Bermalam di Kiaracondong - Resolusi Tahun Baru 2018 - Di Bawah Gugur Angsana - Di Bawah Gugur Angsana - Jumat untuk Kekasih - Bertamu ke Kotamu - Menikahi Bidadari - Menjadi Abadi dalam Puisi - Gadis Pelukis Mimpi | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu

Untuk Arsip Selanjutnya, Sila Klik Tautan Laman www.klipingsastra.com/ID

Bermalam di Kiaracondong - Resolusi Tahun Baru 2018 - Di Bawah Gugur Angsana - Di Bawah Gugur Angsana - Jumat untuk Kekasih - Bertamu ke Kotamu - Menikahi Bidadari - Menjadi Abadi dalam Puisi - Gadis Pelukis Mimpi Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:51 Rating: 4,5

Bermalam di Kiaracondong - Resolusi Tahun Baru 2018 - Di Bawah Gugur Angsana - Di Bawah Gugur Angsana - Jumat untuk Kekasih - Bertamu ke Kotamu - Menikahi Bidadari - Menjadi Abadi dalam Puisi - Gadis Pelukis Mimpi

Bermalam di Kiaracondong

kereta telah lesap dari pelarian panjang
ia menggigil sepanjang tali besi membebatnya
para penumpang turun dengan mata lebam
dan kami menggantung beban di badan
lalu singgah ke deret bangku
tinggal kantuk merajuk restu
menanti jemputan belum menemu
tubuh-tubuh oleng di ruang tunggu

malam larut membungkus tipis kulit
selimuti raga, raga yang kusut limit
di Kiaracondong, ke mana berharap
selain berharap pada Allah azza wa jalla
jelang malam sepertiga
pertolongan datang menyapa
menjemput para pejuang pena
ke Bandung lautan aksara


Resolusi Tahun Baru 2018

Tahun baru 2018 sebentar lagi
Saatnya menulis resolusi-resolusi

Para penulis ingin bisa produktif menulis,
karyanya banyak dimuat, buku bisa terbit,
laris terjual, jadi artis literasi, lantas diakui pembaca.

Para guru ingin jenjang karier jelas,
honorer nyidam jadi tenaga tetap,
gaji dan tunjangan jelas, ilmu bermanfaat,
jadi artis pendidikan, diakui murid-muridnya.

Para buruh pabrik dan industri mengeluh,
biaya hidup mencekik saraf, tarah hidup serbarendah,
demo besar-besaran, menuntut kenaikan upah,
bekerja tumpah darah, ingin diakui pemerintah.

Para kader partai kejar target cari dukungan
para politisi sibuk pencitraan dan cari perhatian
dan profesi lainnya terus memutar otak
meresolusi diri untuk terus bergerak
sementara itu, pemandangan kontradiktif bergejolak
petani menangis, lahan bercocok tanam semakin
menipis
nelayan menangis, pantai dan laut direklamasi, habis

Desember 2017


Di Bawah Gugur Angsana

hanya kenangan yang abadi
sepanjang masa mengagumimu
sebagai metamorfosa embun

di bawah gugur angsana
menguning namamu di ingatan
seorang lelaki pemuja rahasia

membersamaimu telah purna
ini pintu terakhir yang kumasuki
lantas menutupnya pamit

di bawah gugur angsana
kita ditakdirkan bersua
dan menanggalkan kenangan abadi

Republik Kopi

Negeri Indonesia ini gemah ripah loh jinawi
Nenek moyang kami mewariskan tradisi unik
: tradisi ngopi sebelum beraktivitas saban hari
: tradisi tanam di lereng dan lembah tanah sendiri

Citarasa tak terkira kopi nusantara
Tanah Gayo, Aceh, Toraja, Jawa
Aroma memukau daya cipta

Kami adalah anak-anak semesta
Lahir untuk memakmurkan republik kopi
Dilatih berani menantang kerasnya hidup
Adukan kopi jadi daya tarik tak meredup

Pagi buta ibu kami sedia di dapur
Setia menyerap kepulan hangat seduhan kopi
Suguhkan teko dan cangkir kebersamaan
Menyeruput kopi jadi hidangan pilihan

Kopi menjadi sajian semua kasta
Agar sumbu raga kuat terjaga
Mencecap pahit manis segala realita

Jumat untuk Kekasih

berjalanlah, dengan kerundukan hati
mengembaralah, dengan keluhuran budi
pagi ini telah direstui

aku pelitamu
kau pelitaku

cahaya di timur, disambut di barat
ke mana kau menghadapkan wajah
di situ aku memantulkan nuriyah
jika cinta semisal zarah
cinta kecilku persembahan berkah
jika cinta semisal darah
cinta besarku pegorbanan amanah

kau pelitaku
aku pelitamu

angin memikat, pelukan hangat, sepenuh harkat
suara kasih, pena putih, jumat terpilih

aku pelitamu, kau pelitaku
Jumat telah terpilih untuk kekasih


Bertamu ke Kotamu

tiba di kotamu
lekas kutegakkan kaki ke bumi
yang pertiwi, dan ranum padi
memancar hijau swasembada pangan
terimalah hadirku di rumah sederhana
bertamu dan bertemu bapak dan ibumu

selepas bertamu dari kotamu
kutemukan tantangan baru
mengesahkan jadi pendamping hidupku
ambil alih tanggung jawab orang tuamu

Menikahi Bidadari

surga dijanjikan kepada insan beriman dan bertakwa
tak ada kesan payah dan gaduh di dalamnya
sungai dan kolam susu, taman bertabur bunga
kehidupan abadi selamanya
bersanding bidadari-bidadari bermata jeli
permata yaqut dan marjan
dan aneka macam suguhan pilihan

dalam ilusi semilyar metafora
tergambar citra bidadari-bidadari surga
gaun santun dan aura memesona
perhiasan terindah di dalamnya


Menjadi Abadi dalam Puisi

dini ini aku embun saja
menjuntai daun menetesi bumi
pungutlah aku sebagai diksi
menjadi abadi dalam puisi

dini ini aku embun saja
ingin berjumpa meski belum sempurna
hanya menawarkan bening auraku
ke kedalaman palung kalbumu

dini ini aku embun saja
menyaksikan perhelatan fajar
seseorang yang meniriskan ikhtiar
tentang impian bersua kekasih halalnya

Gadis Pelukis Mimpi

siapa gerangan yang datang
dalam nuansa semesta terang
bukan khayalan bukan ilusi
tersibak menawarkan perjanjian suci

telah terjawab siapa gerangan
gadis itu melangkah malu-malu
mengambil butiran gugur angsana
dan tengadah ke cakrawala
tak ada yang mengira dia gadis ajaib
pelukis mimpi-mimpiku selama ini


Real Teguh, atau Teguh Wibowo, bergiat di Forum Lingkar Pena (FLP) Surabaya. Meraih anugerah PENA JATIM AWARD 2017 kategori penulis puisi terpuji. Buku puisinya yang sudah terbit Resolusi Semilyar Cahaya (Stepa Pustaka, 2017), dan yang segera terbit Mahabbah Suci. Puisi-puisinya termuat di buku antologi serta di media lokal dan nasional.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Real Teguh 
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu 18 Februari 2018

0 Response to "Bermalam di Kiaracondong - Resolusi Tahun Baru 2018 - Di Bawah Gugur Angsana - Di Bawah Gugur Angsana - Jumat untuk Kekasih - Bertamu ke Kotamu - Menikahi Bidadari - Menjadi Abadi dalam Puisi - Gadis Pelukis Mimpi"