Surat untuk Anak Perempuanku | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Surat untuk Anak Perempuanku Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 10:28 Rating: 4,5

Surat untuk Anak Perempuanku

SAAT aku menulis surat ini, seorang istri di Bali sedang kesakitan karena kakinya ditebas dengan parang hingga putus oleh suaminya sendiri. Alasannya, hanya karena cemburu. Seorang perempuan lain di Tangerang menanggung malu karena ditelanjangi, dipukuli, dan dibawa berkeliling oleh warga akibat dituduh berbuat mesum dengan pasangannya sendiri. Perempuan 14 tahun di Kendari diperkosa bergilir oleh 14 laki-laki. Perempuan lain di Jakarta, dihujat karena keputusannya melepas jilbab. Tiba-tiba saja aku berpikir untuk menulis surat untukmu. Jika aku tak berumur panjang dan tak sempat melihatmu setelah kau lahir, setidaknya aku punya sesuatu yang bisa kuceritakan, melalui surat ini.

SEBELUMNYA aku ingin menyampaikan bahwa aku bersyukur mengetahui bahwa bayi yang kukandung berjenis kelamin perempuan. Bertahun-tahun sebelum aku mengandungmu, teknologi sudah memungkinkan para orangtua mengetahui jenis kelamin anak mereka sebelum mereka lahir. Aku yang sejak dulu menginginkan anak perempuan, memanfaatkan teknologi ini untuk segera mengetahui jenis kelaminmu. Tapi di malam-malam menjelang kelahiranmu aku justru khawatir dengan masa depanmu. Apalagi, jika aku sampai tak sempat melihatmu sejak kau dilahirkan. Sebagai ibu, apa bekal yang bisa kuberikan untukmu menjalani kehidupan? 

Aku tak akan menyebut diriku sendiri dengan ibu, mama, bunda, umi, atau apa pun sebutan yang mungkin akan kau sebutkan untukku. Kau boleh memanggilku dengan apa saja, selama kau menyayangi dan menghormatiku dari hatimu sendiri. Maka di surat ini aku lebih nyaman menyebut diriku dengan aku. Semoga kau nyaman dengan komunikasi kita ini. Dan aku akan memanggilmu dengan inisial dari nama yang telah kusiapkan untukmu. Kau bahkan boleh mengganti namamu jika kau mau.

R, seperti yang kusebutkan di awal surat, aku menulis surat ini sambil menanti kelahiranmu, di usiaku yang sudah 29 tahun. Usia yang rentan ditanya kapan menikah kalau aku melanjutkan hidup di Indonesia. Dan aku meminta ibuku untuk memberikan surat ini saat kau berusia 17 tahun, dengan harapan kau sudah beranjak dewasa (bukan sekadar tumbuh besar) dan bisa mengerti apa yang hendak kusampaikan. Mungkin kasus-kasus yang kusampaikan di awal surat sudah lewat 17 tahun, tetapi sangat mungkin terulang kepada perempuan lain.

Berdasarkan survei pengalaman hidup perempuan tahun 2016 yang dilakukan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, satu dari tiga perempuan usia 15-64 tahun, atau sekitar 28 juta orang, pernah mengalami kekerasan fisik atau seksual. Total jumlah kekerasan terhadap perempuan sepanjang tahun 2016 berdasarkan catatan tahunan Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) sebanyak 259.150 kasus. Sebanyak 245.548 kasus diperoleh dari 358 Pengadilan Agama dan 13.602 kasus yang ditangani oleh 233 lembaga mitra pengadaan layanan yang tersebar di 34 provinsi. Dengan kecanggihan teknologi di zamanmu, kau pasti bisa menelusuri sendiri perkembangan kekerasan terhadap perempuan di negeri ini dan angkanya di tahun saat kau membaca surat ini. Kau juga bisa mencari arsip-arsip lama tentang kekerasan terhadap perempuan jika kau berminat.

Aku tak hendak menakutimu yang telanjur terlahir sebagai perempuan. Surat ini hanya ingin membuka matamu bahwa tidak mudah menjadi perempuan di negeri dengan riwayat kekerasan yang tinggi ini. Aku hanya ingin memberimu gambaran mengapa kekerasan bisa terjadi terjadi terhadap perempuan.

Salah satunya akibat patriarki. Patriarki adalah sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai pemegang kekuasaan utama dan mendominasi dalam peran kepemimpinan politik, otoritas moral, hak sosial, dan penguasaan properti. Dalam keluarga, patriarki menempatkan sosok ayah sebagai sosok yang memiliki otoritas terhadap istri, anak, dan harta benda. Aku lahir di keluarga yang kental dengan patriarki. Ayahku (kakekmu) adalah seorang yang mendominasi semua hal yang terjadi di dalam rumah. Anak perempuan sepertiku harus belajar mengurus rumah dan melayani ayah dan saudara-saudara laki-lakiku. Sementara anak laki-laki bisa terbebas dari hal-hal remeh seperti mencuci piring atau pakaian sendiri. Aku, anak perempuan satu-satunya di rumah itu yang harus mengurusi itu. Padahal menurutku anak lelaki pun harus bisa mengurus urusan domestik karena mereka juga kelak akan jadi suami dan ayah. Kalaupun tidak, mereka juga kelak akan hidup berpisah dari orangtua dan harus bisa mengurus diri sendiri, bukan?

Kau mungkin bingung bagaimana patriarki bisa melahirkan kekerasan? Aku dipukuli ayahku karena pulang setelah magrib dan tanpa izinnya. Ia menganggap anak perempuan harus berada di rumah sebelum magrib dan harus minta izin ke mana pun hendak pergi. Sementara saudara-saudara laki-lakiku bebas pergi ke mana saja hingga larut malam.

Dalam hal pendidikan, mereka anak-anak laki-laki didahulukan sebab mereka harus menjadi ‘orang’ di masa depan dan akan menafkahi istri serta anak-anak, sementara aku harus fokus mengurus dapur dan sumur, sebelum nanti melayani suamiku di kasur. Kau bisa melihat bagaimana patriarki bisa menciptakan ketidakdilan terhadap perempuan? Ini baru di sebuah keluarga kecil. Belum lagi kalau kita bicara negara. Kuota 30 persen di parlemen saja hingga surat ini kutulis, masih belum terpenuhi. Di beberapa kota di Indonesia, perempuan masih sulit menjadi pemimpin karena terganjal dominasi agama tertentu yang mengharamkan perempuan menjadi pemimpin.

Aku kabur dari rumah setelah menamatkan SMA. Tepatnya mendapat beasiswa untuk kuliah di luar negeri. Aku katakan kabur karena ayahku tidak setuju aku ke luar negeri untuk sekolah (padahal ia tak perlu repot-repot membiayaiku). Ibuku (nenekmu) membantuku mengurus surat-surat penting yang harus kuurus untuk kepergianku ke negeri orang. Aku berhasil kabur dan tak pernah kembali lagi ke Indonesia. Aku menamatkan pendidikan S1 dan S2 di California, Amerika Serikat, dari beasiswa. Lalu aku menjadi dosen di almamaterku. Singkat cerita, aku bertemu dengan ayah biologismu dan kami berhubungan selama dua tahun sampai akhirnya aku hamil tanpa menikah. Hubungan kami masih baik-baik saja sampai suatu hari ia cemburu pada profesorku di kampus dan meninggalkanku yang hamil tua karena menuduh anak yang kukandung bukan anaknya.

Aku memutuskan untuk tetap melahirkanmu tanpa memberitahukan tentang kehamilanku kepada orangtuaku. Aku sudah tahu pasti aku yang akan disalahkan atas semua ini. Aku sudah membayangkan bagaimana kemarahan ayahku dan bagaimana tetangga-tetangga akan menilaiku yang dianggap bergaul bebas di negeri orang hingga hamil di luar nikah. Prestasiku yang lulus S2 karena beasiswa di California akan dilupakan begitu saja dan aku akan diingat sebagai perempuan tak bermoral. Tetapi menjelang kelahiranmu, aku akhirnya memberitahukan kehamilanku kepada ibuku dan memintanya menemaniku di rumah sakit. Entah bagaimana caranya ia bisa tiba di California. Ia sedang tertidur di sofa di kamarku saat aku menulis surat ini.

Semoga kau bisa mengerti apa yang telah kusampaikan ini. Kau mungkin akan mencari tahu siapa ayahmu, tapi mungkin juga tidak. Kau juga mungkin akan membenci laki-laki setelah menyimak ceritaku. Apalagi kau dibawa ibuku kembali ke Indonesia dan mungkin kau akan tinggal di rumahku bersama kakekmu, sang penganut patriarki sejati. Tapi perlu kukatakan kepadamu bahwa tidak semua laki-laki jahat. Perempuan juga bisa jahat kepada laki-laki. Kekerasan dalam rumah tangga juga bisa dilakukan perempuan kepada suaminya.

Perempuan juga bisa menyakiti sesama perempuan. Contohnya perempuan-perempuan yang menghujat pilihan seorang presenter perempuan yang memutuskan untuk melepas jilbabnya, yang sudah kusebutkan di awal tulisan ini. Sesama perempuan bisa saling menghujat hanya karena perbedaan pilihan hidup. Kubu ibu bekerja sering berseteru dengan ibu rumah tangga. Ada yang menganggap menjadi ibu rumah tangga lebih mulia ketimbang mengejar karier karena dianggap egois. Ibu yang memberi ASI eksklusif juga berseteru dengan ibu yang memberi susu formula kepada bayi mereka. Kau juga mungkin akan mendengar perempuan-perempuan tetangga yang menghujat namaku meski aku telah tiada.

Aku tak ingin kau menjadi korban kekerasan, juga tidak ingin kau menjadi pelakunya. Kekerasan bisa berbentuk fisik dan non fisik, R. Kekerasan fisik adalah kekerasan yang bisa dilihat kasatmata, seperti menampar, memukul, menendang, hingga menebas anggota tubuh, seperti yang dilakukan suami kepada istrinya (sudah kusebutkan di awal surat ini). Selain itu, ada pula kekerasan nonfisik, yang terbagi menjadi dua, yakni verbal dan psikologis. Kekerasan verbal bisa berupa memaki, membentak, menjuluki, menghina, memfitnah, menghujat. Seperti yang dialami presenter perempuan yang melepas jilbab dan dihujat atas pilihannya (yang juga kusebutkan di awal surat).

Sedangkan kekerasan psikologis bisa berupa mengucilkan, mengancam, mendiamkan, yang dilakukan melalui bahasa tubuh. Perempuan yang ditelanjangi dan dipukul warga karena ketahuan berbuat mesum dengan kekasihnya di Tangerang mengalami kekerasan fisik dan verbal sekaligus. Tetapi kau juga bisa membayangkan bagaimana kondisi psikologisnya setelah menerima penghinaan itu. Ia digerebek karena pilihannya melakukan hubungan seksual dengan kekasihnya sendiri, sementara di tempat lain orang membiarkan kekerasan fisik dan seksual terjadi di dalam rumah tangga karena merasa itu bukan urusan mereka. Laki-laki berhak melakukan apa pun atas tubuh perempuan karena dia suaminya sehingga tetangga tak perlu ikut campur.

Aku lebih tidak bisa membayangkan bagaimana kondisi fisik dan psikologis korban pemerkosaan yang dilakukan 14 laki-laki sekaligus. Satu laki-laki saja bisa meninggalkan trauma seumur hidup. Bagaimana dengan 14?

Kau harus menjaga dirimu agar tidak menjadi korban kekerasan, juga sekaligus tidak menjadi pelakunya. Apa yang perlu kau lakukan? Kau harus menjaga keamananmu sekaligus menjaga keamanan orang lain. Belajarlah ilmu bela diri untuk menjaga dirimu sendiri, tetapi jangan gunakan untuk mengintimidasi orang lain. Kau juga harus ingat bahwa tubuhmu adalah otoritasmu. Kau boleh melakukan apa pun terhadap tubuhmu, jika kau mau. Tapi kau harus melakukan itu atas pertimbanganmu sendiri, mengerti konsekuensinya dan siap menerima risiko yang mengikutinya. Jangan biarkan orang lain menyentuh bagian tubuhmu tanpa izinmu. Kau juga tak boleh menyentuh bagian tubuh orang lain tanpa izin mereka.

Kau harus menjaga kenyamananmu sekaligus menjaga kenyamanan orang lain. Jika kau tak suka dihujat, maka jangan menghujat orang lain. Jika kau ingin pilihan hidupmu dihargai orang lain, maka kau harus menghargai pilihan hidup orang lain. Jika kau tak ingin disakiti, jangan menyakiti orang lain. Namun, jika kau sudah berusaha semaksimal mungkin untuk tidak menyakiti orang lain, tetapi malah kau disakiti orang lain, tempuhlah jalur yang benar untuk menghadapinya. Bunuh mereka dengan kebaikanmu, atau tempuh jalur hukum jika itu sudah melanggar hukum. Bisa saja kau pesimis dengan hukum di Indonesia, tetapi mencari keadilan dengan caramu sendiri juga belum tentu memecahkan masalah.

Pada akhirnya, yang bisa kulakukan adalah memberimu bekal untuk menjadi manusia yang menghargai kemanusiaan. Kita melawan dominasi laki-laki bukan untuk mengubahnya menjadi dominasi perempuan, tetapi untuk membuat lelaki dan perempuan di posisi setara sebagai sesama manusia. Baik laki-laki maupun perempuan tidak boleh melakukan kekerasan dalam bentuk apa pun terhadap laki-laki dan perempuan lain. Aku yakin kau tumbuh menjadi anak yang cerdas dan mengerti apa yang kusampaikan.

Aku menyayangimu, R.

Tenni Purwanti, lahir 2 Mei 1986. Berprofesi sebagai wartawan sejak tahun 2011 hingga sekarang. Pernah menerbitkan kumpulan cerpen bertajuk Luka (2010) secara selfpublishing. Cerpennya pertama kali masuk dalam buku Cerpen Pilihan Kompas 2014.

Nyoman Sani, perupa kelahiran Sanur, 10 Agustus 1975. Karya-karya alumnus ISI Denpasar ini banyak mengeksplorasi dunia perempuan berikut kondisi psikologis yang selalu membayangi kaum ini. Selalu ada upaya melawan dunia patriarki.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Tenni Purwanti
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" edisi Minggu 14 Januari 2018

0 Response to "Surat untuk Anak Perempuanku"