Biyung | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Biyung Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:00 Rating: 4,5

Biyung

SEMALAM Biyung datang lagi dalam mimpinya. Seperti waktu-waktu lalu, kali ini pun Biyung hanya tersenyum, memandangnya dengan mata yang pendarnya seperti cahaya timur. Sekar kangen, Biyung…

TAPI Sekar tak mampu menatap Biyung lama-lama. Matanya terhalang silau cahaya. Dia ingin memeluk Biyung erat-erat seperti di masa kanak-kanak, saat dia merasa takut kehilangan Biyung. Dia ingin menaruh kepalanya di pangkuan Biyung seperti dulu, kalau sedang sedih.

Biyung seperti tahu apa pun yang terjadi pada Sekar, sejak Sekar kecil. Dia tak pernah mengusiknya dengan pertanyaan.

Sepanjang hidupnya, Sekar tak pernah bicara tentang apa pun yang sedang dihadapinya. Tetapi, anehnya Biyung selalu tahu. Dalam surat pendek yang dituliskan tetangga setiap bulan setelah Sekar mengirim wesel, kadang tertulis antara lain, ”… Biyung melihat kamu sedang ndak keruan Ndhuk. Kemarin Biyung caos dahar, nyala menyannya mobat-mabit ndak karuan…”

Kali lain, Biyung hanya menanyakan, ”Kamu sedang sedih ya Ndhuk?” 

Caos dahar adalah ritual yang dilakukan Biyung seminggu sekali, kadang dua kali, lengkap dengan sesajian. Begitu cara Biyung berhubungan dengan leluhurnya. ”Ndak boleh lupa leluhur, Ndhuk, ndak boleh lupa asal-usul,” begitu pesan Biyung,

Kalau memasuki kompleks pemakaman, Biyung selalu membuka kasutnya dari mulut jalan masuk, dan membersihkan setiap makam dengan khidmat.

Nyekar. Itu yang diikuti Sekar sampai hari ini.…

Biyung hampir tak pernah menyentuh tempat tidur. Sampai enam bulan menjelang kepergiannya, Biyung masih tidur beralas tikar dan bantal tipis di lantai depan pintu masuk. 

”Biyung jangan tirakat lagi. Mosok seumur hidup tirakat terus.”

Tapi Biyung selalu menjawab, ”Tirakat itu selesainya kalau kita sudah ditimbali, Ndhuk.” 

Ngéné ya Ndhuk… tidur di bawah supaya slamet, nir-sambekala….”

Cara itu yang diikuti Sekar kalau merasa gelisah.

Lalu Biyung berbisik, ”Biyung tidur di bawah supaya kamu bisa tidur di atas….”

Bisikan itu terdengar seperti genta saat Sekar semakin jauh meninggalkan Biyung.

Sekar juga tidak tahu kapan Biyung makan dengan benar karena hari-harinya diisi puasa. Dari puasa Senin-Kamis, mutih, ngrowot, ngepel, ngasrep, wungon, ngidang, dan entah apa lagi, Sekar sudah banyak lupa penjelasan Biyung tentang semua itu.

Dan, tentu saja, puasa khusus setiap weton Sekar: Sabtu Pahing.

Lalu setiap tengah malam, menjelang dini hari, kalau terbangun, Sekar selalu melihat Biyung duduk bersimpuh di ruang tempat dia biasa caos dahar, diam, seperti tidak bernapas, kaotak dang terdengar suara halus yang tak bisa dia tangkap dengan telinga kecilnya secara sempurna.

Hooooonnng….

***
SEKAR tumbuh di antara bau kemenyan dan bunga, khususnya kenanga dan kantil, semua bau yang kata orang, punya aura mistik. Semakin dewasa dan hidup jauh dari Biyung, bau-bau itu yang mengembalikannya kepada masa lalu, dan di luar sadar, Sekar mencari parfum dengan wangi Cananga Odorata atau Michelia Alba atau Styrax

Hubungan Sekar dan Biyung sebenarnya tak mesra-mesra amat. Ketika mendapat kabar Biyung berpulang, Sekar dalam perjalanan pulang dari tugasnya, di Afrika Selatan. Biyung meninggalkannya. Nglimpé, kata orang Jawa. Artinya, mencuri waktu, tak ingin diketahui.

Biyung tahu, aku tidak mencintainya sebesar dia mencintaiku…. 

Sekar mulai merasa bersalah.

Sekar menggaji Mbak Sum untuk menemani Biyung. Betapa pun, jauh di hati kecilnya, Sekar khawatir kondisi Biyung. Ingin dia merawatnya, membawanya tinggal bersamanya, tetapi bayangan masa lalu itu menghalanginya.

Biyung berpulang dalam tidur. Terlihat sangat tenang dan tersenyum tipis. Kata dokter, Biyung berpulang dini hari, begitu bunyi teks yang dikirim Mbak Sum.

Teks selanjutnya terbaca, ”Kemarin sore, Biyung cuci rambut. Mandinya lama sekali. Abis itu Biyung tampak segar, terlihat lebih muda. Lalu masuk kamar, tidak mau diganggu….”

Biyung pernah cerita, orang-orangtua dulu seringkali tahu kapan saat pulang tiba. Kata Biyung, dekat-dekat weton harus banyak tirakat karena biasanya pada rentang waktu itu orang dijemput.

Dalam letih menunggu pesawat lanjutan ke Jakarta, dia membuka internet untuk melihat penanggalan Jawa.

Sekar terpana. Hari kepulangan Biyung jatuh pada wetonnya….

Tanpa sadar matanya basah…. 

Biyung mempersiapkan semuanya untuk menyambut Sang Cahaya.…

Setelah Biyung berpulang, Sekar baru merasa ada yang hilang dari hidupnya, yang secara fisik tak akan pernah dia temui lagi. Makin jauh, bayangan Biyung terasa semakin dekat.

Beberapa kali Biyung datang dalam mimpinya. Seribu hari setelah kepulangannya, Sekar bermimpi mengantar Biyung naik kereta. Biyung menatapnya tersenyum, tetapi tidak membalas lambaian tangannya.

Kali lain Sekar bermimpi berada di satu pesawat ruang angkasa, melihat Biyung dalam wujud yang berbeda sama sekali, tetapi mata batinnya mengenali perempuan tinggi besar bermata tajam itu Biyung.

Kali lain lagi, Sekar melihat dirinya sebagai Sekar kecil yang memegangi tangan Biyung erat-erat. Namun, yang paling sering, Biyung datang dengan tersenyum, menatapnya dengan mata berpendar.

Sekar memanggil ibunya, Biyung…. 

Sebutan yang indah, menurut Sekar kecil.

Sekar kecil sering membelai wajah Biyung dan tidur meringkuk dalam dekapan Biyung. Posisi tidur mlungker itu membuatnya merasa aman. Kalau Biyung sakit, Sekar menunggui Biyung sambil terisak, ”Sekar saja yang sakit. Jangan Biyung. Kalau Biyung meninggal Sekar ikut siapa?”

Dalam kondisi tubuh yang lemah, Biyung selalu membesarkan hati Sekar. ”Biyung cuma sakit Ndhuk. Biyung mau nunggu sampai Sekar besar. Boleh Biyung ikut kamu Ndhuk?”

Sekar tak paham mengapa Biyung menanyakan hal itu. Tentu saja. Bukannya aku anak satu-satunya? Aku akan buat Biyung bahagia. Begitu pikir Sekar sambil menciumi Biyung.

Sekar tak pernah memenuhi janji pada dirinya untuk Biyung.

Semakin besar, dia semakin tertutup, menganggap Biyung yang tak bisa baca-tulis itu tak paham apa-apa. Pernah setahun hanya sekali menengok Biyung dengan alasan klise: sibuk.

Dia merasa telah memenuhi kewajibannya dengan kirim uang. Sampai suatu hari Biyung bilang, ”Biyung ndak butuh uangmu, Ndhuk.”

Biyung seperti masa lalu yang ingin dia lupakan. Dia ingin memisahkan masa lalu dari masa kininya.

Ada bayangan yang terus mengikutinya seperti hantu.

Sekar tak berani menghadapinya.

Tapi, masa lalu yang ingin dia buang selalu bertabrakan dengan kerinduan yang mendalam. Keduanya ada dalam diri Biyung.

Banyak sekali ingatan tentang Biyung yang membuatnya selalu merindukan Biyung, merindukan suapan nasi dari jari-jemari tangannya yang ringkih, merindukan bau kain yang dipakainya, merindukan semuanya.

Sekar ingat jawaban Biyung saat ditanya kemana bapaknya. Jawaban itu selalu sama: Kalau Biyung masih sama bapakmu, kamu ndak akan sampai di tempatmu sekarang.

Ketika didesak, jawaban Biyung cuma: Yen ora ngono, ora ngéné.

Kalau tidak begitu, tidak begini

Jauh sesudahnya baru dia paham maksud dari jawaban Biyung.

Sekar kecil membawa terus ingatan saat diusir kerabat Biyung, karena tak punya uang untuk membeli sop panas dari restoran mereka. Biyung sakit, ingin makan panas-panas, tetapi tak punya uang karena tak bisa jualan di pasar.

Usianya enam tahun waktu itu.

Banyak peristiwa kemudian yang membuatnya merasa ditolak. Sekar tumbuh menjadi perempuan cerdas, tetapi pemurung selalu curiga. Dia menolak filosofi Jawa, bobot, bibit, bebet, yang biasa ditanyakan calon mertua kepada calon menantu.

Sekar memilih hidup sendiri.

Satu lagi peristiwa yang lekat dalam ingatannya. Suatu hari, Biyung menggamitnya berjalan melipir sungai kecil yang melintasi kampung, tiba di seberang pegadaian. Di situ Biyung menggadaikan tiga kain batik tulis warisan.

”Buat bayar uang sekolahmu. Nunggak berapa bulan Ndhuk?”

”Tiga bulan, Biyung.” 

Sekar tak berani menatap mata Biyung, menahan sedu.
Biyung membelainya dan berbisik, ”Besok kalau Biyung sudah punya uang, bisa diambil. Kamu sekolah saja. Wis meneng... aja nangis….”

Kadang Biyung mengajaknya nonton wayang wong. Dia suka mengulang-ulang cerita Sumantri Ngenger, tentang Sukrasana, si raksasa cebol yang begitu mencintai kakaknya.

Akang Ati... aku ilu Akang Ati….”

Kakang Sumantri, aku ikut, Kakang.…

Tapi, Sumantri mengibaskannya.

Sekar merasa dirinya tak berbeda dengan Sumantri….

***
SETELAH Biyung berpulang, Sekar terus berusaha meminta maaf pada Biyung dengan cara apa pun yang bisa dia lakukan. Tetapi, entah, hatinya seperti diberati sebongkah batu. Pikirannya terbebani oleh sesuatu yang dia tidak tahu.

Sampai suatu malam, saat hening, Sekar memasuki suatu wilayah kedalaman yang tidak biasa. Di situ, dia seperti melihat gambar di layar kaca. Mata Biyung digelayuti rasa sedih yang tak terjelaskan saat melambaikan tangan, sementara Sekar tidak menengok lagi. Mobilnya melaju, meninggalkan rumah Biyung.

Kepedihan yang tak terperi menusuk sampai ke ulu hati. Sekarang Sekar merasakan perasaan Biyung saat itu. Air matanya tumpah. Dia tersedu-sedu sambil bersujud di kaki Biyung.

Saat terbangun dari hening panjang itu, kepalanya sakit tetapi dadanya lega, seperti ada beban puluhan ton tercabut dari dirinya.

Setelah itu, dalam mimpinya, Sekar berani menghadapi bayangan laki-laki yang sering memaksanya duduk di pangkuannya dan mempermainkan alat kelaminnya.

Biyung mengira, laki-laki itu menyayangiku, begitu pikir Sekar.

Tidaaak Biyung. Dia orang jahat. Dia orang jahaaaatttt.

Sekar ingin berteriak, tetapi suaranya tercekat.

Saat itu usianya 10 tahun. 

Sekar memendam kemarahan tak hanya pada laki-laki itu, tetapi juga pada Biyung.

Sampai Biyung berpulang, dia merahasiakan semuanya.

Selama puluhan tahun, Sekar merasa bagian bawah tubuhnya kotor dan masa lalu ada di bagian itu. Itu sebabnya, untuk bertahun-tahun setelah peristiwa itu, dia bisa mandi tujuh sampai delapan kali sehari. Dia ingin memotong tubuhnya menjadi dua.

Tadi, dia hadapi bayangan itu. Dia cabik-cabik, dan hancurkan sampai keping terakhir meruap ke udara. Tapi dia juga melihat gambar lain: dirinya sebagai laki-laki dewasa yang bermain dengan anak kecil, memberi mainan dan membujuk mereka untuk dipangku.

Sekar terperangah. Dia merasa tubuhnya luruh, tetapi pikirannya menjadi jernih.

Lalu semuanya menjadi jelas. 

Sekar merasa yang hilang tak hanya rasa ketakutan, tetapi juga kemarahan, kesedihan, juga perasaan tidak berharga.

Dalam heningnya, ada perasaan lain yang muncul di antara semerbak harum bunga dan wangi kemenyan, yang entah dari mana datangnya.

Sekar seperti menaiki kereta kencana yang membawanya melayang menembus awan.

Di antara kilau cahaya, dia melihat Biyung tersenyum. Sekar juga melihat laki-laki itu di kejauhan, tetapi matanya teduh. Laki-laki yang sama, tetapi berbeda.

Lalu dia lihat dirinya. Gadis kecil bermandi cahaya.…

Catatan:
Ndhuk, atau gendhuk, panggilan sayang orangtua di Jawa kepada anak perempuannya. 
Slamet, nir-sambekala, selamat, terhindar dari bahaya.
Ditimbali, dalam konteks ini artinya dipanggil pulang oleh Sang Pemilik Hidup.
Weton, hari lahir dengan pasarannya (Pon, Wage, Kliwon, Legi, Pahing) dalam penanggalan Jawa.

Ahimsa Marga adalah nama pena wartawan senior Maria Hartiningsih. Bukunya, Jalan Pulang, diterbitkan KPG setelah menjalani masa pensiunnya di harian Kompas. Menulis fiksi adalah bagian dari caranya merawat imajinasi sebagai penulis.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ahimsa Marga
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" edisi Minggu 7 Januari 2018

0 Response to "Biyung"