Lorong Sunyi | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Lorong Sunyi Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 15:26 Rating: 4,5

Lorong Sunyi

IA menjatuhkan wajahnya di atas lutut laki-laki lima puluhan. Meski laki-laki itu berusaha melepasnya, wajahnya masih jatuh lekat dengan posisi duduk di bawah kursi. Lama sekali. Seolah ia mempertahankan posisinya sampai laki-laki itu menerima keinginannya untuk tetap menjaga hubungan dengan Suhaili.

Ibunya yang tepat di kursi sebelah laki-laki itu hanya diam. Tak berkata apa pun. Apa lagi memintanya untuk kembali ke rumah tempat tinggalnya sampai dewasa. Bahkan tempatnya dilahirkan. Sebagaimana permintaan si laki-laki itu, ia juga tidak menghiraukannya.

Masih dalam posisi duduk di lantai di hadapan si laki-laki. Pikirannya goyah tak tentu. Bagaimana ia harus menerima keinginan laki-laki itu. Ia juga tidak pernah mendengar tanggapan ibunya sama sekali. Ibu tidak menyinggung hubungannya dengan Suhaili, entah menerima atau menolak keinginan si laki-laki.

Baginya, sungguh seolah ia mendapati gunung tinggi pikirannya yang sulit untuk ia lintasi itu. Maka, begitu mendapatinya duduk bersebelahan dengan ibu, dan ia ingin tetap menjaga hubungan dengan Suhaili, ia segera menyurukkan wajahnya di lutut bapaknya, berharap tidak lagi mengusik kondisi suaminya.

Hidupnya memang serupa lorong sunyi. Hanya bayang-bayang panjang tanpa batas. Tanpa harapan yang jelas. Ia mengingat kerasnya usaha Suhaili untuk memenuhi kebutuhan rumah. “Kau terlalu berat bekerja, Bang. Kau akan lelah,” tegurnya ketika Suhaili harus pulang malam menjajakan makanan di terminal.

“Yang penting kamu menerima keuntungan yang kudapatkan.”

“Tapi, Abang harus istirahat.” Ia menaruh kasih bila pulang di malam hari dalam lelah yang sangat. Dengan banjir keringat yang sebagiannya sudah mengering.

“Aku tidak lelah.”

Suhaili hanya ingin menghapus kecemasannya. Ia tetap harus mengasong. Ia pernah cerita kepadanya, terjatuh ketika akan turun dari mobil di siang yang panas. Kakinya terpeleset di tumpukan sampah licin yang teronggok di depan terminal. Badannya kotor limbah pasar itu.

Mendengarnya ia hanya diam. Iba.

Maka, bapak memintanya meninggalkan Suhaili. Kembali ke rumah kelahirannya. Tapi, tidak mungkin ia meninggalkannya begitu saja di saat suami kesulitan pekerjaan. Ia merasa bapak tidak membalas kebaikan Suhaili saat-saat ia menapaki kejayaan.

Ia memiliki beberapa toko sederhana yang dikelola keluarga. Semua dalam koordinatornya. Ia sebenarnya siap memegang satu toko untuk membantu. Tapi, suaminya itu tidak merestui. “Kau cukup mengurus rumah saja,” begitu sarannya. Sementara, lapak di pasar harus disewakan. Suhaili membantu bapak agar tidak lagi bekerja sebagai penjaga toko.

“Kita harus membantu kebutuhan orang tua, Dijah.” Suhaili memastikan ia akan membantu bapak. Khodijah hanya diam. Seolah membiarkan keinginan Suhaili. Sebagian keuntungan toko diserahkan ke bapak. Ia mendengar bapak meminta bantuannya mendirikan usaha sendiri. Bapak pun tidak harus kerja ke temannya. Setelah terbangun, ia terlihat lebih nyaman di toko miliknya.

Namun, tak ia duga, hanya beberapa tahun kejayaan itu, ladang usahanya bangkrut. Toko-toko miliknya tak berkembang. Satu demi satu tutup. Hingga kedua toko dan sebuah lapak harus ia jual. Tapi, Munawar, bapaknya, tidak menerima kegagalan yang dialami Suhaili. Seakan penyakit menular yang harus dijauhi.

“Rumah kita luas dan besar, Dijah. Bersama kedua anakmu juga cukup, tidak sesak,” jelas bapak. Tapi, ibu tak begitu menghiraukan perubahan kehidupannya. Dalam pikiran ibu, kegagalan adalah hal wajar. Tidak semua keinginan mereka tercapai.

Ibu mengerti itu. Sejak tokonya harus dijual untuk menutup kebutuhan, Dedeh, ibunya, diam. Sebagaimana ia, ibu pun tak menghiraukan kekecewaan bapak melihat kondisi hidupnya. Tapi, bapak bukan sekadar kecewa. Bapak ingin membawanya ke rumah. Pulang. Meski ia tidak mengatakan memutus tali pernikahannya dengan Suhaili. Tapi, ia tak menerima. Ia tak begitu menanggapi respons bapak terhadap kegagalan suami Dijah.

“Sudah, kamu tidak banyak merajuk, Khodijah.” Ibunya mengelus bahu anak gadis satu-satunya itu yang cantik. Ia mengerti, ibu tak bersikap sejak usahanya gulung tikar. Sejak bapaknya selalu mengeluhkan suaminya yang benar-benar bangkrut.

Malah, ibu sesekali meminta bapak menerima kondisinya. Lalu, ia mengangkat kepalanya begitu bapak lama diam. Seakan bapak masih tetap tidak menerima keinginannya.

“Kau menerima kondisi Suhaili, Dijah.” Ibunya berharap dengan jawaban yang tepat hingga bapak mendengar jelas. Tapi, ia diam. Bapak tetap memaksanya meninggalkan Suhaili bila ia tetap menjawabnya ‘menerima’. Tanpa berkata, ia kembali ke rumahnya.

Namun, Suhaili tidak ia temui sore itu yang ia ketahui biasanya selalu di rumah. Dia pulang menjelang siang. Hanya beberapa jam setelah keluar. Mungkin tidak mendapatkan pekerjaan serabutannya. Tapi, sore itu tidak ia dapati.

Hanya ia temui Minih, ibu rumah tangga sebelah rumahnya, duduk di bawah pohon jambu air depan gerbang rumahnya. Seolah sudah mengikat perjanjian, Ibu Wiwin datang. Disusul kemudian Ibu Sakem. Mereka perempuan-perempuan senasib. Selalu menerima kondisi kehidupan yang mereka alami. “Ingin bagaimana lagi, usaha untuk lebih baik lagi sudah kita lakoni,” kata mereka.

Hanya terkadang mereka selalu mencari celah usaha yang bisa dikerjakan suami. Dan, percakapan itu selalu mereka bangun. Saling menanggapi harapan-harapan mereka.

“Benarkah kita bisa mendapatkan yang kita harapkan?” Seakan Sakem tak percaya hidupnya bisa berubah lebih baik.

“Kalau Allah berkehendak bisa saja terjadi,” sambut Minih yang sesekali ikut pegajian ibu-ibu di Mushola Baitul Ilmi yang dikelola Ibu Yuyun di lingkungan sekolah di ujung kampung. Tetangganya yang juga staf pengajar itu sesekali mengajaknya hadir di Majlis Ta’lim Baitul Ilmi.

Ia hanya diam. Pandangannya hampa ke depan. Ke langit kemerahan di barat. Merasa sakit mengingat suaminya pernah mendapatkan kemajuan usaha. Tapi, ia menerima perkataan Minih. Allah berkehendak atas kehidupan masing-masing makhluk-Nya. Kepada Minih dan Sakem, ia mengerti kondisi ekonominya tidak jauh berbeda. Tapi, Wiwin?

Sungguh. Kehidupan ekonomi Wiwin tidak lebih baik darinya. Dan, melihatnya ia masih bersyukur. Tetangga dan teman-temannya sudah mengenalnya keluarga paling miskin di Sak Bakar, kampungnya.

Perempuan yang memang diselimuti kesulitan hidup sejak berumah tangga, bahkan sejak anak-anak ia tidak mendapati hidup senang. Bapaknya seorang kuli cangkul di sawah-sawah milik teman dan tetangganya. Sementara, ibunya hanya mengurus rumah dengan kebutuhan yang lebih banyak tak terpenuhi. Tapi, ia sabar dan kuat.

“Khodijah, kau memiliki kehidupan lebih baik dari kami, lebih beruntung,” kata Wiwin.

“Kau bisa lebih dahulu mendapatkan kesejahteraan ekonomi dari kami,” balas Sakem. Minih hanya diam sembari membayangkan kehidupannya bisa berubah.

“Kalau kau mendapatkan pekerjaan bagus bisa ajak-ajak kami.” Wiwin kembali meminta. Seolah mendorongnya untuk mengubah kondisi kehidupan rumahnya. Tapi, begitulah perempuan kekar itu meski kurus. Ia lebih semangat. Kehidupan pahit yang ia alami membuatnya terus berusaha lebih baik.

***
IA mendengar pengunjung pasar menyebut-nyebut lapak milik Ibu Wiwin. Ia mengenal nama itu, tetangganya yang sudah pindah ke kampung dekat pasar. Perem puan yang sejak kecil tak mendapati hidup senang. Selalu kekurangan meski sekeluarga harus kuli. Setelah izin kepada nyonya lapak, ia meninggalkan menguliti bawang, pekerjaan yang ia geluti setelah suaminya kesulitan membangun usaha kembali, akan mencari kebenaran kalau Wiwin yang ia dengar itu adalah tetangganya.

Teriak pengunjung ‘Ibu Wiwin’ mengharuskannya lebih mendekati suara itu. Agak malu ia pelan melangkah setelah memastikannya benar-benar tetangganya di Sak Bakar. Ia mengingat ketika suaminya dengan pakaian rapih melayani para pelanggan.

Tapi, Wiwin terlihat lebih baik. Dibantu seorang ibu-ibu lebih tua, ia melayani pelanggan yang membeli beberapa macam bumbu masak dan sayuran di lapak miliknya yang cukup besar. Ia percaya kehendak Allah, tentu juga dengan usaha yang serius layak untuk seorang Wiwin.

“Khodijah! Sini.”

Ia segera mendekat begitu Wiwin menegurnya. Tersenyum bahagia atas keberhasilannya mendapatkan pekerjaan sebagai pedagang. Besar juga lapak dan barang jualannya.

“Duduk kau, Khodijah!”

Sembari penuh kehati-hatian melangkah di antara hamparan tampah yang masing-masing berisi bumbu dan sayuran, ia mencari tempat yang tepat.

“Di sini.”

Sembari menggeser badannya memberi tempat, ia menunjuk ke arah sebelahnya.

Khodijah duduk. Begitu Wiwin selesai melayani beberapa pelanggan, kembali ia meminta, “Kau bantu aku saja.”

Ia diam. Sementara pikirannya masih ke lapak tempatnya kuli menguliti bawang.

Cibitung, Januari 2018

Makanudin. Selain menulis, sehari-hari ia aktif mengajar di lingkungan Bekasi Kabupaten. Alumni Pesantren Assa’adah Cikeusal, Serang, Banten.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Makanudin
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Republika" edisi Minggu, 28 Januari 2018

0 Response to "Lorong Sunyi"