Talang Tegajul | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Talang Tegajul Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 15:48 Rating: 4,5

Talang Tegajul

DI batang luka ia hidup. Dari parut yang menyimpan perih. Kesunyian medang. Kesepian yang membuat diri kukuh sebagai si tua yang lekang pada setia. Pada tanah hitam—tempat sulur beribu akar. Tak ada gelap secantik Talang Tegajul.

Way Tenong, bukit-bukitnya mirip bahu perempuan sebelum matahari terbit. Puncak hijau segala pohon. Tempat daun dan ranting bercengkerama demi tunas-tunas tumbuh. Gaharu semula tempat bertengger para codot yang kekenyangan. Medang, meranti, nyiur, sebagai pohon harapan.

Bagi Radin Alam tak ada bedanya. Hutan Talang Tegajul adalah peradaban yang tak boleh musnah. Agui1, rupanya cita-cita keburu dilalap api. Pohon-pohon menjerit. Hutan musnah. Tunggul buruk berserak di atas jutaan hektare tanah. Dan, orang-orang kampung yang dulu setia saban pagi menekuri setapak jalanan, memikul bertandan pisang, kelapa, telah kehilangan rupa. Tanah adat tergadai oleh ambisi dan nafsu yang setiap hari tumbuh subur memenuhi dada. Tak ada lagi setia menziarahi tanah leluhur.

Petaka menghapus semua. Kejayaan Pekon2 Tambak Jaya. Dusun yang dihuni 53 KK termasuk Radin Alam sebagai kepala dusun. Way Tenong berada di lembah kaki bukit Talang Tegajul; rimba perawan yang diperkirakan luasnya 315 Ha. Hutan perbukitan yang terjaga karena hukum adat. Siapa pun yang terlahir membawa marga Way Tenong berhak menguasai dan menikmati hasil hutan dan kehidupan di dalamnya tanpa harus merusak.

Kekayaan hutan Talang Tegajul begitu magis. Tanah hitam yang subur menumbuhkan senya wa hidup bagi jutaan pepohonan yang dibutuhkan warga. Kami makan dari tetumbuhan yang tak meminta balas. Kami minum dari rahim tebing yang melahirkan ribuan mata air, meleleh, dan pecah, sebagai sungai di lembah Way Besai.

“Aku tidak percaya lagi padamu, Radin!”

“Ya! Istrimu hanya tinggal makam. Untuk apa kami percaya dengan orang yang sudah mati. Kami lebih percaya pada orang kota itu.”

Halaman rumah Radin sesak oleh gemuruh amarah. Puluhan orang laki-laki dan wanita berdiri dengan muka tengadah ke rumah panggung tempat Radin tinggal bersama dua anak lelaki dan menantunya.

Mereka menuntut Radin tidak memengaruhi warga yang ingin membuka rimba Talang Tegajul. Seminggu sebelumnya, Rapidin datang menemuinya menuturkan niat yang sama. Merayu Radin Alam agar mau menggerakkan orang-orang desa memugar rimba Talang Tegajul menjadi areal perkebunan kopi. Katanya, soal bibit kopi, sudah ada pihak tertentu yang akan menanggungnya. Nanti keuntungan hasil panen kopi akan dibagi dua. Radin menolak. Baginya, hukum adat tak bisa diusik oleh alasan apa pun.

“Radin! Hutan ini tidak memberikan banyak pilihan buat kita! Tidakkah kau lihat orang-orang di Pekon Suoh itu? Mereka berani membuka hutan di sebelah utara dan menanam tanahnya dengan ribuan pohon kelapa sawit?”

“Tapi sebagian tanah di sana sudah dikuasai orang asing. Sekarang ini rakyat cuma jadi petani penggarap. Itukah yang kalian mau?”

“Setiap orang berhak untuk menjual tanah mereka. Buktinya mereka yang sudah menjual tanah bisa hidup kaya di kota!”

“Terserah pendapatmu. Tapi aku tidak akan bergeser sejengkal pun dari tanah moyangku ini.”

Rupanya Rapidin tak kehabisan akal. Kali ini ia datang bersama puluhan warga untuk menentang Radin Alam.

***
“RAPIDIN! Aku tidak gentar dengan rencana busukmu itu. Kau dan pengikutmu bisa saja meng habisiku berikut anak dan cucuku. Tapi kau tidak boleh lupa riwayat tanah yang kita pijak ini, keluargaku sebagai keturunan tertua dari marga Way Tenong. Maka setiap ucapanku adalah lelaku seluruh rakyat di sini!” Tanpa gentar sedikit pun Radin Alam menuruni tangga dari rumah panggung miliknya. Dua anak lelakinya menatap cemas di belakang.

Jarak Radin Alam dan Rapidin terhalang rerimbun bunga asoka. Rumput-rumput yang terpijak kaki-kaki seperti terkejut. Puluhan burung di pohon kersen melesat ke pohon-pohon lain yang memberi lebih rasa aman.

“Kau bukan siapa-siapa tanpa Holati. Kau hanya orang asing yang menikahi wanita berdarah bangsawan. Dang cawoh 3 juluk adok 4 bila piil–pusanggiri 5 tak bisa kau tunaikan sebagai ulun lampung 6!” Rapidin melepas songkoknya. Dilemparnya benda itu ke dekat kaki Radin Alam. Berdesir darah Radin Alam. Songkok pemberiannya puluhan tahun silam tanda persahabatan dan persaudaraan. 

Pernah, di suatu masa, dua laki-laki itu terjebak di pusaran api ketika hutan di bagian utara terbakar. Sekelompok orang sengaja melakukannya. Hutan yang diklaim milik penduduk Pekon Suoh. Rapidin dan Radin Alam bahu-membahu bersama warga Tambak Jaya memadamkan api. Kalau mereka tak cepat bertindak maka ikut habislah hutan Talang Tegajul.

Diberikannya songkok dari ayah mertuanya, Sutan Rahmad, sebagai penghargaan karena kecintaannya menjaga hutan rakyat. Konon kakek moyang mereka merupakan orang pertama yang mendiami wilayah itu. Maka itikad memberi songkok pada Rapidin sebuah keputusan yang tepat. Ia berani memertaruhkan nyawa dan hidupnya demi hutan yang telah di keramatkan. Pada orang-orang berjiwa seperti Rapidin, Radin Alam meletakkan harapan.

Tetapi cinta saja tak cukup rupanya. Rapidin bukan lagi lelaki polos dengan mimpi sederhana, sejak menikahi gadis dari Pekon Suoh. Ia bukan lagi sebatang medang yang tumbuh kokoh menjulang. Rapidin kini mirip tanaman perdu yang bergerak liar mencari tempat tumbuh.

“Abah! Abah! Kata Emak cepat pulang! Adik muntah-muntah lagi,” tiba-tiba seorang remaja berwajah mirip Rapidin muncul di tengah perdebatan. Seketika Rapidin mengikuti langkah anak lelakinya. Begitu pula puluhan orang yang menyertainya.

Halaman rumah lengang.

***
RADIN terus bersiaga. Siang malam dipeluknya hutan. Bersama orang-orang pilihan dari Desa Way Tenong. Tentu mereka yang pandai menjaga setia. Tidak mendirikan gubuk, tenda, sebagai rumah berjaga. Tetapi hidup di pucuk-pucuk gaharu dan meranti. Sesekali ke dua anak lelakinya datang bergantian membawakan makanan.

“Anak Rapidin meninggal, Abah,” anaknya memberi tahu.

Radin Alam terkesima. Hampir sebulan berjaga-jaga di tengah belantara Talang Tegajul, semua tampak tenang. Semak belukar dan pepohonan geming. Tak ada jerit gelisah dan ketakutan dari para hewan. Rusa, menjangan, masih riang melompat dan berkejaran di antara rebahan dahan tumbang dan sulur akar beringin. Tak ada tanda-tanda seperti yang dicemaskan selama ini.

***
RADIN Alam kembali. Pekon Tambak Jaya menyambut kedatangannya dengan kabar duka. Tidak hanya anak bungsu Rapidin yang tewas. Dua hari kemudian dua balita juga meninggal. Awalnya musibah itu diyakini sebagai takdir dari Sang Pencipta. Ada pula yang beranggapan bahwa arwah puyang 7 penjaga hutan Talang Tegajul sedang marah. Karena memang musibah itu terjadi setelah Rapidin berniat merambah hutan adat.

“Aku tidak percaya hal itu,” tegas Radin Alam.

Hari itu ia mengumpulkan warga untuk berdiskusi. Diajaknya orang-orang ke tepian Sungai Way Besai. Sungai dengan debit air yang mulai keruh. Kemarau panjang telah merenggut keperkasaan arus Way Besai. Sungai yang memisahkan antara Pekon Suoh dan Pekon Tambak Jaya. Namun sudah lama masyarakat Tambak Jaya sepenuhnya mengandalkan air sungai sebagai keperluan hidup.

“Aku yakin air sungai ini penyebabnya. Jadi bukan karena arwah puyang atau hutan Talang Tegajul yang mengirim petaka.”

“Ya. Aku yakin juga begitu. Sebelum anak Rapidin mati, awalnya sering muntah-muntah dan buang air,” sahut warga.

“Bertahun-tahun kita mandi dan minum dari sini. Tidak ada masalah. Apalagi sebabnya kalau bukan kutukan roh nenek moyang?” tandas yang lain.

“Sudahlah. Berdebat kosong tidak ada gunanya. Kubawa kalian ke sini untuk rencana membuat sumur. Kita bisa melakukannya sendiri atau bersama-sama. Terserah keinginan kalian semua!”

Hari itu seluruh warga sepakat membuat sumur bersama. Hanya Rapidin dan sejumlah orang setianya yang tidak terlihat dalam kegiatan tersebut. Seminggu setelah itu orang-orang desa tidak lagi menggunakan air Way Besai untuk keperluan memasak.

Sebelum fajar tiba, Radin sudah didatangi warga yang mengabarkan musibah kembali merenggut nyawa penduduk. Empat orang meninggal dalam waktu hampir bersamaan. Sebelum meregang nyawa, mereka mengalami muntah-muntah dan buang air.

“Tidak usah ke sana, Radin!” Syukri yang membawa kabar itu mengingatkan Radin Alam. “Aku mohon sekali ini kau dengar aku.”

“Betul, Abah. Sejak kematian anaknya Rapidin semakin terang-terangan menghasut warga.”

Kepala Radin Alam mengangguk-angguk. Senyum simpul. Membayangkan Rapidin sedang menggonggong di depan wajah orang-orang yang berduka. Maka bukan Radin Alam jika ia gentar menghadapi Rapidin. Puluhan tahun ia telah mengenal orang-orang di desanya. Wabah ini bisa saja penyebabnya hasil rekayasa seseorang. Bisa pula karena pola hidup yang tidak sehat penduduknya. Namun kemiskinan bukan untuk ditukar dengan kekayaan yang mengorbankan sumber daya alam.

***
MALAM merah muncul dengan tiba-tiba. Lidah api bergerak liar menghanguskan rumah-rumah dan pepohonan. Keheningan berubah menjadi pekik histeris orang-orang yang berlarian menyelamatkan diri.

Syukri tergesa-gesa mendatangi rumah Radin Alam. Sungguh tak ada yang bisa ditemukannya lagi, kecuali kobaran api dan bangunan rumah yang satu per satu ambruk. Tubuh Syukri jatuh ke tanah. Air matanya berderaian. Rasa sedih dan tidak percaya memenuhi pikirannya.

Sore tadi Radin Alam menangis ketika diberi tahu bahwa Rapidin telah meninggalkan desa. Sebagai orang yang sudah dikhianati seharusnya ia bergembira. Tetapi tidak pada kejadian yang dilihatnya. Radin Alam terus menangis. Berkisah tentang kenangan masa kecilnya bersama Rapidin.

“Hei, apa yang kau sedihkan, Syukri?” suara Rapidin menyentak lamunannya. “Tugasmu belum selesai, Kawan, ayo kerja lagi!”

Di bawah ancaman pedang, Syukri mengikuti langkah kaki Rapidin menembus belukar Talang Tegajul. Nyala obor yang dibawa Rapidin menyergap kegelapan belantara. Di bawah medang sejumlah orang sudah menunggu dengan obor di tangan.

“Sisakan satu medang saja, ya? Hutan ini boleh berubah jadi kebun kopi. Tapi pohon medang harus ada. Supaya ruh puyang tidak gentayangan. Ha ha ha…”

Kobaran api makin menggila. Malam tua menghitung kepedihan hutan yang bakal menyisakan puing-puing di keesokan hari. Tiga hari setelah hutan terbakar. Tepat di atas kepala Rapidin, matahari melesatkan panasnya. Senyum lebar tak lepas dari bibirnya sepanjang obrolan bersama tiga orang berkulit kemerahan. Di sebelah Rapidin, berdiri Syukri, celingak-celinguk mengawasi sekeliling luas tanah yang hampir merata berwarna hitam. Bangkai hewan, reranting, dan dahan-dahan yang menjelma arang.

Dan, sebatang medang tegak menjulang. Di tubuh medang ia tinggal. Menghirup udara dari ketulusan batang dan pelepah daun. Ia tak akan pernah pergi. Sebagai lelaki setia yang menjaga kekasih. ***

Catatan:
1 Agui: aduh
2 Pekon: desa/dusun
3 Dang cawoh: jangan berkata
4 Juluk adok: mempunyai kepribadian sesuai dengan gelar adat yang disandang (falsafah orang Lampung)
5 Piil–pusanggiri: malu melakukan pekerjaan hina menurut agama serta memiliki harga diri(falsafah orang Lampung)
6 Ulun Lampung: orang Lampung
7 Puyang: kakek/nenek moyang

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ida Refliana
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Jawa Pos" Minggu 7 Januari 2018

0 Response to "Talang Tegajul"