Nasib Anak Koruptor | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Nasib Anak Koruptor Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 13:46 Rating: 4,5

Nasib Anak Koruptor

AKU terduduk lemas. Seakan tak dapat mempercayai kenyataan yang harus aku hadapi. Salah seorang muridku, Ana, harus keluar dari sekolah. Alasannya pun tidak dapat aku terima. Karena ayahnya menjadi tersangka korupsi dan seluruh hartanya disita oleh negara. Aku tidak dapat menyembunyikan kekecewaanku. Aku hanya bisa mengharapkan ini bukanlah akhir dari riwayat pendidikannya.

Ana adalah seorang murid kelas XI Internasional di SMA tempat aku mengajar. Anak itu sangat cerdas. Aku menyukainya. Bahkan semua temannya juga. Dia anak yang riang dan suka membantu. Terakhir kali aku dibuatnya bangga adalah ketika ia berhasil menyumbangkan medali emas untuk olimpiade Fisika sedunia. Aku masih ingat bagaimana ia tampak begitu berbahagia. Namun, ia tetap rendah hati. Saat diumumkan di hadapan semua temannya pun, tak tampak kesombongan dalam dirinya. Dalam ucapan terima kasihnya, ia mengatakan bahwa semua ini berkat teman-temannya juga yang selalu menemani. Dan kemenangan ini bukan untuk dirinya tapi juga untuk sekolah ini. Sungguh anak yang luar biasa.

Tapi anehnya, keesokan harinya semua berubah. Dia datang ke sekolah dengan muka pucat dan mata sembap. Tak ada senyum khasnya yang sangat riang dan membuat dunia tersenyum. Aku merasa ada sesuatu yang salah. Namun, saat aku bertanya, ia hanya menyatakan kalau dirinya sedang lelah. Aku memakluminya. Mungkin karena sedang kecapekan setelah terbang dari Jepang ke Indonesia.

Tanpa aku sadari, setelah beberapa lama, sikapnya itu tidak pernah berubah. Bahkan, melalui teman-teman dekatnya, aku baru tahu bahwa Ana tidak seperti yang dulu lagi. Dia tampak begitu tertekan dan seperti orang asing. Semula temannya mengira bahwa ini karena baru saja ia kembali dari Jepang. Sama seperti perkiraanku.

Setiap kali semua orang bertanya, Ana hanya mengatakan bahwa dia sedang lelah. Apalagi akan menghadapi ujian semester. Sebenarnya kami semua tahu itu bukan alasan yang sebenarnya. Kami semua tahu bahwa anak secerdas Ana tidak akan seberat ini dalam menghadapi ujian semester. Pastilah ada sesuatu yang sengaja ia sembunyikan. Sampai detik ini tampaknya tak seorang pun mampu mengungkap keadaan yang sebenarnya menimpa murid teladan ini.

Terlebih, sejauh ini ia masih mampu mengikuti pelajaran dengan baik. Bahkan nilai harian dan ulangannya pun masih sama seperti yang dulu. Selalu ia kerjakan dengan sempurna. Kalaupun ada kesalahan itu masih dalam kewajaran. Sehingga kami semua akhirnya menyerah. Biar waktu yang akan menceritakan rahasia hidupnya itu. Kecuali jika nilainya anjlok, tentu kami semu akan curiga. Dan sebagai pendidik aku akan turun tangan untuk menuntaskan masalah ini.

Mungkin benar apa yang ia katakan. Sedang lelah dan ingin konsen dalam ujian. Apalagi ia akan menjadi utusan sekolah dalam rangka silaturahmi antarbudaya ke Amerika. Mungkin ini juga membuatnya harus banyak referensi supaya bisa beradaptasi dengan baik. Kami semua berpikiran positif. Aku bangga padanya. Walau sejujurnya aku yakin ada sesuatu yang Ana sembunyikan dari kami semua.

Ternyata keyakinanku itu terbukti. Beberapa hari kemudian, seluruh media di negeri ini heboh dengan kasus korupsi yang dilakukan oleh seorang pejabat publik. Dan itu adalah ayah Ana. Aku mendadak gemetar. Ternyata Ana telah mengetahui beberapa saat sebelum ayahnya ditangkap.

Yang aku pikirkan adalah bagaimana jika semua tahu akan hal ini. Mungkin guru akan lebih bisa bersikap dewasa dalam hal ini. Toh, bukan Ana yang melakukannya. Bahkan ia adalah korban dari perbuatan ayahnya. Namun bagaimana dengan teman-temannya?

Kekhawatiranku itu benar-benar terjadi. Keesokan harinya, kami semua dari guru mengambil sikap untuk tidak menyinggung hal ini. Toh kita semua punya hukum yang bisa memberikan keadilan bagi para koruptor. Namun, kami sadar sepenuhnya bahwa kami takkan mampu menahan siswa yang telah mengetahui informasi ini.

Aku hanya bisa memandang perih ketika beberapa teman menjauhi Ana. Kini, gelar Ana bukanlah murid teladan yang mengundang banyak pujian. Namun Ana si anak koruptor yang diiringi dengan cibiran. Keadaan anak ini semakin drop. Aku memanggilnya untuk bicara empat mata.

Aku mengatakan bahwa semua itu adalah cobaan. Toh yang melakukan adalah ayahnya. Dan itu belum terbukti. Karena yang berhak untuk memutuskan adalah pengadilan. Nanti, kalau tidak terbukti maka ayahnya akan mendapatkan rehabilitasi. Nama baiknya akan dibersihkan kembali. Jadi, aku memintanya untuk bersabar. Aku juga memintanya agar dia sabar dalam menghadapi lingkungan teman-temannya yang berubah sikap setelah tahu berita itu.

Ana menangis. Dan jawabannya sangat mengagetkanku. Ia tahu ayahnya memang bersalah. Tamu yang selama ini sering datang ke rumah adalah orang yang menyogok ayahnya untuk sebuah proyek. Dan yang membuatnya langsung drop adalah pembicaraan ayahnya saat menjemputnya dari sekolah setelah ia memenangkan medali emas itu.

Ayahnya berbicara pada seseorang dalam bahasa Inggris. Tentu saja orang di sekitarnya tidak tahu apa yang dibicarakan ayahnya. Namun baginya, semua terdengar begitu jelas dan membuatnya shock. Karena ayahnya memang seorang koruptor!

Itu yang membuatnya merasa sangat terpukul. Tak terbayangkan bahwa ayahnya yang selama ini begitu ia hormati dan ia segani adalah koruptor. Tak terbayangkan olehnya bahwa selama ini ia hidup dibiayai dari hasil merampas harta yang bukan haknya. Namun, semua masih bisa ia tahan. Baru setelah beritanya terbongkar, maka serasa dunia ini runtuh.

Aku tak bisa memahami seperti apa remuk redamnya hati anak ini. Aku hanya bisa mendengarkan curahan isi hatinya yang terdengar menyayat hati. Seorang anak yang cerdas dan taat pada agamanya dihadapkan pada cobaan seperti ini.

Beberapa hari kemudian, kami semua mengetahui bahwa seluruh harta kekayaan ayah Ana disita untuk negara karena bukti sudah sangat kuat. Tentu aku tidak bisa berbuat apa-apa dalam hal ini, saat beberapa guru pun ikut membicarakan hal ini. Aku hanya bisa berdoa semoga anak ini mampu melalui semuanya dengan baik. Aku pernah menyampaikan juga padanya bahwa cobaan itu datang sebagai ujian. Cobaan datang sesuai dengan kemampuan kita dan pasti akan berakhir. Ana menganggukkan kepala.

Namun, setelah itu, aku tidak pernah melihatnya lagi datang ke sekolah. Aku tahu informasinya dari Bapak Kepala Sekolah yang menerangkan bahwa Ana hijrah ke kampung halamannya karena seluruh harta ayahnya disita. Lagi pula suasana di sini sangat tidak mendukung untuk pendidikannya. Sebenarnya Bapak Kepala Sekolah sangat keberatan jika siswa teladan itu harus pindah ke lain tempat. Itu sebuah kehilangan besar bagi sekolah kami. Namun, kami hanya bisa memakluminya. Kami harus merelakan karena kondisi yang memang tidak memungkinkan.

Aku harapkan tempat baru itu bisa mengembalikan keceriaannya. Sampai kapan pun aku tidak akan melupakan hal ini. Semoga ini menjadi yang terbaik buat Ana. Anak yang tidak berdosa tapi menjadi korban akibat perbuatan ayahnya sendiri. Semoga ini bisa menjadi hikmah bagi orang tua dan kita semua

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Shuniyya Yusuf
[2] Pernah tersiar di "Majalah Guruku" No. 04 – Mei 2009

0 Response to "Nasib Anak Koruptor"