Di Kedai Kopi - Saat Kita Hanya Bisa Berdoa - Ada yang Datang dan Pulang - Negeri Siapa? | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Di Kedai Kopi - Saat Kita Hanya Bisa Berdoa - Ada yang Datang dan Pulang - Negeri Siapa? Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:48 Rating: 4,5

Di Kedai Kopi - Saat Kita Hanya Bisa Berdoa - Ada yang Datang dan Pulang - Negeri Siapa?

Di Kedai Kopi

menunggumu sophia
seperti menunggu hujan dalam dekapan langit

ada perempuan…
berbaju merah kotak-kotak di belakangku
mungkin dia tak sekadar suka kopi
tapi juga politik

tahukah kau, di negeri ini
kopi dan politik hampir tak ada bedanya
ada cinta, luka, juga musim yang ditunggu-tunggu

maka aku menulis sajak saja, sophia
dalam rima yang tak berderap
dan mungkin senyap

kalau tak datang juga kau selepas hujan reda
kan ku tulis surat untukmu.

sekalimat saja…

“aku rindu masa lalu”

sudah itu
dengan gagah ku tatap masa datang

Padang, 19 April 2017

Saat Kita Hanya Bisa Berdoa

merdeka itu
bisa mencintaimu
tanpa bertepuk sebelah tangan

tapi sophia…
saat garam mahal di laut luas
cinta hanya kisah-kisah yang memabukkan

mari
gandeng tanganku ini
kita ke pasar

adakah kau dengar kanak-kanak berlagu sekenanya?
nasib dan suara mereka sama-sama tak ada merdunya

atau itu
adakah kau lihat pemalak berkepala batu yang tak bisa apa-apa,
saat dipunggungkan istrinya dalam tidur yang lapar

jadi, kita kibarkan atau bawa berlari
tak ada ubahnya bila bandit-bandit bermata hijau,
masih membagi-bagi nasib kita di atas meja
negeri ini akan selalu mati gaya
merdeka hanya kata
menguap bersama bau kentut mereka

baiklah
mungkin kita hanya bisa berdoa
pada langkah yang semakin tua

panjangkan usia, pendekkan sengsara

Padang, 18 Agustus 2017


Ada yang Datang dan Pulang

sekali ini pagi datang cepat
tidak berlari tapi menyelinap
di antara dingin dan bunyi air
yang lepas di pancuran

maka dengarlah kisah ini
tentang seorang penyair…

“mak, aku hendak kawin.”
kata-kata itu lepas
seperti durian lepas dari tampuknya

“sudah siap kah engkau?” tanya mak,
dalam degup jantung yang tak pasti.

“siap kawin tak seperti siap mati.”
jawab itu lalu, bersama lesatan cahaya

setelah itu tak ada lagi tanya jawab

tangan mak makin keriput dalam remas santan
dan penyair tenggelam dalam segala perang

tangis pun menyongsong kematian
ada yang datang dan pulang

begitulah

Padang, 1 Agustus 2017

Negeri Siapa?

bisakah kita untuk tetap waras
hingga ke pelaminan nanti, sophia?
sampai kapan akal sehat kita diblender kisah-kisah
yang semua akhirnya, sudah di luar kepala?

bukankah sudah kukatakan,
negeri ini tidak cocok untuk berbulan madu
sebab baranya bukan untuk percintaan

liku jalannya adalah kebodohan yang berulang-ulang
gunung tingginya, kesombongan yang tak berpenghalang
dan dalam lautnya, berisi ikan-ikan kebencian

kita tak sekadar sedang menontonnya, sayang
kadang ikut memanggil-manggil hujan
walau hanya gerimis yang datang

di pengujung sore…
kau genggam erat jemariku
bibir pucatmu
tak melepas satu kata pun
kita hanya melangkah
hingga penghabisan malam, beku

Padang, 19 Juli 2017

Ganda Cipta, lahir di Padang, 4 Mei 1984. Alumnus Sastra Indonesia Universitas Andalas, Padang. Saat ini menjadi wartawan di harian Padang Ekspres.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ganda Cipta
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Jawa Pos" edisi Minggu 7 Januari 2018

0 Response to "Di Kedai Kopi - Saat Kita Hanya Bisa Berdoa - Ada yang Datang dan Pulang - Negeri Siapa?"