Melempar Matahari Merekah - Rugi - Datang | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Melempar Matahari Merekah - Rugi - Datang Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 05:00 Rating: 4,5

Melempar Matahari Merekah - Rugi - Datang

Melempar Matahari Merekah

Matahari merekah dan
bulan bergegas ke kantung waktu.

Embun-embun kehilangan
bayangan bulan.

Sebelum lenyap di ketinggian daun,
embun-embun
mulai terbuka meminang tanah.

Embun-embun cepat terjun
melengkungi sekuen kehidupan.

Di batas langit dan bumi, pagi
melempar matahari merekah
ke kembang-kembang.

Di tanah, para semut lega
selesai berpatroli memutari
kembang-kembang.

Punggung para semut yang pegal
habis berpatroli
perlu asupan vitamin K
milik matahari merekah.

Matahari merekah sempurna.

Sepasang mawar beradu argumen
tentang cara terbaik
bersatu dengan matahari merekah.

Melati punya pandangan lain:

Bulan bergegas ke kantung waktu
karena jarak-berjarak, bukan
tersaingi oleh matahari merekah.

Surakarta, 2017

Rugi

Kita kembali berjalan setelah berkemah
di perut gunung. Kita harus menemu pagi sebelum
langit mengirimnya. Semoga halimun
tak pergi ketika kita datang. Kita butuh halimun
untuk merangkum keletihan diri ini.

Puncak gunung ternyata jauh dari dugaan, meski
terpandang dekat di mata kita. Api unggun
yang semalam kita buat belum mati
di hati. Jangan kita menyeka peluh. Kita membawa
peluh masing-masing sebagai kado untuk pagi.

Nyanyian perjalanan ke puncak gunung telah kita
nyaringkan. Sesekali kita melihat ke bawah: Aneka
warna lampu menjadi repetisi halus. Murni
direkam mata kita. Kadang kita mengalami sangsi
kenapa bisa sekecil ini.

Di sela-sela pohon sana, kita bertemu ular yang
sedang mengawas. Kita takut tapi tinggal berpuluh
langkah akan sampai ke puncak gunung. Tapi
kita mulai menangis ketika terompet langit telah
mengirim pagi. Kita mematung rugi.

Surakarta, 2017

Datang

Pagi datang menyelamatkan aku
setelah memasang
daur ulang ekor matahari
dan membuang selimut malam.

Hangat sahaja pagi datang:

Aku belajar menggapai awan 
hingga menepuki waktu 
biar lambat memasuki gerakku.

Kamar mimpi kehilangan aku
setelah pagi datang. Tapi tersisa
goresan kamar mimpi
di dalam benak lunakku:

Bantal membudak kepalaku dan
hantu kolong ranjang menakut
mataku.

Pagi datang memberi aspirasi
kepadaku lewat moncongnya:

”Kubur masamu yang redup itu,
lalu tinggikan tiang lagu.”

Pagi datang membuka
petualangan baru denganku. Dan
aku berlagu:

Seorang anak enggan lagi tidur
karena pagi datang
menghiasi dinding hari harunya.

Surakarta, 2017

Aji Ramadhan lahir di Gresik, Jawa Timur, 22 Februari 1994. Mahasiswa Desain Interior di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Buku puisinya adalah Sang Perajut Sayap (2011) dan Sepatu Kundang (2012).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Aji Ramadhan
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" Sabtu 20 Januari 2018


0 Response to "Melempar Matahari Merekah - Rugi - Datang"