Mata yang Mengatup Tiba-tiba | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Mata yang Mengatup Tiba-tiba Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 10:30 Rating: 4,5

Mata yang Mengatup Tiba-tiba

PINTU rumah itu tertutup setelah ibu benar-benar ingin menunggu. Tidak pernah lelah menunggu. Ketika mata ibu seperti mata boneka yang tak pernah mengatup dan tanpa apa pun di sana selain kekosongan. Juga terus basah seperti kuncup daun di atas lembah.

EMBUN itu, adalah sesuatu yang terus menempel padanya. Entah, aku hanya coba menerka. Selebihnya, ibulah yang paling tahu.

“Kenapa?”

Ibu selalu bertanya ketika aku menatap matanya. Ia mencoba memantik senyum yang tetap saja terlihat hampa. Kepalanya menggeleng, sebuah isyarat bahwa tidak ada apa-apa.

***
SETELAH sekian tahun lamanya, sebagai anak yang terus tumbuh, berpisah pada akhirnya terpilih juga. Di depan tungku sehari sebelum perpisahan itu, ibu berpesan padaku. Jangan pernah pulang jika memang tak ingin pulang, katanya pelan sementara tangannya menyorong kayu. Ibu tengah menjerang air untuk membuat kopi. Bukan senang, hanya ingin sekali menikmati kopi.

Jangan lupa berdoa, lanjutnya dengan mata yang, ketika aku menatapnya lagi telah membuat nyeri dada ini. Aku menemukan banyak narasi, beragam kisah yang terperangkap di sana. Dan sudah tentu, aku pun termasuk di dalamnya.

Sedari kecil aku hanya memiliki ibu. Ia mengenalkanku pada dunia sampai mengenal nama-nama. Satu per satu nama bunga di halaman, macam-macam unggas dan segelintir hewan di sekitar pekarangan yang untuk selebihnya hanya bisa dilihat di buku-buku bergambar. Tetapi cukup aneh, bila sampai kini aku belum tahu satu nama yang seolah ibu tak berkeinginan menyebutnya. Siapa nama bapakku?

Bagiku, hidup memang rahasia. Tak ada catatan kecil atau semacam data keluarga. Foto-foto perkawinan pun, jika pernah ada, entah di mana. Hanya jam kuno yang terpajang, sementara selebihnya warna putih kusam pada dinding. Barangkali semua itu tidaklah penting, sehingga tak perlu ada meski keingintahuanku kadang membuncah tak tertanggungkan.

“Mereka tampak berbahagia. Sungguh lebaran yang menyenangkan.”

Dari depan rumah, ketika lebaran tiba, kerap aku memandang satu keluarga dengan seorang bapak yang begitu akrab di tengah mereka. Hangat, ketika tangan itu dicium sepenuh rasa. Dan ibu yang merasakan gelagatku hanya berkata. “Kita tak harus sama dengan mereka, Rini.” Lantas menepuk pundakku kemudian berlalu.

Maka pada hari yang telah ditentukan, akhirnya ibu tinggal seorang diri. Sebelum itu, ia mengantarku menempuh jalanan kampung berkelok hingga ujung jalan tanpa sepatah kata pun. Aku sendiri benar-benar tidak menyangka jika seketika saja ibu berubah menjadi pendiam. Hanya tatapan matanya yang terus menyala ketika ia memilih untuk tetap berdiri sampai kemudian aku menghilang setelah beratus meter bus membawa tubuhku yang kehangatannya sudah hilang sama sekali. Beku itu, ketika kebiasaan benar-benar harus tergantikan keterasingan yang sangat.

Kami benar-benar berpisah. Waktu menghadirkan jarak bagi tubuh kami. Kendati pun demikian, toh ia masihlah seorang ibu. Selamanya menjadi seorang ibu. Namun siapa menyangka, hidup pada akhirnya hanya memberinya satu pilihan, yaitu sepi sendiri. Dan aku rasa begitu, setelah sekian minggu, bulan, dan tahun kami berpisah, tak satu pun kabar mengenai keadaannya. Ia yang jauh tertinggal dari kemajuan zaman, dan aku yang tak tahu dengan cara apa mengirim kabar.

“Jika seseorang yang kita sayangi berada di tempat jauh, kenapa harus kangen?”

Suatu hari aku menulis dan membacanya. Tanpa nyana ibu mendengamya juga. Kemudian duduk di dekatku, berhadap-hadapan.

“Kangen itu sama halnya keinginan. Keinginan mengulang sesuatu. Andai bisa, ibu ingin kembali terjaga ketika kamu menangis butuh ASI. Menemani kamu bermain di halaman. Menangkap capung dan kupu-kupu. Memanjakanmu dalam buaian atau menina-bobokkanmu di ayunan. Ah, rasanya….”

Aku merasakan keanehan waktu itu. Merasa bingung dengan ucapannya. Ibu membicarakan keadaan yang sama sekali tidak bisa terulang. Apakah kangen bagi ibu hanya sesuatu yang tak mungkin berulang kembali? Apa kangen sama dengan kenangan?

Bisa jadi seperti itu. Aku merasa ucapan ibu ada benarnya juga. Setelah begitu lama berpisah, ibu merasa kangen. Semacam keinginan untuk mengulang hari bersama-sama lagi. Dengan hati yang cukup tabah, ia pasti menunggu sebuah kepulangan.

***
“GIMANA kabarmu, Rini?”

Hanya itu sisa mimpi yang masih melekat. Ketika terbangun, ingatan telah penuh di kepala. Terbayang jelas wajah ibu dengan kulit muka yang kusamnya begitu kentara. Tentu kulit itu telah keriput seiring usia. Amat lama aku meninggalkannya.

Aku anak yang tidak berbakti. Benar-benar tidak berbakti. Bagaimana disebut berbakti, bila sekian tahun tak kembali. Seolah sudah lupa jalan pulang. Serupa hilang ingatan.

“Kamu telah tumbuh dan makin cantik. Ibu jadi keingat pas muda dulu. Betapa bahagia bila dekat dengan pilihan hati.” Sepintas ibu tersenyum, tetapi sedikit getir.

“Karena setiap orang mesti memilih nasibnya masing-masing, maka hiduplah dengan bahagia.”

Bahagia itu, adalah kegetiran yang minggat tiba-tiba. Raut muka menjadi berseri-seri meski mata seperti kaca jendela yang mendapati percik hujan.

Hm… mata itu, mata ibu.

Mata ibu sudah tidak basah seperti dulu lagi. Telah berubah kering dan tandus. Juga bukan seperti mata boneka, semakin kelabu dan tak menyimpan sesuatu. Ya, setelah memikirkan segalanya dengan matang, memperkirakan waktu tempuh dengan pesawat terbang,  menumpang bus lalu turun di ujung jalan, dan melewati jalanan kampung lalu sampai pada rumah kecil bobrok serupa kandang. Dulu pamitku hendak kuliah jauh di kota, pulang-pulang entah sekian lamanya. Mendapati seorang perempuan yang semakin senja. Ibu tersayang, anak durhaka kembali pulang. Pantaslah, bila ia tak mengenaliku. Perubahan itu, adalah keterasingan indrawi pada segala yang tampak di hadapannya. Satu kenyataan yang menunjukkan bahwa keadaan sebelumnya telah jauh berbeda.

“Siapa, ya?” suaranya bergetar, sementara mata itu….

“Ah, kamu telah menepati janji, tak akan pulang kecuali benar-benar ingin.”

Setelah pada akhirnya ibu kembali mengenaliku, segera aku mencium keningnya. Meski rasa sungkan dan rasa bersalah mengendap di dadaku. Dan mungkin saja, ibu tidak melihat titik kecil jatuh dari sudut mataku.

Suasana semakin akrab, perlahan mendekati sedia kala. Aku tahu, segalanya butuh proses. Kebersamaan pun demikian halnya. Di hari berikutnya, memang hidup tak bisa ditebak, tiba-tiba ibu bertanya perihal rumah di ujung jalan sana. Apa yang muncul di benakku adalah gambar rumah kosong semrawut dengan pintu yang terus tertutup. Hanya makhluk halus yang betah tinggal di dalamnya.

“Dulu pintu rumah di ujung jalan itu masih terbuka. Seorang lelaki paling ibu cintai tinggal di sana. Tapi semenjak tahu bahwa ibu tengah mengandungmu, ia memilih pergi dengan perempuan lain.” Ibu mengawali pagi dengan kesedihan. Luka lama yang kekal. “Dan sampai sekarang, pintu itu terus tertutup, bukan?”

Jujur saja, dadaku sempat sesak. Aku ingat lagi bahwa keingintahuan pernah tak tertanggungkan mengenai satu nama itu. Aku yakin, ada sangkut paut dengan siapa sebenamya nama bapakku? Tapi aku tak bisa memaksa ibu untuk mengatakannya. Biarlah, toh hidupku sudah terbiasa dengan tanpa nama.

Kemudian dengan tongkat kayu di tangan, ibu mencari letak kursi tanpa menyuruhku ikut duduk di dekatnya. Dan rasanya hal itu tidak perlu diucapkan. Aku tengah menerima telefon ketika ibu memilih menyandar setelah tongkat kayu ditaruh atas meja. Secangkir teh hangat masih terlalu panas.

“Bu, ini cucunya perlu bicara. Kenalan sama nenek. Pengen denger suara nenek. Hehe….”

Seketika saja wajah ibu mendongak dengan tatapan menyalang. Tubuhnya bergetar. Kernbang-kempis dadanya. Tanpa menoleh dan tanpa jawaban. Aku benar-benar tak menyangka, dalam hitungan detik mata itu mengatup tiba-tiba. Dan tanpa pikir panjang aku menjerit sekeras-kerasnya. ***

Rujukan:
[1] Disalin dari karya D Inu Rahman Abadi
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" Minggu 7 Januari 2018

0 Response to "Mata yang Mengatup Tiba-tiba"