Festival Purnama - Tawa Maitreya - Pengasih Kedasih | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Festival Purnama - Tawa Maitreya - Pengasih Kedasih Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 04:58 Rating: 4,5

Festival Purnama - Tawa Maitreya - Pengasih Kedasih

Festival Purnama

november, entah hari keberapa
setelah kelopak matahari mengatup
dari balik bukit berpohon sedikit
kepala purnama menyembul
matanya menabur cahaya
serupa cakra mata ketiga yang mekar sempurna
seperti tangan petani menebar benih
di tanah yang matang oleh doa

ke yang halus dan yang kasar, cahaya menyebar:
ke tangan istri yang sedang mencengkram leher kekasih suami
ke tangan ibu yang gemetar menghapus keringat dingin di dahi bayi
ke kucing pincang yang tak henti mengeong
usai dilempari batu oleh penghuni rumah yang disinggahi, ke anjing
yang berbaring di rumput menunggu kedatangan tuannya, ke balita
yang lari ke sana ke mari, tanpa berpikir untuk apa ia lahir
dan ke mana kelak pergi setelah detak jantung berakhir, ke lelaki tua
yang sibuk merayu malaikat maut agar tak datang buru-buru
sebab dosa-dosa masa lalu belum sempat tersapu.

selama kelopak matahari terkatup
purnama menebar cahaya
tak seperti petani
tak berharap menuai yang ditabur di bumi.

2017


Tawa Maitreya

beberapa detik setelah dinyalakan, asap dupa meninggalkan dupa.
sebagian mengambang di bawah lampu gantung kristal berbentuk padma,
sebagian mencari celah menuju sumber cahaya, menuju langit nila.

memisahkan diri dari keriuhan pengunjung kuil, menjauh dari gelak tawa
para tamu yang berfoto bersama rupang-rupang dewa, genta raksasa, barisan lotus
yang sebagian telah tiba masa mekarnya, seorang perempuan berdiri sambil bersandar
di pilar altar. ia pandangi dupa-dupa mengabu, yang meski gerak asapnya menjalar
di dalam dan di luar ruangan, tak sebatang pun ada yang diajak foto bersama,
tak seorang pun peduli makhluk halus itu berpencar ke mana. di hadapan mereka
perempuan menangkupkan tangan, menundukkan kepala, menyembunyikan air mata.

dari atas altar, menyaksikan yang tertawa berbinar dan yang menangis samar,
yang riuh berkelompok dan yang sendiri mematung setegak batang rokok,
garis tawa di bibir maitreya semakin lebar.

2017


Pengasih Kedasih 

telah hamba patahkan sepasang sayap kedasih, sebab telur-telur kesedihan
yang bertahun dieram ulu hati hamba, menetas usai teringat takdir sayap
adalah membuat kedasih melayang menuju hutannya sendiri,
memilih ranting tempatnya hinggap sesekali, menembus udara berdebu
yang bisa saja membuat burung itu mati di suatu pagi

kemelekatan hamba pada burung itu, bahkan pada tiap bulu
yang tumbuh di pori-pori kulit kedasih itu, lebih erat dibandingkan
pada helai-helai uban yang tiap hari, dari kepala hamba, berjatuhan.

maka, hamba lakukan yang dapat membuat hamba dan kedasih yang tak terpisahkan
terlebih lepas menyaksikan televisi, di penghujung sebuah pagi, hamparkan
pemandangan ini: langit warna melon mengatapi bongkahan wawan
seekor burung menghantam bumi, menghajar perkampungan, melantakkan hutan,
menumbangkan pepohonan, dari salah satu cabang pohon yang tumbang
helai-helai jerami terbang, seekor kedasih gagal membuat sarang.

beberapa menit sebelum patahkan sayap burung
hamba pandangi pigura-pigura yang berderet di dinding dekat televisi
benda yang membingkai foto-foto kerabat lama, mereka mati
bersama rumah masa kecil hamba yang hancur tertimpa telur burung besi
saat hamba menggoreskan krayon warna melon
di kertas bergambar ibu bapak
yang tergeletak di meja kelas taman kanak-kanak.

2017

Inggit Putria Marga bermukim di Bandar Lampung. Kumpulan puisinya berjudul Penyeret Babi (2010).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Inggit Putria Marga
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" Sabtu 20 Januari 2018

0 Response to "Festival Purnama - Tawa Maitreya - Pengasih Kedasih "