Tim Sukses | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Tim Sukses Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 16:04 Rating: 4,5

Tim Sukses

KABUL girang, karena dirinya akan menjadi tim sukses lagi dalam pilkada mendatang. Menjadi tim sukses baginya sama dengan meraup banyak uang tanpa kerja keras. Urusan apakah uang yang diraup itu halal atau haram tak pernah dirisaukan. Kabul teringat pengalamannya menjadi tim sukses lima tahun silam. 

“Aku sangat percaya kepada kamu. Jadi kamu kutugaskan sebagai bendahara tim sukses. Semua uang yang akan dibagikan kepada rakyat menjelang hari pemungutan suara nanti, kamu yang pegang,” tutur kawannya yang datang sendirian di rumahnya. Pertemuan empat mata yang dianggapnya sangat berharga. Betapa tidak, rencananya, kawannya akan menyerahkan uang 50 miliar kepadanya, untuk dibagikan kepada anggota tim sukses yang dipercaya untuk membagikan uang itu kepada rakyat. 

Kabul mengangguk mantap. Hatinya bersorak gembira. Dibayangkan dirinya akan menguasai uang 50 miliar, sungguh pengalaman yang luar biasa. Kalau dirinya bisa mencatut 25 persen saja uang itu, artinya dia akan memiliki 12,5 miliar. Kalau jumlah itu terlalu banyak, dirinya mungkin cukup mencatut 10 persen yang artinya 5 miliar. 

Kabul yakin, mencatut 10 persen uang yang seharusnya dibagikan kepada rakyat bukan hal sulit bagi dirinya. Lagi pula, dirinya dipercaya oleh kawannya. Kalau misalnya kawannya nanti kalah pilkada, mustahil mempermasalahkan uang yang sudah dipercayakan kepadanya. Sebaliknya, kalau kawannya menang pilkada lagi, masalah uang itu tak akan pernah dipersoalkan. 

*** 
KABUL tersenyum-senyum sendiri sambil menerawang di beranda rumahnya, ketika sore menjelang petang. Istrinya melihatnya dengan curiga. 

“Sejak tadi kamu nampak sangat gembira, memangnya kamu jatuh cinta lagi kepada perempuan lain?” tanya istrinya sambil duduk di sampingnya. 

Kabul bersungut-sungut. “Kamu ternyata tidak pernah berubah, Bu. Sejak dulu selalu cemburu buta.” 

Istrinya mencubit lengannya. “Ya, siapa tahu ada perempuan lain yang berhasil kamu goda.” 

Kabul tergelak. Lalu membisikkan tentang sesuatu yang membuatnya sangat gembira. “Aku sangat gembira, karena akan menjadi tim sukses lagi Bu. Bahkan Bupati sudah bilang bahwa aku akan dijadikan bendahara tim suksesnya.” 

Istrinya tersenyum lebar dengan mata berbinar-binar. Dibayangkannya setumpuk uang dihitung di kamar, lalu sebagian digunakan untuk membeli mobil baru dan sebagian disimpannya di bank. 

“Bupati sangat mempercayaiku, Bu. Maklumlah, dulu dia menang karena mempercayaiku. Maka wajar saja kalau sekarang aku kembali dipercaya agar dia bisa menang lagi.” Kabul berbisik lagi di dekat telinga istrinya. 

“Nanti setelah pilkada, kita beli mobil baru ya? Awas kalau tidak.” Istrinya bicara dengan membayangkan sedang menyetir mobil baru menuju pasar untuk berbelanja. 

“Beres, pokoknya setelah pilkada, kita pasti punya mobil baru dan banyak simpanan di bank.” Kabul menukas dengan mantap. 

*** 
SEPEKAN menjelang pilkada, Kabul betul-betul dipercaya sebagai bendahara tim sukses untuk memegang uang 50 miliar yang akan dibagikan kepada rakyat. Uang itu ditaruh di dalam koper besar. Bupati sendiri yang mengantarkan uang itu ke rumah Kabul, menjelang petang, tanpa pengawal. Bahkan Bupati menyamar dengan memakai rompi tukang parkir, agar tak ada aparat pengawas pilkada yang melihatnya membawa banyak uang. Apa jadinya kalau aparat menangkapnya sedang membawa banyak uang, menjelang pilkada? Pasti akan menjadi berita yang sensasional. 

“Semua anggota tim sukses yang bertugas membagi-bagikan uang kepada rakyat, besok pagi akan kusuruh berkumpul di rumahmu ini. Mereka kupilih sendiri. Mereka sama dengan kamu, layak dipercaya. Kalau aku menang lagi, nanti kamu akan kubelikan mobil baru.” Bupati bertutur sebelum meninggalkan rumah Kabul. 

Kabul betul-betul merasa seperti mendapat rezeki nomplok. Malam tiba, seperti biasanya. Kabul dan istrinya tidur nyenyak. Tidak ada firasat apa pun. Tapi menjelang Subuh, Kabul dan istrinya terbangun karena merasa panas seperti ada api yang berkobar di dekatnya. Ternyata memang api sudah berkobar membakar rumahnya. Kabul dan istrinya terlambat untuk lari keluar menghindari jilatan api yang makin berkobar-kobar. Kabul dan istrinya tewas terbakar hingga hangus. Koper besar berisi uang 50 miliar yang disimpannya di bawah kolong tempat tidur juga ikut terbakar hingga hangus. 

Kabul dan istrinya tidak tahu bahwa rumahnya terbakar karena memang ada tim sukses lain dari kubu lawan yang membakarnya. Pertarungan politik memang kadang sangat kejam. ■-e 

Kandang Roda, 2018 

*) Siti Siamah., menetap di Bogor. Menulis cerpen, novel, puisi, esai, opini dan peneliti di Global Data Reform. 


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Siti Siamah
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" edisi Minggu, 21 Januari 2018

0 Response to "Tim Sukses"