Nabi - Makam Kita - Pencurian Sekarung Arloji - Aturan Sewa Rumah - Danau Purba | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Nabi - Makam Kita - Pencurian Sekarung Arloji - Aturan Sewa Rumah - Danau Purba Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 05:00 Rating: 4,5

Nabi - Makam Kita - Pencurian Sekarung Arloji - Aturan Sewa Rumah - Danau Purba

Nabi

: cermin Cervantes, cermin Kundera

350 tahun ia bertempur
dengan kincir angin. 450 tahun
ia bersengketa dengan
sebongkah batu.

“Kematian telah memanggilku
dari gunung salju,” ia berkata.
“Kematian telah memanggilku.”

Ia tidak mengenakan topi
saat salju turun. Balkon
membeku. Kastil
membeku.

Museum menyimpan kisah
perang yang terlupakan
 itu. Cermin menyimpan
kesedihan wajahnya
di bawah lampu.

Genta-genta berhenti
berbunyi. Genta-genta
hanya ilusi.

Ia tidak berkuda
saat berangkat
ke stasiun. Musuh
berada 15 mil
di luar Praha.

Ia berjalan kaki
tetapi membayangkan
terbang bersama gagak. Gagak
yang melupakan namanya. Gagak
yang melupakan sayapnya.

“Sejak kematian memanggilku
aku telah melupakan namaku. Melupakan
kotaku. Kota iblis. Kota hantu
dililit salju.”

Pada akhirnya ia harus bertempur
juga. Bertempur dengan waktu.
Jantungnya ditusuk. Kepala dipenggal.
Mata dicungkil. Telinga dipotong. Kaki
dipatahkan. “Tetapi aku tetap hidup, bukan?”

Maka, setelah itu
350 tahun ia bertempur
dengan kincir angin. 450 tahun
ia bersengketa dengan
sebongkah batu. Lagi
dan lagi.

Sejak saat itu, sejak Praha
dililit salju, mereka
menyebut ia sebagai nabi
di dunia yang terlupakan. Di dunia
tanpa kenangan.

2017

Makam Kita

Kita mulai dari makam. Kita mulai dari
kematian. Tentu kita lewati keheningan
tebing-tebing dulu. Kita lewati jernih
sungai tanpa perahu. Kita abaikan ciuman
perih yang hanya kita bayangkan terjadi
di hijau hutan tanpa rubah. “Apakah kita
akan menggunakan peta atau semacam
petunjuk jalan?” “Tidak. Kita hanya akan
membawa foto sepasang nisan dan seekor
burung malam yang menolak terbang.”

Tetapi kita tak pernah sampai ke makam
itu. Ada pagar besi menjulang. Badai
datang dan lampu-lampu begitu cepat
padam. “Ke museum saja. Mungkin kita
bisa temukan jejak kematian di sana.”
“Dan kita tetap berjalan tanpa sekali pun
berciuman?”

Tak ada ciuman. Museum hanya
menyimpan kesedihan. Hanya menyimpan
sisa pengembaraan di bungker-bungker
penuh ular. “Bagaimana kalau kita belajar
mati dari orang yang tersalib di bukit
bersalju?” “Bagaimana kalau dari arca di
pinggir jembatan saja?”

Rupanya kita tak memilih kematian dalam
riuh gempa. Rupanya kita memilih
kematian dalam riuh senja.

“Sebelum itu, apakah tak sebaiknya kita
minum anggur putih saja. Anggur
untuk hidup yang brengsek dan sia-sia.”
“Setelah itu, apakah kau akan menciumku
sekali saja?”

Tidak pernah ada ciuman. Tidak pernah
ada kenangan. Waktu mencuri segalanya.

Juga hasrat terakhir mencari makam
tua. Makam kita.

2017

Pencurian Sekarung Arloji

Burung-burung malam terbang dari kegelapan bukit
sebelum jembatan-jembatan diledakkan. Sebelum
seseorang disalib untuk kisah-kisah yang diracaukan
di taman-taman.

Saat itu ia memartil pintu kaca
toko tanpa penghuni. Menghancurkan
etalase. Mencuri
dan menenggelamkan sekarung arloji
ke sungai.

Tentu saja masih ada patung-patung iblis
dan singa di gereja. Seluruh kota belum
ditaklukkan. Orang-orang Yahudi
masih bisa bercakap tentang kabut
dan berdiang di keriuhan rumah.

Mungkin kereta-kereta telah berhenti
di stasiun paling sunyi. Mungkin masinis
telah menenggak anggur merah
dan memeluk kekasih. Mungkin
seseorang telah dicekik
dan museum-museum telah ditutup.

Tak ada yang pasti. Lonceng-lonceng
bisa berkeloneng pada pukul lima
dan bukan pada pukul lima. Gerimis
bisa reda pada pukul enam
dan bukan pada pukul enam. Senja
bisa terbakar pada pukul empat
dan bukan pada pukul empat. Tak ada
yang pasti. Seseorang bisa memartil
dan tak memartil pintu toko. Menghancurkan
etalase. Mencuri
dan menenggelamkan sekarung arloji
ke sungai.

Apakah waktu mati setelah itu? Apakah
burung-burung terbakar
dan lampu-lampu
dipadamkan?

Ia tak peduli pada apa pun
yang gampang terbunuh.
Ia hanya ingin berdiri di jembatan
memandang Praha
yang segera hilang
dari ingatan.

2017

Aturan Sewa Rumah

Menggunakan Kunci 
Ia tahu agama hanyalah semacam jeruk. Bukan kunci
untuk membuka rahasia keheningan danau. Karena itu ia tak akan
menggunakan kode angka-angka ganjil untuk memahami
kehendak hujan. Tak akan.

Sarapan
Ia boleh melahap apa pun pada musim dingin. Ia tak boleh makan
apa pun saat tetangga bunuh diri. Pada pukul 8.00 hingga pukul
10.00 bom-bom diledakkan di dekat stasiun. Ia hanya
diperkenankan tidur.

Merokok
Ia berharap bisa melanggar perintah Tuhan kesebelas: merokok.
Tetapi tuberkulosis menghajar sepanjang waktu. Ia pun
mengulum permen dari Rusia dan merasa telah menelan semesta.
Ia tidak keberatan jika Tuhan menciptakan lagi perintah kedua
belas: dilarang merokok pada musim plankton dan ganggang
kawin-mawin sembarangan.

Mencuci
Ia diperkenankan mencuci baju pada malam-malam penuh
serangga. Ia tidak dizinkan mencuci hati dengan salju sembarang
waktu.

Memelihara Anjing
Ia tidak diizinkan memelihara binatang-binatang dari surga,
terutama anjing. Karena itulah ia ingin memelihara kecoa, babi,
dan belut.

Warga Negara
Ia dilarang menjadi Yahudi. Ia tidak boleh belajar bahasa Ibrani.
Ia diperkenankan menjadi monyet. Jika melanggar, ia akan
dibakar hidup-hidup di alun-alun.

2017

Danau Purba

Ia yakin apa pun yang berada di dasar Danau Wannsee
adalah surga. Perahu-perahu putih yang ditambatkan hanyalah
penjelmaan nabi-nabi terakhir yang mewartakan kebusukan
neraka. Adapun burung-burung, angsa-angsa, dan itik-itik
yang muncul dari balik kabut tak mempersoalkan apakah mereka
berasal dari gua gelap atau bukit-bukit penuh pohon purba
berembun.

Sebelum belajar memahami kilau daun-daun linde yang gugur
perlahan ke pasir basah, ia tidak pernah berkunjung ke danau
mana pun. Ia tidak pernah mengenal ikan-ikan kurus
yang berenang sembarangan meskipun hanya dalam fantasi.
Danau, baginya, adalah laut kecil yang asing. Hijau. Penuh
ganggang yang berebut tumbuh.

Kadang-kadang ia melihat satwa lucu muncul dari keheningan
danau. Ia pernah melihat ikan-ikan berkepala singa
menyemburkan api ke arah kampung. Kadang-kadang ia melihat
tumbuh-tumbuhan serbaungu gugur dari kehijauan langit.
Ia melihat bunga-bunga berbentuk unta terbang terbawa angin ke
tenggara.

Setelah surga, Tuhan memang menciptakan Praha. Akan tetapi
baginya Danau Wannsee lebih dari sekadar surga. Iblis
dan anggur sesekali menggoda. Tuberkulosis dan rindu bibir
kekasih sesekali merasuk. Tak pernah ada badai kotoran kucing.
Tak pernah ada serdadu-serdadu yang mencari Yahudi miskin
dan kehilangan senja.

“Sebenarnya Tuhan ingin sekali menciptakanmu sebagai
ganggang,” kata Danau Wannsee. “Tetapi aku tak
menginginkanmu menjadi tumbuhan yang gampang membusuk.
Lalu aku minta Tuhan menciptakanmu sebagai Narsisus tetapi
kau lebih ingin menjadi Kafka. Apakah kau kecewa telah
menjadi cermin neraka?”

Ia tak pernah kecewa menjadi Kafka. Tetapi ia sangat ingin
menjadi danau. Danau tanpa kecoa. Danau tanpa ketakutan.
Danau tanpa sinagog. Danau tanpa Sisifus yang berkali-kali ingin
menghunuskan pedang ke jantung para dewa yang tak pernah
membaca Kitab Kejatuhan Manusia.

2017

Triyanto Triwikromo menulis buku puisi Kematian Kecil Kartosoewirjo (2015). Selain mempersiapkan novel Metamorkafka, ia juga menganggit antologi puisi Efek K, hasil dari residensi sastra di Berlin, Jerman, belum lama ini. 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Triyanto Triwikromo

[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" Sabtu 27 Januari 2018

0 Response to "Nabi - Makam Kita - Pencurian Sekarung Arloji - Aturan Sewa Rumah - Danau Purba"