Awas - Batu Layar - Sebuah Peta Buta | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Awas - Batu Layar - Sebuah Peta Buta Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 04:43 Rating: 4,5

Awas - Batu Layar - Sebuah Peta Buta

Awas

“jangan tulis puisi!”
kau acungkan moncong basoka
ke wajah yang luka
tetapi puisi menjelma tenda
tempat pergi dan pulang merdeka

“jangan tulis puisi!”
kau cabut kuku jemarinya
lidah cedal dan tangan terkulai
tetapi puisi terus mengeraskan tangan
tidak mau berhenti untuk melawan

“jangan tulis puisi!”
tidak ada moncong basoka
tidak juga kau cabut kuku jemarinya
tetapi setiap puisi kau awasi
dengan senyum mata begitu pucatpasi

airmata di pipi
mengurai ngeri
teringat luka
tambah menganga

Yogyakarta, 11 September 20

Batu Layar 

di atas tikungan jalan ini
kucaricari apa yang
disebut batu layar
tetapi yang kujumpai

kehijauan pohonan
di sepanjang jalan
kebiruan langit dan laut
bertemu mesra berpagut

di atas undakan ke makam
ternyata hanya kopyah dan sorban
tanda ketundukan bersemayam
ketika sang kekasih pasujudan

ingin pulang kepada sempurna
menyebar kasih tanpa pilihpilih
sekalipun di mana pun jalan cinta
adalah pulang yang shahih

ingin pulang kepada sempurna
sabar yang tak berkesudahan
beristri beranak di bumi lombok
apakah pulang berarti kepergian?

sejak hujan dan petir menyambar
pulangnya adalah perginya
yang tinggal hanyalah batu layar
yang tunggal lurus ke arah kaíbah

sejak itulah di makam tanpa pusara
bersama guru kita tahlilkan rindu
kita nadzarkan sebuah pertemuan
sebelum mati sampai menunai haji

Sebuah Peta Buta

masih terkenang masa kanak
kau aku mempelajari sebuah peta buta
hanya ada pulaupulau kotakota
semua tanpa nama

kau begitu fasih menyebutkan
pulaupulau dari sabang ke merauke
dari sangihe talaut hingga
nusakambangan

tetapi engkau selalu bertanya kepadaku
bagaimana nenekmoyang sampai
ke mandagaskar melepas jangkar
bahkan sempat berjaya rajaraja

tetapi engkau selalu mengiri kepadaku
dan menguji tanya bagaimana
sriwijaya dan majapahit
menundukkan bandarbandar kota raja

hingga negaranegara di nusa antara
bertabik kepada daulat
bhineka tunggal ika
kau aku saling mengagumi sejak bocah

seperti mengagumi sebuah peta buta
tetapi kubayangkan wajahmu saja
aku tidak mampu
hanya bertahun kemudian
ketika kukunjungi kotakota
bandarbandar yang
dulu pernah kau tanyakan
aku menjadi heran mengapa

semua tempat yang sempat
kau aku sebutkan dalam mainan khayalan
masa kecil semua dan segala menjadi
bukan sekadar impian

sekarang aku ingin menggambar
kembali tokohtokoh yang
ada di dinding kelas dasar kita
Hadratus Syekh Hasyim Asyíari

Kiai Haji Ahmad Dahlan
Soekarno, Hatta, Natsir, Buya Hamka
agar di masa tua kau aku semua dan
segala menjadi bukan sekadar impian

sekarang kau dan namanama
ada di mana
selain di dalam kenangan
airmata kita?

Yogyakarta, 24 Oktober 2017


*) Abdul Wachid BS, lahir 7 Oktober 1966 di Bluluk, Lamongan Jawa Timur. Alumnus Sastra Indonesia Indonesia Pascasarjana (Magister Humaniora), jadi dosen negeri IAIN Purwokerto. Sekarang sedang studi program Doktor Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di UNS.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Abdul Wachid BS
[2]Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" Minggu 7 Januari 2018

0 Response to "Awas - Batu Layar - Sebuah Peta Buta"