Paduka Berhala - Kemoceng - Kerupuk - Caluk - Orang Dusun | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Paduka Berhala - Kemoceng - Kerupuk - Caluk - Orang Dusun Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 05:00 Rating: 4,5

Paduka Berhala - Kemoceng - Kerupuk - Caluk - Orang Dusun

Paduka Berhala

Kubiarkan nyamuk-nyamuk kegelapan
Menambang darahku di luar asap damar.

Kubiarkan sulur-sulur senja
Mengupak hasratku di atas api kesunyian.

Kubiarkan rebus batu kuap
Rendang sapiku dan kacang panjang.

Kubiarkan gulai tunjang dan sambal teri
Gado-gado air suling dan putih nasiku.

Segala kecap di ujung ratap,
Segala serat di tulang singkap,

Kubiarkan lambung panas mengurai spageti
Sebagai vampir di bawah jam tidur matahari

Muarabungo, 2017

Kemoceng

Tak ada debu matahari di lantai ini.
Tak ada badai kuaci di meja ini.

Selimut debu
Hablur di angin lalu.

Dengkur melembing
Di ujung baring.

Seujar angin lalu
Bersilat di lubang pintu.

Di ekor kucing persia kini cuma ada klakson jangkrik
Bergetar seperti remuk api di kepala busi

Muarabungo, 2017

Kerupuk

Santap aku dengan kuah pical dan saus tomatmu
Tegaskan gigit sebelum pecah darah dalam derukmu.

Lempar aku ke relung perut hitam kucing jantanmu
Tetak ngiau sebelum serat meliputi prasangkamu.

Retas aku dengan tanda seru dalam nadimu,
Tandai kerapuhanku sebelum detak waktu remuk batu.

Muarabungo, 2017

Caluk

Tak perlu udang di balik batu
Bila ingin memancing ikan di laut jantungku.

Tak perlu harimau di balik pintu
Bila ingin memangsa rusa di rimba hatiku.

Muarabungo, 2017


Orang Dusun

Orang dusun lebih memahami
Kenapa serumpun betung yang tumbuh di bibir jurang
Lebih mampu membendung  tanah longsor
Ketimbang berbatang-batang kayu rengas di puncak bukit.

Orang dusun lebih mengerti
Kenapa giam dan keruing
Lebih mampu mengambang bertahun-tahun di atas Batanghari
Ketimbang setongkang kayu gabus

Muarabungo, 2017

Ramoun Apta lahir di Muarabungo, Jambi 26 Oktober 1991. Alumnus Jurusan Sastra Indonesia Universitas Andalan, Padang, ini sedang melanjutkan studi pascasarjana di universitas yang sama. Ia bergiat di Labor Penulisan Kreatif (LPK)

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ramoun Apta
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" Sabtu 9 Desember 2017

4 Responses to "Paduka Berhala - Kemoceng - Kerupuk - Caluk - Orang Dusun "

yona primadesi said...
This comment has been removed by the author.
yona primadesi said...

Selamat siang admin.
Saya mau konfirmasi atas pemuatan puisi atas nama Ramoun Apta, berjudul: Indeks Salah Catat, 1998 dan Berseluncur dalam Dongeng, saya beritahu ada kekeliruan. Dua puisi tersebut bukanlah puisi karya Ramoun Apta, melainkan puisi karya saya, Yona Primadesi, yang dimuat bersamaan dengan puisi-puisi Ramoun Apta di harian Kompas, 9 Desember 2017.
Saya mohon admin untuk mengkoreksi karena kesalahannya sangat fatal.
Ada 4 judul puisi saya yang dimuat hari itu, bukan dua judul puisi seperti yang tertulis di klping sastra.
Terima kasih
-Yona Primadesi-

Kliping Sastra Nusantara said...

Selamat siang,

Terima kasih atas koreksiannya, Mbak Yona Primadesi. Sudah kami betulkan di sini: http://id.klipingsastra.com/2017/12/tragedi-kampung-janda-1983-peta-masa.html. Mohon maaf untuk kelalaian kami.

Salam literasi.

yona primadesi said...

Terima kasih banyak atas perhatiannya.
Saya juga berterima kasih teman-teman berkenan mengarsipkan tulisan-tulisan di media. Kerja teman-teman sangat membantu, terutama bagi saya pribadi.
Sekali lagi terima kasih.