Gagal Landing | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Gagal Landing Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 11:49 Rating: 4,5

Gagal Landing

BANYAK orang ingin menyesap kopi di sini. Menikmati harum moka, sebersit kayu manis, sambil melemparkan pandangan pada feri yang berjalan pelan. Dari meja ini --meja untuk dua orang, namun hanya ada aku sendiri-- bisa kulihat jalur pesepeda di tepian Brisbane River. Sebagian mengayuh sepeda mereka berombongan, banyak sekali yang bersepeda berdua-dua. Mereka seperti tak kehilangan topik. Bibir mereka bergerak, mata mereka sesekali saling pandang, senyum dilempar sambil kaki terus mengayuh pedal.

Di seberang sungai, pasangan-pasangan menyenderkan tubuh mereka pada pagar pembatas sungai. Mereka seperti tak pernah kehabisan cerita. Di belakang mereka, keluarga-keluarga datang dengan anak-anak mereka. Sebagian antre menaiki bianglala. Mereka menyebutnya The Wheel of Brisbane. Pengunjung yang lain duduk-duduk saja sambil menikmati camilan yang mereka bawa. Wajah mereka cerah. Tak ingin kubandingkan wajah mereka dengan wajahku. Aku tak berani melihat bayangan wajahku di sungai itu.

Di sini, di tepian Brisbane River, ingatanku melesat ke sungai lain, hanya sedikit di selatan khatulistiwa. Sungai Martapura dengan air kecokelatan yang di dua titiknya ada pasar terapung. Sesekali kubeli kudapan di situ. Biasanya wadai cincin, kadang wadai apam kukus. Kumakan sendiri, seperti saat ini aku menyesap kopi.

*** 
MEREKA menyebutnya Kangaroo Point. Mungkin, dulu, banyak kanguru di tebing ini. Tentu tak kutemui lagi binatang berkaki belakang sangat panjang itu. Di depanku, tersaji Brisbane dalam siraman cahaya.

Sepertinya, inilah yang membawa orangorang itu ke sini. Memandang kota bertabur cahaya. Betapa klise. Namun kudapati diriku di antara orang-orang itu. Kupandangi gedunggedung penuh nyala lampu. Mataku terpaku. Adakah yang kucari di situ?

Semakin banyak orang berdatangan. Para sejoli duduk di beragam titik. Sebagian tampak selalu berbagi cerita, yang lain sama-sama diam memandang cahaya. Sesekali mereka berpandangan, tersenyum, lalu kembali meresapi cahaya di kejauhan sana. Aku tersenyum sendiri menyadari kesendirianku.

Tiba-tiba sungai di depanku berpendar. Gelombang longitudinal muncul dengan segaris ombak. Ah, citycat lewat. Feri sungai itu tampak romantis dari ketinggian ini. Ia seperti cahaya yang bergerak menembus gelapnya malam. Apakah yang dilakukan orang-orang dalam feri itu? Apakah mereka baru pulang kerja dan begitu merindukan merebahkan diri di sofa? Apakah mereka bergegas pulang menjumpai senyum istri dan anak-anaknya? Adakah di antara mereka yang ternyata diamdiam memandangi kami di atas tebing ini, sebagaimana kami memandangi mereka? Atau, adakah di antara mereka yang sekadar menghabiskan waktu saja dalam feri itu karena baru saja putus dengan kekasihnya?

Malam, dan cahaya lampu di kejauhan, mengingatkanku pada Bukit Bintang. Di antara keraton, alun-alun, Malioboro, beragam museum dan angkringan, entah mengapa aku lebih sering ke sini. Pada kursi beton panjang, kududuk memandangi lampu-lampu kota. Adakah yang sebenarnya kucari di situ? Atau sesuatu yang kutinggalkan?

Sesekali mataku menangkap pesawat yang bersiap landing di Bandara Adi Sucipto. Ada sejuk yang tiba-tiba mengaliri nadi tiap kali melihatnya. Ada senyap yang magis. Ada kosong yang tiba-tiba terasa. Pedagang jagung bakar yang untuk kesekian kali mendapatiku tepekur sendiri di Bukit Bintang ini menyapaku dengan ekor matanya yang menusuk. Senyum usilnya seperti bertanya: masih sendiri juga?

Di bawah sana, di kejauhan, sebuah pesawat yang berusaha landing tiba-tiba mengudara kembali. Mungkin gust wind. Mungkin ada pesawat lain yang tiba-tiba nyelonong megambil alih runway yang disediakan untuknya. Apa pun penyebabnya, yang jelas landing pesawat itu tertunda. Aku seperti melihat diriku pada pesawat itu.

*** 
SHORNCLIFFE Pier menjadi pilihanku Sabtu pagi ini. Sebenarnya tak ada yang indah di sini. Pantainya sempit. Hanya ada satu pier menjorok agak memanjang ke arah laut. Tapi justru itu kelebihannya buatku. Di pier itu, beberapa orang duduk dengan khusyuk. Di samping kiri dan kanan mereka terdapat joran pancing, tempat umpan, dan cool box. Optimis sekali mereka, seolah penantian mereka pastilah akan berujung dengan beberapa ekor ikan. Andai mereka tahu kisahku, mungkin mereka takkan seoptimis itu.

Di pier ini bukan tak ada manusia. Cukup banyak, malah. Namun mereka terkonsentrasi pada aktivitas masing-masing. Tak ada yang peduli pada kehadiranku. Mungkin malah mereka tak menyadari ada aku di antara mereka. Inilah yang membuatku menyukai tempat ini. Ramai, namun aku tak terusik. Aku tetap bisa bersendiri. Beda sekali dengan kos-kosanku di Bulak Sumur dulu.

Selalu ada teman, penjaga kos, dan tetangga yang mengingatkanku saat aku terlihat mulai dekat dengan dia. Kalimat peringatan mereka semuanya sama: dia punya nama depan Rara. Itu sudah cukup untuk membentangkan palung samudera di antara kami. Mereka, dengan dalih peduli, mengingatkan bahwa aku hanyalah peneliti honorer di pusat kajian sementara dia dosen PNS UGM. Aku pria Banjar sederhana, keluarga besarnya berhulu di Keraton Jogjakarta.

Mungkin itu pula yang terjadi padanya. Setiap hari, orang yang berbeda-beda membanjirinya dengan pertanyaan tentang diriku untuk kemudian mempertanyakan benarkah aku pria paling cocok untuknya?

Masa-masa kami berdiskusi santai tentang tatanan dunia, tentang PBB, Asean, dan Uni Eropa di warung bubur kacang ijo, sukses menyatukan kami. Melakukan survei dan menggelar FGD bersama-sama untuk program penelitian dari grant luar negeri membuat kami makin dekat. Membanding-bandingkan ranking perguruan tinggi luar negeri dan menerka-terka apakah kami akan menjadi mahasiswa Ph D di sana merupakan pengisi we time kami.

Kami dekat karena berbagi mimpi yang sama cemerlang.Sayangnya, kami tak bisa menyepakati titik landing bersama. Ibu kos dan teman-teman, dengan bahasa mereka yang berputar-putar, selalu mengingatkan bahwa ia adalah pesawat dreamliner, sementara aku cuma twin otter. Kami tak akan bisa berdekatan karena pesawatku akan terpelanting oleh deru dan energi pesawatnya.

Lama-lama omongan mereka mengusikku. Aku sampaikan kekhawatiran ini padanya. Ia hanya tertawa. Namun ketakutan akan dampak perbedaan kasta di antara kami membuatku menyampaikan hal itu berulang-ulang padanya. Lama-lama pertanyaanku benar-benar mengusiknya. Ia seperti tersadar siapa aku dan siapa dirinya.

***
PANAS sekali pantai Surfer’s Paradise ini. Setiap inci kulitku serasa terbakar. Kubiarkan dada dan perutku terbuka supaya gosongnya merata. Puluhan, mungkin ratusan orang berkumpul di pantai andalan Gold Coast ini. Sebagian bermain gelombang. Mereka sedikit melentingkan tubuh saat ombak datang. Orangorang yang lihai tampak santai sekali dialun ombak dan tetap berdiri di tempat mereka semula begitu ombak itu berlalu dan pecah di pasir. Mereka yang kurang lihai, seperti aku tadi, berkali-kali diseret ombak hingga ke pinggir.

Di atas pasir pantai yang panas, banyak orang berjemur. Sebagian membaca, banyak pula yang memejamkan matanya, menikmati angin kering dan aroma garam. Aku, seperti yang lalu-lalu, memandang jauh hingga ke balik cakrawala. Di sana, di ujung timur Samudera Pasifik ini kau berada.

’’Tak maukah kau menungguku?’’ tanyamu saat itu.

’’Mengapa mesti menunggu kalau kita bisa menyatu dalam waktu dekat ini? Kita menjadi suami dan istri sebelum kau memulai studi?’’ jawabku.

Pembicaraan kita pun berakhir, seperti berkali-kali sebelumnya saat kita menyentuh topik itu.

Kampus sudah sepi. Kau, yang tadinya menawarkan diri menemaniku menyelesaikan laporan akhir tahun permisi pulang lebih awal. Tak enak badan, katamu. Kau menolak kuantar. Jalanmu cepat dan sigap, seperti tak ada yang salah dengan kesehatanmu malam itu. Tapi aku bersyukur kau pulang dan menolak kuantar. Menggarap laporan akhir tahun European Union Studies Center sambil melihatmu, setelah pembicaraan yang seperti itu, pasti akan membuat konsentrasiku makin buyar. Apa yang sebenarnya kau takutkan? ’’Kita sama-sama kuliah. Kalau Mas akhirnya diterima kampus dan dapat beasiswa itu. Kita akan disibukkan oleh kelas dan penelitian untuk disertasi masing-masing. Kita bersama, tapi kita sibuk sendiri-sendiri. Apakah itu hal yang sehat untuk memulai sebuah pernikahan?’’ jawabmu pada pertanyaanku, saat itu.

’’Kita sama-sama kuliah dan kita akan saling menguatkan. Bukankah itu akan indah?’’

’’Dan tanpa kita benar-benar menyadarinya, kita akan punya anak. Tangisan bayi. Pesing kencing. Cucian yang menggunung. Uang kita pun akan banyak tersedot untuk kebutuhan bayi selain konsentrasi yang pasti akan sangat terbagi. Apakah Mas siap? Aku meragukan kesiapanku.’’

’’Kau meragukan kesiapanmu? Bukankah itu caramu menyampaikan keraguanmu akan kesiapanku?’’
’’Kok dirimu jadi menuduh Mas?’’ Wajahnya seperti siswa yang terpergok menyontek.

Selain itu, katamu, semua kampus di belahan selatan California di mana kampusmu berada menerapkan standar tinggi. Kau takut aku tak mampu menembusnya. ’’Aku diterima di sana ini sebuah keajaiban. Aku tidak merasa layak. Sepertinya aku hanya beruntung saja,’’ katamu.

Maksudmu merendah, namun kumencium kesombongan di situ. Kau lupa, kita sama-sama master ilmu politik. Kita tahu ke mana kalimat mengarah. Kau tak tahu aku sudah mendapatkan letter of acceptance dari beberapa kampus di beberapa negara, termasuk kampusmu.

Malam itu, meski laporan European Union Studies Center belum sepenuhnya selesai, kupinjam motor Radit. Kupacu ia menuju Bukit Bintang. Dari jalan raya yang menghubungkan Jogjakarta dan Wonosari itu, kembali kulihat beberapa pesawat gagal landing. Mereka menukik menuju darat, namun terbang lagi. Kuanggap itu isyarat. ***

Achmad Supardi, mahasiswa program doktoral di The University of Queensland, Brisbane, Australia. Banyak menulis cerpen.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Achmad Supardi
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Jawa Pos" Minggu 28 Januari 2018

0 Response to "Gagal Landing"