Aphologi II - Nyanyian Abdi - Pertemuan dalam Kopi - Surat Untuk Bakauheni - Padang - Sepanjang Batavia - Sabtu Pahing - Narasi Sebuah Kafe di Puncak | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Aphologi II - Nyanyian Abdi - Pertemuan dalam Kopi - Surat Untuk Bakauheni - Padang - Sepanjang Batavia - Sabtu Pahing - Narasi Sebuah Kafe di Puncak Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 04:28 Rating: 4,5

Aphologi II - Nyanyian Abdi - Pertemuan dalam Kopi - Surat Untuk Bakauheni - Padang - Sepanjang Batavia - Sabtu Pahing - Narasi Sebuah Kafe di Puncak

Aphologi II

Kelak kau paham,
akulah perempuan sudra yang rajin merawat kegilaan
Sejak waktu tersungkur mengajari syukur,
segala malam adalah wahyu
Untuk sekedar mengintip doamu
dari kepungan jarak sendu

Sebab selalu kuingin berkhalwat, setiap adzan lewat
Menikmati pelukan khidmat
Sekalipun dalam hayal sesaat

Kau pasti tahu, langkahku terlanjur majnun
Membiarkan mimpi tumbuh
anggun pada rendah hatimu
Menciumi lebat zikir, tanpa pernah merasa pandir

Begitulah, garis tanganku hari ini
Menggantung doa pada brahmana
Di kejauhan manah
Meski mungkin tak merekah
Mungkin kau tak berkenan
Tapi sebagai hamba, aku hanya mampu bertaat
Mengikuti alur kodrat, mengiblati sunyi syahwat
Di pinggiran waktu
: hingga maut dan usia bercumbu

Solo, 2017

Nyanyian Abdi

1.
Mukjizat macam apa yang diamdiam kau punyai, tuan
muda ?
Sebab setelah percakapan itu pecah, seketika
malamku bermasalah
menjadi kecentilan, menjadi lebih bugar. Lalu
diantara subuh, segala indraku luluh. Bertakzim di
paragrafmu, memilin doa gaduh
di luar ekspektasi
Maka maaf, andai suatu petang puisi mengajakmu
berbincang
abaikan! karena jauh-jauh hari, aku telah membunuh
sunyi. dari jeratan rasa sinting paling bengal. Dari
permainan waktu tak waras
sejak menemuimu ...
2.
Bagaimana harus kujelaskan ?, bila bulan yang
kuimani mirip sendawa sepenggal. Atas ketololan
diri, membiarkan batin bertengkar. Menghardikmu
dengan bening kata, memujamu dalam cuka
hanya karena perjumpaan lalu semisal malakama
menusuk dhuha, menimang kegilaan raga
bagaimana harus kujelaskan ?
bila kali ini, ada hati terkapar di telapak kaki

Solo, 2017


Pertemuan dalam Kopi

Ku bayangkan, aku datang padamu
membawa rindu lugu, pemberian almarhumah ibu
berharap kau menyambut
dengan tatapan lembut
disertai secangkir kopi untuk ku sruput.

Ku bayangkan, kita habiskan malam
hingga tandas tanpa sisa
dalam pekat itu, aku dan kamu saling berpagut
seperti gula dan arabica yang larut
menimbulkan manis, doa gerimis

Tapi bullshit ! aku terlalu penakut untuk menujumu
pertemuan dalam kopi hanya menjelma imaji
sedang jarak kita tak lebih sejengkal
namun aku memilih berdiam
zikir pelan
demi mengurungmu di kenangan

Solo, 2016/2017


Surat Untuk Bakauheni

I.
Di sepanjang bahumu, kapal-kapal menjelma
petilasan
Bagi dada perempuan, yang dikhianati gelombang
Pertemuan senja dengan kepak camar, seperti
longsongan mimpi gila
Berabad-abad kerinduannya cuma enigma, pada tiap
ujung dhuha

II.
Tak ada lagi sajak cinta di pantai ini, Bakauheni
Semenjak hasrat bernama masa lalu, meninggali
kalimat sepi
360 rusuk mulai merasakan mati, maka salam bagi
musyafi r yang datang dan pergi
: aku tak kan menyedekahkan penantian
Di bibirmu, ombak dan karang terus berpelukan
Di jantungku, asin lautmu serupa nisan
: tempat birahi karam

III.
Lalu separuh kemudaan kularung, bersama butir
pasir dan doa orang fakir
Aku sudah memutuskan amnesia, bagi kecupmu yang
menggoda
Raib sudah gairah untuk menggadang perjumpaan
Sekedar membalas tatapan mata pula mengulang
kisah manja
Telah dengan sungguh kuikhlaskan, mewarnai
namamu dengan hitam
Dari sejarah waktu, dari lipat sembahyangku
Aku memilih renta, seiring terpaan anginmu

Solo, 2017

Sepanjang Batavia - Padang

Pernah kuinginkan, aku datang untukmu. Berbekal
ranum senja, yang kucuwil dari perjumpaan di
metropolitan. Lalu kusimpuhkan seikat witir,
di atas restu Khidir
Kau tahu, sejauh batavia-padang adalah kegilaan tiada
khatam. Melambai pada hasrat tak usai
Tapi seketika harus kuhancurkan.
Impian menziarahi ombakmu,
hanya kutanam dalam sajak.
1.752 jam telah kupatahkan pelan-pelan. Sebab angin
enggan menyampaikan cium jauhku
kepada ibu Malin Kundang
Maka, atas nama lara dan hujan musim kali ini
Aku menutup gairah kuning sang janur, dimana
ingin melengkung. Menyetubuhi pelabuhan, menjadi
sejarah biru. Bukan batu.

 Jakarta-Padang, 2018

Sabtu Pahing

1/
Sugeng tindhak, mak
terimakasih
atas cinta & rahimmu
2/
Kau mengajariku banyak hal
salah satunya
: rindu
dan itu menyakitkan, ibu ...
3/
Dan aku hanya paham, bulan tak lebih kenangan
bergincu
menggelayut abu-abu
dilangitku
mengisyaratkan jarum jam
: kehilangan
4/
Sabtu pahing tujuh pagi
matahari persegi
aku mengecupmu pungkasan kali
: mbrebes mili

Solo, 2016/2017


Narasi Sebuah Kafe di Puncak

duduk melingkari meja bundar, ceritamu berpendar
menyantuni coklat, kripik kentang juga bakwan
sesekali kopi kau lirik
sambil tak henti bibirmu mengunyah kisah cinta unik
pada garis persimpangan
dimana tata krama terabaikan
kau meramu sendiri
jalinan asmara yang membara anomali
di luar hujan menderas kencang
kafe terasa panas
orang-orang berdatangan, sekedar berteduh pun
mengisi lapar
kau terus asyik, membeberkan kenangan baik
tapi entah di sudut mana kaum Nabi Luth berada
cuma aku tahu, pelan-pelan langkahmu bersekutu
ke luar
dan aku makin tolol menerjemahkan

Solo, 2017

Seruni Unie, penikmat puisi asal Solo. Sejumlah sajaknya sempat terbit di media cetak nasional dan lokal. Pula termaktub di 51 antologi bersama. Tiga antologi tunggalnya Catatan Perempuan (2011), Andrawina (2015), Zikir Mawar (2017). Masih bergiat di sastra Pawon dan terpilih dalam 15 penulis UWRF 2017.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Seruni Unie
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu 4 Februari 2018

0 Response to "Aphologi II - Nyanyian Abdi - Pertemuan dalam Kopi - Surat Untuk Bakauheni - Padang - Sepanjang Batavia - Sabtu Pahing - Narasi Sebuah Kafe di Puncak"