Alun-alun - Puisi | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Alun-alun - Puisi Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:31 Rating: 4,5

Alun-alun - Puisi

Alun-alun

Cahaya kota temaram pada kibar bendera
Mengikuti dingin angin utara
Aroma kopi menyangga nasib bakul-bakul
Tukang parkir sangsi terhadap ketetapannya sendiri
Masjid berjemaah waktu

Pengatur pialang berkepala batu
Datang saban hari Sabtu
Malam setengah purnama
Sejoli mmemadu cinta
Di antara riang tukang sulap
Rumah tahanan memenjarakan siapa?

Setibanya hari raya
Orang-orang mengadukan duka yang tiba
Bersama deru zaman
Layaknya gelaran mahsyar dunia
Sajadah bergambar pria paruh baya
Berpeci merah
Berjalan miring

Cahaya kota temaram pada kibar bendera
Ambulans membawa tubuh pria paruh baya
Ia sekarat menjelang musim penghabisan
Rumputan berwarna hitam pekat
Kepul kopi beraroma mau; menunggu malam penguburan

Puisi

Serupa
Tanah pemakaman
Ia digali oleh tangan
Penyairnya sendiri

Wahyu Budiantoro, lahir di Purwokerto. Saat ini bergiat di Sekolah Kepenulisan Sastra Perabadaban (SKSP) Purwokerto. Beberapa puisinya pernah dipublikasikan di antologi "Requiem Terakhir: Antologi Puisi Terbaik" (Oase Pustaka, 2016) "The First Drop of Rain Banjarbaru" (Wahana Resolusi, 2017). Buku pertamanya berjudul "Aplikasi Teori Psikologi Sastra:  Kajian Puisi dan Kehidupan Abdul Wachid B.S." (Kaldera Press, 2016).



Rujukan:
[1] Disalin dari karya Wahyu Budiantoro
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" edisi Minggu 11 Februari 2018

0 Response to "Alun-alun - Puisi"