Setelah Berbohong untuk Pamit Tidur | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Setelah Berbohong untuk Pamit Tidur Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 16:46 Rating: 4,5

Setelah Berbohong untuk Pamit Tidur

KEISYA tidak ingat sejak kapan mulai berbohong saat pamit tidur. Itulah ritual yang orang tuanya ajarkan sejak dia kecil, sesaat setelah semua kewajiban sebagai anak dan pelajar ia kerjakan. Yang ia ingat dan yakini, ia mulai berbohong untuk pamit tidur semenjak mengenal pria berkacamata itu di kelas II SMA. 

“Eh, dia baru ya?” bisik Keisya pada teman sebangku waktu perkenalan pertama kala itu. 

Sebelum mengenal pria itu, pamit tidur merupakan kegiatan menyenangkan. Setelah lelah atas rutinitas, Keisya akan mengakhiri hari dengan meminum segelas susu, mencium tangan Mama, meninju perut buncit Papa, dan dengan mata sayu berkata, “Keisya pamit tidur dulu ya, Ma, Pa.” 

Setelah mengenal pria berkacamata itu, ritual pamit tidur selalu menjadi kebohongan gadis berparas cantik, berkaki jenjang, dan berambut panjang itu. Hingga Keisya pernah meminta pada Tuhan agar menghapus malam, karena menganggap waktu yang manusia gunakan untuk tidur tidak pernah lagi membiarkan dia beristirahat dengan tenang.

Seperti malam-malam sebelumnya, Keisya menjatuhkan diri di atas kasur tanpa ranjang yang tak lagi empuk. Keisya menggiring badan pada lelah dan mengajak pejam menyambangi mata. 

“Ah! Lagi, bayanganmu datang lagi.” 

Siswi salah satu sekolah terkemuka di Semarang itu mengubah posisi tidur dari telentang ke miring. Menyalakan telepon genggam, membuka galeri dan memandang wajah laki-laki yang muncul di layar. Hanya sekilas. Kembali menekan tombol lock. Keisya tak pernah tahan lama-lama memandang foto pria itu. 

“Aku harus bagaimana?” 

Tubuh gadis itu kembali telentang. Gadis yang memiliki bulu mata lentik itu kembali terpejam. Menangis tanpa suara. Hanya linangan air mata sebagai pertanda. Begitu banyak pertanyaan membebani batin dan pikir gadis yang esok nanti resmi meninggalkan seragam putih abu-abu itu. Pertanyaan yang selalu ia awali dengan kata kenapa.

“Kenapa kau harus memiliki karakter semacam itu?” batin Keisya, mengingat kembali saat perkenalan pertama di kelas. Keisya sadar, pria itu begitu periang dan menyenangkan.

“Perkenalkan nama saya Adi Anggoro. Ingat, Anggoro, bukan Anggora. Saya masih nyaman dianggap manusia. Belum berminat menjadi kucing. Ha-ha-ha.” 

Waktu itu sebagian besar siswa di kelas tertawa lepas, termasuk Keisya. Seiring perguliran waktu, Keisya tahu perkenalan itu tak hanya melepas tawa, tetapi juga hatinya. 

“Kenapa kau harus begitu pandai merangkai kata?” ujar Keisya dalam hati. 

Kata dan kalimat mengalir begitu saja dari otaknya, saling terhubung, menyatu, memuara menjadi lautan puisi, prosa, dan karya sastra dalam bentuk lain. Aneh, walau berkesan serampangan, semua karya yang ia ciptakan selalu indah.

Namaku rindu
aku lahir dari jarak
ajalku oleh pertemuan
makamku di peraduan.

Keisya masih begitu ingat puisi indah berjudul “Biografi Rindu” dari pria berkacamata itu. 

“Kenapa kau harus begitu hebat dalam bersahabat?” Itu pertanyaan selanjutnya. Laki-laki itu sangat pandai bersikap. Menjadi sahabat semua orang. Semua murid sekolah Keisya mengenalnya. Bertutur sapa dan berbincang dengan pria berkumis tipis itu merupakan pengalaman menyejukkan. Dia selalu menjadi pendengar yang baik untuk orang yang membutuhkan telinga. 

Ramah kepada siapa pun. Senyumnya selalu terpasang di wajah, seakan hanya itu ekspresi yang dia miliki. Tak hanya siswa, guru, atau pegawai tata usaha. Kepala Sekolah yang terkenal sangat ganas pun pernah menepuk bahunya sambil tertawa. 

Keisya beranjak, yakin matanya tak akan terpejam bila gagal mengendalikan emosi malam ini. Kaki jenjang dalam kamar 4 x 4 meter itu melangkah mendekat dan berhenti di depan meja rias. Di dalam cermin ia menemukan mata yang sembap dan layu. 

“Hei, besok perayaan kelulusan kelas XII. Kau harus gembira,” perintah Keisya pada sosok dalam cermin. Keisya mengalihkan pandangan ke pintu. Di sana tergantung gaun berwarna hitam yang akan ia pakai besok pagi. 

“Kau pasti terlihat memukau memakai ini, Sya,” kata mamanya minggu lalu di butik langganan keluarga. 

“Warna hitam yang berbanding terbalik dengan kulitmu justru akan membuatmu makin bersinar,” ujar wanita separuh baya pemilik butik itu memberikan argumentasi agar Keisya mengiyakan gaun pilihan mamanya.

Gadis berambut tebal, panjang, dan hitam itu berusaha membayangkan betapa cantik ia esok pagi. Namun gagal. Keisya tak tahu harus memasang ekspresi macam apa ketika tiba pada acara perpisahan nanti. Yang pasti akan sangat sulit bagi dia membacakan pidato perpisahan sebagai wakil kelas XII, walaupun sudah memegang teks. 

“Mana mungkin aku bisa membaca pidato dengan baik jika apa yang kubaca berlawanan dengan keinginan hatiku?” ratap dia. Kembali dia memandang wajah sedih dalam cermin. 

Keisya terpilih mewakili kelas XII membacakan pidato perpisahan bukan tanpa sebab. Ia sadar predikatnya sebagai juara lomba pidato tingkat pelajar se-Kota Semarang tahun lalu. 

“Kei, saat perpisahan nanti kamu membuat naskah pidatomu kan?” tanya pembina OSIS itu, tanpa menanyakan kesediaan Keisya terlebih dulu. 

“Eh, nanti yang membacakan siapa, Pak?” 

“Kamu dong. Siapa lagi?” 

“Saya buat saja, Pak. Nanti tolong Bapak koreksi ya?” 

“Iya. Sip,” Pak Anggoro berkata sembari mengacungkan ibu jari dan segera berlalu.

Huh! Kalau bukan karena semangat menemani dalam setiap latihanku, aku tak akan memiliki kesempatan berdiri di podium juara tahun lalu. Keisya mengingat kembali bagaimana pria berkacamata dan senyum indah itu menemani dia berlatih pidato. 

“Kei, kamu punya warna suara bagus. Kamu juga paham bagaimana mengolah vokal. Aku yakin, tak ada siswa lain di kota ini yang akan menjadi juara pada lomba pidato minggu depan.” 

Hanya senyum yang saat itu Keisya lontarkan untuk membalas pernyataan pria itu. Keisya mengurai kembali setiap kenangan dua tahun terakhir di sekolah menengah. Keisya menyadari, pada setiap helaan napas dalam atmosfer gedung bernama sekolah, pria itu telah menjadi oksigen bagi dia. 

“Kenapa harus kamu yang memiliki semua itu?” Pertanyaan itu kerap terulang dalam batin Keisya. Pertanyaan yang selalu muncul dalam setiap kesendirian setelah berbohong untuk pamit tidur. Sudah dua jam setelah Keisya berbohong untuk pamit tidur. 

Sudah banyak pula pergantian posisi dan tempat ia lalui. Telentang di atas kasur, tidur miring di atas kasur, duduk di pinggir kasur, duduk di kursi depan meja rias, duduk di meja rias, dan yang menjadi pilihan terakhir ia akan duduk membenamkan tangis di sela kedua lutut yang ia peluk. 

“Jika saja semua karakter yang kau miliki itu milik orang lain, tentu aku tak akan sejatuh cinta ini padamu,” bisik Keisya pada kedua lutut. Dia menganggap kedua bagian tubuhnya itu memiliki mulut. Mengharap keduanya memberi sahut. 

“Malam ini, aku tak bisa tidur lagi. Aku bohong lagi,” Keisya masih berbisik pada kedua lutut. Bagian tubuh yang paling dekat dengan mulut. 

“Kenapa semua yang kuharapkan dari seorang laki-laki harus kau yang memiliki? Seorang guru bahasa Indonesia yang sudah beristri.” Keisya masih bergumam pada lutut. Kakinya yang menekuk makin erat dia peluk.(44)

* Puisi “Biografi Rindu” saya pinjam dari sang penulis, Danang Cahya Firmansyah.

- Fahmi Abdillah, alumnus Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang, guru Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Semarang.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Fahmi Abdillah
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" edisi Minggu 28 Januari 2018

0 Response to "Setelah Berbohong untuk Pamit Tidur"