Glodok - Perempuan Batang Air - Ampangan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Glodok - Perempuan Batang Air - Ampangan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:00 Rating: 4,5

Glodok - Perempuan Batang Air - Ampangan

Glodok

matanya nganga. pintu besar itu berbau lampau
tapi ia terus masuk. membawa tahun-tahun yang bertanya
“di mana sumur dari setiap airmata yang dulu tumpah?”
dinding-dinding tersenyum
seolah tak ada yang menyimpan percik darah, orang hilang, dan mayat
gadis-gadis bercelana singkat lewat seraya tertawa
aromanya mengubur kenangan yang telah dilupakan
tempat orang-orang bersorak atas nama bendera. atau entah karena apa

“singgahlah. di sini kami masih menjual masa lalu
apakah kau seorang yang tengah mencari bocah tak tahu bapaknya?”
angin yang gelisah. suara itu serupa dari pecinan
dan ia melihat tumpukan kalender yang dibakar. angka-angka merintih
“mei. panggil aku mei
kendati asapnya tak begitu hitam. tapi nasib bagiku terasa lebih kelam
teruslah mengenangku!”

tiba-tiba kepalanya dipenuhi oleh teriakan. ia terus saja masuk
karena tahun-tahun. berpuluh tahun terus mengepung
“apakah kau seorang yang dulu membawa api, menyulut hasut,
dan meninggalkan isak iba perempuan?”

kemudian ia berlari
meninggalkan glodok. yang dilihatnya penuh lukisan orang mati

Payakumbuh, 2017

Perempuan Batang Air

ia terlupakan. terlupakan
arah lebih berkasih pada laut. mula kedatangan
tapi bukankah batang ini yang dulu dihiliri para raja. para dara
untuk menulis tambo orang berlayar, saudagar, dan kepung lanun
lalu budak-budak dijual. tak ada tanda ingatan
selain nama yang terpancang di kenang-kenang ingatan
“aku perempuan batang air. bila tenang arus di muara
mengapa mengeruh ke ujung hilir?”

bagaimana melupakannya. o, bagaimana
mata yang sehitam silam
biduk, rakit, perahu, dan segala telah lewat memuat sejarah
dari kayu ulin ke rangkai baja. ia merasa tiap saat tubuh diguguh
sedangkan iakah garis darah yang telah membangun candi-candi dan pagoda
iakah keturunan yang tersangkut setelah banjir besar itu

ia terlupakan. terlupakan
“aku perempuan batang air. tak akan pergi kendati masa lalu datang mengusir!”
lalu tak ia dengar lagi suara biduk, rakit, perahu, dan kapal yang melaju
lalu ia lihat sampah berhanyutan selalu saban waktu

Buluh Cina-Payakumbuh, 2017


Ampangan

ampang sampai ke seberang
dinding sampai ke langit

bukit yang menukik ke arah kota. jurai hutan pinus
siapa pertama yang menusukkan dendam
hingga tanah demikian gersang
orang-orang mendaki. ke seberang orang-orang bernyanyi
perselisihan yang abadi
“takkan dapat ditawar bila malu tertampar
jangan berharap luka hati sembuh dalam sehari!”
ia susuri lereng itu. akar-akar melilit kokoh
walau matahari tua. di ampangan segala pantang adalah jiwa

dusun bambu. di jalan itik-itik terbang berkejaran dengan petang
orang-orang memagar ranah dengan pepatah
menjahitkan ke tebing-tebing. menjadi pintu-pintu meragu
“terbelintang lalu. tertelungkup patah!”
serupa dendang tiada usai-usai musim
hati-hati ia memungutnya. helai-helai menuju bukit
karena ampangan adalah adat yang tak lekang
orang-orang senantiasa bersetia pada peribahasa

ampang sampai ke seberang
dinding sampai ke langit

2017

Iyut Fitra lahir di Payakumbuh, Sumatera Barat. Buku puisi terbarunya adalah Lelaki dan Tangkai Sapu.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya  Iyut Fitra
[2]Pernah tersiar di surat kabar "Koran Tempo" akhir pekan 16-17 Desember 2017

0 Response to "Glodok - Perempuan Batang Air - Ampangan"