Pidato Politik | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Pidato Politik Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 16:02 Rating: 4,5

Pidato Politik

PRASTOWO, sebagai pimpinan partai akan menggelar pidato politik dalam menyambut datangnya tahun politik. Karena Prastowo menjadi tokoh oposisi, pidato politiknya tentu sangat menarik perhatian publik. Semua media pun pasti akan meliput dan menyiarkannya langsung. 

Selama menjadi elite politik, Prastowo dikenal suka menonjolkan sikap yang mengharukan. ”Kalau hanya ingin menyampaikan keluhan, untuk apa menggelar pidato politik? Rakyat sekarang semakin cerdas, sudah mengerti mana keluhan yang mengada-ada dan mana keluhan yang memang layak untuk diutarakan,” tutur tokoh partai anggota koalisi yang mendukung pemerintah dalam wawancara yang disiarkan tv. 

”Mudah-mudahan pidato yang akan disampaikan itu mencerminkan kedewasaan politik, bukan sebaiknya mencerminkan kekanak-kanakan dalam berpolitik,” ujar ketua partai lain yang mendukung pemerintah. 

Dari Istana Negara juga muncul respons negatif terhadap rencana pidato politik yang akan digelar Prastowo. 

”Apa yang perlu disampaikan lewat pidato politik? Keadaan bangsa dan negara saat ini baikbaik saja. Kalau pidato politik itu akan berisi pujian terhadap kinerja pemerintah, itulah yang kami harapkan. Sebaliknya, tentu akan kami sesalkan kalau isi pidato politik justru menghujat pemerintah sehingga berpotensi mengganggu kenyamanan bersama,” tutur Juru Bicara Kepresidenan. 

Prastowo tersenyum ceria menyimak respons sejumlah pihak terkait rencana pidato politik yang akan digelarnya. Dia senang karena banyak pihak memperhatikannya. Itu artinya dia masih populer dan layak untuk maju sebagai calon presiden dalam pilpres mendatang. 

*** 
SEHARI menjelang digelarnya pidato politik, Prastowo menggelar rapat di kantor partainya. Dia meminta jajaran pengurus partai memberikan masukan terbaru untuk dijadikan materi pidato politiknya. 

Tiba-tiba sekretarisnya mengusulkan agar pidato politik diundur satu bulan. Alasannya agar banyak pihak menanti lebih lama, sehingga terjadi diskusi-diskusi di tengah masyarakat yang akan makin memopulerkan nama Prastowo dan partai. 

”Ini saatnya kita meningkatkan popularitas partai tanpa susah payah, cukup dengan menunda pidato politik selama satu bulan.” 

Prastowo setuju. Rencana pidato politik ditunda satu bulan. Ketika penundaan itu disiarkan media, banyak pihak berkomentar macammacam. 

”Prastowo memang sejak dulu mengidap sikap ragu-ragu. Sekarang pun ternyata sikapnya tetap ragu-ragu, sehingga rencana pidato politik saja ditunda satu bulan.” 

”Jangan mengira rakyat bodoh. Rakyat pasti tertawa. Memang lucu kalau rencana pidato politik saja ditunda satu bulan.” 

”Apa jadinya bangsa dan negara ini kalau sampai dipimpin Prastowo? Lha mau pidato politik saja harus ditunda satu bulan? Itu membuktikan dia tak layak jadi pemimpin!” 

Mendengar komentar macam-macam itu, Prastowo sedikit risau dan menyesal telah menunda rencana pidato politik. ”Harusnya tidak ditunda. Tapi aku tidak akan mengubah lagi keputusan. Rencana pidato politik sudah telanjur ditunda,” Prastowo bergumam. 

Namun, tiba-tiba muncul lembaga survei yang merilis hasil survei terbaru tentang respons masyarakat terhadap penundaan rencana pidato politik. 

Hasil survei itu betul-betul memukul Prastowo, karena 99 persen rakyat tidak akan memperhatikan pidato politik yang akan disampaikannya. Hasil survei itu dianggap cukup valid oleh kalangan akademisi yang disampaikan dalam acara talk show di tv. Sedangkan menurut mereka, hasil survei itu bisa menjadi petunjuk untuk melihat peta politik yang sesungguhnya. 

”Dengan melihat 99 persen rakyat tidak akan memperhatikan pidato politik Prastowo, maka kekuatan oposisi tinggal satu persen di negeri ini,” ujar seorang akademisi di acara talkshow. 

Ketika menonton talkshow itu bersama istrinya, Prastowo bersungut-sungut. Istrinya segera mengajaknya masuk kamar. 

”Ayolah kita tidur saja, Pak. Tak usah merisaukan omongan orang di tv. Semua bisa direkayasa oleh pihak yang berkuasa,” ujar istrinya sambil menarik lengannya. Prastowo terpaksa mengikuti istrinya masuk kamar. 

Menit-menit berlalu, Prastowo berbaring di sisi istrinya dengan hati dirundung risau. Muncul keinginan di dalam hatinya agar rencana pidato politik dibatalkan saja. 

Istrinya tampak tak sabar. ”Kalau aku mengajak masuk kamar, bukan seperti ini yang kuharapkan.” 

Prastowo tidak merespons kata-kata istrinya. Dia tetap berbaring dengan lemas. Istrinya segera memejamkan mata setelah mematikan lampu kamar. 

Istrinya tahu, Prastowo tidak punya gairah lagi sebagai suami, kalau sudah merisaukan urusan politik. 

Tiba-tiba Prastowo berujar sambil melepas baju dan memeluk istrinya. ”Ketahuilah, apa isi pidato politik yang akan kusampaikan kepada rakyat: Aku akan mundur dari dunia politik!” 

Istrinya terkejut. Dalam kegelapan kamar, Prastowo betul-betul sangat bergairah... ❑- g 

Kota Wali, 2018 

*) Asmadji As Muchtar. Dekan FIK Universitas Sains Al-Quran Wonosobo Jawa Tengah. Banyak menulis cerpen, esai dan puisi. 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Asmadji As Muchtar
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" edisi Minggu, 14 Januari 2018

0 Response to "Pidato Politik"