Laci Rahasia - Lima Lampiran - Kamal - Urai Mardi | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Laci Rahasia - Lima Lampiran - Kamal - Urai Mardi Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 01:30 Rating: 4,5

Laci Rahasia - Lima Lampiran - Kamal - Urai Mardi

Laci Rahasia

: dari saadi shakur chishti

Semestinya, langkah yang panjang, hanya layak untuk hati yang panjang. Sebab, tak ada kerangkeng bagi yang bergerak. Oleh karenanya, si tukang yang mahir membikin lemari, tak lupa menyediakan sebuah laci rahasia. Laci rahasia bagi penyimpanan sesuatu. Agar para penerus di kemudian hari bisa tahu, bahwa tak semua yang terlihat, pantas diperlihatkan. Dan tak semua yang dapat diomongkan, layak untuk diomongkan. Dan si tukang yang mahir membikin lemari itu, pun berpesan: “Jika mengulurkan tangan kanan, jadikan tangan kiri buta dan tuli.”

Lalu, lewat hikmah yang hampir terlalaikan, tersimaklah kisah seperti ini. Dulu, ada si tukang kebun yang bekerja dengan baik. Tapi apa yang ditanamnya selalu gagal. Hal ini ditanyakan pada si guru. Oleh si guru dijawab: “Ceritakan padaku, apa yang telah kau lakukan selama ini.” Si tukang kebun pun berkata: “Sehabis menanam benih aku risau. Takut jika benih yang aku tanam itu mati. Karenanya, setiap malam aku kembali ke kebun. Dan menggali benih itu. Hanya untuk membuktikan, apa benih itu masih baik atau tidak. Terus menguruknya ulang.”

Si guru pun tersenyum. “Betapa rumitnya memahami laci rahasia sebuah lemari.”

(Gresik, 2017)


Lima Lampiran

: belajar dari gus mus

Di pesisir, Wak Huda adalah pendekar pencak. Khususnya pencak macan. Wak Huda juga punya group. Namanya: Group Pencak Macan. Group yang sigap jika ditanggap. Ditanggap untuk mengarak mempelai lelaki ke rumah mempelai wanita. Atau untuk kemeriahan malam kenduri sunatan. Wak Huda orangnya pendek tapi gempal. Segempal petinju yang kau lihat di televisi. Petinju yang matanya dalam. Sedalam laut di sana.

Wak Huda bisa menulis. Tapi tulisannya kaku. Sekaku cagak. Cagak pengikat perahu. Cagak yang mesti rajin ditelisik. Biar tetap aman. Biar perahu tidak lepas. Dan biar hati tenteram. Ketika si pemilik perahu tidur di balai. Tidur berbantal potongan bambu. Bersebelahan dengan orang-orang main sekak. Baik main berdua. Atau keroyokan. Riuh. Seriuh pasar burung. Yang berseberangan dengan lapak tukang sulap dan jamu.

Wak Huda tak suka pamer. Selalu bertempat di belakang. Cuma bergerak, dan bergerak. Dan semuanya beres. Beres dalam ketenangan. Beres dalam kesendirian. Karenanya, banyak yang menyebut: Wak Huda sebagai dapur yang selalu mengepul. Yang siap untuk menghidangkan santapan bagi yang bekerja. Baik yang bekerja ogah-ogahan atau sebaliknya. Karenanya, oleh orang-orang awas, dapur dianggap kamar kebaikan tersembunyi.

Suatu hari, Wak Huda bertanya: “Kau lihat mendung tebal itu. Apa hujan akan turun atau tidak?” Tentu saja aku jawab: “Sepertinya akan turun.” Wak Huda mesem: “Kita tunggu nanti.” Dan ternyata hujan tak turun. Mendung tebalnya bergeser. Tambah Wak Huda lagi: “Kenapa hujan tak turun? Karena tak ada semut yang keluar dari sarangnya. Dan untuk merasakan turunnya hujan atau tidak, semut lebih peka ketimbang kita.”

Kini, setiap ketemu semut, setiap itu pula aku teringat Wak Huda. Pendekar pencak macan di pesisir. Pendekar pencak macan, yang sebelum berpisah denganku, berbisik: “Banyak sekali yang disebut pendekar. Tetapi pendekar yang sebenarnya, adalah yang mampu mengalahkan yang di sini,” sambil menunjuk dadaku. Dada yang mengeras. Setiap ada yang menantang. Dan dada yang melagak. Setiap ada yang memuji nama diri.

Wak Huda, pencak macan, semut, dada, dan nama diri, adalah lima lampiran di pesisir. Pesisirku. Terimalah.

(Gresik, 2017)

Kamal

: bersama set & aji

Dengan nama yang berlari di urat dagingku. Melompat ke penampang ususku. Dan berenang di kedalaman darahku.

Darah yang mengalir seperti aliran selat yang kau temui di dalam mimpi. Aliran selat yang kau angankan menjemputmu.

Terus mengajakmu meluncur ke tempat-tempat yang mempunyai matahari, bulan, awan, dan bintang yang berbeda.

Dan juga pagi, siang, sore, dan malam yang berbeda.

Sampai apa-apa yang kau temui selalu merucut ketika dipanggil.

Sebab selalu muncul dengan rupa yang membuatmu tercekat. Terus diam-diam merasa ada yang berubah di nalarmu.

Yang semula pendek jadi panjang. Yang semula miring jadi imbang. Dan yang semula semburat jadi melingkar. Semuanya bening sekaligus kenyal. Dan kenyal sekaligus berongga.

Lihat, siapa dan apa yang sesekali mengintip dari rongga itu?

Kau pun cuma bisa menggumam. Apalagi, dalam sepuluh detik ke depan, melintas sepasang lembu karapan. Sepasang lembu karapan yang mempunyai sayap di unggungnya. Terus disusul dengan sekian pasang lembu yang lain. Yang lain. Dan yang lain lagi. Apa kau ingin memegang mereka? Jangan. Apa kau ingin menangkap mereka? Juga jangan. Biarkan mereka melintas. Sebab setelah itu, seperti gerbang, kau pasti tahu, ada yang akan terbuka diam-diam. Dan ada juga yang akan tertutup diam-diam. Lumrah. Selumrah waktu-lain yang pernah kau sangka tak ada. Waktu-lain yang tak bisa ditimbang.

(Gresik, 2017)

Urai Mardi

: rawon bagi si penjenguk

Aku mencintaimu dengan cara tidak genap. Sebab cinta bagiku bukanlah kangen yang mesti ketemu. Tapi kerling mata yang mengambil jarak. Dan terus-terusan mengambil jarak. Sampai apa yang terlihat menjadi tipis. Dan lenyap. Untuk kemudian mencintai lagi. Tapi, apakah ini kewarasan?

Oh, siapa yang mampu menjawabnya. Sebab, bagi yang mencintai, kewarasan bukanlah yang bisa dihitung. Atau ditakar dengan garis lurus. Tapi, hal yang rumit dan berlompatan. Dicegat sini, melompat ke sana. Dicegat sana, melompat ke sini. Seperti kelinci yang muncul dari topi si tukang sulap.

Kelinci yang ketika purnama membundar, menangkup di tengahnya. Lalu, apakah ini kebahagiaan? Semestinya, ini tak perlu dilontarkan. Sebab, dengan melihat pipiku yang merona, siapa saja mafhum, bahwa bagi yang mencintai tentulah bahagia. Baik ketemu. Atau tidak. Baik mencintai dengan cinta.

Atau malah dengan sebaliknya. Baiklah, aku mencintaimu dengan cara tidak genap. Dan cara ini, akan membuat cintaku tumbuh, berkembang, gugur, dan kembali tumbuh. Tumbuh dalam rangkuman semesta. Semesta yang terlihat sederhana sekaligus rumit. Tergenggam sekaligus terurai.

(Gresik, 2017)

Mardi Luhung adalah nama pena dari Hendry. Lahir di Gresik, 5 Maret 1965. Buku puisinya Buwun mendapatkan anugerah Khatulistiwa Literary Award (KLA) pada 2010. Buku puisinya Teras Mardi menjadi buku yang direkomendasikan majalah Tempo pada 2016.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Mardi Luhung
[2]Pernah tersiar di surat kabar "Koran Tempo" akhir pekan 6-7 Januari 2018

0 Response to "Laci Rahasia - Lima Lampiran - Kamal - Urai Mardi"