Rumah-rumah Nayla | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Rumah-rumah Nayla Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:00 Rating: 4,5

Rumah-rumah Nayla

ENTAH nama apa yang tepat untuk tempat itu. Bar? Restoran? Warung? Sepertinya pemiliknya tidak terlalu peduli, sebagai apa kontainer berukuran delapan kali dua puluh meter persegi itu dimaknai.

SUDAH dua jam setelah Nayla membuka tempat usaha barunya yang dinamai Rumah Nayla. Kedengaran lebih mendekati makna kediaman ketimbang tempat usaha. Dan memang ia tinggal di sana. Sekitar setahun lalu Nayla membeli sebidang tanah yang tidak terlalu besar—jika dibandingkan dengan luas tanah rumah sebelumnya, tapi juga tidak terlalu kecil—jika dibandingkan dengan luas tanah rumah tipe sederhana. Tak sampai seratus lima puluh meter persegi luas tanahnya. Lalu dibelinya dua kontainer, satu dijadikan tempat usaha bernama Rumah Nayla, dan satunya lagi dijadikan sebagai tempat tinggalnya.

Dulu sekali saat Nayla menikah muda, ia tinggal di sebuah rumah mewah bersama suaminya. Terletak di kompleks perumahan elit, dengan pos penjaga di halamannya. Tak banyak kewajiban yang harus dilakukannya sebagai ibu rumah tangga. Mulai dari membersihkan rumah, mencuci, memasak, bahkan kopi untuk suaminya pun tinggal minta pembantu untuk melakukannya. Nayla juga tidak perlu pusing tentang masalah keuangan. Suaminya yang bekerja di perusahaan keluarga, entah benar bekerja atau cuma supaya kelihatan bekerja, hartanya tak akan habis walau dimakan tujuh turunan. Hidup begitu ringan. Hidup yang bagi kebanyakan orang adalah bentuk hidup idaman.

Hanya dalam beberapa bulan menikah, Nayla hamil dan melahirkan bayi perempuan. Dan hanya dalam beberapa bulan setelah melahirkan, Nayla lagi-lagi hamil dan melahirkan lagi-lagi bayi perempuan. Kendati mempunyai dua balita tak membuat Nayla kerepotan karena lagi-lagi pengasuh bagi masing-masing bayinya disediakan. Ia pun memutuskan untuk punya dua anak saja padahal biasanya bagi keluarga peranakan, kehadiran bayi laki-laki amatlah diharapkan. Tapi lagi-lagi Nayla diberkati keberuntungan. Suaminya sama sekali tidak keberatan. Hidup begitu ringan. Hidup yang bagi kebanyakan orang adalah bentuk hidup idaman.

Sering Nayla tak percaya dengan apa yang dialaminya. Di kala media memberitakan tentang peliknya perekonomian, agama diatas-namakan untuk membenarkan kejahatan, perkosaan yang berakhir dengan pembunuhan, pembakaran hidup-hidup terduga maling perabotan, patung dirubuhkan, hewan disiksa tanpa alasan, dan segudang kekacauan yang terkadang sama sekali tak masuk akal bisa dilakukan oleh makhluk yang konon nyaris mendekati kesempurnaan Tuhan, hidup Nayla benar-benar steril tanpa noda. Bisa dibilang tak nyata dalam kehidupan nyata.

Maka, sering Nayla tak percaya dengan apa yang dirasakannya. Bagaimana rumah yang demikian nyamannya, bagaimana suami yang begitu pengertian dan mencintainya, bagaimana kedua anak perempuan cantik, pintar, dan sehat walafiat keadaannya, bagaimana materi bukanlah sesuatu yang harus dirisaukannya, bagaimana segala yang didambakan kebanyakan orang terjadi di dalam hidupnya, semua itu tak cukup membuatnya bahagia?

Nayla selalu bahagia ketika berada di depan laptopnya. Ketika jari jemarinya mengetik kata demi kata. Rasa itu sama seperti apa yang ia rasakan semasa kecil saat menulis di buku catatannya. Di buku itu, Nayla membuat cerita. Jika ia tinggal di sebuah rumah yang selalu dipenuhi aroma cinta. Di pagi hari saat ia membuka mata, selalu tercium aroma kopi dan roti bakar yang sudah dipersiapkan Ibu untuk ayahnya. Renyah tawa mereka selalu membuat Nayla ingin buru-buru bangun dari tidurnya. Bergabung dan bercanda. Begitu pun saat Nayla sedang di sekolah. Yang ada di pikirannya hanyalah buru-buru pulang ke rumah. Di mana aroma kopi dan roti panggang sudah berganti dengan aroma sosis yang digoreng dalam minyak panas hingga melepuh kulit luarnya. Tak seperti ibu-ibu temannya yang memaksa bahkan memukul jika anaknya tak mau makan sayuran, ibunya hanya menghidangkan apa yang Nayla suka. Dan sedemikian enggannya Nayla saat waktu tidur tiba. Rasanya baru sebentar kebersamaan yang dilewatkannya sehabis Ayah pulang dan makan bersama. Mereka akan duduk di sebuah meja makan bundar, tertawa, bercanda. Rumah yang dipenuhi aroma cinta itu dinamai kedua orang tuanya, Rumah Nayla. Dan itulah nama, yang diberikan Nayla bagi buku catatannya,

Tapi ia tidak menamakan laptopnya seperti buku catatannya. Walaupun keduanya membuatnya merasa bahagia. Sebab seperti apa yang Nayla tulis di buku catatannya yang sebetulnya sangat bertolak belakang dengan apa yang dialaminya, demikian pula yang ia tulis di laptopnya. Ketika rumah yang dihuni dengan suami dan kedua putrinya saat itu adalah rumah beraroma cinta yang nyaris seperti apa yang Nayla tulis di buku catatannya, tapi penderitaanlah yang Nayla tulis di laptopnya. Tentang sebuah rumah di masa kecilnya yang tak bernama. Di rumah itu tak ada sedikit pun aroma cinta. Kedua orang tuanya pemakai narkoba. Jika mereka sedang dalam pengaruh narkoba, semuanya baik-baik saja. Tapi jika mereka kehabisan narkoba, mereka menjadi bukan seperti manusia. Nayla sering mendapat cacian bahkan pukulan untuk kesalahan yang tidak diperbuatnya. Di usianya yang sepuluh tahun Nayla sudah melakukan semua pekerjaan rumah tangga. Mulai dari membersihkan rumah, mencuci pakaian, hingga memasak seadanya. Jika mereka merasa rumah tidak terlalu bersih, maka Nayla menjadi sasaran kekesalan mereka. Padahal Nayla merasa sudah melaksanakan tugas sebaik-baiknya. Awalnya mereka hanya memakai narkoba berdua saja. Tapi lama kelamaan rumah mereka tak pernah sepi dari tamu. Ada yang datang hanya sebentar lalu segera pergi. Ada yang menginap dan mabuk bersama hingga berhari-hari. Ada pernah juga yang datang menagih uang sehingga mereka harus bersembunyi di dalam rumah yang terkunci. Terjadi seperti itu berulang kali. Hingga suatu hari tiga orang laki-laki berbadan besar mendobrak masuk. Mereka memukuli kedua orang tuanya hingga ambruk. Tak berhenti di sana, mereka bergantian meniduri Nayla. Aroma alkohol menyeruak dari desahan mereka. Nayla menangis dan mengiba. Tapi tak ada iba di mata mereka. Tak ada aroma cinta.

Semua yang Nayla tulis di dalam laptopnya yang tak bernama itu dibaca suaminya.

“Kamu masih enggak bahagia.”

Nayla tak bisa menjawabnya.

“Bisa enggak kamu melupakannya.”

Nayla masih terdiam sejenak sebelum menggelengkan kepala pada akhirnya.

“Bisa enggak saya membuat kamu melupakannya?”

Nayla menggelengkan kepalanya.

“Bisa enggak saya membuat kamu bahagia?”

Nayla tak bisa menjawabnya.

Itu sudah cukup untuk membuat hidup yang didambakan kebanyakan orang berubah seketika. Suaminya tak lagi bicara. Ia juga tak lagi pulang selepas jam kerja. Nayla tak bisa dan tak mau menyalahkannya. Ia hanya mencoba memperbaiki dengan tak lagi menulis di laptopnya. Sepenuhnya waktu ia habiskan dengan kedua putrinya. Tapi semakin lama, suaminya tak hanya tak pulang selepas jam kerja. Kadang ia pergi berhari-hari, berminggu-minggu, lantas berbulan-bulan lamanya. Di bulan ketiga suaminya pulang dan bicara, adalah hari di mana ia menceraikan Nayla. Sudah ada perempuan lain dalam hidupnya. Yang membahagiakan dan bisa dibahagiakan, katanya. Lucunya, Nayla bisa mengerti sepenuhnya. Nayla tahu persis rasanya mencoba mencintai dan dicintai tapi diabaikan. Sama persis seperti apa yang kedua orangtuanya lakukan.

Dengan segala kesadaran Nayla menyetujui untuk meninggalkan rumah dan membawa hanya sedikit uang tabungan yang hanya cukup untuk membayar sewa apartemen kecil dengan dua kamar untuk satu tahun ke depan. Walaupun tak ada hak asuh anak dalam perjanjian cerai, kedua putri Nayla kelihatannya lebih betah tinggal di rumah ayahnya dan Nayla cukup mengerti keadaan. Selain rumah itu adalah rumah yang mereka tinggali semenjak lahir, rumah itu juga jauh lebih nyaman. Tapi mengerti bukan berarti tidak menyakitkan. Terlebih jika harus mengerti karena itulah harga yang harus ia bayar untuk menebus kesalahan. Atau katakanlah, menebus kekalahan.

Saat kedua putrinya bersama ayah dan ibu baru mereka, Nayla sering membayangkan. Sebuah rumah bertingkat dua dengan kolam renang membelah di tengah-tengahnya sehingga bisa dilihat dari segala ruangan. Di lantai dua sisi kiri adalah kamar-kamar kedua putrinya, dan kamar tamu di sisi kanannya. Di lantai bawah sisi kiri adalah kamar tidur dan kamar studi Nayla, sementara dapur dan ruang keluarga berada di sisi kanannya. Nayla membayangkan, jika rumah itu sudah menjadi nyata, ia tak lagi mau menggunakan jasa asisten rumah tangga. Ia akan melakukan segalanya sendiri untuk menunjukkan cintanya. Ia akan membersihkan rumah, mencuci pakaian, memasak segala yang mengeluarkan aroma cinta. Ia pun mulai kembali membuka laptopnya yang tak bernama. Dibacanya ulang catatan-catatan pendek dan dijadikannya menjadi beberapa cerita. Setelah terkumpul beberapa, ia kirimkan ke penerbit buku yang dengan segera mau menerbitkannya. Bukan dari buku itu benar Nayla mendapatkan uang sebesar yang diharapkannya. Tapi, walaupun buku yang diterbitkannya dicetak ulang berkali-kali, ia juga mendapat banyak pekerjaan sampingan yang lebih menghasilkan. Menuliskan buku orang tanpa namanya disebutkan, ternyata jauh lebih menguntungkan. Sedemikian menguntungkannya hingga ia bisa membangun rumah seperti yang ia bayangkan.

Rumah itu beraroma cinta. Dengan kolam renang yang membelah di tengahnya. Kedua putrinya sudah lebih banyak tinggal di rumah itu ketimbang di rumah ayahnya yang sudah memiliki seorang putra. Sebelum mereka pulang dan saat mereka pulang sekolah ada aroma roti panggang, sosis goreng, apa pun yang mereka minta. Nayla pun membersihkan dan merawat rumah itu dengan segenap tenaga dan cinta. Nayla juga hanya membuka laptopnya jika ada tawaran saja. Ia tak tahu mengapa rasanya lebih mudah bahagia bersama kedua putrinya saja. Mengapa bahagia itu tidak Nayla rasakan saat ia bersama kedua putri dan suaminya? Mengapa Nayla merasa bahagia hanya saat berada di depan laptopnya seperti apa yang ia rasakan semasa kecil saat menulis di buku catatannya yang dinamakan Rumah Nayla? Apakah hati Nayla sudah sejak lama bercerai dengan laki-laki jauh sebelum mantan suaminya menceraikannya?

Nayla tetap tidak menemukan jawabannya. Walaupun waktu perlahan menggerogoti usia dan kedua putrinya mulai asyik dengan dunianya yang remaja. Dan aroma cinta perlahan padam sebesar apa pun Nayla berusaha menghidupkannya. Mereka lebih senang berada di luar, atau jika tinggal di rumah mereka lebih memilih diam di kamar. Lalu satu per satu dilamar. Yang tertinggal dari mereka hanyalah sejumput rambut di saringan air ataupun sisir. Sepatu-sepatu kulit usang yang tak pernah lagi mereka semir. Album foto. Kaos polo. Gincu yang hampir habis. Bantal yang busanya sudah menipis. Penjepit bulu mata yang setengah patah. Hati Nayla yang berdarah.

Dan stamina yang melemah.

Rasanya tak ada lagi daya untuk membersihkan dan merawat rumahnya itu. Berbagai penyakit pun mulai diidapnya sejak menginjak umur empat puluh lima tahun awal tahun lalu. Mulai dari kolesterol, hipertensi, hingga paru-paru. Tapi yang terutama adalah tak adanya alasan ataupun motivasi. Tak ada desakan kebutuhan bagi dirinya sendiri.

Lalu Nayla membuka kembali laptopnya yang tak bernama seperti rumah yang ditinggalinya. Di laptop itu ia kembali membuat cerita. Tentang sebuah rumah kontainer berlantai dua. Di bawahnya adalah tempat usaha, dan Nayla tinggal di atasnya. Tempat itu menjual apa yang disukai dan tak akan merepotkannya. Kopi bungkusan, bir kalengan, dan makanan yang hanya pada hari itu ia ingin masak saja. Jika tak ada yang datang, paling tidak ia bisa menikmati dan mengonsumsi apa yang ia sukai sendiri. Jika ada yang datang anggap saja ada yang menemani.

Di bagian itu jari Nayla berhenti mengetik. Menemani? Entah sudah berapa lama Nayla sendiri. Tak berteman, tak juga terlibat asmara dengan laki-laki. Kebutuhan seksual tak pernah terlalu berarti, karena Nayla sudah kehilangan birahi sejak perkosaan yang ia alami.

Nayla menatap laptopnya. Sudah dua jam setelah Nayla membuka tempat usaha barunya yang dinamai Rumah Nayla. Tapi tak ada satu pun yang sepertinya berminat untuk singgah di sana. Entah nama apa yang tepat untuk tempat itu. Bar? Restoran? Warung? Kontainer berukuran delapan kali dua puluh meter persegi itu hanya berisi lima meja. Dua meja cukup besar untuk empat kursi, dan dua meja kecil untuk dua kursi di sisi kiri dan kanannya. Ke empat meja itu terletak di depan dapur terbuka dengan satu penggorengan dan kulkas berisi bir kalengan. Ruangan itu didominasi warna putih dan abu-abu. Demikian pula dengan meja dan kursi di ruangan itu. Tapi ada satu meja di sudut dekat jendela, tepat sebelum pintu masuk yang berwarna coklat tua. Berisi satu kursi seolah menegaskan jika meja itu itu tak untuk berbagi dengan siapa pun juga. Meja itu miliknya.

Pintu terbuka, membuyarkan perhatian Nayla. Yang membuka pintu terlihat ragu karena tak ada siapa-siapa selain Nayla di dalamnya.

“Buka?”

Nayla menutup laptopnya.


Djenar Maesa Ayu, ibu dari dua orang putri, Banyu Bening, Bidari Maharani, dan eyang putri dari Embun Kinnara ini, lahir di Jakarta 14 Januari 1973. Ia telah menerbitkan enam kumpulan cerpen berjudul Mereka Bilang, Saya Monyet!, Jangan Main-main (dengan Kelaminmu), Cerita Pendek tentang Cerita Cinta Pendek, 1 Perempuan 14 Laki-laki, T(w)ITIT!, SAIA dan sebuah novel berjudul Nayla. Belakangan lebih dikenal sebagai sutradara film.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Djenar Maesa Ayu
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" edisi Minggu 24 Desember 2017

0 Response to "Rumah-rumah Nayla"