Demi - Tanpa Titik : Umi Ngatiqoh - Menatap Air Mata | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Demi - Tanpa Titik : Umi Ngatiqoh - Menatap Air Mata Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:30 Rating: 4,5

Demi - Tanpa Titik : Umi Ngatiqoh - Menatap Air Mata

Demi

Kita mendermakan
seluruh hidup kepada waktu,
demi waktu manusia akan bertemu kisah kepedihan bebatu,
kecuali baginya jiwa-raga
demi penuntun kisah
waktu luruh dalam mezbah.

Purwokerto, 2017


Tanpa Titik : Umi Ngatiqoh 

Aku mencintaimu tanpa titik.
Titik ialah takdir yang memisahkan
cerita-cerita yang berkalimat entah sedih
maupun bahagia. Jadi, katakanlah,
cintamu padaku ialah koma,
yang ia adalah jeda penggurih rasa
bagi beberapa saja dahaga menerpa.

Karangsuci, 2017


Menatap Air Mata

Kedua retina itu,
ia jadikan tempat menumpah
beberapa keluh kesah,
tersurat dalam lembar keramat,
yang ia sadari sebagai kertas
yang telah beralamat.
Di malam yang anginnya
semakin merambat pekat,
air mata jatuh melebar ke sisi wajah,
kemudian tergambar sketsa gelap dan putih;
yang ia sadari sebagai buah tangan kehidupan.
Dan gambar itu ia pandangi lamat-lamat:
barangkali ada pesan yang belum sempat
ia terima dengan tangan saling berjabat.

Karangsuci, 2017

*) Muhammad Badrun, lahir di Darmakradenan, Banyumas, 4 Juni 1994. Berkhidmat di Pondok Pesantren Karangsuci, Gemar menulis puisi kepesantrenan. Lima puisinya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris serta dipublikasikan di Zine Indonesian Literary Collective (ILiC)Festival Frankfurt
Book Fair tahun 2015 di Berlin- Jerman.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Muhammad Badrun
[2]Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" Minggu 24 Desember 2017

0 Response to "Demi - Tanpa Titik : Umi Ngatiqoh - Menatap Air Mata "