Mari Pulang - Sayap-Sayap Doa - Ketika Surga itu Datang - Gevira - Terpenjara di Tanah Surga | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Mari Pulang - Sayap-Sayap Doa - Ketika Surga itu Datang - Gevira - Terpenjara di Tanah Surga Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 04:00 Rating: 4,5

Mari Pulang - Sayap-Sayap Doa - Ketika Surga itu Datang - Gevira - Terpenjara di Tanah Surga

Mari Pulang

Ayolah kita pulang saja sekarang.

Sudah terlalu lama kita berada di luar rumah dan
kampung orang, melupakan asal usul serta jati diri
kita.

Sudah kenyang kita menikmati makanan
yang bukan asal dari kampung dan masakan ibu.
Sudah penuh pikiran dan hati ini dengan nilai,
ideologi dan faham yang bukan kebutuhan dan
kepentingan kita.

Ayo kita pulang.
Ajaran orang tua, leluhur, kokolot, kasepuhan
dan para guru ngaji kita lebih menyejukan dan
mendamaikan.

Ayo kita pulang.
Masakan ibu di rumah lebih enak.
Buah dan padi dari tanah kampung kita lebih lezat
dan sehat .
Ikan, kerbau, kambing, kelinci, dan sumber protein
dari peliharaan kakek kita lebih segar .
Ayo kita pulang.
Ruang untuk melihat senyum, berbagi tulus, dan
bermain masih lebih luas di kampung.
Kebun, hamparan sawah, air sungai dan gunung di
desa menunggu agar kita menjaga dan merawat.

Esok anak dan cucu kita beranjak dewasa. Mari ajari
mereka cara mengolah tanah, menanam pohon,
mengisi pikiran dan hati dari sumber nilai kearifan
yang kita miliki.

Ayo kita segera pulang.

(Uten S, 2017)

Sayap-Sayap Doa

Entah kekuatan apa yg membuat aku begitu tak
berdaya
saat ingin meningalkanmu selama -lamanya.
Seolah engkau anak bungsuku yg manja,
selalu merengek tiap kali ingin kutinggal pergi.

Aku sudah coba meminta bantuan padaNya
lewat butir-butir tasbih yang jatuh
di lantai musholah dan pojok kamar di penghujung
malam.
Sudah pula kulempar ke tumpukan awan hitam
lewat sayap-sayap doa di pertiga malam gelap.

Sekarang kau kembali datang,
merangkul lagi bahkan mengajakku bercumbu tiada
henti.
Mungkin aku harus mengikatmu lebih kuat lagi
dengan tali baja di atas tiang-tiang Ka’bah
Aku ingin kau cukupkan rayuanmu sampai di sini saja
hingga aku bisa pulang dengan jiwa yang ringan.

(Uten S, 2017)

Ketika Surga itu Datang

Aku tiada henti mengembara mencari surga.
Melangkah meliuk liuk melewati jalan sempit,
sunyi diantara dinding dan tembok karang penuh
berhala.
Begitu jauh dan panjang jalan itu hingga kaki hampir
menyentuh ujung langit dan tanganku baru saja
menggenggam pojok bumi.

Aku ingin pulang ke surga yang dijanjikan oleh
semua nabi yang tertulis dalam kitab-kitab besar.
Apakah aku harus menunggu malaikat penjemput
nyawa terlebih dahulu untuk bisa merasakan surga?

Ah...begitu mahalkah surga itu hingga harus
tersembunyi di luar batas panca Indra makhlukMu.
Dalam kesunyian di tapal batas negeri, aku
merenung, apakah aku masih harus terus berlari
mengembara jika suatu hari surga itu datang sendiri
masuk ke dalam jiwaku?

(Uten S, 2017)

Gevira

Seorang anak balita dari sebuah kampung yang
terjepit tembok mewah bangunan kota merintih
kesakitan.
Di bawah genteng bocor dalam kamar berdinding
triplek lusuh dan kumal, ia mengeluh.
“Lapar Bu!” suaranya lirih di keheningan malam.

Air mata sang ibu meleleh tak terbendung.
Sang ayah belum juga pulang mengais sampahsampah
di antara sela-sela rumah dan istana kota
bergaya Eropa.
Rintihan tangisnya terdengar seperti hembusan angin
di tengah padang pasir.

Tertelan bising suara orang-orang berbelanja.
Tertimbun dentuman musik dan gemerlap lampu di
ata panggung pesta ulang tahun kota.

Malam menjelang pagi wajahnya bersinar meski
tubuh hanya tulang berbalut kulit, tergeletak di atas
ranjang lusuh rumah sakit.

“Bu, apa mereka masih berpesta?” tanyanya pada
sang ibu saat
orang-orang turun dari panggung
bergegas pulang.
“Bu, aku ingin pulang juga. Apa ada anak-anak lain
bernasib seperti ku?”

Sang ibu tak mampu berkata. Air matanya kembali
berderai lalu memeluk erat anak semata wayang.
“Iya nak. Mari kita pulang saja. Di sini sepi. Ibu ikhlas
dan akan mengantarmu benar-benar pulang nak!”
ujar sang ibu sambil mendekap tubuh anaknya.

Selamat jalan Gevira!

*)gadis kecil yg meninggal karena busung lapar di
tengah kemewahan kota.

(Uten S, 2017)


Terpenjara di Tanah Surga

Dentang lonceng nyaring menggetarkan dinding kota.
Suara adzan menggema menerjang angin menembus
kabut
Doa-doa dari atas altar gereja dan menara mesjid di
sudut kampung tiada henti ditiupkan ke atas langit

Lagu-lagu pujian pada Tuhan dan sang Nabi
berkumandang menyentuh bintang-bintang.
Berharap Tuhan segera datang
turun ke tanah surga
seperti yang dijanjikan oleh kitab-kitab.

Mereka mengira Tuhan masih duduk-duduk di atas
Singgasana di lapis langit ketujuh.
Ada keraguan tanah surga
sebagai anugerah dariNya
hingga lupa bersyukur dan menikmati.

Jadilah tanah itu bagai larva panas,
bergolak disulut bongkahan kerak api
dari separuh sudut neraka.

Api marah mengamuk, meronta-ronta.
Asap keluh kesah, merintih menangis
seperti hati orang tersakiti
membumbung ke atas langit.

Air mata dan darah bercucuran.
Menyalahkan nasib.
Menyalahkan Tuhan.
Menyalahkan orang-orang yang datang.
Bahkan mempertanyakan kenapa mereka lahir di
tanah surga.

Air bening mengalir diantara bebatuan, pantai
berombak tenang, angin semilir mengelus danau,
pohon-berbunga berbuah di lembah dan gunung,
burung-burung indah di kehijauan hutan, emasmutiara
di dasar tanah subur.

Tapi mereka malah berlari menjerit-jerit panjang bak
orang-orang lapar dan haus.

Tuhan dimana? Kapan Tuhan akan turun dari atas
langit!
Kapan Tuhan mengirim Mesias seperti yg dijanjikan?
Kapan kami merdeka?
Kapan bumi kami terbebas?
Begitu mereka selalu berkata, berteriak, berharap.
Seperti terpenjara di tengah-tengah keindahan dan
kemakmuran taman Eden.

Di sudut lain
orang-orang dari seberang pulau dan samudera
nun jauh berlomba datang ke tanah mereka
menikmati surga, dan mengaku Tuhan telah turun
dari langit ke dalam jiwanya.

(Uten S, 2017)

Uten Sutendy, adalah seorang budayawan yang sangat aktif dan telah banyak menulis buku berkaitan dengan budaya dan sastra. Uten pernah menulis novel Damai dengan Alam (2010) dan Baiat Cinta di Tanah Baduy (2016) tentang kehidupan masyarakat Badui dengan kearifan lokalnya. Bersama Hasan Gaido menulis buku Menuju Banten Baru (2017). Uten memiliki kepedulian besar untuk mengembangkan seni, sastra, dan budaya di Tanah Air.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Uten Sutendy
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu 17 Desember 2017

0 Response to "Mari Pulang - Sayap-Sayap Doa - Ketika Surga itu Datang - Gevira - Terpenjara di Tanah Surga"