Orang-Orang yang Membunuh Nafsunya | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Orang-Orang yang Membunuh Nafsunya Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 16:00 Rating: 4,5

Orang-Orang yang Membunuh Nafsunya

MALAM itu orang-orang gelisah. Sebelum pertengkaran terjadi di antara mereka sendiri, dua orang wakil sudah disuruh memanggil tujuh induk keluarga lain agar hadir di Laica Ngkoa, rumah adat besar milik Ina’Ea Sampalangi. Raungan anak perempuannya terdengar sampai ke jalan besar, di mana saat ini orang-orang sedang berkumpul dalam gelisah. Cahaya dari puluhan obor yang dibawa orang-orang bahkan bisa mencapai rumah terakhir di sisi anak sungai Lobu Meheo.

Tina’Ate Aima meraung-raung tak henti. Delapan perempuan sibuk menenangkannya. Tapi kesedihan Tina’Ate Aima tak jua sirna. Di kamar sebelah, dua perempuan lain sibuk membujuk Ato Mangada agar berhenti menangis dan segera menyebut nama lelaki yang menyerangnya siang tadi. Ina’Ea Sampalangi sangat ingin tahu nama lelaki itu. Muka nenek Ato Mangada itu benar-benar menampakkan isi dadanya yang terbakar amarah. Taa, belati di tangannya belum dihunus tapi tak mau ia turunkan.

Tigapuluh menit habis, barulah dua orang suruhan itu datang kembali ke hadapannya. “Sudah, Ina’Ea,” kata seorang dari mereka.

Ina’Ea Sampalangi tak menoleh. “Semuanya?”

“Semuanya—mereka bilang akan menyusul kami.”

“Pergilah ke belakang,” desis Ina’Ea Sampalangi, “…keluarkan dari peti Taa’Owu milikku dan basuh sekaligus,” pintanya.

Mendapat perintah, dua orang itu pergi tergesa-gesa. Mereka memutar di ujung ruangan menuju kamar besar di tengah rumah. Saat Ina’Ea Sampalangi meminta memandikan parangnya, tahulah mereka sebesar apa kemarahan di dada perempuan tua yang paling dihormati di kampung mereka itu.

Di bawah rumah panggung, kerumunan orang terbelah sengaja memberi jalan bagi sembilan utusan keluarga Ina’Ea Sampalangi. Mereka tak berjalan tergesa-gesa, namun di tangan mereka tergenggam Taa yang tak lagi diselipkan di pinggang kiri seperti biasanya.

Satu per satu utusan keluarga yang dipanggil naik ke rumah dan duduk bersila di depan Ina’Ea Sampalangi. Mata orang tua itu memandang tajam pada mereka semua. Ada sembilan utusan keluarga anaknya yang datang dan itu sudah semuanya. Hanya kepala keluarga saja yang naik, sisanya menunggu di bawah rumah panggung.

“Kalian dengar tangisan tinano (ibunya) Ato itu?”

Sembilan wakil mengangguk dan bersamaan menjawab, “Kami dengar, Ina…”

“Sebab dia meneteskan air mata itulah yang membuatku sangat malu. Karenanya kalian aku panggil ke sini.” Wajah Ina’Ea Sampalangi mengeras di atas kursinya.

Djama menggeser posisi duduk agar lebih dekat ke posisi ibunya. “Seperti apa masalah yang membuat Ina malu besar?” Djama menyentuh lutut ibunya. Djama putra tertua dari rumpun keluarga induk Ina’Ea Sampalangi.

Ina’Ea Sampalangi menggeram, “Seorang lelaki telah menodai Ato!”

Sembilan utusan keluarga anak-anaknya terperanjat saat ibu mereka bilang bahwa kemenakan mereka telah dinodai. Tiga kakak Tina’Ate Aima langsung terlompat mencabut Taa. Ketiga paman Ato Mangada itu duduk kembali ketika mata Ina’Ea Sampalangi menghunjam ke arah mereka. Tetapi Taa yang sudah keluar dari sarungnya—sebelum bersimbah darah—tidak boleh dimasukkan kembali. Itu pantangan besar bagi orang Tokotua. Mereka bertiga harus menerima risiko memegang Taa telanjang, sampai senjata mereka itu menemui takdirnya.

“Siapa orangnya, Ina?” kejar Djama.

Ina’Ea Sampalangi menaikkan tangan kirinya. Kepalanya menunduk, rahangnya mengeras. Ia kemudian menggeleng. “Para perempuan sedang membujuk agar Ato Mangada menyebut namanya. Kepalaku sakit mendengar ibunya meraung seperti itu selepas sore tadi.”

Belum habis bicara Ina’Ea Sampalangi, seorang perempuan datang berlutut ke tengah lingkaran para lelaki, menatap tajam ke arah Ina’Ea Sampalangi yang mengangguk padanya. “Ato Mangada sudah bicara,” kata perempuan itu.

Ina’Ea Sampalangi berdiri dari kursinya. “Siapa orangnya!”

Perempuan itu menoleh sesaat pada sembilan utusan keluarga anak-anak Ina’Ea Sampalangi. “Luangka—dia adik Dato Majeng.”

Wajah Ina’Ea Sampalangi memerah. “Luangka—dia kalian harus bayar rasa malu ini!” Desis perempuan tua itu. Sembilan utusan keluarga anak-anaknya juga ikut berdiri. Mereka tidak akan bergerak sebelum ibu mereka memberi perintah. Dari kamarnya, Tina’Ate Aima masih meraung-raung, mengibakan nasib anak gadisnya yang telah diperawani paksa. Belum ada yang memberitahunya soal Luangka. Orang-orang tak mau ibu Ato Mangada meraung sepanjang malam.

Sebelum malam kian larut, orang-orang sudah bergerak ke rumah Dato Majeng. Ia lebih muda sepuluh tahun dari usia Ina’Ea Sampalangi. Orang-orang tak lagi memedulikan kedudukan Majeng sebagai dato di keluarga besarnya. Luangka telah membuat kesalahan yang memalukan dan Majeng, sebagai kakaknya, juga harus bertanggung jawab.

Orang-orang bergerak. Ina’Ea Sampalangi memimpin rombongan itu diikuti sembilan keluarga anak-anaknya. Jalanan benderang karena cahaya api dari obor. Wajah-wajah mereka tegang karena sebentar lagi Ina’Ea Sampalangi dan Dato Majeng akan berhadapan dan siapa pun keluarga Dato Majeng yang berupaya menghalangi boleh jadi akan berkalang tanah bersama pengulu rumpun keluarganya itu.

***
Ina’Ea Sampalangi dan keluarganya tiba di depan rumah panggung besar milik Dato Majeng. Ternyata Majeng sudah menunggu. Taa miliknya masih terselip di depan perutnya, wajahnya tenang sekali. Ia bersiap menyambut selepas seseorang mengabarkan kedatangan rombongan keluarga Ina’Ea Sampalangi.

Tukaku (kakakku) Sampalangi, masuklah,” sambut hormat Majeng, “… aku sudah tahu musabab kedatanganmu. Sebagai saudara Luangka, tentu aku harus bertanggung jawab.”

“Tutup mulutmu!” sergah Ina’Ea Sampalangi. “Mana Luangka? Dia harus bayar perbuatannya!”

Majeng tetap tenang. “Sudah aku suruh orang-orang mencarinya. Aku belum sekalipun bertemu dengannya, belum menanyainya atas kabar yang baru kudengar ini.”

“Kau menyembunyikannya?!”

“Tidak, tukaku. Itu tidak akan kulakukan,” Majeng menggeleng. “Luangka memang adikku, tapi jika hal memalukan ini benar dilakukannya, Taa-ku sendiri yang akan meminum darahnya!”

Ina’Ea Sampalangi mengangkat Taa-nya ke udara. “Tidak!” teriaknya, “Aku sendiri yang harus menghapus rasa malu yang ditimpakan ke kepalaku, bukan kau!”

“Serahkan pada dewan adat!” Tiba-tiba Bonto Makka muncul di antara mereka. Bonto Makka sudah dikabari soal kemarahan Ina’Ea Sampalangi dan kedatangannya ke rumah Dato Majeng. “Sebagai bonto (hakim adat) aku berhak mengadili pelanggar adat di wilayahku. Kalian juga bisa membicarakan jalan keluar yang lebih baik.”

“Aku tidak meminta perkenanmu, Makka!” Ina’Ea Sampalangi benar-benar meradang. “Aku tidak datang untuk menyandingkan cucuku dengan Luangka itu. Aku bisa saja tidak sekadar minta darah Luangka, tetapi kau juga Majeng. Kalian berdua!” Ina’Ea Sampalangi menunjuk muka Majeng dengan tangan kirinya yang menggengam Taa.

Teguran langsung di hadapan orang banyak itu membuat Bonto Makka kaget sekali. “Tumpaiko Bala! Terkutuk kau, jika kau coba melangkahi adat! Aku tahu ini masalah besar, Sampalangi!”

Mea’Ea (malu besar)! Harga diriku sebagai dato di keluargaku sudah diinjak-injak! Luangka melangkahi kepalaku dengan mencemari kehormatan cucuku,” dengus Ribanda.

“Tetapi tegakkanlah adat, Sampalangi!” Bonto Makka merendahkan suaranya.

Metobo asa’sawu!” teriak Ina’Ea Sampalangi.

Baku tikam satu sarung! Orang-orang tercekat. Bonto Makka terkejut setengah mati. Dato Majeng sampai mundur selangkah dari tempatnya berdiri. Apa yang diminta Ina’Ea Sampalangi itu adalah ritual hukum tertinggi—berujung maut.

Akan ada laki-laki yang mati dalam sarung.

Dato Majeng menghela napas. Ia tak kuasa menghindar. Luangka memang di posisi salah. Bagaimanapun keluarganya harus mengambil tanggung jawab itu.

Tukaku,” Majeng menukas kepada Ina’Ea Sampalangi. Ia sentuh lutut kanan perempuan tua yang duduk di sisi Bonto Makka dalam perundingan adat ini.

“Tidak, Majeng!” Ina’Ea Sampalangi menggeleng tegas. “Kalau kau ingin perkara ini selesai, kau harus terima syaratku. Kau tidak akan mau jika rumpun keluargaku memendam dendam karena ini tidak pernah dianggap selesai. Jika kelak kita mati, keluargaku selalu punya alasan untuk menuntut darah keluargamu. Selagi kita berdua masih tegak di atas tanah, ini harus diselesaikan.”

Majeng menarik tangannya, memperbaiki posisi duduknya. “Ma’apuakumo, Dato.” Majeng meminta maaf seraya menatap wajah Ina’Ea Sampalangi. Ia telah meluaskan diri untuk menerima keputusan adat. Bonto Makka akan mengurus semuanya.

Usai Bonto Makka bicara, Ina’Ea Sampalangi langsung berdiri, menyelipkan kembali Taa ke depan perutnya. Ia naikkan sarungnya dan beranjak turun dari rumah Majeng. Sembilan utusan keluarga anak-anaknya juga ikut turun. Besok siang orang-orang boleh berkumpul di lembah, di lapangan kampung.

***
Esok paginya, Bonto Makka lebih dulu hadir di lapangan kampung bersama Ina Wonde, seorang pandita (pengulu agama). Dengan doa-doanya, Ina Wonde sudah menyucikan lapangan itu sebelum orang-orang datang. Perempuan tua itu sudah mengatur segala keperluan ritual, menaburkan serutan gaharu ke dalam bara yang ditampung dalam vea’api (tembikar dupa), meletakkan puluhan sarung dan kain kaci di tempat yang bisa di lihat siapa pun.

Matahari mulai tinggi saat orang-orang memenuhi lapangan. Rombongan keluarga Ina’Ea Sampalangi datang lebih dulu. Mereka tampak tenang menunggu Bonto Makka dan pandita Ina Wonde usai menyiapkan segalanya. Berjalan di sisi Ina’Ea Sampalangi, berdiri Djama bertelanjang dada. Putra tertuanya itu hanya mengenakan celana kurung berlapis sarung setinggi lutut. Tergenggam Taa sepanjang satu jengkal di telapak tangannya.

“Siapa wakil keluargamu, Sampalangi?” tanya Bonto Makka.

Apua’ntamaku (putra tertuaku),” Ina’Ea Sampalangi menoleh pada Djama.

Bonto Makka berpaling saat ujung matanya menangkap gerakan rombongan yang baru saja memasuki lapangan. Itu rombongan keluarga Dato Majeng. Ada Luangka di antara mereka, dan rupanya lelaki itu yang akan mewakili dirinya sendiri.

“Ina’Ea,” Majeng menghampiri Sampalangi, “… kupenuhi janjiku. Luangka harus mempertanggungjawabkan perbuatannya hari ini.”

Wajah perempuan tua itu masih sekeras besi, tetapi ia mengangguk, menepuk bahu Majeng dan meminta kakak Luangka itu kembali ke barisan keluarganya. Bonto Makka meminta dua petarung untuk maju ke tengah gelanggang, berdiri di sisinya. Hakim itu menerangkan aturan adatnya. “Kalian akan bertarung sampai salah satu dari kalian mati. Siapkan Taa kalian. Kecuali patah, hanya Taa bengkok yang akan diganti. Tidak ada yang bisa menghentikan pertarungan kecuali kematian dan kerelaan keluarga penuntut,” terang Bonto Makka.

Mata Bonto Makka beralih pada Ina’Ea Sampalangi dan Dato Majeng. “Selepas diselesaikan di sini, semua dendam harus dipadamkan. Tidak ada pihak mana pun yang boleh mengungkit perkara ini di kemudian hari. Jika keturunan kalian menuntut hal itu setelah penyelesaian ini, maka aku ingatkan—aku ingatkan… agar bersiap menerima akibatnya.”

Ina’Ea Sampalangi dan Dato Majeng mengangguk bersamaan.

Maka majulah ke tengah gelanggang, Djama dan Luangka. Bonto Makka memasukkan mereka berdua ke dalam sebuah sarung. Djama dan Luangka diminta bersiap, menghunus Taa dan menarik kuda-kuda. Tangan kanan Djama dan Luangka terangkat tinggi dengan Taa dalam genggaman masing-masing, siap dihunjamkan. Orang-orang terkesiap. Wajah mereka ngeri menunggu aba-aba Bonto Makka.

***
Menjelang siang, di hari ke sepuluh seusai pertarungan, Ina’Ea Sampalangi memandang punggung Dato Majeng. Perempuan tua itu mendorong tubuhnya, lalu melangkah hingga sampai ia ke sisi Dato Majeng.

“Sudah lama kau di sini, Majeng?”

Lelaki tua yang disapa itu menoleh sedikit. “Hampir setengah jam, kukaku. Mengapa tukaku ada di sini juga?”

“Aku melihatmu melintas. Aku menebak saja bahwa kau akan ke sini.”

Dato Majeng mengangguk. “Selepas magrib, akan ada aloa (ritual doa) untuk Luangka. Kehadiran tukaku Ina’Ea Sampalangi akan menjadi kehormatan untuk keluargaku. Aku ke sini untuk memberi doa buat Luangka. Sial betul hidupnya, membujang hingga tua dan harus berkalang tanah seusai perkara yang membuat kami malu.”

Ina’Ea Sampalangi menepuk pundak Dato Majeng.

“Berjalanlah di sisiku menuju rumah. Biar keluargaku melihat kita dan meyakini bahwa sudah tak ada dendam yang terselip di hatiku dan di hati anak-cucuku. Sakit hati kami sudah kau kuburkan bersama Luangka.”

Dato Majeng mengangguk, hampir bersamaan membalikkan tubuh dan berjalan bersisian meninggalkan pemakaman di mana Luangka dikebumikan sepuluh hari lalu. ***

Molenvliet, November 2017

Ilham Q. Moehiddin, banyak menulis cerpen. Buku terbarunya Ordinem Peremto III(2018) segera terbit.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ilham Q. Moehiddin
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Jawa Pos" Minggu 17 Desember 2017

0 Response to "Orang-Orang yang Membunuh Nafsunya"