Rumah yang Mengasuhku - Dunia yang Rawan dan Penyedih | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Rumah yang Mengasuhku - Dunia yang Rawan dan Penyedih Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:30 Rating: 4,5

Rumah yang Mengasuhku - Dunia yang Rawan dan Penyedih

Rumah yang Mengasuhku

kepada: tsabit, tahya, nahya

1.
kefakiran,
serahkan pada jalan-jalan
apakah diinginkannya kakiku untuk berlalu atau singgah
ke rumah-rumah yang mengasuhku

di warung-warung penggembira
di setiap hati rawan yang menginginkan bualan
bagi pertemuan dan perpisahan
jalan-jalan kebebasan menyambut para tawanan
hatiku yang ditololkan mengingat rumah
tempat aku mengaji dan melatih tungkai kaki

2.
kubawa pulang kelemahan hatiku
ke loloan, rumah yang tegak dalam ucapan
dan keteguhan hati nenek-moyang
menggenggam bara api
ini kelemahan hatiku, ibu
serupa tepung yang getas
buatlah jadi adonan kue ladram jinten hitam
harumnya kemuliaan takbir dan hari lebaran
menjadi hidangan di meja setiap rumah
menyambut orang-orang datang untuk bersalaman
salamun alaikum…
aku mensyukuri kue ladram yang terhidang
di hadapan jiwa-jiwa gembira
mensyukuri setiap gigitan dan kunyahan orang-orang
yang terlerai
dari kebencian dan sakit hati
bahagia membayangkan tangan anak-anak
memasukkannya ke kantong baju mereka
yang selalu berharap fi trah
dalam setiap genggaman dan ucapan
salamun alaikum…

19 Oktober 2015


Dunia yang Rawan dan Penyedih

aku teringat tatapan tiap pasang mata yang jatuh cinta padaku
yang menyakiti dirinya karena mengingkari derita itu

apakah aku punya harapan untukmu,
untuk dunia yang rawan dan penyedih ini?
dunia tidak akan membantuku memahamimu
ia hanya bisa mengganguk atau menggeleng
untuk kebodohan, ketergesaan, kekikiran dan keluhankeluhanku

apa yang kuinginkan darimu?
Sungguh, tak ada yang benar-benar kuinginkan darimu
matahari, bulan, dan guguran daun
tahu ke mana mereka harus pergi
dan burung-burung pulang dengan perut kenyang di
setiap senja *)

apa lalu yang kupunya untukmu?
tak ada sesungguhnya yang kupunya untukmu
duh, mataku
anganan mungkin bisa kubangun dalam sekejap
tapi harapan-harapan itu tidak akan menjadi penjaga
yang baik
bagi kandang ternak kecemasanmu

aku teringat nyala api yang bergolak di tepi jurang itu
aku teringat ketakutanku di bawah langit penuh huruf
yang tak terbaca, tak menjadi kalimat di lidahku
aku teringat pada sang kekasih yang menuntunku
untuk menjauh dari keramaian itu
aku tak ingin cemas
tidak kuinginkan harapan merenggutku
dari terik matahari, cahaya bulan
dan kemuliaan daun-daun yang berguguran

November 2017

Catatan: *) HR Tirmidzi

Nur Wahida Idris, lahir di Ketugtug, Loloan Timur, Negara, 28 April 1976. Buku puisinya Mata Air Akar Pohon. Sekarang tinggal di Bantul, Jogjakarta, mengelola Akar Indonesia dan Komunitas Rumahlebah.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Nur Wahida Idris
[2]Pernah tersiar di surat kabar "Jawa Pos" Minggu 14 Januari 2018

0 Response to "Rumah yang Mengasuhku - Dunia yang Rawan dan Penyedih "