Ngarot | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Ngarot Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:02 Rating: 4,5

Ngarot

“LARANGAN, Larangan!” teriak kernet bus sambil bergelantungan di pintu—aku pikir ia lebih mirip monyet di kebon binatang. “Yang merasa Celeng 1, siap-siap!” Ia meludah ke jalan. “Nah, ini dia celengnya,” ujarnya kemudian ketika seorang penumpang berpindah tempat duduk di dekat sopir. “Kirik,”2 umpatnya.

Larangan tak banyak berubah, masih sama seperti tiga tahun yang lalu. Penjual warung makan yang berada di dekat jalan raya juga masih orang yang sama. Orang memanggilnya Yu Darkem. Kalung emasnya yang mencolok dan serentengan gelang di tangannya tak pernah lepas dari tubuhnya. Bibirnya selalu merah oleh gincu, dan setiap kali aku turun di Larangan kulihat senyumnya terkesan dimanis-maniskan. Abang-abang lambe. Dan setiap ada penumpang turun dia berkata: “Mang, mampir-mampir di warungku.”

Lalu sopir angkot—lebih tepatnya pickup yang disulap menjadi angkot dengan menggunakan terpal biru sebagai atapnya—yang sedang tidur di jok kemudinya, seolah-olah tidak membutuhkan penumpang. Sebab angkot ini satu-satunya yang bisa ditumpangi.

Aku masuk ke dalam angkot yang panas. Di dalam angkot hanya dua orang. Aku dan seorang ibu yang sedang meneteki bayinya. Kami hanya diam. Lengang. Inilah yang paling memuakkan. Kami harus menunggu penumpang lain sampai mendapat target. Sementara kami terbengong-bengong mirip kambing yang hendak dijual. Sialnya sopir angkot masih tertidur pulas dengan suara dengkur yang keras sambil bertelanjang dada di jok kemudinya.

Setelah kira-kira satu jam menunggu, ada dua orang masuk ke dalam angkot. Dua-duanya laki-laki bertubuh tegap. Dua laki-laki itu tepat duduk di depanku. Jujur saja aku agak terkejut dengan keberadaan dua laki-laki itu. Rasanya aku pernah mengenalnya. Tapi entah di mana. Dan mata itu, mata laki-laki yang persis berada di depanku, seperti ingin menelanku.

1
Aku memang bajingan. Tapi siapa bajingan yang mau merampok di kampungnya sendiri? Itu goblok. Jadi jika aku baik dengan orang-orang kampungku, itu tak lebih untuk menjaga nama baikku saja. Setidaknya aku bisa dikatakan rampok yang baik hati di kampungku sendiri.

Rasmini memang cantik. Gadis berbokong indah ini sudah aku incar sejak usia dua belas tahun. Mana ada remaja yang tidak suka dengan perempuan berbokong indah dan cantik seperti Rasmini. Kalaupun ada, pasti laki-laki itu tidak normal.

Bunga desa satu ini memang lain dengan bunga desa-bunga desa yang pernah aku coba. Kenapa? Iya, aku memang sudah banyak mencoba gadis desa dari kampung ke kampung. Dari rambut keriting, lurus, kulit kuning langsat, sawo matang, semampai, montok, hingga kurus, semua sudah aku coba.

Satinah. Gadis ini memang luar biasa. Cantiknya benar-benar keparat. Tapi dia mempunyai kakak tentara yang galaknya benar-benar kirik. Tapi upacara Ngarot di kampung Jambak ini benar-benar berkah buatku. Malam itu, berbekal jimat dari Mang Kartijah, aku datang menemuinya. Terus terang sebelumnya kami sudah pernah bertemu. Namun kalian tahu sendiri, kakaknya itu seperti kirik penjaganya saja. Tapi malam ini memang ajaib. Sungguh ajaib, karena aku tidak melihat si kirik keparat itu.

“Waktu kecil aku sering ke sawah sendiri jika aku dimarahi orangtuaku.” Ungkapan cengeng—dan ini menjijikan sebenarnya—semacam inilah yang sering aku katakan pada perempuan-perempuanku sebelum akhirnya aku mengajak mereka ke gubuk tengah sawah. Dan kamu tahulah kenapa perempuan selalu keibuan. Selain itu, berkat jimat dari Mang Kartijah, Satinah menurut dengan apa yang kukatakan.

Malam itu aku berhasil melucuti Satinah. Dia hanya pasrah. Sudah untung aku bisa merayunya. Lebih untung lagi kakaknya tidak mengetahuinya. Menyesal? Dia tidak menyesal. Maka esok harinya dia minta lagi, dan lagi.

2
Pulung guna pulung sari, kata orangtua dulu. Sebab hari ini adalah hari terbesar dan bersejarah dalam hidupku. Aku, si gadis belia bernama Rasmini, terpilih menjadi kesinoman 3 dalam upacara Ngarot. Kesinoman berarti muda-mudi. Persis dengan usiaku yang baru saja menginjak empat belas tahun. Setiap gadis di kampungku tentu saja bangga jika terpilih menjadi kesinoman dalam upacara yang diadakan setahun sekali ini. Dalam upacara ini kami diarak seperti seorang putri raja. Orang-orang akan berduyun-duyun untuk melihat kami, melihatku, sebagai gadis pilihan yang dielu-elukan kesuciannya dan tentu kecantikannya. Sebab salah satu syarat menjadi kesinoman dalam upacara Ngarot ini mesti masih perawan. Sementara laki-laki harus masih perjaka.

Mang Sukri, pemuda yang baik hati. Meskipun beberapa orang mengatakan kalau dia bajingan. Ada yang mengatakan perampok, ada juga yang mengatakan begal. Tapi aku tidak percaya dengan gosip murahan itu. Yang jelas, sekalipun dia tidak pernah membikin ulah di kampungku. Dia laki-laki yang baik dan sopan. Juga murah senyum. Dan upacara ini benar-benar membawa berkah untukku. Rasanya keberuntungan memihakku. Tapi barangkali tidak hanya aku yang mendapatkan kebahagiaan malam ini. Banyak dari teman-temanku juga mendapat kebahagiaan yang serupa. Karena hampir semua yang terpilih di upacara Ngarot, tidak sampai seminggu sudah mendapatkan jodoh.

Kakekku pernah bercerita, kalau upacara Ngarot ini konon awalnya dilakukan oleh seorang tokoh adat yang mempunyai lahan sawah yang sangat luas. Hasil panen sawahnya berlimpah ruah. Rumahnya setiap hari banyak dikerumuni anak muda. Dia orang tua yang murah hati. Seluruh makanan dan minuman dia keluarkan cuma-cuma. Hingga suatu kali dia membuat perkumpulan yang bertujuan untuk mempersatukan anak-anak muda di desanya. Ia memanfaatkan tanah miliknya untuk diolah bersama-sama. Dan ketika menjelang musim pengolahan sawah, ia mengumpulkan anak-anak muda di rumahnya. Mereka berpesta. Lalu setelah musim pengolahan sawah tiba, mereka mengerjakannya secara bergotong-royong.

Begitulah adat ini dilakukan terus-menerus sampai sekarang. Konon katanya kalau ada kesinoman yang sudah tidak perawan lagi, bunga kenanga yang menghiasi kepalanya akan layu seketika.

Konon Desa Lelea pada masa itu masih dalam kekuasaan kerajaan Sumedang Larang, karena itu sampai sekarang bahasa penduduk Lelea di beberapa daerah masih memakai bahasa Sunda lama.

“Heh…” Mang Sukri tiba-tiba mengejutkanku dari belakang. Aku terpaku sebentar. Malam itu wajahnya lebih tampan dari biasanya. Rambutnya berminyak. Kancing baju atasnya sengaja ia buka sehingga tampaklah kalung emasnya. Celana cutbrainya berwarna merah hati. “Aku perhatikan dari tadi kamu mondar-mandir terus, cari siapa?” tanyanya kemudian. Aku masih terpaku memandang wajahnya. Bingung dan tampak tolol.

“Aku hanya jalan-jalan, cari angin,” aku basa-basi.

“Cari angin atau cari laki-laki?”

Aku tersenyum. Saritem mencubit lenganku, lalu dia menatapku dengan pandangan dan senyuman yang aneh.

“Aku duluan, ya? Aku punya janji sama temanku, dia sudah menunggu lama di Balai Desa.”

“Janjian sama Nasir, ya?”

“Mau tahu saja.”

Saritem ngeloyor begitu saja meninggalkan kami berdua.

Malam semakin larut. Pertunjukan wayang kulit sudah mulai. Balai Desa penuh. Orang-orang akan bertahan sampai pagi, sampai cerita wayang tutup lawang sigotaka. Sementara di jalan-jalan beberapa pedagang sudah mulai tutup. Termasuk penjual serabi kepunyaan Mak Sasmi. Serabi kepunyaan Mak Sasmi memang selalu laris. Tidak sampai larut malam, serabinya sudah habis terjual. Ia seorang perempuan yang perkasa. Ia selalu bercerita pada pembelinya kalau semasa gadisnya dia banyak digandrungi laki-laki dan dia sudah menikah empat puluh kali di usianya yang menginjak tujuh puluh enam tahun. Aku selalu suka dengan cerita-ceritanya. Tapi malam ini aku tak sempat mendengar ceritanya yang selalu diulang-ulang itu. Aku hanya melewatinya sambil lalu saat Mang Sukri mengajakku ke pematang sawah.

Dari gubuk tempat kami duduk, aku bisa melihat garis-garis langit yang dibatasi sawah. Angin dari barat menabrak tubuhku. Mang Sukri menangkap tubuhku. Aku kikuk dan bulu kudukku berdiri. Darahku berdesir. Tak lama kemudian ia memandang wajahku, dan entah kenapa aku selalu terpaku jika menatap matanya. Perlahan ia menciumku dan tubuhku tiba-tiba rebah. Malam pun rebah dalam gelap.

Mang Sukri masih terkulai lemas di sampingku. Aku beranjak, memakai pakaianku dan duduk di tepi gubuk. Airmataku kembali menetes untuk kali kedua pada malam itu. Entah kenapa aku menangis, padahal aku menikmati hubungan kami malam itu. Tapi yang jelas tahun depan aku tidak akan terpilih menjadi kesinomandi upacara Ngarot.

Pandanganku menjurus ke arah kampung yang berkelip-kelip lampunya. Dari jauh aku melihat dua orang mendekat ke arahku. Aku tidak tahu siapa mereka. Mereka semakin dekat ke arahku, dan berhenti persis di depanku. “Sukri?” Tanyanya kemudian. Pandangannya ia arahkan ke Mang Sukri, lalu kepadaku. Aku hanya diam memandangi dua laki-laki bertubuh tegap itu. Tak lama setelah laki-laki itu bicara, Mang Sukri terbangun dan terkesiap memandang ke arah kedua laki-laki itu. “Dor! Dor! Dor!!!” Suara tembakan bertubi-tubi mengenai tubuh Mang Sukri yang telanjang bulat. Aku hanya menangis dan takut. Aku tidak bisa berteriak. Bibirku gemetar dan lidahku kaku. “Sebaiknya kamu cepat pulang!” ujar laki-laki yang baru saja menembak Mang Sukri. Sementara laki-laki yang satunya hanya diam. Aku pulang dengan kesedihan yang mendalam. Langkahku gontai. Malam tiba-tiba jadi gelap. Gelap seluruhnya. Bulan jadi pucat. Dan angin seperti menusuk-nusuk tubuhku.


MOBIL ini terus berjalan menuju kampungku. Kampung yang sudah lama aku tinggalkan. Ya, malam itu tak lagi malam yang gemilang untukku. Aku tak lagi tuan putri yang dielu-elukan banyak orang. Aku hanyalah makhluk celaka yang bodoh. Mungkin ini yang dinamakan layangan pegot sing benange.

Tiga tahun yang lalu, aku mengandung bayi Mang Sukri. Mula-mula aku simpan sendiri, tapi lama-lama aku tidak tahan juga. Akhirnya aku katakan pada orangtuaku kalau aku mengandung bayinya Mang Sukri. Kedua orangtuaku tak habis-habisnya memarahiku. “Makanya cari laki-laki yang benar! Rampok kok disukain! Dengerin kalau orangtua ngomong!” Aku tidak mendengar lagi kalimat-kalimat berikutnya. Aku hanya sibuk dengan perasaanku sendiri.

Satu bulan kemudian ayahku mengantarku ke Jakarta. Menyusul pamanku yang waktu itu aku tidak tahu kerjanya apa. Kata ayahku, pamanku bekerja di pabrik. Mereka sudah lima tahun tinggal di Jakarta. Biasanya mereka pulang jika lebaran saja. Setiap lebaran mereka selalu membelikanku baju baru. Mereka sangat baik. Mereka pula yang sibuk mengurus kelahiran anakku. Dan sekarang anakku sudah berumur dua tahun. Orang-orang kampungku tidak ada yang tahu tentang peristiwa ini. Mereka hanya tahu aku ikut bekerja dengan pamanku di Jakarta.

Laki-laki tegap yang duduk di depanku sesekali menatap ke arahku. Kejadian tiga tahun itu terus berkelebatan dalam ingatanku. Musim karungan 4, kata orang-orang kampungku. Ada rasa takut yang menyelimuti sekujur tubuhku. Tubuhku tiba-tiba menjadi lemas. Tapi benarkah…, mobil tiba-tiba berjalan dan mengejutkanku.

Sepanjang jalan, aku melihat sawah yang kelabu dan retak. Di musim kemarau seperti ini kebanyakan dari mereka akan membuang air besar di celah-celah sawah yang retak. Sepanjang jalan aku melihat parit-parit kering, sungai-sungai kering, pohon-pohon kurus dan gersang. Pemandangan di sekitarku berwarna coklat. Coklat kering dan tandus. Seluruhnya.

Mobil berhenti tepat di depan gang menuju rumahku. Begitu aku turun, orang-orang berduyun-duyun menyambutku. Aku jadi teringat ketika aku menjadi kesinoman di upacara Ngarot. Saat orang-orang menyanjungku dengan sejuta pujian. Kini orang-orang itu mulai menyalamiku dengan ucapan yang berlebihan.

“Wah, selamat, selamat, nok ayu, katanya dapat jodoh orang Jakarta ya?” Aku hanya tersenyum tanggung. “Eh, iya, kata ayahmu, kamu sudah punya anak juga ya? Wah, begitu berangkat ke Jakarta langsung sukses. Dapat jodoh, uang banyak, dan sekarang sudah punya anak. Benar-benar berkah. Ini salah satu berkah menjadi kesinoman di upacara Ngarot. Selamat, selamat, nok ayu….”

Yogyakarta, 2012-2018
Catatan:
1 Selain nama hewan sejenis babi hutan, Celeng juga nama Desa di Indramayu.
2 Anjing
3 Pengiring
4 Petrus (penembakan misterius).

Karungan: mayat dimasukkan ke dalam karung dan dibuang di tepi jalan atau sungai.
Pulung guna pulung sari : Datangnya sinar kebahagiaan dalam hidup
Abang-abang lambe : Merah-merah di bibir
Layangan pegot sing benange : Layangan putus dari benangnya


Kedung Darma Romansha kelahiran Indramayu, Jawa Barat, 1984. Kumpulan puisinya Uterus (Gambang Budaya, 2015) dan Masa Lalu Terjatuh ke Dalam Senyumanmu (Merpati Jingga-Malaysia, 2016). Novel terbarunya berjudul Telembuk (Dangdut dan Kisah Cinta yang Keparat), terbit pada 2017. Mengelola komunitas Rumah Kami Yogyakarta.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Kedung Darma Romansha
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Koran Tempo" edisi akhir pekan 20-21 Januari 2018

0 Response to "Ngarot"