Dari Jendela di Cuaca yang Cerah | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Dari Jendela di Cuaca yang Cerah Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 15:38 Rating: 4,5

Dari Jendela di Cuaca yang Cerah

TELEFON berdering. Benjor tidak segera mengangkatnya. Dari jendela rumahnya, dia sedang sibuk memperhatikan cuaca: hari cerah. Minggu terakhir bulan September punya cuaca yang amat sempurna untuk perasaan bahagia. Sebentar lagi musim hujan datang dan musim kemarau pergi. Minggu terakhir bulan September jadi semacam waktu berdiskusi dua musim itu untuk menciptakan cuaca yang menyenangkan begini. Tidak terlalu panas dan kering, tidak terlalu dingin dan basah. Membuat orang jadi gampang melamun tentang hal-hal menyenangkan. Telefon terus berdering. Benjor tidak kunjung mengangkatnya sampai tiba-tiba hening.

BENJOR menoleh ke arah telefon. Dia tidak terlalu yakin berapa lama telefon berdering. Dalam benaknya Benjor bertanya-tanya, barusan ada telefon?

“Tidak ada,” sanggahnya sendiri. “Tapi mungkin ada” sanggahnya lagi. Benjor menggeleng-gelengkan kepalanya kemudian kembali memperhatikan cuaca.

Dari Jendela Benjor melihat anak-anak sedang memanjat pohon kers di depan rumahnya. Tidak jauh dari pohon kers itu, ada boks telefon umum. Kalau sedikit berusaha, siapapun bisa naik ke atas boks telefon itu. Di lingkungan rumah Benjor tidak banyak anak-anak. Benjor tidak terlalu tahu anak-anak itu datang dari mana -- mungkin dari kampung di sekitar tempat tinggal Benjor atau jauh-jauh datang dari pinggiran kota. Yang mana pun bisa saja. Yang jelas jumlah mereka banyak sekali. Anak-anak itu naik-turun pohon kers dengan begitu menakjubkan. Beberapa naik ke atas boks telefon kemudian melompat turun seolah-olah itu hal paling menantang yang pernah diciptakan tuhan.

Dari jendelanya Benjor mengangkat tangan, melambai-lambai ke arah anak-anak itu. “Hallo,” kata Benjor sambil berteriak. Semua anak-anak itu menoleh ke arah Benjor. “Hati-hati,” kata Benjor berteriak lagi. Anak-anak itu saling menoleh. “Hari yang bahagia,” kata Benjor. Anak-anak itu saling menoleh dalam gerakan yang lebih cepat dari sebelumnya. Setelah beberapa lama, tanpa menjawab pertanyaan Benjor, anak-anak itu kembali melompat-lompat dari boks telefon umum, naik-turun pohon kers dengan begitu menakjubkan.

Sambil masih mengangkat tangannya Benjor menunggu jawabanan dari anak-anak itu. Tapi tak satu pun jawaban yang kunjung datang. Benjor mematung. Berapa lama, dia tak ingat. Diturunkannya tangannya. Ada yang menyusup masuk ke dalam pikirannya. Tapi Benjor tidak terlalu yakin apa itu. Dilihatnya anak-anak itu. “Wah,” kata Benjor tiba-tiba. Benjor kembali diam beberapa saat. Ada suara dering telefon mengisi kepalanya. “Mungkin tadi ada telefon,” Benjor menggumam sendiri. “Tapi mungkin tidak,” sambungnya kemudian. “Siapa yang mau menelepon?” Benjor bertanya-tanya. “Ah! Jangan-jangan Jakob yang menelefon,” sambungnya kemudian setelah beberapa lama. Minggu terakhir bulan September punya cuaca yang amat sempuma untuk merasa bahagia.

Jakob adalah teman sejawat Benjor. Ketika Benjor pensiun beberapa waktu yang lalu dari perusahaan retail dan penerbitan tempatnya bekerja, Jakob-lah yang menggantikannya. Mungkin Jakob menelefon untuk menanyakan satu-dua hal yang belum beres, pikir Benjor. Tetapi temannya itu sudah bersama Benjor selama hampir… selamanya. Mana mungkin ada yang belum diketahui Jakob. Tetapi mungkin saja ada hal yang Benjor tahu sedang Jakob tidak. “Ada saja yang belum beres kalau ditinggal begini,” kata Benjor kemudian. Benjor melihat jam tangannya kemudian berjalan ke arah telefon. Benjor tahu sekarang Jakob pasti masih di kantor. Sibuk dengan kertas-kertas di dalam ruangan berukuran delapan kali delapan meter - ruangan yang dulu adalah ruangannya. Kalau menelefon ke nomor kantor, pasti sekretaris yang menjawab. Karena itu Benjor langsung menelefon ke nomor pribadi Jakob.

Di samping telefon ada setangkai bunga aster kayu biru dalam wadah kaca. Di dasar wadah kaca itu ada sedikit air yang masih menggenang, digunakan untuk mempertahankan hidup bunga aster kayu biru itu. Kenapa cuma setangkai? Benjor tidak tahu. Siapa yang menaruhnya di sana? Benjor juga tidak tahu pasti. Bisa jadi itu istrinya atau pembantunya. Tetapi mungkin pembantunya. Kalau itu istrinya, Hermes atau Louis Voitton akan lebih masuk akal untuk ada di sebelah telefon. Telefon dalam nada tunggu. Benjor menatap aster kayu biru itu. “Mulai layu,” pikirnya.

Telefon tersambung. “Iya, Hallo. Bagaimana?” kata Jakob di sambungan telefon. Dia memang selalu bertanya ‘bagaimana’ tanpa benar-benar jelas bagaimana apa yang ditanyakannya.

“Ada apa?” kata Benjor.

“Maksudmu?”

“Tadi kau telefon?” kata Benjor. Sambil bertanya begitu, Benjor membayangkan Jakob sedang menelefon sambil menjepit telefon dengan bahu dan pipinya. Tangan kiri Jakob sedang sibuk berurusan dengan kertas-kertas sedang tangan kanannya sibuk dengan pena Parker seri Sonnet dengan lapisan emas.

“Ha? Siapa?”

“Kau. Tadi kau telefon ke rumah? Ada apa?”

“Lho, bukan. Dari tadi sibuk. Kau apa kabar? Kapan-kapan mampirlah kemari. Kita sedang ada tawaran bisnis baru dengan pabrik pembuat kadal plastik. Anak-anak zaman sekarang pasti suka. Prospeknya akan bagus, tetapi kalau kau lihat-lihat, mungkin kau ada pendapat lain.”

“Kadal plastik?”

“Iya. Kadal plastik.”

Benjor terdiam beberapa saat. Aster kayu biru di depannya tiba-tiba menyita perhatiannya. Aster itu bergoyang sedikit, mungkin karena angin -atau sesuatu yang lain. Salah satu kelopak bunga itu jatuh tiba-tiba. Terhuyung-huyung sampai akhirnya jatuh di atas meja. “Jadi tadi kau tidak telefon ke rumah?”

“Tidak. Siapa yang menelefon?”

Benjor ingin menjawab pertanyaan Jakob tapi Benjor mendengar suara gagang telefon dipindahkan. Benjor diam.

“Hallo,” kata Jakob.

“Iya, hallo. Bukan siapa-siapa. Tadi rasanya ada yang menelefon. Aku kira kau.”

“Bukan.”

“Baiklah.”

“Kapan-kapan mampirlah. Aku butuh saran untuk kerja sama dengan pabrik kadal plastik ini. Lebih baik kalau bicara langsung sekalian kau lihat-lihat keadaan baru.”

“Baiklah. Kapan-kapan aku mampir.”

“Ok. Baik.”

Jakob tiba-tiba menutup telefon tanpa mengucapkan sampai jumpa atau semacamnya.

Benjor teringat istrinya. Wanita itu harusnya sudah pulang sekarang. Istri Benjor dan pembantunya pergi sedari tadi. Mungkin berbelanja, atau mungkin yang lain -Benjor tidak terlalu yakin. Dilihatnya lagi jam tangan. Benjor menutup mata. Saat membuka mata, Benjor merasa dinding-dinding rumahnya bergerak menjauh dari dirinya. Aster kayu biru itu kembali bergerak sedikit. Salah satu kelopaknya jatuh lagi. Begitu tua dan menyedihkan, pikir Benjor. Benjor berjalan ke arah dapur dan mengambil segelas air keran untuk ditambahkan ke dalam wadah kaca tempat bunga aster itu. Diperbaikinya posisi bunga aster itu sampai dirasanya benar. Diambilnya tiga kelopak yang jatuh. Berjalan kemali ke dapur, Benjor meletakkan gelas pada tempatnya kemudian membuang tiga kelopak bunga aster itu ke dalam wastafel.

Benjor bertanya-tanya. Kenapa pula dia membuang kelopak bunga ke dalam wastafel! Benjor mengurut pelipisnya. Sebentar lagi musim hujan datang dan musim kemarau pergi. Minggu terakhir bulan September jadi semacam waktu berdiskusi dua musim itu untuk menciptakan cuaca yang menyenangkan. Samar-samar Benjor mendengar suara anak-anak yang sedang bermain di luar.

Benjor kembali berjalan ke jendela. Anak-anak masih memanjat pohon kers dan beberapa yang lain masih melompat-lompat dari boks telefon. Melihat anak-anak itu Benjor tiba-tiba menyungging senyum. Diperhatikannya anak-anak itu. Beberapa anak naik turun pohon kers dengan cara menakjubkan. Beberapa lainnya melompat-lompat dari boks telefon. Setelah lama mengamat-amati, Benjor menyadari salah seorang anak dari sekian banyak anak yang bermain itu ada di dalam boks telefon umum dan memencet-mencet tombol telefon. Jangan-jangan dia yang menelefon, pikir Benjor. “Hallo,” kata Benjor sambil berteriak. Melambai-lambaikan tangannya. Semua anak-anak itu menoleh ke arahnya, kemudian saling menoleh satu sama lain, kemudian kembali memanjat pohon kers dan melompat-lompat dari boks telefon -tidak ada yang menanggapi teriakan Benjor. Benjor menunggu, mematung. Minggu terakhir bulan September punya cuaca yang amat sempurna untuk perasaan bahagia. ***

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Bayu Pratama
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" Minggu 11 Februari 2018

0 Response to "Dari Jendela di Cuaca yang Cerah"