Cerita Septo | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Cerita Septo Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 11:30 Rating: 4,5

Cerita Septo

AKU akan menceritakan Septo, jika kau ingin mendapat cerita yang menyentuh. Namun cerita seperti ini tidak selalu berhasil, juga tidak selalu menyentuh. Pada awalnya terjadi perampasan barang-barang--mesin jahit dan setrikaan-- produksi milik Pak Noto, ayah Septo, karena ia tak bisa membaya utang, lalu:

DI luar mendung. Begitu juga di kepala Pak Noto. Ia ingin anaknya tetap sekolah, jadi orang pintar. Tapi apa daya? Sampai semester tiga saja utang sudah bertumpuk. Penghasilan buruh cuci-setrika tak mampu cukupi semuanya. Apalagi jahit. Tak ada yang bisa dilakukan setelah mesin itu dirampas.

"DI saat-saat seperti ini, berutang bukan jalan keluar,” ucap Pak Noto. Istrinya belum mereda tangisnya. Septo yang baru pulang pun langsung terduduk di hadapan bapaknya.

“Memang, Pak, Septo nggak ngerti, dulu semester 1-2 dibilang gratis, tapi sekarang malah ditagih semuanya.”

“Coba minta keringanan, untuk biaya…”

“Percuma, Pak. Seminggu yang lalu, saya diusir sambil dibilang penunggak uang kuliah.”

Mereka saling berpandangan dalam waktu yang cukup lama. Tepat ke mata. Lalu ke perut Septo, setelah suara kerubuk muncul dari perutnya. Segera Septo menenggak beberapa gelas air putih. Bu Noto yang dari tadi terkungkung dalam rasa duka yang amat sangat akhirnya angkat bicara.

“Coba kalau Si Septo langsung kerja saja selepas lulus SMK, kita tak akan susah dan kelaparan begini!” serunya.

Semua diam. Mereka tampak hanyut ke dalam ingatan masing-masing, sebelum masa kuliah Septo dimulai.

***
DULU semasa Septo sekolah tingkat atas, salah satu syarat kelulusan adalah magang. Dia menangani mesin motor yang bermasalah, oli yang mesti diganti, pelek yang penyok, dan lain sebagainya di sebuah bengkel besar di kota. Penghasilannya bisa dibilang lumayan, sejuta sebulan, belum uang tips dari pelanggan.

Semasa dia membantu di sana, dia sangat rajin. Dia mengepel lantai bengkel sampai bersih setiap pagi, membuang sampah bekas onderdil, merapikan peralatan kembali ke lad, dan sebagainya. Dalam mengatasi kendala di motor pun demikian rajinnya. Dia kadang berhasil menangani 10 motor sehari. Sangat berbakat.

Bahkan saat dia baru lulus pun bengkel itu sudah mau mengangkatnya jadi pekerja tetap. Gajinya tidak main-main seperti saat magang. Tapi itu semua tidak terjadi. Ibunya tidak mengizinkan anaknya bekerja di usia itu.

“Belum cukup pengalaman,” katanya. “Lebih baik kuliah dulu,” lanjutnya.

“Tapi, uang dari mana?” tanya Septo.

“Tenang saja. Wan Mansur sudah mau berikan pinjaman, nanti kita cicil.”

“Tapi…”

“Sudahlah! Memangnya kamu tidak mau sekolah lagi biar dapat pekerjaan yang mantap? Kalau kamu mapan ilmu, mapan pengalaman, kamu pasti kerjanya mantap! Tidak akan kotor-kotoran di bengkel.”

“Betul itu, ilmu yang tinggi,” kata ayahnya, “akan membantumu dan orang lain.”

“Nanti kamu jadi kaya, Septo. Nah, sekarang antarkan baju ini.”

Sebetulnya Septo sudah mampu bekerja dengan baik di bengkel itu. Usia tidak memengaruhi apakah seseorang memiliki pengalaman yang baik atau tidak, pengetahuan yang sedikit atau banyak. Tapi apa daya? Kedua orangtuanya sudah berjanji akan menguliahkannya.

***
TIBALAH saat kuliah. Septo berangkat ke kota setiap hari, setiap pagi. Di kampus Septo semakin mengerti cara membuat rangkaian listrik. Dia juga semakin paham bagaimana sebuah mesin bekerja. Ia sangat senang belajar dan mendapat hal baru. Namun di masa istirahat, dia selalu teringat orangtuanya di kampung. Belajar di sini sangat mahal, pikirnya, tiga bulan gaji dulu! Belum lagi cicilan uang bangunan. Ah, bapak dan ibu berutang pada siapa saja demi ini?

Pernah suatu hari, Septo berdiri menghadap pihak kampus. Dia menghadap untuk meminta keringanan biaya kuliah. Diterangkannya keluarganya yang menyedihkan. Semua orang di sana tampak terbiasa dengan hal itu. Dicatatlah  nama Septo dalam selembar kertas. Dia diberi persyaratan yang harus dibawa, beberapa surat keterangan, kartu keluarga, dan lain-lain. Senyum terkembang di bibirnya.

Dia urusi semua itu diam-diam. Nanti di akhir, ibu dan bapaknya diberi tahu, mereka pasti senang.

Esoknya dia kembali membawa berkas-berkas yang dibutuhkannya. Lama dia menunggu, akhirnya tiba kabar baik.

“Kami bisa bantu uang administrasi dan uang kuliah saja. Buku silakan beli sendiri.”

“Wah, terima kasih banyak, Pak! Kalau begitu, saya pulang sekarang!”

Septo pulang dengan langkah lebar-lebar. Diangkot, senyumnya tak henti terkembang.

***
MENDUNG di rumah Pak Noto berubah jadi hujan lebat. Gemuruh angin merampok seluruh percakapan. Semua terdiam dalam keheningan dan kecemasan. Beberapa tetes air hujan merembes ke langit-langit.

“Ini bukan salahku.” Bu Noto angkat bicara. “Jangan melihatku begitu,” lanjutnya.

“Jelas ini salahmu. Septo sudah mampu kerja di bengkel, tapi kamu paksa dia kuliah,” kata Pak Noto sambil menyimpan baskom di bawah rembesan air.

“Bapak juga yang mendukung dia kuliah, bapak yang pinjam uang ke Wan Mansur lebih dari sekali. Bukan bayar kuliah, malah beli peralatan jahit.”

“Kamu ini! Septo yang bilang kuliahnya gratis, cuma perlu buat buku. Kamu yang pertama beli pakai uang itu, beli kulkas! Tahu listrik mahal. Bapak beli peralatan jahit buat kerja, bukan pamer ke tetangga!”

Septo terdiam. Dia tahu. Saling menyalahkan tidak akan menyelesaikan apa-apa. Tak akan mengubah apa-apa. Dia juga tahu, utang pasti membikin ruwet hidup siapa pun. Dia terus berpikir, ke mana perginya berkas dia? Yang memberi gratis kan kampus? Sekarang ke mana berkasnya?Kenapa tidak ada?

“Jangan salahkan aku kalau beli kulkas! Sudah 10 tahun janjimu tidak ditepati juga!”

“Jangan bercanda! Kamu mau punya kulkas tapi tak ada isinya? Makanannya?”

Duar!

Geledek yang sangat besar menghentikan percakapan mereka. Mereka selalu tahu, Tuhan marah jika ada yang bertengkar. Apalagi suami istri yang saling melukai perasaan. Mau menang sendiri. Tak saling membantu dalam masalah. Ini tak bisa dimaafkan Tuhan.

“Kapan orang itu datang lagi?” tanya Septo.

“Bisa kapan saja,” jawab ayahnya.

Septo terdiam seperti patung. Ada kernyit di dahinya.

“Berapa utang kita?”

“15 juta,” kata ibunya.

Kernyit di dahi Septo tambah banyak. Di dahi bapak dan ibunya juga. Septo tak mengerti, kenapa kuliah bisa menjadi sesusah ini urusannya? Kenapa orang yang ingin belajar mesti berduit besar? Pertanyaan-pertanyaan itu terus mengetuk-ngetuk kepala Septo. Ia tidak tahu kepada siapa mesti mengadu. Kampus tak bisa dipercaya, tetangga malah menonton saja. Wan Mansur terus menagih dengan buas.

Hujan masih menggila, seperti tak mau henti. Mereka terus datang, mengalir. Kepala Septo pun begitu. Terus didatangi pikiran tentang utang. Dialiri sampai penuh.

Untuk apa belajar jika tidak bisa membantu siapa-siapa, pikirnya, bahkan keluarga sendiri tak terselamatkan. Siapa yang bisa menyelamatkannya hanya dirinya sendiri. Jatuh sendiri, bangkit sendiri, melangkah sendiri.

***
SEPERTINYA cukuplah cerita tentang Septo dan keluarganya. Tak mesti kita bicarakan yang sedih-sedih melulu. Pasti banyak yang bertanya tentang bagaimana Septo menghadapi ini. Untuk itu, kujelaskan, dia tak bunuh diri. Di hari hujan itu, dia keluar rumah. Berjalan menuju bengkel di kota. ***

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Rauf Fauzi
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" Minggu 31 Desember 2017

0 Response to "Cerita Septo"