Ia dan Moora Berjumpa di Taman Remaja | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Ia dan Moora Berjumpa di Taman Remaja Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:00 Rating: 4,5

Ia dan Moora Berjumpa di Taman Remaja

IA dan Moora sudah berjanji untuk bertemu di Taman Remaja. Ia datang lebih cepat sepuluh menit. Taman ini tak berbeda dari yang dibacanya di dalam novel berjudul Moora, selain memang pohon-pohonnya bertambah tua, bangku semen makin rumpal dan berlumut, dan sampah kian menumpuk di mana-mana. Dan Moora paling senang duduk di salah satu bangku semen itu setelah ia berjalan kaki dari rumahnya yang berada tepat di bawah taman ini—dan karena itu ia mesti melewati pendakian yang cukup panjang dan membuat lehernya meneteskan keringat. Moora tidak pernah membawa sapu tangan. Moora tidak suka memasukkan sebungkus tisu mini dalam sakunya.

Aku terlambat, kata Moora.

Ia berpaling dan mengerjapkan matanya. Moora tersenyum kecil. Moora menunggu ia mengatakan sesuatu.

Tidak apa-apa, akhirnya ia membalas Moora—dan suaranya sangat kikuk.

Sebelum ini, ia tak pernah membayangkan akan berjanji dan bertemu dengan tokoh rekaan dalam novel yang dibacanya. Dan ia tak pernah pula mengira Moora benar-benar datang ke sini untuk menemuinya. Ia melakukan hal iseng dengan mengirimkan pesan kepada Moora lewat secarik kertas yang ia selipkan di antara halaman novel. Tidak disangka Moora membalasnya dan setuju untuk bertemu.

Bagaimana tidurmu semalam? tanya Moora karena ia teringat pesan terakhir lelaki itu yang menyatakan ia akan segera tidur dan tak sabar menunggu pagi tiba.

Buruk, jawabnya. Ia ingat malam-malam insomnia yang dialaminya. Matanya sudah begitu berat, tapi kepalanya tidak berhenti berpikir dan berpikir dan itu menggagalkan rencana tidurnya yang sudah ia harap-harapkan. Kadang, ia ingin berbuat nakal. Melepas kepalanya itu dari dirinya dan tidur dengan leher buntung. Mungkin itu akan menyenangkan. Ia akan terlelap begitu saja dan meninggalkan dunia yang penuh masalah. Betapa sering ia ingin meninggalkan dunia yang penuh masalah ini. Kehidupan perpolitikan yang hiruk-pikuk. Semua orang bicara soal agama; surga, neraka, surga, neraka. Bunyi cangkir jatuh di kafe-kafe. Kendaraan bertabrakan. Pertengkaran karena cinta. Perselingkuhan. Anak-anak dipukul orang tua. Anak-anak marah dalam hatinya—dan kelak mereka balik memukul orang tuanya. Bunyi cangkir jatuh lagi. Betapa banyak bunyi di dunia ini? Betapa banyak suara-suara—juga yang disembunyikan dalam hati. Ia tak akan pernah bisa tidur. Selamanya tidak akan pernah dengan suara bising semacam itu.

Dan Moora terbahak. Persis bocah yang merasa lucu saat melihat seikat balon mengambang di udara—entah balon milik siapa—dan salah satu dari balon itu pecah. Ia tidak tahu apa yang menggelikan dari kejadian itu hingga Moora terbahak sedemikian rupa. Namun, waktu kecil, ia juga selalu tertawa tiap melihat sebuah balon pecah di udara, dan ibunya akan berkata, hentikan, Noda, semua orang memperhatikanmu! Anak-anak lain di pinggir lapangan itu tertawa semua. Malah lebih keras. Kenapa ia tidak boleh? Kenapa ibunya melarang? Ia ingin tertawa karena balon-balon itu membuat hatinya merasa senang. Hentikan, Noda! Dasar anak bodoh! Mulut ibunya, sekali terbuka, akan mengeluarkan rentetan bentakan dan hardikan.

Namamu Noda? Nama lelaki yang aneh, ujar Moora tiba-tiba.

Ia menoleh kepada Moora dan mulutnya mengeluarkan suara ‘heh’ pendek. Teman-teman kecilnya sering mengolok-olok namanya dan juga menjadikannya mainan. Untunglah ia segera terbebas dari masa kecil yang mengerikan itu. Apa yang dipikirkan orang tuanya saat memberi ia nama lain dari kotoran? Bapaknya seorang montir di bengkel kecil yang namanya sama sekali tidak dibicarakan orang di kotanya. Setiap hari, lelaki itu pulang dengan pakaian terkena noda oli atau minyak mesin yang kotor di sana-sini. Dalam suasana semacam itulah ia lahir dan tiba-tiba saja ia sudah bernama Noda. Mungkin saja orang tuanya memberi nama itu sebagai luapan rasa jengkel atau mereka sedang menyelipkan sebuah dendam yang harus dibayarnya di dunia ini.

Bapak dan ibunya tidak pernah tak bertengkar tiap harinya dan topik keributan itu selalu tentang kemiskinan mereka. Ibunya membanting dandang kosong ke lantai. Bapaknya akan berteriak dan menampar ibunya dengan keras. Ibunya naik pitam. Ibunya mengambil sapu dan memukulkannya ke tubuh bapaknya, bertubi-tubi; kepala, perut, punggung. Bapaknya berlari mengambil parang di sudut dapur, di antara sabut kelapa dan beberapa ekor kecoak berlarian ke lantai, kocar-kacir, mirip sebuah keluarga dapat serangan mendadak dalam situasi perang. Pelacur sialan mata duitan! maki bapaknya sembari mengacung-ngacungkan parang itu ke arah ibunya. Mereka saling mengancam dan saling mengeluarkan umpatan. Ia melihat semua itu dari pintu kamar yang terbuka sedikit. Tak lama, ia kembali ke tempat tidurnya, mengambil sebuah buku yang dipinjamnya dari teman sebangku di sekolah. Temannya itu bilang, kalau kau bosan, bacalah sebuah buku. Mulai saat itu, temannya meminjaminya buku-buku. Namun, buku yang dipinjamnya itu lebih banyak membantunya mengatasi ketakutan daripada rasa bosan. Bunyi barang dan suara-suara kasar, belum juga berhenti—dan mungkin tidak akan berhenti. Ia memusatkan pikirannya kepada kisah yang dibacanya, berusaha untuk tidak memikirkan suara-suara di luar. Ia pergi ke berbagai tempat sampai ia tak tahu di mana berada.

***
DAN keributan itu masih terus berlangsung sampai ia berusia 25 tahun. Pada pagi hari, televisi tua dilempar keluar. Cangkir dan piring menjadi beling. Pakpuk, pakpuk. Bapak dan ibunya saling pukul, saling hantam, saling ancam dengan benda tajam. Ia bergelung di kamarnya. Semakin menenggelamkan diri dalam buku-buku. Ia tak memiliki dunia lain selain itu dan ibunya berteriak, dasar tidak berguna! Bapaknya bilang, babi pemalas! Kemudian bapak dan ibunya saling menyalahkan kenapa mereka sampai punya anak sialan seperti dia. Mereka kembali saling pukul dan bunyi barang-barang dibanting kembali terdengar. Untunglah, ia punya buku Mio Anakku(1). Ia bertualang bersama Mio dan Jum-Jum di Negeri nun Jauh. “Hutan Kemilau Bulan,” kataku kepada Jum-Jum. “Sekarang aku ingin pergi ke Hutan Kemilau Bulan.” Ia membaca bagian itu berulang-ulang dalam hatinya. Lalu ia meneruskan ke kalimat berikutnya dan hatinya ikut bergetar ketika Miramis—si kuda putih terbang—menukik ke bawah menuju Hutan Kemilau Bulan. Mereka memulai petualangan yang lebih mendebarkan dari sebelumnya. Mereka terus bertualang ke tempat yang penuh kejutan dan menantang nyali. Betapa menyenangkan menjadi anak-anak seperti mereka, pikirnya. Betapa menyenangkan bertualang ke tempat-tempat jauh.

Saat ia mengangkat wajahnya dan memalingkan pandangannya ke pintu yang selalu menyisakan sedikit celah, ia tak lagi menemukan kelebatan dua sosok manusia yang saling menyerang. Suara ribut dan bunyi barang juga tak ada. Kesunyian membentang di depannya. Ia agak bergidik dan sempat berpikir kalau ia masih berada di Hutan Kemilau Bulan. Ia memaksa untuk berdiri, lalu menuju ke pintu. Diintipnya keluar. Dua sosok tubuh tergeletak di lantai. Tak bergerak. Darah membentuk genangan-genangan kecil yang menyebar. Tak jauh dari sana, parang, cangkul, tangkai sapu, sebilah kayu, berserakan dan memerah.

***
KENAPA kau berpikir menulis pesan kepadaku? tanya Moora hampir terkikik. Moora belum terbiasa keluar dari dalam novel dan menemui pembacanya. Bahkan ia belum sekali pun terpikir ingin melakukannya. Namun, saat ia menerima pesan dari lelaki yang mengaku bernama Noda, ia merasa harus membalasnya dan menyetujui rencana tidak masuk akal itu. Kenapa tidak? Itu yang ia katakan dengan sedikit bermain-main dan berlanjut menjadi balasan surat yang lebih panjang, sampai kemudian mereka menentukan sebuah tempat dan waktu pertemuan.

Aku akan menunggumu di Taman Remaja. Itu yang dikatakan Moora kepada Noda. Taman Remaja merupakan sebuah tempat yang selalu ingin kutuju dalam hidupku. Kau pasti tahu, kan? Setiap pagi aku pergi ke sana sambil mengingat semuanya. Setiap pagi aku mengulanginya dan mengingat segala sesuatu yang sama saja, tapi tak membuatku bosan.

Setuju, kata Noda, aku pasti menemuimu di bangku itu. Ia sangat tahu Moora hanya akan duduk di sebuah bangku semen yang rumpal dan menghadap taman bulat yang barangkali pernah ditanami bunga dan kini tempat itu hanya dipenuhi rumput dan sampah pembungkus makanan setelah ia melewati tanjakan dan membuat lehernya basah keringat. Di bangku itu Moora duduk selama dua hingga tiga jam untuk mengingat seluruh perjalanan hidupnya, setiap hari seperti itu. Sampai cahaya matahari semakin berkilauan di antara daun pepohonan dan ia memutuskan pulang.

Lalu sekarang mereka sudah duduk berdekatan, meski kemudian Noda-lah yang menunggu di sana, bukan Moora yang justru datang terlambat. Moora sedikit berbeda dari sosok dalam novel yang dibacanya. Perempuan ini terlalu suka tertawa. Di dalam novel, Moora hanya sedikit sekali bahagia. Dan ia seorang pencela!

Jadi kenapa? ulang Moora. Kenapa kau ingin menemuiku?

Aku tidak tahu, jawabnya. Ia tidak berbohong. Sewaktu mengirim pesan di kertas itu, ia tidak tahu akan sejauh ini.

Moora menendang-nendang ranting dengan ujung sepatu kainnya. Noda mengingat lagi hari ketika ia menemukan ibu dan bapaknya berlumuran darah. Ia berjalan keluar dengan kepala kosong. Seseorang menegurnya, tapi ia tidak merasa berada di dunia yang sama dengan orang itu. Ranting yang ditendang Moora melambung ke udara, lalu jatuh lagi tak terlalu jauh dari ujung sepatunya. Noda berjalan hingga menemukan jalan raya dan ia naik sebuah kendaraan. Ia tidak tahu akan ke mana. Kepalanya makin kosong. Sebuah pikap membawanya pergi, lalu ia naik mobil yang lainnya, dan lainnya, yang membuatnya makin berada jauh dari jasad ibu dan bapaknya yang barangkali saat itu sudah diurus oleh polisi setempat. Aku tidak tahu, katanya lagi. Aku bahkan tidak tahu siapa diriku. Apakah aku ini hidup atau mati. Lalu aku menemukanmu dalam sebuah novel yang satu-satunya kumiliki sekarang ini. Aku belum pernah menulis pesan atau permintaan kepada tokoh cerita yang kubaca selain kepadamu.

Moora tertawa. Ia terus tertawa.

Sekarang aku ingin pergi, kata Noda bangkit dari bangku semen.

Moraa terdiam. Juga ketika Noda benar-benar melangkah pergi. Ia hanya memandangi punggung kurus lelaki aneh itu. Moora baru menyadarinya, tubuh itu tak lebih baik dari sebatang jerami yang kapan saja bisa melayang ditiup angin. Akarnya telah mati. Daun dan batangnya kering.

Angin mengempas pepohonan di Taman Remaja. Daun-daun yang lepas melayang serupa burung. Suara riuh berganti-ganti dengan sepi. Moora memandangi sekelilingnya. Tak ada siapa-siapa di Taman Remaja selain dirinya, angin, dan pepohonan. Moora berdiri. Namun, kemudian ia melihat sebuah novel dan koran tertinggal di bangku yang tadi diduduki Noda. Lelaki itu mungkin sengaja meninggalkannya. Buru-buru dijangkaunya novel itu dan hatinya demikian bergetar. Di dalam novel itulah seharusnya ia berada sekarang. Bagaimana cara ia pulang ke sana? Sebelum ia menemukan cara masuk kembali ke dalam novel, Moora meraih koran yang hampir terseret angin. Di halaman depan, ia membaca sebuah judul berita: Menggemparkan, Seorang Anak Menghabisi Ayah dan Ibu Kandungnya.

Moora merasa begitu merana, sungguh dunia nyata lebih menakutkan dari yang ia bayangkan dan barangkali ia tak akan pernah tertawa lagi setelah ini, di mana pun ia berada nanti.

***
DAILI memandang lama-lama ke layar laptopnya, ke naskah novel yang sedang direvisinya sebelum naik cetak ulang kelima. Alih-alih menemukan tokoh Moora, ia melihat nama asing di sana: Noda. Dari mana nama itu datang? Ia memijit-mijit keningnya. Di mana Moora?

 Rumah Kinoli, 2017
Catatan:
1 Novel anak (edisi terj.) karya Astrid Lindgren

Yetti A.KA tinggal di Kota Padang, Sumatera Barat. Buku kumpulan cerpen terbarunya Pantai Jalan Terdekat ke Rumahmu (2017).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Yetti A. KA
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Koran Tempo" edisi akhir pekan 9 - 10 Desember 2017

0 Response to "Ia dan Moora Berjumpa di Taman Remaja"