, mengelus pipi Kinar, menari, lalu mengelus lagi. Tapi Kinar tetap terhenyak bisu, menatap sayup.

Niluh terus menari semampu gerak tubuhnya tapi ternyata Kinar tetap beku. Bibirnya terkatup semakin rapat bagai cangkang tiram. Niluh serasa ingin berteriak. Niluh akhirnya lelah dan terisak menangis.

Manu lalu meminta Niluh melepas kostumnya. Manu gantian memakai kostum itu sementara Niluh menggendong Kinar.

Manu menari, melompat, menari. Niluh berharap Kinar segera tersenyum tapi malah dia menangis keras. Niluh putus asa dan melarikan Kinar ke pantai.

Manu lalu kembali bertugas seperti hari-hari biasanya di pintu masuk arena taman hiburan itu, bagai tak pernah terjadi apa-apa.

Dari kejauhan Niluh memperhatikan badut itu, seperti yang dia lihat beberapa waktu dulu, dia mendatangi anak-anak dan menari. Sejak kapan dia di situ? Niluh membatin perih. Teganya dia sembunyi.

Niluh akhirnya membawa Kinar pulang. Ia berharap mulai hari ini Manu tidak bersembunyi lagi. Dia akan memaafkan perbuatan suaminya jika pulang.

Sore hari langit cerah. Niluh merapikan rumah sebaik mungkin. Kinar habis bangun tidur, makan bubur, dia sedang bermain-main bersama boneka-boneka kesayangannya. Tiba-tiba jantung Niluh berdebar, terdengar banyak sorak-sorai anak anak. Niluh bergegas ke pintu, ada apa? Aha! Niluh melonjak senang, ternyata itu Manu, dia pulang dengan memakai baju badut diiringi anak-anak yang ramai bersorak-sorai gembira mengiringi di belakang. Niluh sangat merindukan suaminya itu pulang.

Manu membuka kepala badutnya dan berdiri tersenyum, di depan Niluh, cinta pertamanya yang hilang serasa segar kembali. Bayangan indah berpacaran dan bulan madu sehabis pernikahan sederhana tergambar jelas di pelupuk mata Niluh.

Tiba-tiba bermunculan badut yang banyak sekali, mungkin semua badut dari berbagai tempat diajak Manu ke sini. Mereka juga membawa terompet dan menyalakan musik dari kotak-kotak yang mereka bawa. Manu kemudian memakai lagi kepala badutnya dan menari diikuti badut lainnya membuat suasana sungguh gembira dan meriah.

Niluh menggendong Kinar keluar dengan perasaan yang tak teriukiskan, berharap dia segera tersenyum dan tertawa. Tapi kehadiran badut-badut itu tetap tidak bisa mengembalikan senyum Kinar yang hilang.

Tengah malam air pasang luar biasa tiba-tiba seakan ingin menenggelamkan ujung barat muara. Rumah-rumah diterjang gelombang, keluarga bercerai-berai dalam gelap. Jerit tangis anak, istri yang kehilangan suami semua disapu terjangan air.

Niluh pontang-panting histeris karena Kinar hanyut dibawa arus entah ke mana. Ini gelombang pasang yang kesekian, paling parah. Di luar rumah dia melihat beberapa anak memekik minta tolong bahkan di antaranya ada yang sudah tenggelam. Untunglah di ujung gang Niluh menemukan Manu tengah menggendong Kinar. Tapi saat didatanginya, wajah Kinar tampak pucat, tubuhnya tampak tidak bergerak-gerak lagi. Niluh lalu cepat mengambil Kinar dari gendongan Manu, mengguncang-guncang tubuhnya.

Manu tak mampu berdiri lebih lama di situ, pelan ia menghilang.

Kinar tak juga bergerak dalam dekapan Niluh, sebuah kepala badut hanyut di dekatnya, segera diambilnya lalu dipakainya dan ia pun berjoget sambil mengangkat Kinar tinggi-tinggi. Tapi tubuh kecil Kinar tampak tak hendak bergerak-gerak lagi, ia membeku.

Pagi hari, air sebagian sudah pergi kembali ke laut. Sebuah kepala badut tersangkut di selokan. Kepala badut itu mendongak ke atas langit dengan tawa lebarnya seperti cuma dia yang memiliki senyum lebar itu. Anak-anak yang bermain air dekat selokan melihat kepala badut itu. Mereka senang dan ramai-ramai hendak mengambilnya. Badut! Badut! Badut! Teriak mereka ramai ramai.

Badut itu cuma bisa terus tersenyum, dengan senyumnya yang lebar. ***

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ganda Pekasih
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" Minggu 17 Desember 2017

0 Response to "Badut-badut Menari di Tepi Pantai"