Pap, … Nina bukan anakmu | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Pap, … Nina bukan anakmu Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 15:15 Rating: 4,5

Pap, … Nina bukan anakmu

SUASANA pagi di rumah keluarga Rudy berjalan seperti biasanya setiap hari. Jam setengah enam kegiatan kehidupan sudah mulai sibuk, walaupun rumah keluarga Rudy hanya berpenghuni 4 orang: Rudy, Lisa (isteri Rudy), Nina anak perempuan tunggal yang baru berumur 6 tahun dan Imah si pembantu. Rumah keluarga Rudy tidak besar, pun tidak megah seperti gedongan orang-orang kaya, juga tidak terlalu kecil dan reot yang mencerminkan kemiskinan, tetapi berukuran sedang, namun kelihatan molek dengan halaman yang ditanami tanaman hias yang menyegarkan. Keadaan rumahnya menunjukkan kesederhanaan dan keharmonisan rumah tangga Rudy.

Pagi itu Lisa seperti hari-hari yang lain, sibuk menyiapkan keperluan-keperluan pagi untuk Rudy yang akan pergi ke kantor dan untuk Nina yang akan pergi sekolah. Nina yang lucu dan cantik baru duduk di kelas I SD. Ia sedang mandi sambil nyanyi-nyanyi lagu favoritnya “naik-naik ke puncak gunung”. Si Imah selesai membantu di dapur nampak memegang sapu dan lap membersihkan segala sesuatu di dalam rumah.

Jam 06.30 segalanya pun telah siap, Nina telah selesai makan paginya dan tas sekolahnya pun sudah melingkar di bahunya. Demikian pula Rudy, kopi susu dan rotinya telah bersih di mejanya, kelihatan masih duduk-duduk memegang koran, sedang tas kantornya telah pula siap rapi di sampingnya. Ia adalah pegawai yang rajin, selalu sampai di kantor sebelum jam kerjanya mulai.

Nah, Lisa, sudah jam setengah tujuh,” kata Rudy sambil mengangkat tasnya, siap-siap untuk meninggalkan rumah pergi ke kantor. Seperti hari-hari biasanya, sebelum berangkat kerja, Rudy mengangkat Nina, menciumnya sambil berkata, “Nina, bapak berangkat kantor ya. Nina mesti belajar baik-baik ya, tidak boleh nakal, dan … nurut sama bu guru.” “Ya Papa … jangan pulang malam-malam ya Papa,” sahut Nina manja. “Tidak … daag Nina,” sambil melangkah menuju ke jalan. “Daag Papa … Nina juga mau berangkat ke sekolah.”

Lisa mengamati adegan mesra antara ayah dengan anaknya. Adegan yang demikian, boleh dikatakan merupakan adegan rutin terjadi setiap pagi. Tetapi pagi itu, adegan yang rutin benar-benar menyentuh hati Lisa; tidak seperti biasanya, pagi itu benar-benar lain, perasaan Lisa bergejolak haru, lebih-lebih tatkala ia menatap Rudy yang dengan mesranya mencium Nina.

Hari itu adalah tanggal 3 September, suatu tanggal yang tidak mudah lenyap dalam ingatan Lisa. Pada tanggal 3 September enam tahun yang lalu, Rudy mencium Lisa pamitan untuk pergi ke luar negeri dalam rangka melaksanakan tugas belajar untuk satu setengah tahun lamanya. Tanggal 3 September itu pula menjadi saat bermulanya kehadiran Nina di dunia ini.

Pada waktu Rudy mendapat tugas belajar ke luar negeri, Rudy dengan Lisa telah membina rumah tangga selama 5 tahun. Dalam jangka waktu 5 tahun berumah tangga itu mereka belum dikaruniai momongan anak. Mereka telah berusaha apa saja, ke berbagai dokter ahli dan segala cara lain, tetapi anak yang mereka dambakan tiada kunjung lahir. Menurut dokter pihak Rudy lah yang hampa benih; mereka pun menyerah kepada kodrat. Karena itulah mereka menerima apa adanya, tetap hidup rukun dan saling pengertian.

Seperginya Rudy, Lisa tinggal sendirian ditemani Imah, pembantunya yang setia. Isi rumah, tinggal Lisa dan Imah berduaan. Rumah nampak kosong dan lengang, walaupun yang pergi hanya seorang. Kehampaan ini sungguh dirasakan berat oleh Lisa, walaupun Lisa berusaha untuk mengisinya dengan pekerjaan-pekerjaan rumah seperti memasak, menjahit, dan sebagainya. Himpitan rasa hampa ini mulai terasa, bila ia membayangkan jangka waktu bepergian Rudy yang satu setengah tahun itu. Karena itu Lisa memutuskan untuk bekerja, dengan tujuan untuk membunuh waktu menunggu kembalinya Rudy. Sangat kebetulan ada sebuah kantor yang memerlukan tenaga administrasi ringan, dan melalui seorang teman, Lisa pun diterima bekerja di kantor itu. Waktu terus berjalan, surat menyurat antara Rudy dan Lisa juga terus berlangsung; segala keadaan di rumah secara rutin dilaporkan oleh Lisa, termasuk kerja kantornya Lisa.

Di kantor ini Lisa berkenalan dengan seorang pria teman sekerjanya, perkenalan biasa sebagai sama-sama karyawan. Tetapi pertemuan setiap hari, tukar pandang dan tukar tutur kata yang berulang-ulang, mengubah perkenalan biasa menjadi perkenalan intim. Anto pun, demikian nama teman pria Lisa, mengetahui bahwa Lisa sedang sendirian. Maka dengan segala taktik dan siasatnya ia berusaha hendak memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, sedangkan Lisa nampaknya tidak memperhitungkan niat jahatnya Anto. Colak-colek, senggol-senggol, dan sentuh-sentuh mulai menjadi kebiasaan yang mengakrabkan. Lisa juga sudah mulai diajak-ajak makan, namun Lisa masih menganggap biasa-biasa saja, sebab Lisa memang suka berteman.

Tetapi suatu ketika Lisa dapat diajak piknik berduaan, keluar kota. Lisa yang belum merasa curiga menyambut ajakan itu dengan senang hati, daripada di rumah toh sedirian. Suasana pun riang gembira, apalagi ke alam bebas yang pemandangannya mempesona, panorama yang romantis merangsang dan menggairahkan, membangkitkan gejolak-gejolak nafsu nalurinya masing-masing. Tatkala mereka duduk-duduk di sebuah villa:

“Lisa, rasanya sayang sekali bila … saat-saat begini indah kita biarkan berlalu,” seraya tangannya membuat pulsa-pulsa peka pada tubuh Lisa.

“Apa, Anto … kau … ingat Anto aku sudah bersuami,” sentak Lisa, seperti orang kaget yang baru bangun dari tidurnya.

“Aku tahu Lisa, aku tahu betul hal itu. Tetapi suamimu kan tidak ada di sini?” sambil usahanya yang makin menjadi-jadi, sehingga membuat Lisa seperti orang terbius.

“Anto, jangan …, ah jangan Anto,” suaranya makin tenggelam, terdesak oleh hasrat lainnya yang mulai bangkit menggebu-gebu.

Anto tahu betul bahwa Lisa sedang ber”puasa” sejak suaminya meninggalkannya empat bulan yang lalu. Ternyata Anto adalah orang berpengalaman dalam usaha rayu merayu dan dapat mempergunakan kesempatan-kesempatan dengan sebaik-baiknya. Akhirnya kedua manusia yang berlainan jenis itu terlelap dan terbuai dalam perbuatan yang sebetulnya terlarang.

Selesai semuanya, Lisa diantarkan Anto pulang, dan dalam perjalanan pulang, kedua orang itu tenggelam dalam perasaannya masing-masing. Lebih-lebih Lisa, ia diamuk oleh seribu satu macam perasaan-perasaan dosa, menyesal, telanjur, dan sebagainya dan sebagainya.

Tetapi, ibarat orang main bola, sekali gawang kebobolan, sang kiper makin kehilangan kepercayaan diri, sehingga bola-bola berikutnya makin mudah bersarang di jala gawang. Demikian pulalah peristiwa Lisa-Anto berulang kembali, malahan frekuensinya makin lama makin cepat.

Dan akhirnya apa yang terjadi, setelah kurang lebih dua bulan Lisa-Anto berhubungan demikian itu, Lisa jatuh sakit. Tetapi sakitnya tidak menentu, sehingga Lisa mulai banyak mangkir kerja. Untuk menghindarkan pemecatan terhadap dirinya, Lisa pun minta berhenti dari kantornya tempat bekerja. Sakitnya tak kunjung baik, sehingga Lisa memeriksakan diri ke dokter. Lisa nampaknya telah merasa apa yang sedang terjadi dalam tubuhnya, sehingga ketika dokter mengatakan bahwa Lisa mengandung, Lisa nampak menyerah dan hanya bisa menyesali perbuatannya. Ya, nasi telah menjadi bubur, dan bubur ini tentunya tidak mungkin dikembalikan menjadi nasi kembali.

Setiap hari Lisa dihinggapi rasa takut kepada Rudy, dan suatu ketika timbul niatnya untuk menggugurkan kandungannya. Tetapi untunglah Lisa mempunyai rasa tanggung jawab yang besar, ia mengambil keputusan: “Biarlah aku yang dibunuh Rudy kelak, tetapi aku tidak akan mau menjadi pembunuh bayiku yang tidak berdosa. Akulah yang berdosa, sehingga akulah yang harus menerima hukuman itu.”

Sejak kejadian itu, Lisa hanya mengurung diri dalam rumah, menunggu kelahiran bayinya. Sedangkan dengan Anto Lisa masih sempat bertemu beberapa kali, tetapi akhirnya dia pindah ke kota lain. Sementara itu hubungan surat Lisa-Rudy berjalan seperti biasa. Lisa tidak pernah menceriterakannya kepada Rudy. “Biarlah nanti saja, kalau Rudy sudah kembali, bayi ini akan kuberikan kepadanya dan biarlah aku dihukumnya,” begitulah pikirannya.

Saat yang ditunggu-tunggu pun datang, dan lahirlah bayi perempuan yang cantik mungil. Masyarakat tidak mengambil pusing akan peristiwa ini, karena Lisa adalah wanita yang bersuami, dan masyarakat sudah banyak yang lupa kapan Rudy meninggalkan Lisa. Mereka tahunya Rudy sedang belajar di luar negeri. Apalagi Lisa tinggal di kota metropolitan, di mana berlaku sifat “lu-lu, gue-gue”.

Bayi yang diberi nama Nina, tumbuh makin besar, sehat dengan asuhan ibunya yang penuh kasih sayang, yang selama ini mendambakan hadirnya seorang anak. Lisa tidak lagi sendirian, ia dapat terhibur walaupun ia menghadapi risiko yang cukup berat.

Masa tugas belajar Rudy akhirnya sampai pada batas waktunya. Rudy berhasil memperoleh pengalaman dan pengetahuan baru dengan reputasi yang cukup baik, untuk kepentingan kariernya. Saatnya pun datang di mana Lisa harus ke airport untuk menjemput kedatangan Rudy kembali. Nina baru berumur tiga bulan, karenanya Nina ditinggalkannya di rumah bersama Imah. Lisa pergi sendiri ke airport, sendirian dan nampak seolah-olah masih seperti Lisa yang dulu. Di balik rasa seribu rasa, Lisa berusaha kelihatan cerah menyambut kedatangan Rudy yang telah meninggalkannya satu setengah tahun yang lalu.

Kapal terbang mendarat, setelah melalui berrbagai proses dan prosedur-prosedur yang harus dilalui oleh setiap penumpang dari luar negeri, akhirnya Rudy berjumpa Lisa di bandara udara. Cium mesra, kangenan antara suami dan isteri merupakan adegan yang mengharukan. Selanjutnya mereka pun menuju rumah yang juga telah sangat dirindukan oleh Rudy.

Sesampainya di rumah, sambil merasakan suasana “Home Sweet Home” Rudy terperanjat karena mendengar suara bayi.

“Hai, Lisa, bayi siapa itu? Waduh, cantik sekali … kok mirip kamu ya Lis,” tegur Rudy.

“Ya, Pap, aku sangat kesepian dan kehilangan kamu selama aku kau tinggalkan, sehingga aku mencari seorang bayi,” begitu kata-kata Lisa, belum secara terus terang mengungkapkan siapa sebenarnya bayi itu. Ia telah bertekad untuk nantinya menceriterakan keadaan yang sebenarnya kepada Rudy, hanya ia ingin mencari waktu yang tepat.

“Jadi, kau mengadopsi bayi ini, Lisa! Pandai benar kau memilih bayi. Pantas ia menjadi anak kita, dan walaupun ia anak orang lain, tetapi kita wajib bersyukur, Tuhan mengobati kesunyian rumah ini. Aku senang sekali,” kata Rudy seterusnya sambil mencoba menggendongnya dan mencium si bayi. “Siapa namanya, Lisa?”

“Nina, Pap,” sahut Lisa sambil mengamati tingkah laku Rudy yang merasa senang menimang Nina.

Beberapa hari berlalu, kerinduan-kangenan-penyesuaian kembali ke suasana rumah dan suasana Indonesia setelah satu setengah tahun berada di luar negeri mulai kembali kepada kehidupan sehari-hari. Maka … pada suatu senja, dalam suasana santai, sambil menikmati minuman kopi sorenya, sambil menimang-nimang Nina, Lisa mulai memberanikan diri untuk membuka tabir rahasia Nina. Dengan segala keterus-terangan dan kesediaan untuk menerima hukuman apa pun, Lisa menceriterakan segala-galanya.

Pada mulanya, Rudy terperanjat bagaikan orang yang hampir disambar petir. Amarah-dendam-dan kebencian timbul, rasanya Lisa ingin dibunuhnya. Tetapi entahlah seperti ada yang berbisik di telinga Rudy, “Rudy ketahuilah bahwa engkaulah yang mandul. Tanpa Nina, engkau akan hidup berduaan sepanjang umurmu. Tanpa Nina, hidupmu dengan Lisa akan kosong dan hampa. Tanpa Nina, tidak akan ada arti hidup ini. Tuhan saja mengampuni dosa makhluknya asal ia bertobat, kecuali bila menduakan Tuhan. Mengapa engkau—yang manusia biasa—tidak mau mengampuni dosa Lisa yang sama-sama manusia dan telah minta ampun serta bertobat padamu.”

Seketika itu juga, setelah Rudy sedikit tertegun, dan sejenak terdiam, sambil melihat Nina dengan penuh kasih sayang ia berucap:

“Baiklah Lisa, biarlah Nina mengisi kedambaan kita akan seorang anak. Ia akan kuanggap anakku sendiri ….”

Bagaikan diguyur air kembang wijayakusuma—yang terkenal dapat menghidupkan orang mati dalam dongeng—Lisa rebah di pangkuan Rudy, terharu dan tanpa terasa air matanya berderai membasahi pipinya, air mata kebahagiaan, sambil berkata:

“Pap … begitu agung jiwamu, Pap … begitu besar hatimu … sekali lagi aku minta maaf Pap, dan aku bertobat, aku berjanji bahwa sisa hidupku hanya untuk engkau dan Nina … yang bukan anakmu,” suasana hening penuh keharuan.

Yah, itu adalah enam tahun yang lalu. Kini Nina telah berumur 6 tahun, telah sekolah di SD. Kehidupan keluarga Rudy benar-benar kelihatan mesra dan bahagia, siapa pun tiada yang menyangka kalau Nina bukan anak Rudy karena Rudy mencurahkan kasih sayangnya seperti benar-benar ayah kandung Nina. Segala kegiatan kehidupan keluarga Rudy menunjukkan bahwa peristiwa aib Lisa-Anto kelihatannya benar-benar telah terlupakan.

Hanya dalam catatan hati Lisa, peristiwa itu telah membekas dan sewaktu-waktu timbul dalam ingatan Lisa. Semua itu hanya Lisa yang dapat mengetahui dan merasakannya. (FD)

Rujukan:
[1] Disalin dari karya anonim
[2] Pernah tersiar di "Majalah Anda" edisi 133 Januari 1988

0 Response to "Pap, … Nina bukan anakmu"